Bayi Muntah setelah Makan MPASI, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
:strip_icc():format(webp)/hb-article/uJwCb1ajkov7dz_QirO2-/original/axs4apcgydakt8xu32rtuiupurpnxo16.png)
Kondisi bayi muntah setelah MPASI sering kali membuat orang tua khawatir, terutama ketika si kecil baru memasuki fase perkenalan makanan padat.
Padahal, tidak semua kasus bayi muntah setelah makan MPASI menandakan kondisi berbahaya. Ada kalanya muntah muncul sebagai respons adaptasi tubuh bayi terhadap tekstur, rasa, atau cara pemberian MPASI.
Namun, pada kondisi tertentu, muntah juga bisa menjadi tanda adanya gangguan pencernaan atau kesalahan dalam pemberian makanan pendamping ASI.
Oleh karena itu, penting bagi Mama dan Papa untuk memahami penyebab, cara mengatasi, serta kapan perlu melakukan penyesuaian MPASI agar kebutuhan nutrisi bayi tetap terpenuhi dengan optimal.
Artikel lainnya: Panduan MPASI Sesuai Usia dan Tahapan Bayi
Penyebab Bayi Muntah setelah Makan MPASI
Memahami penyebab bayi muntah setelah makan MPASI sangat penting agar orang tua tidak langsung panik, tetapi juga tidak mengabaikan tanda yang perlu diwaspadai.
Muntah bisa terjadi karena proses adaptasi alami tubuh bayi, namun bisa juga dipicu oleh cara pemberian MPASI yang kurang tepat atau kondisi kesehatan tertentu. Berikut alasan kenapa bayi muntah saat makan MPASI:
1. Sistem pencernaan bayi masih berkembang
Pada fase awal MPASI, sistem pencernaan bayi masih dalam tahap belajar mengolah makanan selain ASI atau susu formula. Enzim pencernaan belum bekerja optimal, sementara otot lambung dan kerongkongan masih menyesuaikan diri dengan tekstur baru.
Kondisi tersebut membuat makanan lebih mudah kembali ke atas dan menyebabkan bayi muntah setelah makan MPASI. Biasanya, kondisi ini bersifat sementara dan akan membaik seiring bertambahnya usia bayi.
2. Tekstur MPASI tidak sesuai usia
Tekstur MPASI yang terlalu kasar atau padat dapat memicu refleks muntah pada bayi. Bayi usia 6 bulan idealnya masih membutuhkan makanan dengan tekstur halus atau lumat.
Jika tekstur terlalu cepat dinaikkan, bayi bisa kesulitan menelan dan akhirnya muntah saat makan MPASI. Penyesuaian tekstur secara bertahap sangat penting agar bayi bisa beradaptasi dengan nyaman.
3. Porsi MPASI terlalu banyak
Memberikan MPASI dalam porsi besar sering kali menjadi penyebab bayi muntah setelah makan MPASI. Lambung bayi masih kecil dan tidak mampu menampung makanan dalam jumlah banyak sekaligus.
Ketika lambung terlalu penuh, tubuh akan bereaksi dengan memuntahkan kembali isinya. Oleh karena itu, memberikan MPASI sedikit demi sedikit namun sering jauh lebih dianjurkan.
4. Bayi makan terlalu cepat
Saat bayi makan terlalu cepat, baik karena disuapi tanpa jeda atau bayi sendiri terlalu bersemangat, udara bisa ikut tertelan bersama makanan.
Udara yang terperangkap di lambung dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan memicu muntah setelah makan MPASI. Memberi jeda di sela-sela suapan membantu bayi menelan dengan lebih baik.
5. Refleks gag (refleks muntah) masih sensitif
Refleks muntah atau gag reflex pada bayi masih sangat sensitif, terutama di awal pengenalan MPASI.
Ketika sendok atau makanan menyentuh bagian belakang lidah, bayi bisa langsung muntah sebagai respons alami. Kondisi ini umum terjadi dan biasanya akan berkurang seiring meningkatnya kemampuan motorik bayi.
6. Alergi terhadap bahan makanan tertentu
Alergi makanan dapat menjadi penyebab bayi muntah saat makan MPASI. Reaksi alergi tidak selalu berupa ruam, tetapi bisa muncul dalam bentuk muntah berulang, diare, atau rewel setelah makan.
Bahan seperti telur, susu sapi, kacang, dan seafood perlu diperkenalkan secara bertahap sambil memantau reaksi bayi.
Artikel Lainnya: Si Kecil Rewel Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Alergi, Ma!
7. Intoleransi makanan
Selain alergi, intoleransi makanan juga dapat menyebabkan bayi muntah setelah makan MPASI. Intoleransi terjadi ketika tubuh bayi kesulitan mencerna zat tertentu, seperti laktosa atau protein tertentu. Gejalanya bisa berupa muntah, perut kembung, dan feses yang tidak normal.
8. Infeksi saluran pencernaan
Infeksi virus atau bakteri pada saluran cerna dapat menyebabkan bayi muntah setiap kali makan MPASI. Biasanya kondisi ini disertai gejala lain seperti demam, diare, atau bayi tampak lemas. Jika muntah berlangsung terus-menerus, pemeriksaan medis diperlukan untuk mencegah dehidrasi pada anak.
9. Refluks asam lambung
Refluks merupakan kondisi umum pada bayi, terutama di bawah usia satu tahun. Saat bayi makan MPASI, makanan bisa naik kembali ke kerongkongan karena katup lambung belum menutup sempurna. Hal ini menyebabkan bayi muntah setelah makan MPASI, terutama jika langsung dibaringkan.
10. Posisi makan kurang tepat
Posisi makan yang tidak tegak dapat mempermudah makanan naik kembali ke atas. Memberi MPASI sambil bayi berbaring atau bersandar terlalu ke belakang meningkatkan risiko muntah. Posisi duduk dengan kepala tegak membantu makanan turun dengan lebih baik ke lambung.
11. Bayi sedang tumbuh gigi
Saat tumbuh gigi, bayi sering merasa tidak nyaman dan lebih sensitif. Produksi air liur meningkat, bayi sering memasukkan tangan ke mulut, dan refleks muntah bisa lebih mudah terpicu. Akibatnya, bayi muntah saat makan MPASI meski tidak ada masalah serius pada pencernaannya.
Artikel Lainnya: Gigi Susu pada Anak, Proses Tumbuh, Perawatan, dan Kapan Tanggal
12. Suhu MPASI tidak tepat
MPASI yang terlalu panas atau terlalu dingin dapat membuat bayi kaget dan tidak nyaman. Ketidaknyamanan ini bisa memicu muntah, terutama pada bayi yang sensitif. Mama perlu memastikan MPASI berada pada suhu suam-suam kuku untuk membantu bayi makan dengan lebih nyaman.
13. Terlalu banyak variasi menu sekaligus
Memperkenalkan banyak bahan baru dalam satu waktu dapat membebani sistem pencernaan bayi, lho, Ma. Jika terjadi muntah, Mama dan Papa akan kesulitan mengenali penyebab pastinya. Inilah mengapa pengenalan menu MPASI dianjurkan satu per satu.
14. Bayi sedang tidak fit
Ketika bayi sedang lelah, pilek, atau demam ringan, tubuhnya cenderung lebih sensitif terhadap makanan. Dalam kondisi ini, bayi muntah setelah makan MPASI bisa terjadi meskipun menu dan porsinya sudah sesuai.
15. Sembelit atau gangguan pencernaan
Gangguan pencernaan seperti sembelit membuat perut si kecil terasa penuh dan tidak nyaman. Tekanan di saluran cerna dapat memicu muntah, terutama saat bayi dipaksa makan MPASI dalam kondisi tidak nyaman.
16. MPASI kurang higienis
MPASI yang tidak diolah atau disimpan dengan benar juga berisiko terkontaminasi bakteri. Konsumsi makanan yang kurang higienis dapat menyebabkan iritasi saluran cerna hingga muntah setelah makan MPASI.
Artikel Lainnya: Si Kecil Susah BAB Setelah MPASI? Ini Penyebab & Solusinya
Cara Mengatasi Bayi Muntah setelah Makan MPASI
Menghadapi bayi muntah setelah makan MPASI tentu membuat orang tua merasa khawatir. Namun, dalam banyak kasus, kondisi ini dapat diatasi dengan langkah sederhana yang tepat sasaran. Ini dia sejumlah cara mengatasi bayi muntah MPASI:
- Sesuaikan tekstur MPASI dengan usia dan kemampuan mengunyah bayi.
- Berikan MPASI dalam porsi kecil namun bertahap.
- Pastikan posisi bayi duduk tegak saat makan.
- Beri jeda makan dan hindari menyuapi terlalu cepat.
- Perhatikan reaksi bayi terhadap bahan makanan baru.
- Hindari langsung membaringkan bayi setelah makan.
- Jaga kebersihan alat makan dan bahan MPASI.
- Konsultasikan ke dokter jika muntah terjadi terus-menerus.
Perlukah Penyesuaian MPASI?
Penyesuaian MPASI sering kali diperlukan jika bayi muntah setelah makan MPASI terjadi berulang. Mama dan Papa dapat mengembalikan tekstur tekstur makanan ke yang lebih lembut, mengurangi variasi menu sementara, atau mengatur ulang jadwal makan agar bayi tidak terlalu lelah.
Selain itu, penting juga untuk mengevaluasi bahan makanan yang diberikan. Jika bayi muntah setelah mengonsumsi bahan tertentu, sebaiknya hentikan sementara bahan tersebut dan perkenalkan kembali di lain waktu.
Pengenalan menu satu per satu akan membantu orang tua mengenali apakah ada intoleransi atau reaksi alergi tertentu.
Penyesuaian jadwal makan juga perlu diperhatikan, karena bayi yang terlalu lelah atau mengantuk cenderung lebih mudah muntah saat makan. Jika muntah disertai penurunan berat badan, dehidrasi, atau darah pada muntahan, segera konsultasikan ke dokter anak.
Untuk mendampingi perjalanan MPASI si kecil, Mama bisa download aplikasi Hallobumil agar lebih mudah memantau tumbuh kembang bayi setiap hari.
Jangan ragu juga untuk bergabung dengan komunitas Hallobumil, tempat berbagi pengalaman MPASI bersama orang tua lainnya.
Selain itu, Hallobumil menghadirkan sejumlah event Hallobumil untuk membantu Mama semakin percaya diri dalam memberikan nutrisi terbaik bagi buah hati.





:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
