:strip_icc():format(webp)/hb-article/PBKqMzznw267sZ4Z6hSpC/original/ttgpkyooae3gj4v2w1q2ahv6xeyz0kzx.png)
Oralit untuk anak merupakan salah satu pertolongan pertama yang sangat penting ketika Si Kecil mengalami diare atau muntah. Saat diare, tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit, seperti natrium dan kalium.
Jika tidak segera digantikan, kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi yang berbahaya, terutama pada bayi dan anak-anak.
Untuk itulah, pemberian obat oralit untuk anak sering direkomendasikan oleh tenaga kesehatan untuk membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh selama masa pemulihan.
Selain tersedia dalam bentuk sachet yang dijual di apotek, oralit juga dapat dibuat sendiri dalam kondisi darurat menggunakan bahan sederhana yang tersedia di rumah. Namun, komposisi dan cara pemberiannya harus tepat agar manfaatnya optimal.
Yuk, cari tahu selengkapnya tentang oralit untuk anak, dosis yang sesuai usia, hingga cara membuat oralit untuk anak dengan benar.
Artikel lainnya: Cara Mengatasi Diare pada Anak dengan Tepat dan Aman
Apa Itu Oralit dan Mengapa Penting Saat Anak Diare?
Oralit atau Oral Rehydration Solution (ORS) adalah larutan yang terdiri dari air, gula, dan garam dalam takaran tertentu. Kombinasi ini membantu tubuh menyerap cairan dengan lebih efektif sehingga dapat menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare atau muntah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai lembaga kesehatan merekomendasikan oralit sebagai terapi utama untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi ringan hingga sedang pada anak.
Saat anak diare, memberikan air putih saja sering kali tidak cukup karena tubuh juga kehilangan elektrolit penting.
Oralit bekerja dengan memanfaatkan mekanisme penyerapan natrium dan glukosa di usus sehingga cairan dapat terserap lebih optimal.
Oleh sebab itu, obat oralit untuk anak dianggap lebih efektif dibandingkan minuman biasa dalam membantu pemulihan cairan tubuh.Selain membantu mencegah dehidrasi, oralit juga dapat mengurangi risiko komplikasi serius akibat kehilangan cairan berlebihan.
Pada bayi dan balita, dehidrasi dapat berkembang dengan cepat sehingga penting bagi Mama untuk mulai memberikan oralit segera setelah diare muncul.
Artikel lainnya: Mengenali Dehidrasi Saat Si Kecil Diare
Berapa Dosis Oralit yang Tepat?
Dosis oralit dapat berbeda tergantung usia anak dan banyaknya cairan yang hilang. Secara umum, oralit diberikan sedikit demi sedikit tetapi sering, terutama jika anak juga mengalami muntah.
Bayi di bawah 1 tahun
Untuk oralit untuk anak 1 tahun atau bayi yang usianya masih di bawah 12 bulan, pemberian oralit sebaiknya dilakukan sedikit demi sedikit menggunakan sendok atau pipet. Umumnya diberikan sekitar 50–100 ml setiap kali BAB cair.
Bila bayi muntah, Mama perlu menunggu sekitar 5–10 menit lalu lanjutkan pemberian secara perlahan. ASI tetap perlu diberikan sesering mungkin selama masa diare.
Anak 1–5 tahun
Untuk oralit untuk anak 2 tahun, oralit untuk anak 3 tahun, maupun anak usia balita lainnya, kebutuhan cairan biasanya lebih banyak dibanding bayi.
Umumnya anak dapat diberikan sekitar 100–200 ml oralit setiap kali BAB cair. Berikan sedikit demi sedikit agar anak tidak merasa mual dan lebih mudah menghabiskannya.
Anak di atas 5 tahun
Anak yang berusia di atas 5 tahun biasanya dapat minum oralit lebih banyak sesuai kebutuhan dan tingkat dehidrasi yang dialami.
Berikan oralit setiap kali diare atau muntah untuk membantu menggantikan cairan yang hilang. Jika anak tampak sangat haus, lemas, atau buang air kecil berkurang, segera konsultasikan dengan dokter.
Artikel lainnya: BAB Anak Cair tapi Bukan Diare? Mungkin Ini Penyebabnya
Cara Membuat Oralit untuk Anak
Dalam kondisi darurat ketika tidak tersedia oralit kemasan, Mama dapat membuat oralit sendiri di rumah. Cara buat oralit untuk anak yang paling umum adalah mencampurkan:
- 1 liter air matang.
- 6 sendok teh gula.
- 1/2 sendok teh garam.
Aduk hingga larut sempurna dan gunakan dalam waktu maksimal 24 jam. Larutan ini dapat membantu menggantikan cairan yang hilang sementara sampai mendapatkan oralit kemasan atau pertolongan medis.
Banyak Mama yang mencari informasi tentang cara membuat oralit 1 gelas untuk anak. Jika ingin membuat dalam jumlah lebih sedikit, gunakan sekitar 200 ml air matang (1 gelas), lalu tambahkan sedikit garam dan gula dengan perbandingan yang sesuai.
Namun, karena risiko takaran yang kurang tepat cukup tinggi, oralit kemasan tetap menjadi pilihan yang lebih dianjurkan.
Dalam cara membuat oralit untuk anak 1 tahun, prinsipnya tetap sama yaitu menggunakan komposisi yang tepat antara air, gula, dan garam.
Demikian pula untuk cara buat oralit untuk anak 2 tahun atau cara membuat oralit untuk anak 2 tahun, takaran dasar oralit tidak berubah, hanya jumlah pemberiannya yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan cairan anak.
Cara Memberikan Oralit yang Benar
Memberikan oralit dengan cara yang tepat dapat meningkatkan keberhasilannya dalam mencegah dehidrasi. Oralit sebaiknya diberikan sedikit demi sedikit tetapi sering. Pada bayi, Mama dapat menggunakan sendok kecil, pipet, atau spuit oral.
Jika anak muntah setelah minum oralit, jangan langsung menghentikan pemberian. Tunggu beberapa menit, kemudian lanjutkan kembali dengan jumlah yang lebih sedikit. Cara ini membantu mengurangi risiko muntah berulang sekaligus memastikan cairan tetap masuk ke tubuh anak.
Selama anak diare, tetap lanjutkan pemberian ASI, susu formula sesuai anjuran dokter, dan makanan sesuai usia anak.
Hindari mengganti oralit dengan minuman bersoda atau minuman tinggi gula karena tidak memiliki komposisi elektrolit yang sesuai untuk mengatasi dehidrasi.
Artikel lainnya: Bayi Sering Muntah, Penyebab dan Cara Mengatasinya
Kapan Harus ke Dokter?
Meskipun oralit sangat membantu mencegah dehidrasi, ada beberapa kondisi yang memerlukan penanganan medis segera.
Mama sebaiknya membawa Si Kecil ke dokter jika diare berlangsung lebih dari 24 jam pada bayi atau tidak membaik dalam beberapa hari pada anak yang lebih besar.
Segera cari pertolongan medis jika anak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi seperti bibir dan mulut kering, mata cekung, tidak buang air kecil selama beberapa jam, menangis tanpa air mata, sangat lemas, atau sulit dibangunkan.
Pemeriksaan dokter juga diperlukan bila diare disertai demam tinggi, muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, atau terdapat darah pada feses. Kondisi tersebut dapat menandakan adanya infeksi atau masalah kesehatan lain yang memerlukan pengobatan khusus.
Yuk, download aplikasi HalloBumil untuk mengakses berbagai artikel, tips parenting, serta panduan tumbuh kembang Si Kecil dalam satu genggaman.
Pastikan Mama mendaftarkan diri di aplikasi ini untuk mendapatkan informasi kesehatan anak yang praktis dan terpercaya setiap hari.
Masih bingung kapan diare pada anak perlu diperiksakan ke dokter? Mama bisa bergabung dengan Komunitas HalloBumil di WhatsApp untuk berdiskusi dengan sesama orang tua dan mendapatkan berbagai informasi menarik seputar kesehatan keluarga.
Jangan lewatkan juga berbagai event HalloBumil yang menghadirkan edukasi kesehatan Mama dan anak, webinar parenting, hingga kelas interaktif yang bisa diikuti dari mana saja.





:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
