:strip_icc():format(webp)/hb-article/O8Dgw0drVqe42a-HozWlS/original/mvnz49xse9r5850jvqugf01dca2dszmb.jpg)
Picky eater adalah kondisi ketika anak sangat memilih makanan tertentu dan menolak mencoba jenis makanan lain. Anak biasanya hanya mau makan makanan favoritnya saja, misalnya hanya mau nasi dan nugget, atau hanya mau makanan dengan tekstur tertentu.
Kondisi picky eater pada anak sebenarnya cukup umum terjadi, terutama saat usia toddler atau balita karena di fase ini anak sedang belajar mengenali rasa, tekstur, dan aroma makanan.
Artikel lainnya: Cara Seru Mengajarkan Anak Makan Sendiri Tanpa Drama!
Apa Itu Picky Eater
Picky eater adalah perilaku makan pilih-pilih yang membuat anak menolak makanan baru atau hanya mau makan jenis makanan tertentu dalam jumlah terbatas.
Anak picky eater biasanya menjadi sulit makan sayur, buah, atau protein tertentu. Bahkan ada anak yang hanya mau makan dengan warna, bentuk, atau tekstur tertentu saja.
Kondisi picky eater pada anak umumnya muncul pada usia 1–5 tahun. Di usia ini, anak mulai memiliki preferensi sendiri terhadap makanan.
Selain itu, pertumbuhan anak juga mulai melambat dibanding masa bayi sehingga nafsu makan terlihat menurun. Hal ini sering membuat Mama dan Papa merasa anaknya makan terlalu sedikit.
Meski sering dianggap normal, picky eater tetap perlu diperhatikan. Jika anak terlalu lama menolak berbagai jenis makanan, asupan gizinya bisa menjadi tidak seimbang.
Oleh karena itu,sebagai orang tua perlu memahami cara menghadapi pickyeater tanpa memaksa anak makan.
Penyebab Anak Menjadi Picky Eater
Ada banyak faktor yang menjadi penyebab anak picky eater. Salah satunya adalah fase perkembangan alami anak. Saat balita, anak mulai belajar mandiri dan ingin memiliki kontrol terhadap dirinya, termasuk soal makanan yang dimakan.
Selain itu, anak juga membutuhkan waktu untuk menerima makanan baru. Menurut Centers of Disease Control and Prevention (CDC), anak bahkan bisa perlu mencoba makanan yang sama hingga 8–10 kali sebelum akhirnya mau menerima dan menyukainya.
Penyebab anak picky eater lainnya adalah pengalaman makan yang kurang menyenangkan, misalnya pernah tersedak, dipaksa makan, atau dimarahi saat makan. Akibatnya, anak menjadi takut mencoba makanan baru.
Paparan makanan yang kurang bervariasi sejak awal MPASI juga bisa membuat anak sulit menerima jenis makanan tertentu. Oleh karena itu, penting mengenalkan berbagai rasa, tekstur, dan warna makanan sejak dini.
Faktor lingkungan juga berpengaruh. Anak cenderung meniru kebiasaan makan orang tuanya. Jika Mama dan Papa jarang makan sayur atau sering memilih makanan tertentu, anak bisa ikut mencontoh perilaku tersebut.
Artikel lainnya: Cara Mengatasi Anak Susah Makan dan Kenali Penyebabnya
Dampak Picky Eater pada Tumbuh Kembang Anak
Dampak picky eater pada pertumbuhan anak bisa berbeda-beda, tergantung seberapa berat perilaku pilih-pilih makannya. Jika anak masih mau makan dari berbagai kelompok makanan meski terbatas, biasanya pertumbuhan tetap bisa normal.
Namun, jika anak hanya mau makan makanan tertentu dalam jangka panjang, risiko kekurangan nutrisi bisa meningkat. Anak bisa kekurangan protein, zat besi, kalsium, serat, hingga vitamin tertentu yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan otak.
Picky eater juga dapat menyebabkan berat badan anak sulit naik, tubuh mudah lelah, konsentrasi menurun, dan daya tahan tubuh melemah. Dalam beberapa kasus, anak bisa mengalami gangguan pertumbuhan apabila kebutuhan kalorinya tidak tercukupi.
Selain dampak fisik, suasana makan yang penuh tekanan juga bisa memengaruhi kondisi emosional anak. Anak menjadi stres saat jam makan dan Mama ikut merasa frustrasi. Akibatnya, waktu makan berubah menjadi momen yang tidak menyenangkan.
Cara Efektif Mengatasi Anak yang Picky Eater
Cara mengatasi anak picky eater membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Orang tua tidak perlu langsung panik atau memaksa anak makan banyak dalam sekali waktu.
Salah satu tips agar anak mau makan semua jenis makanan adalah mengenalkan makanan baru secara perlahan dan berulang. Jika hari ini anak menolak brokoli, coba tawarkan lagi beberapa hari kemudian dengan cara penyajian berbeda.
Buat suasana makan menjadi menyenangkan tanpa tekanan. Hindari memarahi, membujuk berlebihan, atau memaksa anak menghabiskan makanan karena hal ini justru bisa membuat anak semakin menolak makan.
Orang tua juga bisa memberikan pilihan sederhana agar anak merasa punya kontrol, misalnya “Hari ini mau wortel atau jagung?” Cara ini membantu anak lebih tertarik mencoba makanan baru.
Libatkan anak saat menyiapkan makanan. Anak biasanya lebih tertarik mencoba makanan yang ia bantu pilih atau siapkan sendiri. Misalnya mengajak anak mencuci buah, memilih sayur di supermarket, atau menghias makanan di piring.
Pastikan jadwal makan teratur. Anak sebaiknya memiliki waktu makan utama dan camilan yang konsisten agar belajar mengenali rasa lapar dan kenyang. Hindari terlalu sering memberi camilan manis sebelum jam makan.
Pilih makanan untuk anak picky eater yang padat nutrisi, misalnya telur, ikan, ayam, alpukat, yogurt tanpa gula tambahan, keju, kacang-kacangan, dan buah segar. Sajikan dalam bentuk menarik agar anak lebih tertarik mencoba.
Artikel lainnya: Bagaimana agar Anak Mau Makan Sayur dan Buah
Perbedaan Picky Eater Normal dan ARFID (Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder)
Tidak semua anak yang pilih-pilih makanan mengalami gangguan makan serius. Pickyeater normal biasanya masih mau makan beberapa jenis makanan dari berbagai kelompok gizi dan pertumbuhannya tetap baik.
Seiring bertambah usia, anak umumnya mulai lebih terbuka mencoba makanan baru.Sementara itu, ARFID atau Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder adalah gangguan makan yang lebih serius.
Anak dengan ARFID memiliki ketakutan ekstrem terhadap makanan tertentu, sangat sensitif terhadap tekstur, atau benar-benar membatasi asupan makan hingga memengaruhi kesehatan dan pertumbuhannya.
Anak dengan ARFID bisa mengalami penurunan berat badan, kekurangan nutrisi berat, hingga gangguan aktivitas sehari-hari karena pola makannya sangat terbatas. Kondisi ini membutuhkan evaluasi medis dan pendampingan profesional.
Artikel lainnya: Apa Itu Feeding Rules, Manfaat, dan Cara Menerapkannya
Kapan Harus Konsultasi ke Dokter atau Ahli Gizi
Orang tua sebaiknya berkonsultasi ke dokter atau ahli gizi jika picky eater pada anak mulai memengaruhi pertumbuhan dan kesehatannya. Misalnya berat badan tidak naik, anak tampak lemas, atau hanya mau makan sangat sedikit jenis makanan.
Konsultasi juga diperlukan bila anak sering muntah saat makan, takut berlebihan terhadap makanan tertentu, mengalami kesulitan mengunyah atau menelan, atau waktu makan selalu menjadi “perang” setiap hari.
Dokter dan ahli gizi dapat membantu mengevaluasi pola makan anak, memeriksa status gizinya, sekaligus memberikan strategi yang sesuai untuk membantu anak belajar makan lebih baik.
Dengan pola makan yang tepat, paparan makanan yang beragam, dan dukungan orang tua, anak dapat belajar menerima berbagai jenis makanan secara perlahan.
Kalau Mama ingin mendapatkan lebih banyak tips parenting dan tumbuh kembang anak, yuk download aplikasi HalloBumil dan daftarkan akun untuk membaca berbagai artikel kesehatan terpercaya dan praktis setiap hari.
Supaya tidak merasa sendirian menghadapi drama makan Si Kecil, Mama juga bisa gabung ke komunitas WhatsApp HalloBumil.
Di sana, para orang tua bisa saling berbagi pengalaman tentang cara mengatasi anak picky eater hingga rekomendasi makanan favorit anak.
Buat yang suka ikut kegiatan seru dan edukatif, pantau juga berbagai event parenting dari HalloBumil yang membahas nutrisi anak, MPASI, hingga kesehatan keluarga bersama para ahli.




:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
