:strip_icc():format(webp)/hb-article/thvk5kzhXdcVJepFBHrEp/original/it84hjwjxdaf7zgnr4z7ua4li9ih3ujh.png)
Diare pada bayi adalah kondisi ketika Si Kecil buang air besar lebih sering dari biasanya dengan konsistensi feses yang lebih cair. Kondisi ini dapat terjadi pada bayi yang mendapatkan ASI maupun susu formula.
Meski sering kali disebabkan oleh infeksi ringan dan bisa membaik dengan sendirinya, diare pada bayi tetap perlu diperhatikan karena berisiko menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit yang berujung pada dehidrasi.
Oleh karena itu, penting bagi Mama untuk memahami penyebab diare pada Si Kecil, mengenali ciri diare, dan mengetahui cara mengatasinya dengan tepat.
Artikel lainnya: Seperti Apa Feses Bayi MPASI yang Normal dan Tidak Normal?
Penyebab Diare pada Si Kecil
Berbagai faktor dapat menjadi penyebab bayi diare, mulai dari infeksi hingga reaksi terhadap makanan tertentu.
1. Infeksi virus
Virus merupakan penyebab diare pada bayi yang paling umum. Rotavirus dan norovirus dapat menginfeksi saluran pencernaan sehingga menyebabkan BAB cair, muntah, dan kadang disertai demam. Risiko diare akibat virus lebih rendah pada bayi yang mendapatkan imunisasi rotavirus lengkap.
2. Infeksi bakteri
Bakteri seperti Salmonella, E. coli, dan Campylobacter juga dapat menyebabkan diare. Penularan biasanya terjadi melalui makanan, minuman, atau peralatan makan yang terkontaminasi. Pada beberapa kasus, diare dapat disertai lendir atau darah pada feses.
3. Alergi susu sapi
Pada sebagian bayi, terutama yang mengonsumsi susu formula berbahan dasar susu sapi, alergi protein susu sapi dapat menjadi penyebab diare pada bayi 0-6 bulan. Selain diare, bayi dapat mengalami ruam kulit, muntah, atau rewel setelah minum susu.
Artikel lainnya: Alergi Susu Sapi pada Bayi: Penyebab, Gejala, dan Solusinya
4. Perubahan pola makan atau MPASI
Saat mulai MPASI, sistem pencernaan bayi sedang beradaptasi dengan berbagai jenis makanan baru. Kondisi ini terkadang menyebabkan perubahan frekuensi dan tekstur BAB yang menyerupai diare.
5. Efek samping antibiotik
Menurut American College of Gastroenterology, penggunaan antibiotik dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di dalam usus. Akibatnya, bayi bisa mengalami BAB lebih sering dan lebih cair selama atau setelah pengobatan.
6. Kebersihan yang kurang terjaga
Botol susu, dot, tangan pengasuh, atau makanan yang tidak higienis dapat menjadi sumber kuman penyebab diare. Mengingat sistem imun bayi masih berkembang, mereka lebih rentan mengalami infeksi saluran cerna.
Artikel lainnya: Kenali Masalah Pencernaan Bayi dan Cara Menanganinya
Ciri-Ciri Diare yang Perlu Diwaspadai
Membedakan BAB normal dan diare pada bayi terkadang tidak mudah, terutama pada bayi yang mendapatkan ASI karena memang cenderung memiliki feses lebih cair. Berikut beberapa ciri bayi diare yang perlu Mama perhatikan:
- BAB lebih sering dari biasanya
- Feses sangat cair atau berair
- Feses berbau lebih menyengat
- Bayi tampak rewel dan tidak nyaman
- Demam
- Muntah
- Nafsu minum menurun
- Mulut dan bibir tampak kering
- Mata terlihat cekung
- Popok tetap kering selama beberapa jam
- Berat badan menurun
- Bayi tampak lemas atau mengantuk berlebihan
Ciri diare pada bayi yang disertai tanda-tanda dehidrasi memerlukan perhatian khusus karena kondisi ini dapat berkembang dengan cepat pada bayi.
Artikel lainnya: Mengenali Dehidrasi Saat Si Kecil Diare
Perhatikan Warna Feses Ketika Si Kecil Diare
Selain frekuensi dan konsistensi BAB, warna feses juga dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi kesehatan bayi.
Kuning
Feses kuning umumnya masih dianggap normal, terutama pada bayi yang mendapatkan ASI. Namun, bila sangat cair dan frekuensinya meningkat, kondisi tersebut bisa menandakan diare.
Hijau
Feses hijau dapat muncul akibat infeksi virus, konsumsi zat besi, atau makanan tertentu pada bayi yang sudah MPASI. Jika disertai diare berkepanjangan, sebaiknya konsultasikan ke dokter.
Cokelat
Warna cokelat biasanya normal, terutama pada bayi yang sudah mengonsumsi makanan pendamping ASI. Namun, jika teksturnya sangat cair dan terjadi berulang kali, ini bisa mengarah pada diare.
Merah
Feses merah dapat menandakan adanya darah dalam tinja. Kondisi ini memerlukan evaluasi dokter karena dapat disebabkan oleh infeksi, alergi makanan, atau gangguan pencernaan lainnya.
Putih atau abu-abu
Feses berwarna putih atau abu-abu merupakan kondisi yang tidak normal dan dapat berkaitan dengan gangguan hati atau saluran empedu. Jika mendapati kondisi ini, Mama sebaiknya segera memeriksakan bayi ke dokter.
Artikel lainnya: Prebiotik untuk Bayi: Manfaat, Sumber, dan Cara Memberikannya
Cara Mengatasi Diare pada Si Kecil
Cara mengatasi diare pada bayi perlu disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya. Ini dia tips mengatasi diare pada anak:
1. Tetap berikan ASI sesering mungkin
ASI merupakan sumber cairan dan nutrisi terbaik bagi bayi yang sedang diare. Pemberian ASI lebih sering dapat membantu mencegah dehidrasi dan mempercepat pemulihan.
Artikel lainnya: Manfaat ASI Eksklusif untuk Bayi dan Ibu yang Perlu Diketahui
2. Pastikan kebutuhan cairan terpenuhi
Selain ASI, dokter mungkin akan menyarankan larutan oralit untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang. Jangan memberikan minuman manis atau minuman bersoda pada bayi, ya, Ma!
3. Lanjutkan pemberian MPASI
Bagi bayi yang sudah MPASI, tetap berikan makanan sesuai usia. Pilih makanan yang mudah dicerna seperti bubur, kentang, pisang, atau nasi tim.
4. Jaga kebersihan tangan dan peralatan makan
Mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan atau menyusui dapat membantu mencegah penyebaran kuman penyebab diare pada bayi. Botol susu dan peralatan makan juga perlu dibersihkan dengan benar.
5. Berikan obat sesuai anjuran dokter
Orang tua sebaiknya tidak memberikan obat diare untuk bayi tanpa rekomendasi dokter. Beberapa obat antidiare yang digunakan pada orang dewasa tidak aman untuk bayi.
6. Pantau tanda-tanda dehidrasi
Perhatikan jumlah popok basah, kondisi bibir, mata, dan tingkat aktivitas bayi. Bila muncul tanda dehidrasi, segera cari pertolongan medis.
Artikel lainnya: Cara Mengatasi Diare pada Anak dengan Tepat dan Aman
Kapan Harus ke Dokter?
Diare pada bayi umumnya dapat membaik dalam beberapa hari dengan perawatan yang tepat di rumah. Namun, Mama dan Papa tetap perlu waspada karena bayi lebih rentan mengalami dehidrasi dibandingkan anak yang lebih besar.
Segera bawa Si Kecil ke dokter apabila mengalami kondisi berikut:
- Diare pada bayi berlangsung lebih dari 24 jam.
- Bayi berusia kurang dari 6 bulan mengalami diare berat.
- Demam tinggi.
- Terdapat darah atau lendir berlebihan pada feses.
- Bayi muntah terus-menerus.
- Tidak mau menyusu atau minum.
- Popok tetap kering lebih dari 6 jam.
- Mata cekung dan tampak sangat lemas.
- Berat badan menurun.
- Muncul tanda dehidrasi sedang hingga berat.
Nah, itu dia sejumlah penyebab dan cara mengatasi diare pada bayi. Jika diare berlangsung lama atau disertai tanda bahaya, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Masih ingin menambah wawasan seputar kesehatan Si Kecil? Download aplikasi HalloBumil dan daftarkan data diri untuk mendapatkan berbagai artikel terpercaya, panduan tumbuh kembang anak, serta informasi kesehatan keluarga yang mudah diakses kapan saja.
Gabunglah juga dengan komunitas WhatsApp HalloBumil dan temukan dukungan, tips, serta informasi bermanfaat dari para Mama lainnya.
Jangan lewatkan juga berbagai eventHalloBumil yang menghadirkan edukasi kesehatan, webinar bersama dokter dan ahli, serta beragam aktivitas menarik untuk mendukung perjalanan Mama dalam menjaga kesehatan keluarga.





:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
