Waspadai Gejala Eklampsia Selama Kehamilan
:strip_icc():format(webp)/hb-article/oCIulpaSmMfraWY4qE0Os/original/0preeklampsiaeklampsia.jpg)
dr. Venny Beauty
Eklampsia adalah suatu kondisi gawat darurat semasa kehamilan, yang merupakan komplikasi dari preeklamsia. Kelainan ini dapat terjadi selama kehamilan, persalinan, atau masa nifas.
Eklampsia ditandai dengan timbulnya kejang, hingga hilang kesadaran atau koma. Mari simak selengkapnya mengenai gejala hingga pengobatan eklampsia.
Tanda dan Gejala Eklampsia
Kondisi eklampsia biasanya terjadi setelah preeklamsia. Preeklamsia dapat timbul sejak usia kehamilan 20 minggu, ditandai dengan tekanan darah >140/90 mmHg, adanya protein pada urine, serta bisa disertai pembengkakan tungkai.
Beberapa hal berikut ini dapat menjadi tanda bahwa Mama mengalami eklampsia, yaitu:
- Nyeri kepala hebat pada bagian depan atau belakang yang diikuti dengan peningkatan tekanan darah. Sakit kepala tersebut dirasakan terus-menerus dan tidak berkurang dengan pemberian obat sakit kepala.
- Gangguan penglihatan seperti melihat kilatan-kilatan cahaya, pandangan kabur, dan terkadang bisa terjadi kebutaan sementara.
- Merasa gelisah dan tidak bisa bertoleransi dengan suara berisik atau gangguan lainnya.
- Nyeri perut pada bagian ulu hati yang kadang disertai dengan muntah.
- Kejang-kejang dan/atau koma.
Pengobatan Eklampsia
Jika Mama mengalami gejala di atas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke Dokter Kandungan untuk penanganan lebih lanjut.
Apabila Mama sudah mengalami preeklamsia, risiko untuk terjadinya eklampsia akan lebih besar, sehingga Dokter biasanya akan memberikan obat pengontrol tekanan darah. Selain itu, Dokter akan memantau kondisi Mama dan Si Kecil secara berkala.
Mama juga disarankan untuk bedrest dan menghindari aktivitas fisik yang berat terlebih dahulu.
Cara untuk mengatasi eklampsia adalah dengan mengakhiri kehamilan atau melahirkan bayi lebih awal, dengan atau tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin. Bila terjadi kejang, Dokter juga akan memberikan obat antikejang seperti magnesium sulfat.
Setelah persalinan, Dokter akan melakukan pemantauan ketat untuk melihat tanda-tanda terjadinya eklampsia. Sebanyak 25 persen kasus eklampsia terjadi setelah persalinan, biasanya dalam waktu 2–4 hari pertama setelah persalinan. Tekanan darah umumnya akan tetap tinggi selama 6–8 minggu pascamelahirkan.
Jika setelah melahirkan lebih dari 8 minggu tekanan darah Mama tetap tinggi, kemungkinan penyebabnya tidak berhubungan dengan preeklamsia.
Pencegahan Eklampsia
Belum ada cara pasti yang dapat mencegah terjadinya preeklamsia dan eklampsia. Namun, Mama dapat mencoba langkah berikut untuk menurunkan risiko eklampsia selama kehamilan:
- Mengonsumsi makanan bergizi dan rendah garam
- Menjaga berat badan ideal
- Menghindari minuman beralkohol dan berkafein
- Berhenti merokok
Konsumsi aspirin dosis rendah dikatakan dapat mencegah penggumpalan darah sehingga mencegah munculnya eklampsia. Namun, Mama perlu ingat, jangan konsumsi obat sembarangan tanpa konsultasi dengan Dokter terlebih dahulu.
Yang tak kalah penting tentunya adalah melakukan kontrol secara teratur selama kehamilan. Dengan begitu, Dokter akan dapat mendeteksi dini jika terdapat kelainan selama kehamilan seperti hipertensi dan preeklamsia.
Jika penanganannya cepat dan akurat, Mama dan Si Kecil tentunya akan terhindar dari kondisi yang berbahaya selama kehamilan.