Bolehkah Jamu untuk Ibu Melahirkan? Cek Manfaat & Risikonya
:strip_icc():format(webp)/hb-article/jvabnRbr5NREk3ir-aYe5/original/2jy9w1f12egdgnikdcdv912cljuq9ns3.png)
Banyak Mama baru ingin pulih lebih cepat setelah melahirkan, dan salah satu tradisi yang paling sering diandalkan adalah konsumsi jamu nifas atau jamu bersalin.
Ramuan herbal setelah melahirkan ini dipercaya dapat mengembalikan energi, membantu rahim mengecil, hingga melancarkan ASI.
Namun di balik popularitasnya, Mama perlu memahami bahwa tidak semua jamu aman untuk kondisi tubuh pascapersalinan, terutama bila sedang menyusui.
Oleh karena itu, penting untuk mengenal manfaat sekaligus potensi risikonya sebelum mengonsumsi jamu untuk ibu melahirkan.
Artikel lainnya: Sinom (Kunyit) untuk Kesuburan, Efektifkah untuk Promil?
Klaim Manfaat Jamu Tradisional untuk Ibu Nifas
Di banyak daerah di Indonesia, minum jamu setelah melahirkan sudah menjadi kebiasaan turun-temurun. Banyak Mama percaya bahwa jamu untuk ibu melahirkan dapat membantu tubuh lebih cepat pulih setelah melewati proses persalinan.
Beberapa jamu nifas yang populer biasanya dibuat dari campuran kunyit, jahe, temu kunci, kelabat, hingga daun katuk yang sering dipromosikan sebagai jamu pelancar ASI.
Secara tradisional, jamu ini diklaim memiliki beberapa manfaat, seperti membantu mengecilkan rahim, memperbaiki sirkulasi darah, meredakan pegal, meningkatkan energi, dan melancarkan produksi ASI.
Menurut International Journal of Advanced Health Science and Technology, penggunaan herbal tertentu dapat membantu kenyamanan ibu pada masa nifas dan mendukung proses menyusui, meski buktinya masih terbatas dan belum bisa dijadikan acuan utama.
Jamu bersalin memiliki nilai budaya dan dapat memberi rasa nyaman bagi sebagian Mama. Namun manfaatnya tetap perlu dipahami secara seimbang dan dibutuhkan penelitian lanjutan.
Artikel lainnya: Minum Minyak Kelapa Bisa Melancarkan Persalinan. Mitos atau Fakta?!
Potensi Risiko dan Efek Samping Jamu untuk Ibu Nifas
Meskipun banyak klaim manfaat, penggunaan jamu herbal setelah melahirkan, termasuk jamu bersalin dan jamu pelancar ASI dengan risiko yang harus diwaspadai. Berikut beberapa bahaya jamu ibu menyusui yang perlu diperhatikan:
1. Interaksi dengan obat medis
Saat ibu nifas menerima obat-obatan medis, misalnya obat untuk kontraksi rahim, obat antinyeri, atau antibiotik, produk herbal bisa berinteraksi dengan obat-obatan tersebut.
Oleh karena itu, mengonsumsi jamu ibu menyusui tanpa konsultasi bisa menyebabkan efek tak terduga bila bersamaan dengan pengobatan medis.
2. Peningkatan risiko pendarahan
Walaupun sebagian jamu nifas diklaim dapat membantu mengecilkan rahim atau menghentikan darah nifas, penelitian yang dimuat dalam Evidence Based Care Journal menunjukkan bahwa beberapa herbal memiliki efek stimulasi rahim yang belum sepenuhnya aman.
Oleh karenanya, jika Mama mengonsumsi jamu bersalin, termasuk yang diklaim sebagai jamu pelancar ASI, tanpa pengawasan dokter, ada potensi terjadi perdarahan yang lebih banyak atau terpantau terlambat, terutama bila ada luka persalinan, riwayat perdarahan, atau kondisi medis tertentu.
3. Risiko kontaminasi bakteri atau bahan kimia
Ramuan herbal setelah melahirkan atau jamu nifas yang dibuat secara tradisional atau rumahan terkadang tidak melalui standar produksi yang ketat.
Untuk Mama yang baru melahirkan, sistem kekebalan tubuh belum sepenuhnya kembali normal, sehingga risiko infeksi atau reaksi negatif bisa lebih besar.
Oleh sebab itu, memilih jamu bersalin yang terpercaya atau melalui rekomendasi tenaga kesehatan adalah langkah bijak.
4. Alergi dan reaksi negatif
Seperti halnya obat atau suplemen herbal lainnya, jamu nifas juga berpotensi menyebabkan reaksi alergi pada kulit atau saluran cerna.
Sebuah studi dalam BioMed Central menunjukkan bahwa ibu menyusui yang memakai produk herbal melaporkan efek samping mual, muntah, diare, pusing, atau hipoglikemia.
Mengingat pengaruh bahan herbal bisa berbeda antar individu, maka lebih aman jika mulai dengan dosis rendah dan dalam pengawasan dokter.
5. Dampak pada ASI dan bayi
Bagi Mama yang menyusui, penting diingat bahwa zat-zat yang masuk ke tubuh Mama bisa masuk ke ASI dan memengaruhi bayi.
Apabila mengonsumsi obat saat menyusui (termasuk herbal), harus dikonsultasikan terlebih dahulu karena bisa menimbulkan perubahan tidur dan makan bayi, ruam, hingga masalah pernapasan.
Oleh karenanya, ketika Mama mencari jamu pelancar ASI, penting untuk benar-benar mempertimbangkan keamanan bayi melalui ASI.
Tips Aman Mengonsumsi Jamu Habis Melahirkan
Berikut beberapa tips agar konsumsi jamu untuk ibu melahirkan atau jamu nifas lebih aman:
- Selalu beri tahu dokter atau bidan bahwa Mama berniat mengonsumsi jamu nifas atau jamu pelancar ASI, terutama bila Mama sedang minum obat medis lainnya.
- Pilih jamu yang diproduksi oleh penyedia terpercaya, dengan label jelas dan bahan yang diketahui. Hindari ramuan rumahan tanpa standar produksi.
- Mulailah dengan dosis kecil, amati reaksi tubuh pada Mama dan bayi bila menyusui sebelum melanjutkan.
- Jangan anggap produk herbal selalu aman, tetap waspada terhadap reaksi tubuh dan potensi interaksi obat maupun kondisi medis tertentu.
- Jika muncul perdarahan yang tak biasa, sakit perut hebat, demam, bayi tampak rewel atau terdapat reaksi pada bayi menyusui, segera hentikan jamu dan hubungi tenaga kesehatan.
- Perhatikan kondisi secara menyeluruh, munculnya kelelahan pasca melahirkan, hormon yang belum stabil, kondisi luka, dan produksi ASI juga dipengaruhi oleh banyak faktor selain jamu (istirahat, nutrisi, dukungan menyusui).
- Bila memilih jamu pelancar ASI, pastikan juga dukungan menyusui lainnya (posisi menyusui yang benar, frekuensi menyusui, dukungan emosional) turut berjalan, bukan hanya bergantung pada herbal.
- Jangan menggantikan atau menunda perawatan medis yang telah disarankan oleh profesional dengan hanya jamu.
Artikel lainnya: Manfaat Senam Nifas, Waktu yang Tepat, dan Cara Melakukannya Pasca Melahirkan
Alternatif Pemulihan Pasca-Melahirkan yang Aman dan Terbukti
Selain jamu bersalin atau jamu untuk ibu melahirkan, terdapat sejumlah alternatif pemulihan pasca-melahirkan yang lebih terbukti dan bisa dikombinasikan dengan bijaksana, yaitu:
- Nutrisi seimbang: Asupan cukup protein, zat besi, vitamin dan air merupakan fondasi pemulihan tubuh dan produksi ASI.
- Istirahat dan tidur yang cukup: Meskipun terkadang sulit setelah melahirkan, upayakan waktu istirahat dan bantu dengan dukungan orang sekitar agar tubuh bisa memperbaiki diri.
- Dukungan menyusui: Konsultasi dengan konselor laktasi atau bidan dapat membantu posisi menyusui, frekuensi, teknik yang dapat meningkatkan ASI secara alami.
- Perawatan luka dan rahim: Ikuti petunjuk medis terkait perawatan luka persalinan, kontraksi rahim, dan observasi jika ada perdarahan berlebihan.
- Aktivitas ringan secara bertahap: Setelah mendapat izin medis, lakukan jalan-santai atau peregangan ringan untuk membantu sirkulasi darah dan mood.
Pada akhirnya, keputusan menggunakan jamu nifas atau jamu pelancar ASI sebaiknya dilakukan dengan informasi, pengawasan, dan tetap dalam konteks kesehatan menyeluruh.
Budaya tradisional memang kaya dan berpotensi membantu, namun tidak menggantikan anjuran medis dan keamanan bayi serta Mama.
Sebagai bagian dari dukungan yang lebih luas, Mama bisa unduh aplikasi Hallobumil, atau bergabung ke komunitas Hallobumil di WhatsApp dan juga ikut webinar Hallobumil bersama para ahli.
Dengan begitu Mama bisa mendapat informasi terkini, berbagi dengan Mama lain, dan menjadikan pemulihan setelah melahirkan lebih aman dan penuh makna.





:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
