loading

Anak Muntah Terus, Ini Langkah Pertolongan Pertamanya di Rumah

Bagikan
Facebook
Twitter
WhatsApp
copylink
Muntah berulang pada anak memerlukan penanganan sigap guna mencegah komplikasi dehidrasi. Pahami penjelasan klinis mengenai langkah pertolongan pertama di rumah dan kapan harus mencari bantuan medis.
anak-muntah-terus-ini-langkah-pertolongan-pertamanya-di-rumah

Saat Si Kecil muntah berkali-kali, wajar kalau Mama langsung merasa panik dan khawatir. Apalagi kalau ia tampak lemas, sulit makan, atau terus mengeluh tidak enak badan.

Meski begitu, usahakan Mama tetap tenang karena ada beberapa langkah pertolongan pertama anak muntah terus yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah.

Penanganan yang tepat dapat membantu mencegah dehidrasi dan mengurangi risiko kondisi anak semakin memburuk. Namun, sebelum melakukan perawatan di rumah, Mama wajib mengenali kapan situasi ini menjadi gawat darurat medis.

Kapan Mama Harus Segera Membawa Anak ke Dokter?

Muntah pada anak umumnya bisa membaik dengan perawatan di rumah. Namun, jangan tunda untuk segera membawa Si Kecil ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) jika ia menunjukkan salah satu dari tanda bahaya berikut:

  • Tanda dehidrasi berat: Bibir dan mulut sangat kering, tidak ada air mata saat menangis, buang air kecil menurun drastis (popok tetap kering selama 4–6 jam), anak tampak sangat lesu, dan pada bayi ubun-ubunnya tampak cekung.
  • Warna muntahan tidak wajar: Muntah bercampur darah (berwarna merah atau kecokelatan seperti bubuk kopi) atau muntah berwarna hijau (yang bisa menandakan adanya sumbatan pada saluran cerna).
  • Gejala sistem saraf: Anak sangat lemas, sangat sulit dibangunkan dari tidurnya, atau mengalami kejang.

Jika Si Kecil tidak menunjukkan tanda-tanda bahaya di atas, Mama bisa mulai menerapkan langkah-langkah pertolongan pertama berikut ini di rumah:

1. Berikan Cairan Sedikit demi Sedikit

Saat muntah, tubuh anak kehilangan banyak cairan sehingga sangat berisiko mengalami dehidrasi. Langkah paling awal yang bisa Mama lakukan adalah memberikan air putih atau larutan oralit dengan takaran sedikit demi sedikit, misalnya 1–2 sendok teh setiap 5–10 menit.

Pemberian sedikit tapi sering ini sangat dianjurkan agar cairan perlahan diserap tanpa memicu perut anak bergejolak. Hindari langsung memberikan segelas penuh air sekaligus karena justru dapat merangsang anak untuk muntah kembali.

Jika Si Kecil masih menyusu, tetap lanjutkan pemberian ASI sesuai keinginannya, karena ASI merupakan sumber cairan sekaligus antibodi terbaik untuk bayi yang sedang sakit.

Artikel lainnya: Ciri Si Kecil Dehidrasi dan Penanganannya yang Tepat

2. Istirahatkan Lambung Si Kecil Sejenak

Salah satu pertolongan pertama anak muntah terus-menerus yang sering dianjurkan secara medis adalah memberi waktu bagi lambung untuk "beristirahat" dan menenangkan diri sebelum Si Kecil kembali diberi makan atau minum dalam porsi biasa.

Mama dapat menunggu sekitar 20–30 menit setelah muntah berhenti, lalu barulah mulai memberikan cairan sedikit demi sedikit. Cara sederhana ini membantu mengurangi rangsangan refleks pada lambung.

Apabila anak memuntahkan kembali cairan yang baru saja diberikan, jangan panik. Hentikan dulu pemberian cairan, tunggu lagi sekitar 20–30 menit, lalu coba berikan kembali dengan takaran yang lebih sedikit dari sebelumnya.

3. Berikan Makanan yang Mudah Dicerna

Setelah muntah benar-benar berhenti selama beberapa jam dan anak mulai menunjukkan tanda-tanda merasa lapar, berikan makanan yang teksturnya lembut serta mudah dicerna oleh lambung.

Mama bisa memilih menu seperti bubur, nasi tim, kentang rebus, pisang, roti tawar, atau sup kaldu bening. Berikan dalam porsi sangat kecil terlebih dahulu, lalu tingkatkan volumenya secara bertahap sesuai kenyamanan dan kemampuan makan anak.

4. Hindari Makanan dan Minuman yang Dapat Memicu Mual

Selama kondisi pencernaan anak belum benar-benar pulih, sebaiknya hindari memberikan makanan yang terlalu berminyak, pedas, berlemak, atau terlalu manis.

Satu hal yang kerap mengecoh, hindari memberikan jus buah kemasan atau minuman manis berpemanis buatan sebagai pengganti cairan.

Kandungan gula yang tinggi pada minuman kemasan justru dapat memperburuk rasa mual dan berisiko memperparah diare (apabila muntah Si Kecil ternyata disertai dengan buang air besar cair).

5. Pantau Kondisi Anak, Terutama Jika Disertai Demam

Selain memperhatikan frekuensi muntah, Mama juga perlu memantau suhu tubuh dan kondisi umum Si Kecil. Muntah yang dibarengi demam adalah keluhan yang sangat umum terjadi.

Pertolongan pertama anak muntah terus dan demam pada dasarnya berfokus pada pencegahan dehidrasi. Selalu sedia termometer di rumah untuk memastikan suhu tubuhnya.

Segera periksakan ke dokter apabila demam mencapai suhu di atas 38°C pada bayi usia di bawah 3 bulan, atau di atas 39°C pada anak yang usianya lebih besar.

Artikel lainnya: Ciri-Ciri Demam Karena Kecapekan pada Anak yang Wajib Diketahui

6. Posisikan Anak dengan Nyaman Setelah Muntah

Setelah muntah, usahakan anak (yang sudah lebih besar) beristirahat dengan posisi kepala disangga bantal agar sedikit lebih tinggi, atau berbaring miring ke salah satu sisi tubuhnya.

Posisi miring ini sangat penting untuk mencegah muntahan tidak sengaja masuk ke saluran napas (tersedak/aspirasi) apabila ia muntah kembali saat sedang tertidur.

Namun, sebagai catatan keselamatan yang sangat penting: untuk bayi di bawah usia 1 tahun, posisi tidur harus tetap mengikuti pedoman tidur aman, yaitu berbaring telentang di permukaan rata, demi mencegah risiko sindrom kematian bayi mendadak (SIDS). Bila bayi sering muntah saat tidur telentang, segera konsultasikan dengan dokter anak.

7. Jangan Memberikan Obat Muntah Tanpa Anjuran Dokter

Melihat anak tersiksa karena mual, banyak orang tua ingin segera menghentikannya dengan memberikan obat. Namun, sebaiknya Mama tidak memberikan obat antimual, obat diare dewasa, maupun antibiotik tanpa resep dokter.

Dalam menangani anak yang muntah berulang, langkah paling krusial adalah menjaga hidrasi cairan, bukan mematikan refleks muntahnya.

Pemberian obat antimual tanpa indikasi justru berisiko menutupi penyakit penyebab sebenarnya. Selain itu, muntah pada anak umumnya disebabkan oleh infeksi virus (seperti Gastroenteritis), sehingga tidak membutuhkan antibiotik sama sekali.

Artikel lainnya: Cara Mengatasi Perut Kembung pada Anak 1 Tahun ke Atas

8. Jika Diduga "Masuk Angin", Tetap Fokus pada Cairan

Sebagian besar masyarakat Indonesia sering menyederhanakan keluhan muntah ini sebagai tanda "masuk angin". Secara medis, muntah pada anak bisa disebabkan oleh banyak hal yang jauh lebih spesifik, seperti infeksi virus pencernaan, keracunan makanan, atau intoleransi bahan makanan.

Jika Mama menduga keluhan ini berkaitan dengan kondisi yang sering disebut masuk angin, penanganannya tetap sama, yaitu memastikan Si Kecil cukup minum secara bertahap, memberikan waktu beristirahat, dan makan makanan lunak.

Apa pun sebutannya, prinsip pertolongan pertamanya tidak berubah. Namun, apabila muntah berlangsung terus-menerus dan kondisi anak kian melemah, jangan menunda untuk memeriksakannya ke fasilitas kesehatan.

Artikel lainnya: Ini Cara Merawat Anak Saat Sakit, Agar Si Kecil Cepat Sembuh

Masih punya pertanyaan seputar kesehatan pencernaan Si Kecil dan parenting? Yuk, temukan dukungan serta berbagai informasi tepercaya dengan gabung Komunitas Hallobumil supaya Mama bisa berdiskusi langsung dengan para ahli medis atau berbagi ketenangan dengan Mama lainnya.

Jangan lupa juga download aplikasi Hallobumil dan daftarkan akun Mama untuk merangkum informasi panduan tumbuh kembang anak secara lengkap dan gratis.

Mama bisa bertukar cerita, membaca tips praktis harian, hingga berkesempatan ikut ragam event Hallobumil yang edukatif bersama pakar anak terkemuka.

Jadilah orang tua super! Panduan 1000 Hari Pertama Kehidupan si kecil ada di sini. GRATIS.
image
image
image
image
0
0
Bagikan
Facebook
Twitter
WA
Belum ada komentar.
Login atau daftar dulu yuk ma biar bisa komen

Login/daftar yuk Ma

Tumbuh Bersama di 1000 Hari Pertama Si Kecil

Komunitas hangat untuk dapatkan tips, cerita inspiratif, dan teman baru pada 1000 hari pertama si kecil bersama Hallobumil
image