Perubahan Hormon Setelah Melahirkan dan Cara Menstabilkannya
:strip_icc():format(webp)/hb-article/aqUnKQZJvzOv2IpkiPExG/original/9hwvsqneh4ump01f1zx2tsq47f6rcwug.png)
Banyak Mama tidak menyadari bahwa setelah melahirkan tubuh akan mengalami berbagai perubahan besar, terutama pada sistem hormon.
Perubahan hormon setelah melahirkan terjadi karena tubuh tidak lagi memproduksi hormon kehamilan dalam jumlah tinggi seperti sebelumnya.
Akibatnya, Mama mungkin merasakan berbagai perubahan seperti suasana hati yang naik turun, tubuh mudah lelah, atau perubahan pola tidur.
Meski terasa tidak nyaman, kondisi ini sebenarnya merupakan bagian dari proses alami tubuh untuk kembali menyeimbangkan hormon setelah kehamilan.
Artikel lainnya: Cara Mengecilkan Perut Setelah Melahirkan yang Aman untuk Mama
Hormon Apa Saja yang Berubah setelah Melahirkan?
Selama masa kehamilan hingga setelah persalinan, ada beberapa hormon utama yang mengalami perubahan signifikan. Berikut beberapa di antaranya:
1. Estrogen
Hormon estrogen akan meningkat selama kehamilan untuk membantu perkembangan rahim dan plasenta. Setelah melahirkan, kadar estrogen akan turun dengan cepat. Penurunan ini bisa menyebabkan perubahan suasana hati, kulit lebih kering, hingga rambut rontok pada sebagian Mama.
2. Progesteron
Progesteron berperan menjaga kehamilan agar tetap stabil. Namun setelah bayi lahir, hormon ini juga mengalami penurunan drastis. Turunnya progesteron dapat memicu rasa lelah, perubahan emosi, bahkan meningkatkan risiko baby blues pada beberapa Mama.
3. Prolaktin
Prolaktin adalah hormon yang berperan penting dalam produksi ASI. Setelah melahirkan, kadar prolaktin akan meningkat untuk merangsang kelenjar payudara memproduksi ASI bagi bayi. Itulah sebabnya proses menyusui dapat memengaruhi kondisi hormonal.
4. Oksitosin
Oksitosin sering disebut sebagai hormon cinta atau hormon ikatan. Hormon ini meningkat ketika mama menyusui atau melakukan kontak kulit dengan bayi.
Oksitosin membantu rahim berkontraksi agar kembali ke ukuran normal serta memperkuat ikatan emosional antara Mama dan bayi.
5. Kortisol
Kortisol adalah hormon yang berkaitan dengan stres. Setelah melahirkan, kadar hormon ini dapat berubah karena kurang tidur, kelelahan, dan tuntutan merawat bayi baru lahir. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini bisa membuat Mama lebih mudah stres.
Dengan memahami apa saja perubahan hormon setelah melahirkan, Mama bisa lebih peka terhadap perubahan yang terjadi pada tubuh dan emosi.
Berapa Lama Hormon Kembali Normal setelah Melahirkan?
Banyak yang bertanya-tanya, berapa lama hormon kembali normal setelah melahirkan? Jawabannya bisa berbeda pada setiap orang. Umumnya, sebagian hormon mulai stabil dalam waktu sekitar 6 hingga 8 minggu setelah persalinan.
Namun pada Mama yang menyusui, beberapa hormon seperti prolaktin dapat tetap tinggi selama masa menyusui berlangsung.
Selain itu, proses pemulihan hormon juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi kesehatan Mama, pola tidur, tingkat stres, hingga dukungan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, tidak semua mama akan mengalami pemulihan hormon dalam waktu yang sama.
Beberapa Mama mungkin membutuhkan waktu lebih lama hingga beberapa bulan untuk benar-benar merasa stabil secara emosional dan fisik.
Jika perubahan suasana hati berlangsung lama atau semakin berat, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Cara Menstabilkan Hormon setelah Melahirkan
Walau perubahan hormon adalah proses alami, ada beberapa langkah yang dapat membantu cara menstabilkan hormon setelah melahirkan agar mama merasa lebih nyaman.
1. Istirahat yang cukup
Kurang tidur dapat memperburuk ketidakseimbangan hormon. Cobalah untuk beristirahat ketika bayi tidur agar tubuh memiliki waktu untuk memulihkan diri.
2. Konsumsi makanan bergizi
Nutrisi yang cukup sangat penting untuk membantu tubuh menyeimbangkan hormon. Perbanyak konsumsi protein, sayur, buah, dan makanan kaya zat besi untuk mendukung pemulihan setelah melahirkan.
3. Tetap aktif bergerak
Olahraga ringan seperti berjalan kaki dapat membantu meningkatkan mood dan menjaga keseimbangan hormon dalam tubuh. Namun, pastikan aktivitas fisik dilakukan sesuai kondisi tubuh setelah persalinan, ya, Ma.
4. Kelola stres dengan baik
Stres dapat memengaruhi produksi hormon dalam tubuh. Mama bisa mencoba teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, meditasi, atau sekadar berbagi cerita dengan pasangan dan keluarga.
5. Menyusui secara teratur
Proses menyusui dapat membantu meningkatkan hormon oksitosin yang membuat mama merasa lebih tenang dan bahagia. Selain baik untuk bayi, aktivitas ini juga mendukung keseimbangan hormon Mama.
Dengan menerapkan berbagai langkah tersebut, cara menstabilkan hormon setelah melahirkan dapat dilakukan secara bertahap dan alami.
Artikel lainnya: 9 Cemilan untuk Ibu Setelah Melahirkan, Enak & Bergizi
Kapan Mama Perlu Cek ke Dokter?
Meski sebagian besar perubahan hormon setelah melahirkan bersifat normal, ada beberapa kondisi yang perlu mendapatkan perhatian medis.
Jika Mama mengalami kesedihan yang berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, atau merasa sangat cemas hingga sulit merawat bayi, kondisi ini bisa menjadi tanda depresi pasca persalinan.
Dalam situasi seperti ini, konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan agar mendapatkan dukungan dan penanganan yang tepat.
Selain itu, Mama juga perlu memeriksakan diri jika mengalami gejala fisik yang tidak biasa, seperti kelelahan ekstrem, rambut rontok berlebihan, atau perubahan berat badan yang drastis. Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon tertentu setelah melahirkan.
Perubahan hormon setelah melahirkan merupakan bagian alami dari proses pemulihan tubuh setelah kehamilan. Penurunan hormon seperti estrogen dan progesteron, serta peningkatan hormon prolaktin dan oksitosin, membuat tubuh mama menyesuaikan diri dengan fase baru sebagai seorang Mama.
Agar lebih siap menghadapi setiap fase kehamilan hingga setelah persalinan, Mama bisa download aplikasi Hallobumil untuk mendapatkan berbagai informasi kesehatan ibu dan bayi yang lengkap dan mudah dipahami.
Jika ingin berbagi cerita atau mendapatkan dukungan dari sesama Mama, Maka juga bisa bergabung dengan komunitas Hallobumil di WhatsApp. Di sana, Mama bisa bertukar pengalaman, bertanya langsung, serta mendapatkan tips bermanfaat dari para Mama lainnya.
Jangan lewatkan juga berbagai event edukatif dari Hallobumil yang membahas topik menarik seputar kehamilan, persalinan, dan perawatan bayi. Melalui acara ini, Mama bisa mendapatkan ilmu baru sekaligus bertanya langsung kepada para ahli.





:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
