:strip_icc():format(webp)/hb-article/w9mmbXc90NMfj80fkHi-r/original/h0grdzw24dupe9td7cfhoe6gono52jt8.png)
Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi setelah usia kehamilan 20 minggu dan biasanya disertai gangguan pada organ tubuh, seperti ginjal atau hati. Meski terdengar menakutkan, kondisi ini sebenarnya cukup umum terjadi pada ibu hamil.
Sayangnya, banyak Mama yang tidak menyadari tanda-tanda preeklamsia sejak awal karena gejalanya bisa tampak ringan atau menyerupai keluhan kehamilan biasa.
Oleh karena itu, penting untuk memahami pengertian preeklamsia, gejala, penyebab, hingga penanganannya agar kesehatan Mama dan Si Kecil tetap terjaga selama kehamilan.
Artikel lainnya: Berapa Tekanan Darah Normal Ibu Hamil?
Apa Itu Preeklamsia
Preeklampsia adalah kondisi serius yang terjadi saat tekanan darah ibu hamil meningkat dan disertai tanda kerusakan organ, terutama ginjal yang ditandai adanya protein dalam urine.
Kondisi ini biasanya muncul setelah usia kandungan 20 minggu, tetapi juga bisa terjadi setelah persalinan. Pengertian preeklamsia tidak hanya sekadar hipertensi saat hamil.
Pada kondisi ini, aliran darah ke plasenta dapat terganggu sehingga janin berisiko kekurangan oksigen dan nutrisi.
Bila tidak ditangani dengan baik, komplikasi preeklamsia dapat berkembang menjadi eklampsia, yaitu kejang pada ibu hamil yang dapat mengancam nyawa.
Preeklamsia termasuk salah satu komplikasi kehamilan yang cukup sering terjadi. Diperkirakan sekitar 5–8% kehamilan di seluruh dunia mengalami kondisi ini.
Risiko bisa lebih tinggi pada ibu hamil pertama, kehamilan kembar, atau Mama dengan riwayat tekanan darah tinggi sebelumnya.
Gejala Preeklamsia yang Harus Diwaspadai
Gejala preeklamsia kadang berkembang perlahan dan sulit dikenali. Bahkan, beberapa ibu hamil tidak merasakan keluhan apa pun selain tekanan darah yang meningkat. Oleh sebab itu, pemeriksaan kehamilan rutin sangat penting dilakukan.
Berikut beberapa tanda preeklamsia yang perlu diwaspadai:
- Tekanan darah tinggi
- Sakit kepala saat hamil hebat yang tidak membaik
- Pembengkakan pada wajah, tangan, atau kaki secara berlebihan
- Penglihatan kabur atau sensitif terhadap cahaya
- Nyeri di ulu hati atau perut kanan atas
- Mual dan muntah berlebihan
- Berat badan naik mendadak akibat penumpukan cairan
- Sesak napas
- Jumlah urine berkurang
Pada beberapa kasus, gejala dapat berkembang cepat dan membahayakan kondisi Mama maupun janin. Untuk itu, jangan menunda konsultasi bila Mama mengalami salah satu atau beberapa gejala di atas.
Artikel Lainnya: Jantung Berdebar Saat Hamil? Apa Normal atau Berbahaya?
Penyebab dan Faktor Risiko Preeklamsia
Hingga saat ini, penyebab preeklamsia belum diketahui secara pasti. Namun, para ahli menduga kondisi ini berkaitan dengan gangguan perkembangan pembuluh darah plasenta sehingga aliran darah menjadi tidak optimal.
Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko Mama mengalami preeklamsia, antara lain:
- Hamil pertama
- Riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
- Mengandung bayi kembar
- Memiliki hipertensi kronis
- Diabetes
- Obesitas
- Penyakit ginjal
- Usia ibu di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun
- Riwayat keluarga dengan preeklamsia
Meski memiliki faktor risiko bukan berarti Mama pasti mengalami kondisi ini, pemeriksaan kehamilan rutin tetap penting agar kondisi dapat terdeteksi lebih awal.
Artikel Lainnya: Tips Mengatasi Penyakit yang Sering Menyertai Ibu Hamil
Dampak Preeklamsia pada Mama dan Janin
Komplikasi preeklamsia bisa berdampak serius bila tidak segera ditangani. Pada Mama, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan organ, stroke, gangguan hati, gangguan ginjal, hingga kejang.
Sementara pada janin, aliran darah yang terganggu dapat menghambat pertumbuhan sehingga bayi mengalami berat badan lahir rendah.
Risiko persalinan prematur juga meningkat karena dokter mungkin perlu melakukan persalinan lebih cepat demi menyelamatkan kondisi Mama dan bayi.
Dalam kasus berat, preeklamsia bahkan dapat menyebabkan solusio plasenta, yaitu kondisi plasenta terlepas sebelum waktunya yang sangat berbahaya bagi janin.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Preeklamsia
Diagnosis preeklamsia dilakukan melalui pemeriksaan kehamilan rutin. Dokter biasanya akan memeriksa tekanan darah dan mengevaluasi adanya protein dalam urine.
Selain itu, dokter juga dapat melakukan:
- Tes darah untuk memeriksa fungsi hati dan ginjal.
- Pemeriksaan urine lengkap.
- USG janin untuk memantau pertumbuhan bayi.
- Pemeriksaan detak jantung janin.
- Pemantauan kondisi Mama secara berkala.
Deteksi dini sangat penting karena penanganan preeklamsia akan lebih efektif bila kondisi diketahui lebih awal.
Penanganan Preeklamsia
Penanganan preeklamsia tergantung tingkat keparahan dan usia kehamilan. Pada kondisi ringan, dokter biasanya menyarankan:
- Istirahat cukup.
- Mengurangi aktivitas berat.
- Kontrol rutin lebih sering.
- Pemantauan tekanan darah.
- Konsumsi obat sesuai anjuran dokter.
Bila kondisi tergolong berat, Mama perlu dirawat di rumah sakit agar kondisi Mama dan janin dapat dipantau secara intensif. Dalam beberapa kasus, persalinan menjadi satu-satunya cara mengatasi preeklamsia.
Cara mengatasi preeklamsia tidak boleh dilakukan sendiri tanpa pengawasan medis. Mengonsumsi obat sembarangan justru dapat membahayakan kehamilan.
Artikel Lainnya: Diet Ibu Hamil Preeklampsia, Hindari Makanan Ini
Preeklamsia Pasca Persalinan (Postpartum Preeclampsia)
Banyak orang mengira preeklamsia hanya terjadi saat hamil. Padahal, kondisi ini juga bisa muncul setelah persalinan, bahkan pada Mama yang sebelumnya tidak memiliki tekanan darah tinggi saat hamil.
Postpartum preeclampsia biasanya muncul dalam 48 jam setelah melahirkan, tetapi bisa juga terjadi beberapa minggu kemudian. Gejalanya mirip dengan preeklamsia saat hamil, seperti sakit kepala hebat, penglihatan kabur, tekanan darah tinggi, dan sesak napas.
Kondisi ini memerlukan penanganan segera karena dapat menyebabkan kejang dan komplikasi serius lainnya.
Cara Mencegah Preeklamsia
Sayangnya, tidak semua kasus preeklamsia dapat dicegah. Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu menurunkan risikonya:
- Rutin kontrol kehamilan.
- Menjaga berat badan ideal sebelum dan selama hamil.
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
- Membatasi konsumsi garam berlebihan.
- Cukup minum air putih.
- Mengontrol tekanan darah dan gula darah.
- Berolahraga ringan sesuai anjuran dokter.
- Mengonsumsi suplemen atau aspirin dosis rendah bila direkomendasikan dokter.
Mama juga sebaiknya lebih peka terhadap perubahan tubuh selama kehamilan agar tanda preeklamsia dapat dikenali lebih cepat.
Kehamilan jadi lebih tenang kalau Mama punya akses informasi yang tepat setiap hari. Yuk, download aplikasi HalloBumil untuk memantau perkembangan kehamilan, membaca artikel kesehatan terpercaya, dan konsultasi berbagai keluhan kehamilan dengan lebih mudah.
Kadang rasa cemas saat hamil terasa lebih ringan ketika bisa berbagi cerita dengan sesama Mama. Gabung yuk ke komunitas WhatsApp HalloBumil dan dapatkan dukungan serta edukasi kehamilan dari komunitas yang positif dan suportif.
Sudah tahu perkiraan hari lahir Si Kecil belum, Ma? Coba gunakan health tools kalkulator HPL untuk membantu memantau perjalanan kehamilan Mama dengan lebih praktis. Pastikan Mama daftarkan data diri di HalloBumil terlebih dahulu, ya.
Supaya lebih siap menghadapi kehamilan dan persalinan, Mama juga bisa mengikuti berbagai event edukasi bersama dokter dan para ahli. Banyak insight menarik yang bisa membantu Mama menjalani kehamilan dengan lebih percaya diri.






:strip_icc():format(webp)/hb-article/TmBwmXyvvc5fBmDgsYa09/original/0kram-saat-hamil-ini-solusinya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/e9NZTASpd1tc42Z4Gx9iu/original/0makanan-pantangan-ibu-hamil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/43Mtw78Lk1CKWAEEeYQRf/original/0kenaikan-berat-badan-selama-hamil-yang-normal.jpg)
