:strip_icc():format(webp)/hb-article/pbY7aP1AJq-M9o8y3S5J_/original/b18g96sfzw8sh6sraewk7ls1ngf0s58j.png)
Saat hamil, tubuh Mama mengalami banyak perubahan. Salah satunya adalah jumlah cairan vagina yang bisa menjadi lebih banyak.
Selama cairannya bening atau putih susu, tidak berbau menyengat, dan tidak disertai rasa gatal atau nyeri, kondisi ini umumnya masih termasuk normal. Namun, keputihan gatal saat hamil atau keputihan berbau saat hamilperlu diperhatikan karena bisa menjadi tanda adanya infeksi.
Lalu, apa sebenarnya penyebab keputihan gatal dan berbau saat hamil? Keluhan tersebut dapat disebabkan oleh infeksi jamur, vaginosis bakterialis (BV), maupun infeksi lain seperti trikomoniasis.
Mengingat gejalanya bisa saling menyerupai, Mama sebaiknya tidak menentukan jenis infeksi hanya dari warna atau bau keputihan. Pemeriksaan tenaga kesehatan dapat membantu memastikan penyebabnya.
Artikel lainnya: Keputihan Saat Hamil Trimester 2 & 3: Normal atau Tanda Infeksi?
Keputihan Gatal Saat Hamil: Apa Penyebabnya?
Salah satu penyebab yang cukup sering adalah infeksi jamur atau kandidiasis. Kondisi ini terjadi ketika jamur Candida yang sebenarnya dapat hidup secara alami di vagina berkembang terlalu banyak.
Kehamilan termasuk salah satu kondisi yang dapat meningkatkan risiko infeksi jamur karena adanya perubahan hormon dan lingkungan vagina.
Biasanya, keputihan gatal saat hamil akibat jamur disertai cairan berwarna putih dan tekstur yang lebih kental atau menggumpal. Mama juga bisa merasakan gatal, perih, kemerahan, atau rasa terbakar di sekitar vagina.
Meski begitu, gejala seperti gatal dan perubahan cairan vagina tidak selalu berarti infeksi jamur sehingga diagnosis tetap penting.
Selain jamur, gatal dapat muncul akibat iritasi dari sabun, cairan pembersih kewanitaan, tisu atau produk berpewangi. Untuk itu, jangan buru-buru menggunakan obat hanya karena merasa gejalanya mirip dengan infeksi yang pernah dialami sebelumnya.
Artikel lainnya: Perbedaan Keputihan yang Normal dan yang Tidak Normal
Keputihan Menggumpal Seperti Ampas Tahu atau Keju
Pernah melihat keputihan yang bentuknya lebih kental dan menggumpal seperti ampas tahu atau keju? Jika disertai gatal dan iritasi, pola seperti ini cukup khas pada infeksi jamur atau kandidiasis. Keputihan akibat jamur biasanya berwarna putih dan tidak memiliki bau menyengat.
Ciri infeksi jamur (kandidiasis)
Infeksi jamur pada vagina saat hamil dapat membuat Mama merasa tidak nyaman, terutama karena rasa gatalnya bisa cukup mengganggu. Beberapa ciri yang dapat muncul antara lain:
- Keputihan berwarna putih dan kental.
- Keputihan menggumpal seperti keju atau ampas tahu.
- Gatal pada vagina atau bagian luar vagina.
- Kulit sekitar vagina tampak kemerahan atau terasa iritasi.
- Rasa perih atau terbakar saat buang air kecil.
- Vagina terasa nyeri, termasuk saat berhubungan seksual.
- Biasanya tidak disertai bau amis yang kuat.
Namun, Mama perlu ingat bahwa tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bahkan, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan bahwa gejala kandidiasis dapat tumpang tindih dengan penyebab vaginitis lainnya.
Mengapa mudah terjadi saat hamil?
Kehamilan dapat membuat Mama lebih rentan mengalami infeksi jamur. Perubahan hormon dapat memengaruhi keseimbangan lingkungan vagina sehingga Candida lebih mudah berkembang. Penggunaan antibiotik dan diabetes yang tidak terkontrol juga dapat meningkatkan risikonya.
Jadi, kalau Mama mengalami kandidiasis saat hamil, tidak perlu merasa bahwa kondisi tersebut terjadi karena kurang menjaga kebersihan.
Justru, terlalu sering menggunakan sabun atau cairan pembersih pada area vagina dapat menyebabkan iritasi dan mengganggu keseimbangan alaminya.
Risiko bagi bayi saat persalinan
Infeksi jamur pada vagina umumnya tidak membahayakan bayi selama berada di dalam kandungan. Namun, jika infeksi masih ada ketika persalinan berlangsung, bayi dapat terpapar Candida saat melewati jalan lahir. Kondisi ini dapat menyebabkan infeksi jamur pada bayi dan umumnya dapat ditangani.
Untuk itu, jika Mama mengalami keputihan menggumpal gatal saat hamil, sebaiknya jangan didiamkan terlalu lama.
Konsultasikan dengan dokter atau bidan agar penyebabnya dapat dipastikan dan pengobatan yang sesuai dengan kondisi kehamilan dapat diberikan.
Keputihan Berbau Amis Saat Hamil
Kalau keputihan terasa memiliki bau amis yang berbeda dari biasanya, penyebabnya bisa berbeda dengan infeksi jamur.
Keputihan bau amis saat hamil sering dikaitkan dengan vaginosis bakterialis (BV), yaitu kondisi ketika keseimbangan bakteri normal di vagina berubah.
Keputihan akibat BV umumnya lebih encer atau tipis dibandingkan keputihan akibat jamur. Warnanya dapat tampak putih keabu-abuan dan bau amisnya bisa semakin terasa setelah berhubungan seksual.
Ciri vaginosis bakterialis
Beberapa ciri vaginosis bakterialis ibu hamil yang dapat Mama perhatikan antara lain:
- Keputihan lebih encer atau tipis.
- Warna keputihan dapat putih, abu-abu, atau sedikit berubah dari biasanya.
- Tercium bau amis atau tidak sedap.
- Bau dapat lebih terasa setelah berhubungan seksual.
- Sebagian orang tidak mengalami gatal atau iritasi yang berat.
Menariknya, vaginosis bakterialis juga dapat terjadi tanpa gejala. Jadi, perubahan bau atau tekstur keputihan tetap perlu diperhatikan, terutama jika terasa berbeda dari kondisi Mama biasanya.
Risiko BV pada kehamilan
Vaginosis bakterialis yang menimbulkan gejala pada ibu hamil perlu diperiksa dan ditangani. CDC menyebutkan bahwa BV bergejala selama kehamilan berkaitan dengan beberapa komplikasi, termasuk ketuban pecah sebelum waktunya, kelahiran prematur, infeksi di dalam rahim, dan endometritis setelah persalinan.
Bukan berarti setiap Mama yang mengalami BV pasti akan mengalami komplikasi tersebut, ya. Namun, pemeriksaan tetap penting supaya infeksi dapat dikenali dan ditangani sesuai kondisi kehamilan.
Bau ringan vs bau menyengat
Keputihan normal saat hamil memang dapat bertambah banyak, tetapi biasanya berwarna bening atau putih susu dan tidak memiliki bau yang tidak menyenangkan. Jadi, perubahan bau yang cukup jelas perlu menjadi perhatian Mama.
Terlebih jika bau terasa amis atau sangat menyengat dan disertai perubahan warna, tekstur, gatal, rasa perih, atau nyeri saat buang air kecil. Kondisi seperti ini sebaiknya diperiksa, karena bau saja belum cukup untuk memastikan jenis infeksinya.
Tabel Jamur vs Bakteri vs Trikomoniasis
Memahami perbedaan keputihan jamur dan bakteri dapat membantu Mama mengenali gambaran awal dari keluhan yang dirasakan.
Namun, tabel ini bukan alat diagnosis, ya, Ma. Gejala dapat tumpang tindih dan pemeriksaan mungkin diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
|
Kondisi |
Ciri keputihan |
Bau |
Keluhan yang dapat menyertai |
|
Infeksi jamur/kandidiasis |
Putih, kental, menggumpal seperti keju |
Biasanya tidak menyengat |
Gatal, kemerahan, perih, rasa terbakar |
|
Vaginosis bakterialis |
Lebih tipis/encer, dapat putih keabu-abuan |
Amis atau tidak sedap |
Bisa tanpa gejala, sebagian mengalami iritasi |
|
Trikomoniasis |
Dapat berwarna kuning-hijau dan berbusa |
Dapat berbau tidak sedap |
Gatal, rasa terbakar, nyeri saat buang air kecil |
Trikomoniasis disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis dan termasuk infeksi menular seksual. Pada kehamilan, Mama dengan gejala trikomoniasis dianjurkan menjalani pemeriksaan dan mendapatkan pengobatan yang sesuai.
Jadi, jangan menjadikan warna keputihan sebagai satu-satunya patokan. Dokter dapat menilai gejala, melakukan pemeriksaan, dan bila diperlukan memeriksa sampel cairan vagina untuk mengetahui penyebabnya.
Artikel lainnya: Normalkah Keputihan Saat Hamil? Cek Penyebabnya & Solusinya
Pemicu yang Bisa Dihindari
Ada beberapa kebiasaan yang bisa membuat area vagina lebih mudah mengalami iritasi atau mengganggu keseimbangan alaminya. Mama tidak harus melakukan perawatan khusus yang rumit. Justru, semakin sederhana biasanya semakin baik.
Beberapa kebiasaan menjaga kebersihan vagina yang dapat Mama perhatikan yaitu:
- Hindari sabun atau produk kewanitaan yang mengandung pewangi.
- Jangan melakukan douching atau menyemprotkan cairan ke dalam vagina.
- Gunakan celana dalam yang nyaman dan tidak terlalu ketat.
- Pilih pakaian dalam yang memungkinkan area genital tetap kering.
- Ganti pakaian dalam jika sudah terasa lembap.
- Hindari penggunaan antibiotik tanpa resep atau anjuran dokter.
- Jangan langsung menggunakan obat antijamur hanya berdasarkan warna keputihan.
- Jika memiliki diabetes, ikuti anjuran dokter untuk menjaga kadar gula darah.
Vagina sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk menjaga keseimbangannya. Mama cukup membersihkan bagian luar vagina secara lembut dan menghindari produk yang berpotensi menyebabkan iritasi.
Perawatan Dasar di Rumah dan Batasannya
Saat rasa gatal atau tidak nyaman muncul, Mama mungkin ingin segera mencari cara untuk membuatnya terasa lebih baik.
Beberapa langkah sederhana memang dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman, tetapi perlu diingat bahwa langkah ini hanya meredakan keluhan, bukan mengobati infeksi.
Yang dapat Mama lakukan sementara di rumah:
- Menjaga area genital tetap bersih dan kering.
- Membilas bagian luar vagina dengan air dan membersihkannya secara lembut.
- Menghindari sabun dan produk berpewangi.
- Mengganti pakaian dalam jika lembap.
- Menggunakan pakaian dalam yang nyaman dan tidak terlalu ketat.
- Tidak menggaruk area yang gatal.
- Tidak memasukkan bahan atau cairan tertentu ke dalam vagina.
- Tidak mengonsumsi antibiotik atau obat antijamur tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Untuk cara mengobati keputihan gatal pada ibu hamil, pengobatan perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Salah satu obat yang mungkin diresepkan dokter untuk infeksi vagina tertentu adalah Flagystatin yang mengandung metronidazole dan nystatin.
Obat ini ditujukan untuk kondisi infeksi vagina tertentu dan termasuk obat yang penggunaannya harus berdasarkan resep dokter.
Jika Mama sedang hamil dan mendapatkan resep Flagystatin, gunakan sesuai dosis, lama pengobatan, dan cara penggunaan yang telah ditentukan dokter.
Jangan membeli atau menggunakan Flagystatin sendiri hanya berdasarkan gejala keputihan, karena penyebab keputihan dapat berbeda dan tidak semuanya membutuhkan obat yang sama.
Artikel lainnya: 10 Rekomendasi Obat Keputihan untuk Ibu Hamil yang Aman
Kapan Harus ke Dokter?
Mama sebaiknya berkonsultasi jika keputihan berubah dari biasanya, terutama bila warnanya menjadi kuning atau hijau, berbau tidak sedap, terasa gatal atau perih, atau menimbulkan nyeri saat buang air kecil.
Jangan menunggu sampai keluhannya terasa sangat berat. Terlebih jika Mama sedang hamil dan belum mengetahui penyebabnya. Pemeriksaan dapat membantu membedakan apakah keluhan berasal dari jamur, BV, trikomoniasis, atau kondisi lain.
Segera hubungi dokter atau bidan jika keputihan disertai perdarahan. Mama juga perlu mendapatkan pertolongan medis jika muncul keluhan lain yang mengkhawatirkan selama kehamilan.
Kapan Gatal Bukan Karena Keputihan?
Tidak semua gatal pada area vagina berarti ada infeksi. Kulit di sekitar vulva juga dapat mengalami iritasi akibat sabun, deterjen, pembalut, pantyliner, tisu basah, atau produk kewanitaan tertentu.
Untuk itu, coba perhatikan apakah rasa gatal muncul setelah menggunakan produk tertentu. Jika iya, hentikan sementara produk tersebut dan lihat apakah keluhannya membaik.
Namun, jika gatal menetap, semakin berat, muncul luka, kemerahan yang mengganggu, atau disertai perubahan keputihan, Mama tetap perlu diperiksa, ya!
Jadi, Mama tidak perlu langsung panik ketika melihat perubahan keputihan. Kenali tandanya, hindari penggunaan obat secara sembarangan, dan jangan ragu berkonsultasi jika ada sesuatu yang terasa berbeda dari biasanya.
Kalau Mama sedang menghitung usia kehamilan sekaligus ingin memantau perjalanan Si Kecil, Health Tools untuk menghitung HPL dengan lebih praktis. Jadi, Mama tidak perlu repot menghitung sendiri di tengah banyaknya persiapan kehamilan.
Kadang, rasa khawatir soal kehamilan terasa lebih ringan ketika bisa berbagi cerita dengan Mama lainnya. Mama juga bisa bergabung ke komunitas WhatsApp Hallobumil untuk mendapatkan ruang berbagi dan informasi seputar perjalanan kehamilan.
Kalau ingin mendapatkan informasi kehamilan yang lebih lengkap dalam satu tempat, download aplikasi Hallobumil dan temukan berbagai fitur yang bisa menemani Mama dari masa kehamilan sampai setelah Si Kecil lahir.
Dan untuk Mama yang senang mendapatkan informasi langsung dari para ahli, jangan lewatkan event dan webinar kesehatan. Agar tidak ketinggalan, pastikan Mama mendaftarkan data diri di aplikasi kehamilan ini, ya!




:strip_icc():format(webp)/hb-article/TmBwmXyvvc5fBmDgsYa09/original/0kram-saat-hamil-ini-solusinya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/e9NZTASpd1tc42Z4Gx9iu/original/0makanan-pantangan-ibu-hamil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/43Mtw78Lk1CKWAEEeYQRf/original/0kenaikan-berat-badan-selama-hamil-yang-normal.jpg)
