BB Anak Stuck karena Alergi Makanan Ketahui Penyebab dan Solusinya
:strip_icc():format(webp)/hb-article/6NgChn3zcuJ9cESO334vm/original/rmlr7nec3817t3z7545yuam46ylx2swe.png)
Ketika anak mengalami alergi makanan, tantangan yang dihadapi Mama tidak hanya sekadar menghindari makanan pemicu alergi, tetapi juga memastikan kebutuhan nutrisinya tetap terpenuhi.
Alergi yang tidak ditangani dengan tepat dapat berdampak pada pertumbuhan, termasuk membuat berat badan anak sulit bertambah. Artikel ini akan membahas penjelasan BB anak stuck karena alergi makanan, jenis alergi yang umum terjadi, ciri-ciri yang perlu diwaspadai, hingga solusi nutrisi yang aman dan tepat.
Artikel Lainnya: Anak Alergi Bisa Berisiko Badan Pendek dan Stunting?
Mengapa Alergi Makanan Bisa Membuat BB Anak Stagnan?
Alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh anak bereaksi berlebihan terhadap zat tertentu dalam makanan. Reaksi ini bisa memicu peradangan pada saluran pencernaan atau mengganggu proses penyerapan nutrisi.
Anak yang mengalami alergi lebih dari dua jenis makanan memiliki risiko lebih besar mengalami pertumbuhan terhambat. Salah satu penyebabnya adalah diet eliminasi, yaitu penghapusan makanan pemicu alergi dari menu harian, yang membuat asupan kalori, protein, dan vitamin tertentu menurun.
Selain itu, alergi makanan pengaruhi berat badan bayi karena reaksi alergi yang berulang dapat menurunkan nafsu makan dan mengganggu tidur. Akibatnya, tubuh anak tidak memperoleh energi dan nutrisi yang cukup untuk mendukung kenaikan berat badan.
Jenis Alergi Makanan yang Sering Mempengaruhi Berat Badan
Ada beberapa jenis alergi makanan yang sering menjadi penyebab berat badan anak tidak naik karena alergi:
Jenis Alergi Makanan | Dampak Terhadap Nutrisi |
Susu sapi |
Menurunkan asupan kalsium, protein, dan vitamin D |
Telur |
Mengurangi asupan protein berkualitas tinggi dan vitamin B12 |
Kacang-kacangan dan kedelai |
Kehilangan sumber protein nabati dan lemak sehat |
Ikan dan makanan laut |
Kekurangan asam lemak omega-3 dan protein |
Gandum |
Mengurangi asupan karbohidrat kompleks dan serat |
Potensi Pengaruh pada Berat Badan
Potensi alergi makanan dapat berdampak signifikan pada berat badan dan kesehatan secara keseluruhan. Pada individu yang mengalami alergi, pertumbuhan tulang bisa terganggu sehingga berat badan sulit untuk meningkat secara optimal.
Selain itu, massa otot dan energi tubuh cenderung berkurang, yang menyebabkan penurunan energi harian secara keseluruhan. Alergi makanan juga dapat memengaruhi perkembangan otak dan metabolisme, sehingga tubuh lebih cepat kehabisan energi dan daya tahan tubuh menjadi menurun.
Artikel Lainnya: Si Kecil Terbebas Dari Alergi, Memang Bisa?
Ciri-ciri Anak Mengalami Alergi Makanan
Mama perlu mengenali tanda-tanda alergi makanan sejak dini. Ciri-ciri yang umum muncul antara lain:
- Gejala cepat (reaksi dalam hitungan menit hingga jam): Ruam kemerahan, gatal pada kulit, bengkak di wajah atau bibir, muntah, diare, atau napas tersengal.
- Gejala lambat (reaksi muncul dalam hitungan jam hingga hari): Diare berdarah, nyeri perut berulang, muntah berkepanjangan, atau gangguan pencernaan lainnya.
- Pertumbuhan tidak sesuai kurva: Berat badan tidak naik atau bahkan menurun, tinggi badan tertinggal, atau lingkar kepala tidak bertambah sesuai usia.
Jika Mama menemukan pola seperti ini, sebaiknya segera lakukan evaluasi ke tenaga medis untuk memastikan penyebabnya.
Cara Mengatasi Berat Badan Anak yang Stuck Karena Alergi
Berat badan yang stagnan akibat alergi perlu ditangani dengan strategi gizi yang tepat. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
1. Pantau pertumbuhan secara rutin
Membawa anak ke posyandu atau dokter anak secara berkala membantu Mama memantau berat badan, tinggi badan, dan perkembangan anak secara keseluruhan.
2. Konsultasi dengan dokter dan ahli gizi
Agar mendapatkan rekomendasi spesifik, Mama juga disarankan untuk berkonsultasi ke ahli gizi, dokter anak konsultan alergi dan dokter anak nutrisi. Para ahli akan membantu membuat rencana makan yang aman sekaligus memastikan anak mendapatkan semua zat gizi yang dibutuhkan.
3. Gunakan alternatif makanan yang setara
Untuk kondisi anak alergi susu berat badan tidak naik, Mama dapat memilih sumber kalsium, protein, dan nutrisi lain pengganti seperti sayuran hijau, ikan teri, atau produk alternatif yang sudah difortifikasi, sesuai rekomendasi tenaga medis.
4. Pertimbangkan formula khusus
Jika anak memerlukan tambahan susu, pilihlah formula yang aman untuk alerginya, seperti susu formula berbasis kedelai, hidrolisat ekstensif, atau asam amino, sesuai petunjuk dokter.
5. Catat makanan dan gejala
Membuat food diary membantu Mama dan dokter mengetahui makanan mana yang aman dan mana yang memicu reaksi.
Artikel Lainnya: Alergi pada Bayi, Pahami Penyebab dan Cara Mengobatinya
Nutrisi Tepat Cegah Si Kecil yang Alergi Kekurangan Gizi
Salah satu faktor berat badan anak tidak bertambah pada kasus alergi makanan adalah risiko kekurangan gizi jika dietnya tidak dikelola dengan baik. Makanya, penting bagi Mama untuk memperhatikan nutrisi berikut tercukupi pada anak:
- Protein: Penting untuk pertumbuhan otot dan perbaikan jaringan tubuh. Contoh makanan: soya, ayam, daging sapi tanpa lemak, ikan air tawar, tahu, tempe, quinoa.
- Kalsium dan vitamin D: Menunjang pertumbuhan tulang dan gigi yang kuat. Contoh makanan: soya, brokoli, sawi hijau, ikan teri, biji chia, almond, produk nabati yang difortifikasi kalsium.
- Zat besi dan folat: Membantu pembentukan sel darah merah dan mencegah anemia. Contoh makanan: soya, paparan sinar matahari pagi, ikan salmon, sayuran berdaun hijau, alpukat, kacang polong.
- Zink dan yodium: Mendukung metabolisme dan fungsi tiroid. Contoh makanan: daging sapi, ayam, biji labu, garam beryodium.
- Vitamin B12: Penting untuk perkembangan otak dan sistem saraf. Contoh makanan: daging, ikan, telur, produk nabati yang difortifikasi vitamin B12.
Salah satu makanan yang menonjol karena nutrisinya lengkap adalah soya. Selain kaya protein, soya juga mengandung kalsium, vitamin D, zat besi, dan asam folat, sehingga mendukung pertumbuhan tulang, perkembangan otot, dan kesehatan secara menyeluruh.
Pastikan Mama tidak menemukan gejala alergi pada anak saat pemberian makanan-makanan di atas. Jika terdapat alergi, Mama bisa langsung menghentikannya dan membawa anak ke dokter.
Artikel Lainnya: Vitamin dan Suplemen yang Dibutuhkan Anak, Panduan untuk Mama
Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?
Mama sebaiknya segera membawa anak ke dokter jika:
- Terjadi reaksi alergi berat, seperti kesulitan bernapas, bengkak di tenggorokan, atau pingsan.
- BB bayi stagnan karena alergi selama beberapa bulan atau menurun signifikan.
- Anak menunjukkan tanda kekurangan gizi, seperti mudah lelah, kulit pucat, rambut rontok, atau gangguan perkembangan.
Mengelola alergi makanan pada anak memang membutuhkan perhatian ekstra, terutama jika sudah memengaruhi pertumbuhan dan berat badannya.
Kuncinya adalah mengenali tanda-tanda sejak awal, mengganti makanan pemicu dengan sumber gizi yang setara, dan memastikan pemantauan kesehatan secara berkala. Mama tentu ingin memastikan si Kecil tetap tumbuh sehat meski harus menghindari makanan pemicu alergi. Kabar baiknya, kebutuhan gizinya tetap bisa terpenuhi dengan pilihan nutrisi yang tepat.
Morinaga Chil-Kid Soya diformulasikan khusus dengan kandungan tinggi DHA untuk dukung proses belajar, prebiotik plus probiotik Triple Bifi yang membantu pencernaan dan memperkuat daya tahan tubuh, serta isolat protein soya untuk mendukung tumbuh kembang si Kecil. Temukan manfaat lengkapnya di sini!
Gabung komunitas WhatsApp HalloBumil yuk! Bisa sharing pengalaman soal alergi anak dengan orang tua lainnya. Bingung bedain alergi atau intoleransi makanan? Ikuti event edukasi dari HalloBumil, baik online maupun offline. Seru, gratis, dan penuh ilmu parenting!. Yuk Ma, cari tahu infonya di aplikasi HalloBumil! Download sekarang buat pantau tumbuh kembang dan pola makannya.