:strip_icc():format(webp)/hb-article/ndkGIK5EQtc7c3DHeefST/original/5zgmxgzpassdxllgg8do5gjdmsf85ftw.png)
Anak tiba-tiba muntah dan mengalami mencret tentu bisa membuat Mama panik, terutama jika tidak disertai demam.
Sebenarnya, anak muntah dan mencret tanpa demam dapat terjadi karena berbagai kondisi, mulai dari infeksi saluran cerna hingga reaksi terhadap makanan atau obat tertentu.
Tidak adanya demam bukan berarti kondisi anak pasti ringan, karena muntah dan diare sendiri dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan.
Yang paling penting, Mama perlu memperhatikan kondisi umum Si Kecil, frekuensi muntah dan BAB cair, kemampuan minum, serta tanda-tanda dehidrasi. Bayi dan anak kecil lebih rentan mengalami dehidrasi karena cadangan cairan tubuhnya lebih terbatas.
Artikel lainnya: Kenali Masalah Pencernaan Bayi dan Cara Menanganinya
Kenapa Anak Bisa Muntah dan Mencret tapi Tidak Demam?
Muntah dan diare merupakan gejala, bukan penyakit tertentu. Keduanya bisa muncul karena gangguan pada saluran pencernaan, makanan, obat-obatan, bahkan faktor emosional.
Demam memang dapat menyertai infeksi, tetapi tidak selalu muncul pada setiap anak atau setiap penyebab muntah dan diare.
1. Virus saluran cerna
Salah satu penyebab yang cukup sering adalah gastroenteritis akibat virus. Virus seperti norovirus dapat menyebabkan muntah, diare, mual, dan sakit perut.
Demam merupakan salah satu gejala yang mungkin terjadi, tetapi bukan satu-satunya gejala sehingga anak tetap dapat mengalami infeksi saluran cerna tanpa demam.
Keluhan akibat infeksi virus biasanya membaik secara bertahap. Namun, muntah dan diare berulang perlu diperhatikan karena keduanya dapat membuat cairan tubuh anak berkurang dengan cepat.
2. Keracunan makanan
Keracunan makanan dapat terjadi setelah anak mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi kuman atau zat tertentu.
Gejalanya dapat berupa mual, muntah, diare, sakit perut, dan terkadang demam. Waktu munculnya keluhan dapat berbeda-beda, tergantung penyebabnya.
Jika beberapa anggota keluarga yang mengonsumsi makanan yang sama mengalami keluhan serupa dalam waktu berdekatan, kemungkinan masalah pada makanan dapat dipertimbangkan. Meski begitu, penyebab pastinya tetap perlu dinilai dari kondisi dan riwayat anak.
3. Intoleransi laktosa
Intoleransi laktosa terjadi ketika tubuh tidak menghasilkan cukup enzim laktase untuk mencerna laktosa, yaitu gula alami yang terdapat dalam susu.
Akibatnya, anak dapat mengalami kembung, banyak gas, sakit perut, diare, mual, dan terkadang muntah setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa.
Jika keluhan berulang setelah anak minum susu atau mengonsumsi produk olahannya, Mama sebaiknya mencatat pola tersebut dan membicarakannya dengan dokter.
Jangan langsung menghilangkan susu atau mengganti susu anak tanpa memastikan penyebabnya, terutama pada anak yang masih membutuhkan asupan nutrisi untuk tumbuh kembang.
Artikel lainnya: Si Kecil Rewel Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Alergi, Ma!
4. Alergi
Alergi makanan juga dapat menyebabkan muntah dan diare. Berbeda dengan intoleransi makanan, alergi melibatkan respons sistem kekebalan tubuh terhadap zat tertentu dalam makanan.
Gejalanya dapat muncul bersama keluhan lain, seperti gatal-gatal, bentol pada kulit, bengkak pada bibir atau wajah, hingga gangguan pernapasan.
Bila muntah dan diare muncul setelah makanan tertentu dan disertai sesak, bengkak pada wajah atau tenggorokan, atau anak tampak sangat lemas, jangan menunggu gejala membaik sendiri. Reaksi alergi berat atau anafilaksis membutuhkan pertolongan medis segera.
Artikel lainnya: Ciri-ciri Diare pada Si Kecil yang Harus Mama Waspadai
5. Efek obat
Beberapa obat dapat menyebabkan gangguan saluran cerna sebagai efek samping. Misalnya, antibiotik tertentu dapat menyebabkan mual, muntah, atau diare.
Untuk itu, bila anak muntah-muntah tanpa demam setelah mulai mengonsumsi obat baru, Mama sebaiknya memperhatikan hubungan waktunya dan memberi tahu dokter atau apoteker.
Hindari memberikan obat antimuntah atau obat antidiare kepada anak atas inisiatif sendiri. Beberapa obat tidak dianjurkan untuk anak atau hanya boleh digunakan dalam kondisi tertentu berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.
6. Stres
Kondisi emosional seperti rasa cemas atau stres juga dapat memengaruhi saluran pencernaan anak.
Stres pada anak dapat muncul sebagai keluhan fisik, termasuk sakit perut, perubahan nafsu makan, atau gangguan pencernaan. Namun, penyebab lain tetap perlu dipertimbangkan terlebih dahulu, terutama jika muntah disertai diare.
Mama bisa mencoba mengingat apakah keluhan muncul setelah anak mengalami perubahan rutinitas, masalah di sekolah, konflik dengan teman, atau situasi yang membuatnya cemas.
Tetap perhatikan gejala fisiknya dan jangan menganggap muntah serta diare semata-mata disebabkan stres sebelum penyebab medis disingkirkan.
Pertolongan Pertama Saat Anak Muntah dan Mencret Tanpa Demam
Fokus utama pertolongan pertama anak muntah dan mencret tanpa demam adalah mencegah dan mengatasi kehilangan cairan.
Mama tidak perlu langsung memaksa anak makan banyak. Yang lebih penting adalah memastikan Si Kecil masih mampu mendapatkan cairan sedikit demi sedikit.
- Berikan oralit sedikit tetapi sering. Jika anak muntah setelah minum banyak sekaligus, berikan oralit dalam jumlah kecil dan lebih sering. Cairan elektrolit membantu menggantikan air dan garam yang hilang akibat muntah serta diare.
- Tetap berikan ASI pada bayi yang menyusu. ASI tidak perlu dihentikan hanya karena bayi muntah atau diare. Berikan lebih sering dengan durasi yang disesuaikan kemampuan bayi.
- Perhatikan usia anak. Bayi, terutama yang masih berusia di bawah 6 bulan, membutuhkan perhatian lebih karena lebih cepat mengalami dehidrasi. ASI atau susu yang biasa dikonsumsi tetap menjadi bagian penting, sementara oralit dapat diberikan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
- Untuk anak yang lebih besar, berikan cairan secara bertahap. Anak usia 2 tahun, misalnya, dapat ditawari oralit sedikit demi sedikit. Jika sudah mampu mempertahankan cairan, jumlahnya dapat ditingkatkan secara perlahan.
- Jangan hanya mengandalkan air putih saat diare cukup banyak. Air putih tetap boleh diberikan, tetapi oralit lebih tepat untuk membantu mengganti cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare.
- Pantau pipis dan kondisi anak. Perhatikan apakah anak masih buang air kecil, tetap responsif, tidak terlalu mengantuk, dan masih mau minum. Berkurangnya urine, mulut kering, tidak ada air mata saat menangis, serta lemas dapat menjadi tanda dehidrasi.
- Jangan memberikan obat antidiare sembarangan. Obat untuk menghentikan diare tidak sebaiknya diberikan kepada anak tanpa petunjuk dokter.
Jadi, pertolongan untuk anak muntah dan mencret memang perlu disesuaikan dengan usia, terutama pada bayi.
Pada semua usia, prinsip utamanya tetap sama yakni mengganti cairan yang hilang, mempertahankan asupan yang sesuai, dan memantau tanda dehidrasi.
Semakin kecil usia anak, semakin rendah ambang untuk berkonsultasi dengan dokter ketika muntah berulang atau anak sulit minum.
Artikel lainnya: Cara Mengatasi Diare pada Anak dengan Tepat dan Aman
Kapan Anak Boleh Mulai Makan Lagi Setelah Muntah?
Mama tidak perlu memaksa Si Kecil langsung menghabiskan satu porsi makanan setelah muntah. Berikan waktu agar lambung lebih tenang dan utamakan cairan terlebih dahulu.
Setelah anak sudah tidak muntah dan mulai merasa lapar, makanan dapat diberikan kembali secara bertahap dalam porsi kecil.
Untuk anak yang sudah mengonsumsi makanan padat, pilih makanan sederhana yang mudah diterima, seperti nasi atau bubur, roti, kentang, pisang, atau makanan lain yang biasa dikonsumsi anak dan tidak terlalu berlemak.
Tidak perlu menerapkan pengaturan pola makan sangat ketat selama berhari-hari, setelah kondisi membaik, pola makan dapat kembali secara bertahap sesuai toleransi anak.
Pada bayi yang masih mendapatkan ASI, pemberian ASI dapat dilanjutkan. Sementara itu, pemberian makanan pendamping pada bayi perlu mempertimbangkan usia dan kemampuan anak.
Jika bayi masih kecil atau muntah berulang, sebaiknya konsultasikan cara pemberian cairan dan makanan dengan dokter.
Minuman dan Makanan yang Harus Dihindari
Saat anak masih muntah dan mencret, beberapa jenis makanan atau minuman sebaiknya tidak menjadi pilihan utama karena dapat memperburuk diare atau membuat anak semakin sulit mempertahankan cairan.
Hindari memberikan minuman bersoda, minuman sangat manis, dan jus buah dalam jumlah banyak, karena kandungan gula tertentu dapat membuat diare semakin berat.
Minuman olahraga juga bukan pilihan utama untuk menggantikan elektrolit yang hilang akibat diare pada anak. Lebih disarankan untuk memberikan oralit yang lebih sesuai.
Untuk makanan, sementara waktu batasi makanan yang sangat berlemak, berminyak, atau sulit dicerna jika makanan tersebut membuat anak semakin mual.
Namun, tidak perlu membuat anak hanya makan makanan tertentu selama berhari-hari. Setelah muntah mereda, berikan makanan sesuai usia dalam porsi kecil dan lebih sering.
Artikel lainnya: Pertolongan Pertama untuk Anak Muntah Terus di Rumah
Kapan Anak Muntah dan Mencret Harus Dibawa ke Dokter?
Tidak semua kasus muntah dan diare membutuhkan pemeriksaan segera. Namun, Mama perlu lebih waspada karena anak dapat mengalami dehidrasi meskipun tidak demam.
Segera hubungi dokter atau bawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami kondisi berikut ini:
- Anak tidak mampu minum atau selalu memuntahkan cairan yang diberikan.
- Anak terlihat sangat lemas, mengantuk terus, sulit dibangunkan, atau perubahan perilakunya cukup jelas.
- Anak jarang buang air kecil atau urine jauh lebih sedikit dari biasanya, mulut sangat kering, tidak mengeluarkan air mata saat menangis, atau matanya tampak cekung.
- Muntahan berwarna hijau atau mengandung darah.
- BAB mengandung darah atau nanah.
- Anak mengalami sakit perut yang berat atau perut tampak membengkak dan keras.
- Muntah terjadi berulang kali atau diare terus berlangsung dan kondisi anak tidak membaik.
- Anak masih bayi, terutama jika usianya di bawah 6 bulan, dan mengalami muntah atau diare.
Lantas, apakah berbahaya jika anak 2 tahun muntah dan mencret tapi tidak demam? Sebenarnya, tidak bisa ditentukan hanya dari ada atau tidaknya demam.
Jika anak masih aktif, mau minum, tetap buang air kecil, dan tidak menunjukkan tanda dehidrasi atau gejala bahaya, kondisi dapat dipantau sambil memenuhi kebutuhan cairan.
Sebaliknya, jika muntah berulang, tidak bisa minum, sangat lemas, atau muncul tanda dehidrasi, anak perlu segera diperiksa.
Hal serupa berlaku ketika anak 2 tahun muntah tapi tidak demam. Tidak adanya demam tidak otomatis berarti muntah dapat diabaikan. Perhatikan durasi, frekuensi, warna muntahan, kemampuan minum, buang air kecil, dan kondisi umum anak.
Sementara jika anak 5 tahun muntah tapi tidak demam, penyebabnya juga dapat beragam, mulai dari gangguan pencernaan, makanan, efek obat, hingga faktor lain.
Bila muntah terus berulang, berlangsung lebih lama, atau disertai nyeri perut berat maupun tanda dehidrasi, pemeriksaan medis diperlukan untuk mencari penyebabnya.
Saat Si Kecil sakit, Mama tentu ingin punya sumber informasi yang bisa diandalkan untuk menemani setiap tahap pengasuhan.
Yuk, download aplikasi Hallobumil untuk mendapatkan berbagai informasi seputar kehamilan, parenting, hingga tumbuh kembang anak dalam satu tempat.
Kadang, yang Mama butuhkan bukan hanya informasi, tetapi juga teman untuk bertanya. Untuk itu, Mama bisa bergabung dengan komunitas Hallobumil dan berbagi cerita bersama sesama Mama.
Ikuti juga event kesehatan seperti webinar atau kegiatan edukasi bersama tenaga ahli untuk menambah wawasan dan membuat perjalanan menjadi orang tua terasa lebih tenang. Supaya tidak ketinggalan jadwalnya, pastikan Mama registrasi di aplikasi Hallobumil ya!




:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
