loading

Ketuban Pecah Dini: Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya

Bagikan
Facebook
Twitter
WhatsApp
copylink
Ketuban pecah dini terjadi sebelum waktunya dan bisa membahayakan janin. Kenali penyebab, gejala, risiko, serta langkah penanganan yang aman agar Mama dan janin tetap sehat dan terlindungi.
ketuban-pecah-dini

Ketuban pecah dini adalah kondisi ketika selaput ketuban pecah sebelum persalinan dimulai. Kondisi ini dapat terjadi saat usia kehamilan Mama sudah cukup bulan maupun sebelum 37 minggu.

Mengingat air ketuban berperan melindungi janin dari benturan dan membantu menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangannya, pecahnya ketuban tentu harus segera diperiksa oleh tenaga medis.

Artikel lainnya: Wajib Tahu, Manfaat Air Ketuban bagi Pertumbuhan Janin

Apa Itu Ketuban Pecah Dini?

Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum dimulainya persalinan. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut prelabor rupture of membranes (PROM). Jika pecahnya selaput ketuban terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu, kondisi tersebut disebut preterm prelabor rupture of membranes (PPROM). 

Jadi, kapan dikatakan ketuban pecah dini? Menurut Kementerian Kesehatan, kondisi ini terjadi ketika ketuban pecah sebelum persalinan dimulai, bukan semata-mata karena usia kehamilan belum cukup bulan. KPD dapat terjadi pada kehamilan cukup bulan maupun sebelum 37 minggu.

Sementara itu, ketuban pecah dini menurut WHO juga merujuk pada pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan, dengan PPROM digunakan ketika kondisi tersebut terjadi sebelum cukup bulan.

Mengingat risiko infeksi dan kelahiran prematur dapat meningkat setelah ketuban pecah, kondisi ini membutuhkan evaluasi medis. 

Sementara itu, ketuban pecah dini menurut WHOberkaitan dengan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan dimulai.

Preterm prelabor rupture of membranes (PPROM) adalah istilah untuk kondisi ketika selaput ketuban pecah sebelum usia kehamilan 37 minggu dan sebelum persalinan dimulai.

Kondisi ini perlu segera dievaluasi karena dapat meningkatkan risiko persalinan prematur dan infeksi pada Mama maupun janin.

Penyebab Ketuban Pecah Dini

Penyebab ketuban pecah dini tidak selalu dapat diketahui secara pasti. Namun, terdapat sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko melemahnya selaput ketuban atau membuat tekanan pada kantung ketuban menjadi lebih besar.

Beberapa penyebab ketuban pecah dini atau faktor yang berkaitan dengan peningkatan risikonya meliputi:

  • Infeksi selama kehamilan, termasuk infeksi pada vagina, leher rahim, saluran kemih, atau selaput ketuban.
  • Riwayat KPD atau persalinan prematur pada kehamilan sebelumnya.
  • Kehamilan kembar, yang dapat membuat rahim dan selaput ketuban mengalami peregangan lebih besar.
  • Polihidramnion, yaitu jumlah air ketuban yang terlalu banyak.
  • Leher rahim pendek atau masalah pada serviks.
  • Perdarahan selama kehamilan, terutama pada trimester kedua atau trimester ketiga.
  • Merokok selama kehamilan.
  • Berat badan Mama yang terlalu rendah atau kekurangan nutrisi.
  • Riwayat tindakan pada serviks, seperti biopsi atau operasi tertentu.
  • Jarak kehamilan yang terlalu dekat pada sebagian Mama.

Tidak semua Mama dengan faktor risiko tersebut pasti mengalami KPD. Sebaliknya, KPD juga dapat terjadi pada Mama yang tidak memiliki faktor risiko yang jelas.

Artikel lainnya: Air Ketuban Merembes, Bagaimana Cirinya dan Apa Bahayanya?

Gejala Ketuban Pecah Dini

Mengenali ciri-ciri ketuban pecah dini penting agar Mama tidak keliru menganggap cairan yang keluar sebagai urine atau keputihan biasa. Air ketuban dapat keluar dalam jumlah banyak sekaligus, tetapi bisa juga hanya berupa rembesan kecil yang terus berulang.

Jika Mama tidak yakin apakah cairan yang keluar merupakan urine, keputihan, atau air ketuban, jangan mencoba memastikan sendiri. Langsung lakukan periksa ke dokter untuk memastikan apakah selaput ketuban benar-benar sudah pecah.

Bahaya Ketuban Pecah Dini bagi Ibu Hamil

Lantas, apakah ketuban pecah dini berbahaya? Kondisi ini perlu dianggap serius karena setelah selaput ketuban pecah, perlindungan terhadap infeksi menjadi berkurang. Risiko tersebut dapat semakin besar jika ketuban pecah dalam waktu lama sebelum bayi lahir. 

Infeksi pada rahim dan selaput ketuban

Salah satu komplikasi ketuban pecah dini yang paling perlu diwaspadai adalah infeksi pada selaput ketuban dan cairan ketuban atau korioamnionitis. Kuman dapat lebih mudah masuk ke lingkungan rahim setelah selaput ketuban tidak lagi utuh.

Mama dapat mengalami demam, nyeri perut, cairan vagina berbau tidak sedap, atau perubahan denyut jantung janin.

Jika infeksi tidak segera ditangani, kondisi dapat berkembang menjadi infeksi yang lebih serius sehingga dokter perlu menentukan waktu persalinan berdasarkan kondisi Mama dan janin.

Solusio plasenta

KPD juga dapat berkaitan dengan solusio plasenta, yaitu terlepasnya sebagian atau seluruh plasenta dari dinding rahim sebelum bayi lahir. Kondisi ini dapat mengganggu suplai oksigen dan nutrisi ke janin serta menyebabkan perdarahan pada Mama.

Solusio plasenta membutuhkan penanganan segera. Terlebih jika Mama mengalami perdarahan dari vagina, nyeri perut yang hebat, atau perubahan kondisi janin, dokter perlu segera melakukan evaluasi untuk menentukan persalinan yang paling aman.

Artikel lainnya: Inilah Fungsi Plasenta pada Kehamilan & Tips Menjaganya

Persalinan Prematur

Menurut American College of Obstetrician and Gynecologist (ACOG) jika ketuban pecah sebelum usia kehamilan 37 minggu, salah satu risiko terbesarnya adalah persalinan prematur.

Semakin muda usia kehamilan ketika ketuban pecah, semakin besar perhatian yang diperlukan karena organ janin mungkin belum berkembang secara optimal.

Namun, KPD tidak selalu berarti bayi harus langsung dilahirkan. Pada kondisi tertentu, terutama jika usia kehamilan masih sangat muda dan kondisi Mama maupun janin stabil, dokter dapat mempertimbangkan pemantauan ketat untuk memberikan kesempatan bagi kehamilan berlanjut. Keputusan ini harus dibuat oleh dokter berdasarkan usia kehamilan dan kondisi klinis.

Artikel lainnya: Oligohidramnion: Kondisi Air Ketuban Sedikit Saat Hamil

Bahaya Ketuban Pecah Dini bagi Janin

Ketuban membantu melindungi janin dan menyediakan lingkungan yang mendukung perkembangan selama kehamilan. Ketika selaput tersebut pecah terlalu dini, janin dapat menghadapi risiko infeksi, kelahiran prematur, gangguan pernapasan, serta masalah lain yang berkaitan dengan kurangnya cairan ketuban. 

Infeksi pada Bayi

Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah infeksi pada bayi, terutama jika KPD disertai infeksi pada rahim atau selaput ketuban. Risiko ini menjadi alasan mengapa Mama dengan ketuban pecah perlu segera menjalani pemeriksaan dan pemantauan. 

Dokter dapat memantau suhu tubuh Mama, denyut jantung janin, kondisi cairan yang keluar, serta tanda-tanda infeksi lainnya.

Jika ditemukan kondisi yang membahayakan Mama atau janin, persalinan mungkin perlu dilakukan meskipun usia kehamilan belum mencapai cukup bulan.

banner

Gangguan pernapasan akibat lahir prematur

Bayi yang lahir terlalu dini lebih berisiko mengalami masalah pernapasan karena paru-parunya belum matang. Risiko tersebut umumnya semakin besar jika bayi lahir pada usia kehamilan yang lebih muda.

Untuk kehamilan yang berisiko melahirkan prematur, dokter dapat memberikan kortikosteroid pada kondisi dan usia kehamilan tertentu untuk membantu pematangan paru-paru janin. Terapi ini diberikan berdasarkan penilaian dokter, bukan untuk digunakan sendiri oleh ibu hamil.

Tali pusat tertekan

Berkurangnya cairan ketuban dapat meningkatkan risiko tali pusat tertekan di antara janin dan dinding rahim. Kondisi ini dapat mengganggu aliran darah dan oksigen menuju janin sehingga denyut jantung janin perlu dipantau secara berkala.

Dalam situasi tertentu, tali pusat bahkan dapat turun melalui leher rahim menuju jalan lahir atau mengalami cord prolapse. Kondisi tersebut merupakan kegawatdaruratan obstetri yang membutuhkan penanganan segera.

Berapa lama bayi bertahan setelah ketuban pecah?

Pertanyaan “Berapa lama bayi bertahan setelah ketuban pecah?” tidak memiliki satu jawaban yang berlaku untuk semua kehamilan.

Lama waktu bayi dapat tetap berada di dalam rahim bergantung pada usia kehamilan, jumlah cairan ketuban yang tersisa, kondisi Mama dan janin, serta ada tidaknya infeksi atau komplikasi lain.

Pada kehamilan cukup bulan, persalinan biasanya segera mengikuti pecahnya ketuban. Namun, jika ketuban pecah sebelum 37 minggu, dokter terkadang dapat mempertahankan kehamilan dengan pemantauan ketat bila kondisi Mama dan janin memungkinkan.

Jadi, tidak tepat menentukan batas aman secara mandiri hanya berdasarkan jumlah jam sejak ketuban pecah. 

Bagaimana Penanganan Medis untuk Ketuban Pecah Dini?

Penanganan ketuban pecah dini ditentukan berdasarkan usia kehamilan, kondisi Mama, kondisi janin, tanda-tanda infeksi, serta apakah persalinan sudah berlangsung. Dokter biasanya terlebih dahulu memastikan bahwa cairan yang keluar memang air ketuban melalui pemeriksaan klinis dan, bila diperlukan, pemeriksaan tambahan. 

Beberapa langkah medis yang dapat dilakukan meliputi:

  • Pemeriksaan kondisi Mama dan janin, termasuk tanda vital dan denyut jantung janin.
  • Pemeriksaan untuk memastikan ketuban pecah, misalnya pemeriksaan dengan spekulum, tes cairan tertentu, atau pemeriksaan USG sesuai kebutuhan.
  • Pemantauan kehamilan secara ketat jika persalinan belum perlu segera dilakukan.
  • Pemberian antibiotik pada kondisi tertentu untuk mengurangi risiko infeksi.
  • Pemberian kortikosteroid jika berisiko melahirkan prematur dan sesuai usia kehamilan serta indikasi medis.
  • Pemberian magnesium sulfat pada kondisi tertentu untuk membantu menurunkan risiko komplikasi neurologis pada bayi yang sangat prematur.
  • Induksi persalinan jika persalinan perlu segera dilakukan, terutama pada kondisi tertentu setelah cukup bulan.
  • Operasi caesar jika terdapat indikasi obstetri yang membuat persalinan melalui vagina tidak aman.

Oleh karena itu, cara mengatasi ketuban pecah dini bukan dengan mencoba menghentikan kebocoran di rumah.

Mama sebaiknya segera menuju fasilitas kesehatan agar dokter dapat menentukan apakah kehamilan perlu dipertahankan sementara atau persalinan perlu dilakukan. 

Artikel lainnya: Ini Perbedaan USG 2D, 3D, 4D, dan 5D yang Perlu Mama Tahu

Pencegahan Ketuban Pecah Dini

Tidak semua kasus KPD dapat dicegah karena penyebabnya sering kali tidak diketahui secara pasti. Meski demikian, menjaga kesehatan selama kehamilan dan menangani faktor risiko sedini mungkin dapat membantu menurunkan risiko beberapa kondisi yang berkaitan dengan KPD.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:

  • Melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.
  • Segera memeriksakan diri jika mengalami keputihan yang tidak normal, gatal, berbau, atau keluhan yang mengarah pada infeksi.
  • Menghindari rokok dan paparan asap rokok.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang sesuai kebutuhan kehamilan.
  • Mengikuti anjuran dokter jika memiliki riwayat persalinan prematur atau KPD sebelumnya.
  • Menangani penyakit atau infeksi selama kehamilan sesuai anjuran tenaga medis.
  • Berkonsultasi dengan dokter jika memiliki riwayat masalah serviks atau pernah menjalani tindakan pada serviks.

Artikel lainnya: Kenali Penyebab Air Ketuban Berwarna Hijau dan Dampaknya

Kapan Mama Harus Segera ke Rumah Sakit setelah Ketuban Pecah?

Mama tidak perlu menunggu kontraksi atau pembukaan jika merasa ketuban sudah pecah. Bahkan bila hanya berupa rembesan kecil dan masih ragu apakah cairan tersebut benar-benar air ketuban, sebaiknya segera menghubungi dokter atau pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.

Segera ke rumah sakit jika:

  • Cairan keluar terus-menerus dari vagina.
  • Cairan keluar dalam jumlah banyak atau tiba-tiba menyembur.
  • Usia kehamilan belum 37 minggu.
  • Cairan berwarna hijau, cokelat, kemerahan, atau bercampur darah.
  • Cairan berbau tidak sedap.
  • Mama mengalami demam atau menggigil.
  • Muncul nyeri perut yang menetap atau semakin berat.
  • Kontraksi terasa teratur dan semakin kuat.
  • Gerakan janin berkurang.
  • Mama merasa ada sesuatu yang keluar dari vagina, terutama jika dicurigai tali pusat.

Lalu, ketuban pecah dini berapa jamsampai bayi lahir? Waktunya sangat bervariasi. Pada kehamilan cukup bulan, persalinan sering kali menyusul dalam waktu relatif singkat, tetapi tidak ada angka jam yang bisa dijadikan patokan untuk semua Mama.

Semakin lama ketuban pecah sebelum persalinan, risiko infeksi dapat meningkat sehingga dokter akan menentukan penanganan berdasarkan kondisi masing-masing.

Ketuban Pecah Dini Apakah Bisa Lahir Normal?

Tak jarang, kebanyakan Mama juga sering bertanya ketuban pecah dini apakah bisa lahir normal? Ternyata ketuban pecah dini bisa lahir normal. 

KPD tidak otomatis berarti Mama harus menjalani operasi caesar. Jika kondisi Mama dan janin stabil, posisi bayi mendukung, tidak ada komplikasi yang mengharuskan operasi, dan persalinan melalui vagina dinilai aman, dokter dapat merencanakan persalinan normal atau vaginal.

Sebaliknya, operasi caesar mungkin diperlukan jika terdapat kondisi seperti plasenta previa, posisi janin tertentu, tali pusat turun, gangguan kondisi janin, atau alasan medis lainnya.

Jadi, metode persalinan ditentukan setelah dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh, bukan hanya berdasarkan apakah ketuban sudah pecah.

Ketuban pecah dini adalah kondisi ketika selaput ketuban pecah sebelum persalinan dimulai. Kondisi ini dapat terjadi pada kehamilan cukup bulan maupun sebelum 37 minggu.

Komplikasi ketuban pecah dini yang perlu diwaspadai meliputi infeksi pada Mama dan janin, persalinan prematur, masalah tali pusat, solusio plasenta, hingga gangguan pernapasan pada bayi.

Oleh karena itu, jangan menunggu kontraksi muncul jika Mama merasa air ketuban sudah pecah. Segera periksakan diri ke rumah sakit agar dokter dapat memastikan kondisi ketuban, memantau kesehatan janin, dan menentukan penanganan ketuban pecah dini yang paling aman berdasarkan usia kehamilan dan kondisi Mama serta si Kecil.

Yuk, pantsu perjalanan kehamilan dengan lebih praktis dengan mengunduh aplikasi Hallobumil untuk mendapatkan informasi seputar kehamilan dan persiapan persalinan dalam satu tempat.

Dengan informasi yang tepat, Mama bisa lebih siap mengenali perubahan tubuh menjelang hari kelahiran.

Tidak perlu menghadapi berbagai pertanyaan seputar kehamilan sendirian. Langsung gabung ke komunitas Hallobumil di WhatsApp dan bertukar cerita dengan sesama Mama. Coba akses Health Tools hitung HPL (Hari Perkiraan Lahir) dengan lebih mudah. 

Persiapan menuju persalinan bukan hanya soal perlengkapan bayi. Mama juga bisa mengikuti event kesehatan untuk mendapatkan informasi dan edukasi seputar kehamilan, persalinan, serta perawatan Si Kecil dari sumber yang terpercaya. Jangan lupa registrasi data diri Mama sekarang juga ya!

banner
Jadilah orang tua super! Panduan 1000 Hari Pertama Kehidupan si kecil ada di sini. GRATIS.
image
image
image
image
4
0
Bagikan
Facebook
Twitter
WA
Belum ada komentar.
Login atau daftar dulu yuk ma biar bisa komen

Login/daftar yuk Ma

Nikmati Perjalanan Kehamilan Bersama Bumil Lainnya

Gabung dan temui teman, tips, dan cerita inspiratif di komunitas Hallobumil untuk lewati masa hamil dengan penuh dukungan
image