:strip_icc():format(webp)/hb-article/R61oB-QlM5PHpgPhex5zO/original/w0hc07w4hcoosckgv89qaopvkd797t99.png)
Oligohidramnion merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang perlu mendapatkan perhatian khusus.
Air ketuban memiliki peran penting dalam melindungi janin dari benturan, membantu perkembangan paru-paru, menjaga suhu tubuh janin, serta memberikan ruang gerak yang cukup selama berada di dalam kandungan.
Ketika jumlah air ketuban berkurang, berbagai risiko dapat muncul, mulai dari gangguan pertumbuhan janin hingga komplikasi saat persalinan.
Oleh karena itu, penting bagi Mama untuk memahami apa itu oligohidramnion, mengenali gejala oligohidramnion, serta mengetahui berbagai penyebab oligohidramnion agar dapat memperoleh penanganan yang tepat sejak dini.
Artikel lainnya: Infeksi Kehamilan yang Perlu Mama Waspadai
Apa Itu Oligohidramnion?
Oligohidramnion adalah kondisi ketika jumlah air ketuban di dalam rahim lebih sedikit dibandingkan jumlah normal sesuai usia kehamilan.
Air ketuban merupakan cairan yang mengelilingi janin selama masa kehamilan dan berfungsi untuk melindungi, menopang pertumbuhan, serta membantu perkembangan organ-organ penting janin.
Pada kondisi normal, volume air ketuban akan meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan. Namun, pada oligohidramnion, jumlah cairan tersebut berkurang sehingga ruang gerak janin menjadi lebih terbatas.
Kondisi ini dapat terjadi pada trimester mana pun, meskipun lebih sering ditemukan pada trimester ketiga kehamilan.
Oligohidramnion dapat bersifat ringan hingga berat. Tingkat keparahannya biasanya ditentukan melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) yang mengukur jumlah cairan ketuban di dalam rahim.
Artikel lainnya: Air Ketuban Merembes, Bagaimana Cirinya dan Apa Bahayanya?
Gejala Oligohidramnion yang Perlu Mama Waspadai
Pada banyak kasus, gejala oligohidramnion tidak selalu menimbulkan keluhan yang jelas. Bahkan, kondisi ini sering kali baru diketahui saat pemeriksaan USG rutin selama kehamilan.
Meski demikian, beberapa tanda berikut dapat menjadi petunjuk adanya jumlah air ketuban yang berkurang:
- Ukuran perut tampak lebih kecil dibandingkan usia kehamilan.
- Gerakan janin terasa berkurang atau tidak seaktif biasanya.
- Keluar cairan bening dari vagina yang mengarah pada kebocoran ketuban.
- Tinggi fundus uteri lebih kecil dari yang seharusnya.
- Rasa tidak nyaman atau nyeri pada area perut.
Jika Mama merasakan gerakan janin berkurang secara signifikan atau mengalami keluarnya cairan dari vagina yang tidak biasa, segera konsultasikan dengan dokter kandungan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Artikel lainnya: Hiperemesis Gravidarum: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Penyebab Air Ketuban Sedikit
Penyebab oligohidramnion cukup beragam. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh faktor dari tubuh Mama, kondisi janin, maupun masalah pada plasenta.
Faktor risiko dari kondisi Mama
Beberapa kondisi kesehatan pada ibu hamil yang dapat meningkatkan risiko oligohidramnion meliputi:
- Tekanan darah tinggi atau hipertensi.
- Preeklamsia.
- Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik.
- Dehidrasi atau kekurangan cairan.
- Penyakit autoimun seperti lupus.
- Kehamilan yang melewati tanggal perkiraan lahir (postterm).
- Ketuban pecah dini atau kebocoran ketuban.
- Penggunaan obat-obatan tertentu yang memengaruhi produksi cairan ketuban.
Selain itu, gangguan fungsi plasenta juga dapat menyebabkan suplai darah dan nutrisi ke janin berkurang sehingga produksi air ketuban ikut menurun.
Faktor risiko dari kondisi janin
Beberapa kondisi pada janin juga dapat menjadi penyebab oligohidramnion, antara lain:
- Kelainan ginjal janin.
- Kelainan saluran kemih janin.
- Gangguan kromosom tertentu.
- Hambatan pertumbuhan janin dalam kandungan (IUGR).
Mengingat sebagian besar air ketuban pada trimester kedua dan ketiga berasal dari urine janin, gangguan pada ginjal atau saluran kemih janin dapat menyebabkan produksi air ketuban menjadi sangat sedikit.
Apakah Oligohidramnion Berbahaya untuk Janin dan Mama?
Tingkat bahaya oligohidramnion bergantung pada usia kehamilan, penyebab yang mendasari, serta tingkat keparahannya.
Pada kehamilan awal, jumlah air ketuban yang terlalu sedikit dapat mengganggu perkembangan organ janin, terutama paru-paru dan sistem muskuloskeletal.
Jika terjadi pada trimester akhir, oligohidramnion dapat meningkatkan risiko:
- Pertumbuhan janin terhambat.
- Tali pusat terjepit sehingga suplai oksigen berkurang.
- Persalinan prematur.
- Operasi caesar.
- Gawat janin saat persalinan.
Meski demikian, tidak semua kasus oligohidramnion berakhir dengan komplikasi serius. Dengan pemantauan yang baik dan penanganan yang tepat, banyak bayi tetap lahir dalam kondisi sehat.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Oligohidramnion?
Diagnosis oligohidramnion biasanya dilakukan melalui pemeriksaan USG. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengukur jumlah air ketuban menggunakan metode Amniotic Fluid Index (AFI) atau Maximum Vertical Pocket (MVP).
Selain USG, dokter juga akan melakukan wawancara medis mengenai riwayat kehamilan dan keluhan yang dialami Mama. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menilai ukuran rahim dan mendeteksi kemungkinan kebocoran cairan ketuban.
Bila diperlukan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan tambahan seperti:
- Non-Stress Test (NST) untuk memantau kondisi janin.
- Tes darah untuk mendeteksi infeksi atau penyakit tertentu.
- Pemeriksaan urine.
- Evaluasi fungsi plasenta dan pertumbuhan janin.
Artikel lainnya: 15 Keluhan Ibu Hamil pada Trimester Kedua
Penanganan Oligohidramnion
Penanganan oligohidramnion disesuaikan dengan penyebab, usia kehamilan, dan kondisi janin. Pada kasus ringan, dokter biasanya menyarankan:
- Memperbanyak konsumsi air putih.
- Istirahat yang cukup.
- Mengurangi aktivitas fisik berat.
- Kontrol kehamilan lebih sering untuk memantau jumlah cairan ketuban.
Jika penyebabnya berkaitan dengan kondisi medis tertentu, dokter akan mengatasi penyakit yang mendasarinya, seperti hipertensi atau diabetes.
Pada kondisi yang lebih berat, dokter dapat mempertimbangkan tindakan seperti:
- Pemantauan ketat di rumah sakit.
- Amnioinfusi untuk menambah cairan ketuban sementara pada kondisi tertentu.
- Induksi persalinan apabila usia kehamilan sudah cukup bulan.
- Operasi caesar jika kondisi janin menunjukkan tanda bahaya.
Kapan Mama Harus Periksa ke Dokter?
Kondisi oligohidramnion tentunya perlu segera diatasi. Langsung periksakan diri ke dokter apabila Mama mengalami:
- Gerakan janin berkurang secara signifikan.
- Keluar cairan bening dari vagina.
- Nyeri perut yang tidak biasa.
- Ukuran perut terasa tidak berkembang sesuai usia kehamilan.
- Memiliki riwayat hipertensi, preeklamsia, atau diabetes selama kehamilan.
Pemeriksaan kehamilan secara rutin sangat penting untuk mendeteksi oligohidramnion sejak dini. Semakin cepat kondisi ini diketahui, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi yang dapat membahayakan Mama maupun janin.
Menjaga kehamilan tetap sehat membutuhkan informasi yang tepat setiap hari. Agar lebih mudah memantau perkembangan janin dan mendapatkan berbagai edukasi kehamilan terpercaya, Mama bisa download aplikasi HalloBumil dan daftarkan akun Mama.
Temukan berbagai fitur yang mendukung perjalanan kehamilan hingga persalinan. Menghadapi kondisi kehamilan seperti oligohidramnion terkadang membuat Mama memiliki banyak pertanyaan.
Tidak perlu merasa sendiri, karena Mama bisa bergabung ke komunitas WhatsApp HalloBumil untuk berbagi pengalaman, mendapatkan dukungan, serta memperoleh informasi dari sesama ibu hamil dan tim ahli.
Selain rutin memantau kondisi kehamilan, mengetahui perkiraan waktu persalinan juga penting untuk membantu Mama mempersiapkan kebutuhan menjelang kelahiran.
Coba gunakan Health Tools Hitung HPL (Hari Perkiraan Lahir) untuk mengetahui estimasi hari lahir Si Kecil dengan lebih praktis.
Menambah wawasan selama kehamilan dapat membantu Mama lebih siap menghadapi berbagai kondisi yang mungkin terjadi.
Jangan lewatkan berbagai event HalloBumil yang menghadirkan dokter dan pakar kesehatan untuk membahas topik seputar kehamilan, persalinan, serta tumbuh kembang anak secara langsung dan interaktif.






:strip_icc():format(webp)/hb-article/TmBwmXyvvc5fBmDgsYa09/original/0kram-saat-hamil-ini-solusinya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/e9NZTASpd1tc42Z4Gx9iu/original/0makanan-pantangan-ibu-hamil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/43Mtw78Lk1CKWAEEeYQRf/original/0kenaikan-berat-badan-selama-hamil-yang-normal.jpg)
