loading

Pup Si Kecil Berbusa? Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya

Bagikan
Facebook
Twitter
WhatsApp
copylink
Perubahan tekstur feses menjadi berbusa pada anak sering kali dipicu oleh infeksi atau intoleransi makanan. Pahami penjelasan medis mengenai penyebab dan langkah penanganan yang tepat dan aman.
pup-si-kecil-berbusa-ketahui-penyebab-dan-cara-mengatasinya

Melihat pup Si Kecil berbusa atau BAB Si Kecil berbusa tentu dapat membuat Mama bertanya-tanya apakah kondisi tersebut masih normal atau tidak.

Pada sebagian Si Kecil, tekstur feses memang bisa berubah-ubah sesuai usia, pola menyusu, maupun kondisi saluran cerna.

Bahkan, pup Si Kecil berbusa warna kuning bisa saja muncul tanpa disertai penyakit serius. Namun, bila perubahan ini berlangsung terus-menerus atau disertai gejala lain, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap diperlukan.

Artikel lainnya: Kenali Ciri-Ciri Pencernaan Si Kecil yang Sehat

Apa Itu Pup Si Kecil Berbusa?

Pup berbusa adalah kondisi ketika tinja tampak memiliki gelembung atau busa di permukaannya sehingga terlihat lebih berongga dibandingkan feses biasa.

Feses Si Kecil berbusa dapat berwarna kuning, hijau, atau kecokelatan, tergantung usia, jenis asupan, dan kondisi pencernaannya.

Pada Si Kecil yang mendapat ASI eksklusif, tekstur feses cenderung lebih cair sehingga terkadang tampak berbusa tanpa menandakan penyakit tertentu.

Meski demikian, BAB berbusa pada Si Kecil yang muncul berulang kali atau disertai diare, muntah, demam, hingga penurunan berat badan tidak boleh diabaikan.

Kondisi tersebut bisa menjadi petunjuk adanya gangguan pencernaan atau infeksi yang memerlukan evaluasi medis. 

Artikel lainnya: 6 Warna Feses Bayi dan Artinya agar Mama Tidak Panik

Penyebab Pup Si Kecil Berbusa

Pup Si Kecil yang tampak berbusa tidak selalu menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang serius. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, berikut penyebabnya:

1. Pola menyusu yang berubah

Pada Si Kecil yang menyusu langsung, perubahan pola menyusu atau perpindahan payudara yang terlalu cepat dapat memengaruhi komposisi ASI yang diterima sehingga tinja tampak lebih encer dan berbusa. Kondisi ini umumnya membaik setelah pola menyusu kembali teratur.

2. Sistem pencernaan yang belum matang

Saluran cerna Si Kecil masih berkembang pada bulan-bulan pertama kehidupan. Akibatnya, proses pencernaan belum sempurna sehingga sesekali dapat muncul pup Si Kecil berbusa tanpa disertai keluhan lain dan masih tergolong normal.

3. Bayi menelan terlalu banyak udara saat menyusu

Udara yang ikut tertelan ketika menyusu dapat meningkatkan produksi gas di saluran cerna. Kondisi ini terkadang membuat tinja tampak berbuih atau berbusa, terutama bila Si Kecil juga sering bersendawa atau mengalami perut kembung.

Artikel lainnya: Atasi Perut Kembung pada Bayi dengan Cara Ini

4. Perubahan susu formula

Mengganti jenis susu formula secara tiba-tiba dapat memengaruhi keseimbangan pencernaan Si Kecil. Sebagian Si Kecil membutuhkan waktu beradaptasi sehingga tekstur BAB menjadi lebih encer atau tampak berbusa.

5. Intoleransi atau sensitivitas terhadap kandungan makanan

Walaupun intoleransi laktosa bawaan pada Si Kecil tergolong jarang, beberapa Si Kecil dapat memiliki sensitivitas terhadap komponen tertentu dalam susu atau makanan sehingga muncul keluhan seperti diare, kembung, dan perubahan bentuk feses.

Saat muncul pertanyaan kenapa Si Kecil BAB berbusa, kondisi ini menjadi salah satu kemungkinan yang perlu dipertimbangkan oleh dokter.

Artikel lainnya: Alergi Makanan pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

6. Infeksi virus atau bakteri

Infeksi saluran cerna dapat menjadi salah satu penyebab BAB Si Kecil berbusa. Selain berbusa, Si Kecil biasanya mengalami BAB lebih sering, tinja sangat cair, muntah, atau demam sehingga berisiko mengalami dehidrasi.

7. Konsumsi antibiotik

banner

Penggunaan antibiotik pada Si Kecil maupun ibu menyusui dapat mengubah keseimbangan bakteri baik di usus sehingga memengaruhi tekstur tinja. Akibatnya, sebagian Si Kecil mengalami BAB yang lebih cair atau tampak berbusa.

8. Mulai mengonsumsi MPASI

Saat Si Kecil mulai mengenal makanan pendamping ASI, saluran cernanya akan beradaptasi dengan jenis makanan baru. Adaptasi ini kadang menyebabkan perubahan warna maupun konsistensi tinja, termasuk menjadi lebih berbuih. 

9. Gangguan penyerapan nutrisi

Pada kasus tertentu, gangguan penyerapan nutrisi di usus dapat menyebabkan tinja tampak berbusa, lebih banyak gas, dan sulit naik berat badan. Bila kondisi berlangsung lama, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari penyebabnya.

Artikel lainnya: Si Kecil Susah BAB Setelah MPASI? Ini Penyebab & Solusinya

Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai Mama

Pada dasarnya, tidak semua BAB Si Kecil berbusa merupakan kondisi berbahaya. Namun, Mama perlu segera berkonsultasi bila pup Si Kecil berbusa dan berlendir disertai darah, demam, muntah terus-menerus, Si Kecil tampak sangat lemas, tidak mau menyusu, frekuensi BAB meningkat drastis, atau muncul tanda dehidrasi pada anak seperti bibir kering dan jumlah pipis berkurang.

Selain itu, bila pup Si Kecil berbusa warna kuning berlangsung terus selama beberapa hari dan diikuti penurunan berat badan atau gagal tumbuh, evaluasi medis penting dilakukan untuk memastikan tidak ada gangguan pencernaan yang mendasarinya.

Artikel lainnya: Kenali Masalah Pencernaan Bayi dan Cara Menanganinya

Cara Mengatasi Pup Si Kecil Berbusa

Cara mengatasi pup Si Kecil yang berbusa perlu disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. 

1. Pastikan teknik menyusu sudah tepat

Perlekatan yang baik saat menyusu membantu Si Kecil memperoleh ASI secara optimal sekaligus mengurangi udara yang tertelan. Hal ini dapat membantu memperbaiki keluhan BAB yang tampak berbusa.

Artikel lainnya: Posisi Menyusui yang Benar dan Nyaman untuk Mama

2. Pantau kondisi dan frekuensi BAB

Mama dapat mengamati warna, tekstur, serta frekuensi BAB selama beberapa hari. Jika Si Kecil tetap aktif, menyusu dengan baik, dan berat badan naik sesuai usia, perubahan sesaat sering kali tidak berbahaya. 

3. Jaga kecukupan cairan dan nutrisi

ASI atau susu formula tetap menjadi sumber cairan utama bagi Si Kecil. Pada Si Kecil yang mengalami diare atau BAB sangat cair, menjaga asupan cairan sangat penting untuk mencegah dehidrasi.

4. Konsultasikan ke dokter bila berlangsung lama

Apabila feses Si Kecil berbusa muncul terus-menerus, disertai gangguan pertumbuhan atau gejala lain yang mengkhawatirkan, dokter dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan menentukan penanganan yang sesuai. Hindari mengganti susu formula atau memberikan obat tanpa anjuran tenaga kesehatan.

Artikel lainnya: Penyebab Diare pada Si Kecil dan Cara Tepat Mengatasinya

Kapan Mama Harus Ke Dokter?

Mama sebaiknya segera membawa Si Kecil ke dokter apabila pup Si Kecil berbusa, berbusa dan berlendir, atau berbusa disertai darah, demam tinggi, muntah berulang, tanda dehidrasi, Si Kecil tampak mengantuk terus, tidak mau menyusu, atau BAB sangat sering dan cair.

Pemeriksaan juga dianjurkan bila keluhan tidak membaik dalam 24–48 jam atau membuat berat badan Si Kecil sulit bertambah.

Setelah memahami penyebab dan cara mengatasi BAB berbusa pada Si Kecil, Mama juga bisa bergabung ke komunitas WhatsApp HalloBumil dan berdiskusi mengenai tumbuh kembang serta kesehatan Si Kecil.

Jangan lewatkan kesempatan mengikuti berbagai event HalloBumil yang menghadirkan edukasi menarik seputar kehamilan, persalinan, menyusui, dan parenting yang menghadirkan edukasi menarik seputar kehamilan, persalinan, menyusui, dan parenting.

Yuk, langsung download aplikasi HalloBumil dan daftarkan diri Mama untuk mengakses berbagai artikel, tips, dan informasi yang dapat membantu Mama menjalani setiap tahap kehamilan dan pengasuhan.

Pertanyaan Populer

Jadilah orang tua super! Panduan 1000 Hari Pertama Kehidupan si kecil ada di sini. GRATIS.
image
image
image
image
0
0
Bagikan
Facebook
Twitter
WA
Belum ada komentar.
Login atau daftar dulu yuk ma biar bisa komen

Login/daftar yuk Ma

Tumbuh Bersama di 1000 Hari Pertama Si Kecil

Komunitas hangat untuk dapatkan tips, cerita inspiratif, dan teman baru pada 1000 hari pertama si kecil bersama Hallobumil
image