loading

Apa Itu Kolik pada Si Kecil, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Bagikan
Facebook
Twitter
WhatsApp
copylink
Tangisan berkepanjangan akibat kolik sering memicu kekhawatiran orang tua. Pahami penjelasan medis mengenai apa itu kolik pada bayi, faktor penyebab, serta langkah penanganan yang aman dan efektif.
kolik-pada-bayi-penyebab-tanda-dan-cara-mengatasinya

Kolik adalah kondisi ketika Si Kecil yang sehat menangis dalam waktu lama tanpa penyebab yang jelas. Tangisan ini sering muncul pada waktu yang hampir sama setiap hari dan terkadang sulit diredakan meskipun kebutuhan Si Kecil sudah terpenuhi.

Mama dapat merasa lebih tenang apabila memahami penyebab yang diduga berperan, mengenali gejalanya, serta mengetahui cara yang tepat untuk menenangkan Si Kecil.

Artikel lainnya: Si Kecil Sering Gumoh, Normal atau Tidak?

Apa Itu Kolik dan Gejalanya?

Kolik merupakan kondisi yang ditandai dengan tangisan berlebihan pada Si Kecil yang sehat. Hingga saat ini, penyebab pasti kolik belum diketahui sehingga dokter akan memastikan terlebih dahulu bahwa tidak ada gangguan kesehatan lain yang menyebabkan Si Kecil menangis terus-menerus.

Salah satu pedoman yang sering digunakan adalah “aturan 3-3-3” atau Rule of Three. Kolik umumnya ditandai dengan Si Kecil menangis lebih dari tiga jam dalam sehari, terjadi lebih dari tiga hari dalam satu minggu, dan berlangsung selama lebih dari tiga minggu.

Meskipun demikian, pedoman ini bukan satu-satunya dasar penilaian. Apabila muncul tanda yang mengkhawatirkan, Si Kecil tetap perlu diperiksa oleh dokter tanpa harus menunggu tiga minggu.

Selain menangis dalam waktu lama, tanda-tanda kolik pada Si Kecil dapat berupa wajah memerah, tangan mengepal, kaki ditekuk ke arah perut, perut terasa tegang, serta tubuh tampak melengkung ke belakang. Setelah tangisan berhenti, Si Kecil umumnya kembali tampak sehat seperti biasa.

Artikel lainnya: Fakta-Fakta Seputar Bayi Baru Lahir

Beda Kolik dan Tangisan Biasa

Semua Si Kecil menangis sebagai cara untuk menyampaikan kebutuhannya. Tangisan karena lapar, popok basah, mengantuk, atau ingin digendong biasanya akan mereda setelah kebutuhan tersebut dipenuhi.

Tangisan akibat kolik berbeda karena sering kali tetap berlangsung meskipun Si Kecil sudah kenyang, popok telah diganti, dan sudah digendong. Tangisan juga cenderung muncul pada sore atau malam hari dengan pola yang hampir sama setiap harinya.

Pada kolik Si Kecil baru lahir, gejala biasanya mulai tampak ketika usia Si Kecil memasuki dua hingga tiga minggu. Kondisi ini berbeda dengan tangisan biasa yang umumnya lebih mudah ditenangkan dalam waktu singkat.

Penyebab Kolik

Hingga saat ini, para ahli belum mengetahui secara pasti penyebab kolik Si Kecil. Namun, terdapat beberapa teori yang diduga berperan terhadap munculnya kondisi tersebut.

1. Sistem pencernaan Si Kecil masih berkembang

Sistem pencernaan Si Kecil masih mengalami proses pematangan pada bulan-bulan pertama kehidupannya. Proses perkembangan ini diduga membuat sebagian Si Kecil lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi di saluran cerna.

Meskipun demikian, penelitian belum membuktikan bahwa gangguan pencernaan merupakan penyebab utama kolik. Oleh karena itu, kondisi ini masih terus diteliti.

Artikel lainnya: Kenali Masalah Pencernaan Bayi dan Cara Menanganinya

2. Si Kecil lebih sensitif terhadap rangsangan

Sebagian Si Kecil diduga lebih peka terhadap cahaya, suara, maupun aktivitas di lingkungan sekitarnya. Setelah menerima banyak rangsangan sepanjang hari, Si Kecil mungkin lebih sulit menenangkan dirinya sendiri pada sore atau malam hari.

Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya tangisan berkepanjangan.

3. Udara yang tertelan saat menyusu

Udara yang ikut tertelan ketika Si Kecil menyusu dapat menyebabkan perut terasa kurang nyaman pada sebagian Si Kecil.

Oleh karena itu, menyendawakan Si Kecil setelah menyusu sering dianjurkan sebagai langkah sederhana untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman. Namun, perlu diketahui bahwa udara yang tertelan belum terbukti sebagai penyebab utama kolik.

Artikel lainnya: Masalah Menyusui yang Sering Dialami dan Cara Mengatasinya

4. Perubahan bakteri baik di saluran cerna

Beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan komposisi bakteri baik di usus antara Si Kecil yang mengalami kolik dan Si Kecil yang tidak mengalami kolik. Hubungan tersebut masih terus diteliti sehingga belum dapat disimpulkan sebagai penyebab langsung.

Mama tidak perlu memberikan probiotik tanpa anjuran dokter karena manfaatnya belum terbukti konsisten pada semua Si Kecil.

5. Sensitivitas terhadap protein susu sapi pada sebagian Si Kecil

Pada sebagian kecil Si Kecil, kolik dapat berkaitan dengan sensitivitas terhadap protein susu sapi. Kondisi ini tidak terjadi pada semua Si Kecil sehingga tidak semua Mama menyusui perlu menghindari produk susu.

Pembatasan makanan atau penggantian susu formula sebaiknya dilakukan setelah berkonsultasi dengan dokter agar kebutuhan gizi Si Kecil tetap terpenuhi.

Pembahasan mengenai makanan penyebab kolik pada Si Kecil juga perlu dipahami dengan hati-hati karena hingga saat ini belum ada makanan tertentu yang terbukti menyebabkan kolik pada seluruh Si Kecil.

Artikel lainnya: Alergi Susu Sapi pada Bayi: Penyebab, Gejala, dan Solusinya

Cara Menenangkan Si Kecil Saat Kolik

Meskipun kolik belum dapat dihilangkan sepenuhnya, ada beberapa cara yang dapat membantu menenangkan Si Kecil dan meringankan ketidaknyamanannya. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Mama coba lakukan saat Si Kecil sedang menangis akibat kolik.

1. Gendong Si Kecil dengan lembut

Sentuhan hangat dari Mama dapat membantu memberikan rasa aman dan nyaman kepada Si Kecil. Menggendong Si Kecil sambil memeluknya secara perlahan sering kali membantu mengurangi tangisan pada sebagian Si Kecil.

Mama dapat menggendong Si Kecil menggunakan posisi yang membuat kepala dan leher tetap tersangga dengan baik. Hindari mengguncang Si Kecil karena tindakan tersebut dapat membahayakan kesehatannya.

Cara sederhana ini menjadi salah satu cara mengatasi kolik pada Si Kecil yang banyak dianjurkan karena aman dilakukan di rumah.

2. Ayun Si Kecil secara perlahan

Gerakan mengayun yang lembut dapat membantu menenangkan sebagian Si Kecil yang sedang menangis. Mama dapat menggendong Si Kecil sambil berjalan perlahan atau menggunakan kursi goyang apabila tersedia.

Gerakan yang dilakukan sebaiknya tetap lembut dan stabil. Hindari ayunan yang terlalu kuat atau terlalu cepat karena tidak aman untuk Si Kecil.

Artikel lainnya: Bayi Menangis Terus, Terapkan 5 Cara Ini untuk Menenangkannya

banner

3. Bedong Si Kecil dengan teknik yang benar

Membedong dapat membantu sebagian Si Kecil merasa lebih tenang karena memberikan sensasi yang menyerupai saat berada di dalam kandungan. Cara ini dapat dilakukan pada Si Kecil yang belum mampu berguling agar tetap aman.

Mama perlu memastikan bedong tidak terlalu ketat, terutama pada bagian pinggul dan kaki. Posisi kaki sebaiknya tetap dapat bergerak secara bebas untuk mendukung perkembangan sendi panggul.

Apabila Si Kecil mulai menunjukkan tanda dapat berguling, penggunaan bedong sebaiknya dihentikan demi menjaga keamanan saat tidur.

4. Sendawakan Si Kecil setelah menyusu

Udara yang tertelan saat menyusu dapat membuat sebagian Si Kecil merasa kurang nyaman. Menyendawakan Si Kecil setelah menyusu membantu mengeluarkan udara tersebut sehingga Si Kecil dapat merasa lebih rileks.

Mama dapat menggendong Si Kecil dalam posisi tegak sambil menepuk atau mengusap punggungnya secara perlahan hingga bersendawa.

Lakukan dengan lembut tanpa memberikan tekanan pada area perut. Meskipun belum terbukti sebagai penyebab utama kolik, kebiasaan ini tetap bermanfaat untuk membantu mengatasi Si Kecil kolik kembung yang juga mengalami banyak sendawa atau perut terasa penuh.

Artikel lainnya: Cara Menyendawakan Si Kecil dengan Benar

5. Ciptakan suasana yang tenang

Lingkungan yang terlalu ramai atau banyak rangsangan dapat membuat sebagian Si Kecil lebih sulit menenangkan diri. Mama dapat meredupkan lampu, mengurangi suara bising, atau membawa Si Kecil ke ruangan yang lebih tenang.

Suasana yang nyaman membantu Si Kecil beristirahat dan memberikan kesempatan untuk menenangkan diri secara perlahan.

Sentuhan lembut dari Mama juga dapat menambah rasa aman selama Si Kecil menangis. Rutinitas yang konsisten menjelang waktu tidur sering kali membantu Si Kecil merasa lebih nyaman pada sore atau malam hari.

6. Gunakan white noise atau suara lembut

Beberapa Si Kecil tampak lebih tenang saat mendengar suara yang konstan, seperti white noise, suara kipas angin, atau alunan musik yang lembut. Suara tersebut dapat membantu mengurangi rangsangan lain di lingkungan sekitar.

Pastikan volume suara tetap rendah dan sumber suara tidak diletakkan terlalu dekat dengan telinga Si Kecil. Tujuannya adalah menciptakan suasana yang nyaman, bukan menutupi tangisan Si Kecil.

Mama dapat mencoba beberapa jenis suara untuk mengetahui mana yang paling membantu menenangkan Si Kecil.

7. Ajak Si Kecil berjalan santai

Menggendong Si Kecil sambil berjalan perlahan di dalam rumah atau menggunakan kereta dorong untuk berjalan santai dapat membantu sebagian Si Kecil menjadi lebih tenang. Gerakan yang lembut sering memberikan efek menenangkan, terutama ketika Si Kecil mulai rewel pada sore hari.

Aktivitas ini juga dapat menjadi kesempatan bagi Mama untuk beristirahat sejenak dari suasana di dalam rumah. Pilih waktu dan kondisi lingkungan yang aman agar Si Kecil tetap merasa nyaman.

Apabila Si Kecil tertidur selama berjalan, pindahkan ke tempat tidur yang aman dalam posisi telentang setelah kembali ke rumah.

8. Minta bantuan pasangan atau keluarga

Merawat Si Kecil yang menangis dalam waktu lama dapat membuat orang tua merasa lelah. Tidak ada salahnya meminta pasangan atau anggota keluarga bergantian menggendong Si Kecil agar Mama memiliki waktu untuk beristirahat sejenak.

Istirahat yang cukup membantu Mama tetap tenang saat merawat Si Kecil. Ketenangan orang tua juga dapat menciptakan suasana yang lebih nyaman untuk Si Kecil.

Apabila Mama merasa kewalahan, jangan ragu untuk mencari dukungan dari keluarga atau tenaga kesehatan agar mendapatkan pendampingan yang sesuai.

Artikel lainnya: Bayi Suka Merengek, Bagaimana Mengatasinya?

Kapan Normalnya Kolik Akan Berhenti?

Kolik umumnya mulai muncul ketika Si Kecil berusia sekitar dua hingga tiga minggu. Kondisi ini sering mencapai puncaknya saat usia Si Kecil sekitar enam minggu, kemudian berangsur membaik seiring bertambahnya usia.

Pada sebagian besar Si Kecil, tangisan akibat kolik mulai berkurang ketika memasuki usia tiga hingga empat bulan. Oleh karena itu, ciri kolik pada Si Kecil 1 bulan umumnya masih lebih sering terlihat dibandingkan pada usia berikutnya.

Memasuki usia dua bulan, pola tangisan masih dapat terjadi, tetapi sebagian Si Kecil mulai menunjukkan perbaikan secara bertahap.

Ciri kolik pada Si Kecil 2 bulan biasanya tetap serupa, yaitu menangis dalam waktu lama pada jam-jam tertentu, tetapi intensitasnya dapat berbeda pada setiap Si Kecil.

Kapan Harus ke Dokter?

Kolik umumnya tidak membahayakan dan akan membaik dengan sendirinya. Namun, Mama perlu membawa Si Kecil ke dokter apabila tangisan disertai demam, muntah menyembur, diare berat, buang air besar berdarah, sulit menyusu, atau berat badan tidak bertambah sesuai usia.

Pemeriksaan juga diperlukan apabila Si Kecil tampak sangat lemas, mengalami kesulitan bernapas, atau tangisannya terdengar berbeda dari biasanya. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan lain yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Mama juga tidak perlu menunggu hingga memenuhi aturan 3-3-3 apabila merasa ada perubahan yang tidak biasa pada kondisi Si Kecil. Konsultasi lebih awal membantu dokter memastikan penyebab tangisan dan memberikan penanganan yang sesuai.

Artikel lainnya: Perkembangan Bayi 0–12 Bulan Bulan demi Bulan

Tips agar Mama Tetap Tenang Saat Menghadapi Si Kecil Kolik

Menghadapi Si Kecil kolik yang terus menangis tentu menjadi tantangan besar yang menguras tenaga dan emosi orang tua. Berikut adalah beberapa tips sederhana yang dapat membantu Mama menjaga ketenangan dan kesabaran selama mendampingi Si Kecil.

  • Bergantian merawat Si Kecil: Menghadapi Si Kecil yang terus menangis dapat menguras tenaga, sehingga Mama perlu berbagi tugas dengan pasangan atau anggota keluarga lain agar bisa beristirahat sejenak.
  • Mengambil jeda sejenak: Jika Si Kecil sudah berada di tempat tidur yang aman, Mama bisa mengambil waktu beberapa menit untuk menenangkan diri sebelum kembali menggendongnya guna menjaga energi dan kesabaran.
  • Ingat bahwa ini bukan kesalahan Mama: Kolik bukan terjadi karena kesalahan pola asuh, dan sebagian besar Si Kecil yang mengalaminya akan tetap tumbuh sehat seiring berkurangnya keluhan sejalan dengan perkembangan tubuh mereka.

Kolik merupakan kondisi umum pada bulan-bulan pertama Si Kecil yang tangisannya akan berkurang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia.

Mama dapat menenangkan Si Kecil melalui cara sederhana seperti menggendong dengan lembut, menciptakan suasana tenang, dan menyendawakan Si Kecil setelah menyusu.

Jika tangisan tersebut disertai tanda bahaya atau menimbulkan kekhawatiran, segera konsultasikan dengan dokter agar Si Kecil mendapatkan pemeriksaan yang tepat.

Unduh aplikasi HalloBumil dan daftarkan akun Mama untuk mendapatkan informasi tepercaya serta fitur pendukung yang membantu Mama mendampingi setiap tahap tumbuh kembang Si Kecil.

Selain itu, bergabunglah dengan komunitas dan event edukatifnya untuk berbagi pengalaman dengan sesama orang tua sekaligus memperoleh informasi kesehatan akurat dari para ahli.

Pertanyaan Populer

Jadilah orang tua super! Panduan 1000 Hari Pertama Kehidupan si kecil ada di sini. GRATIS.
image
image
image
image
2
1
Bagikan
Facebook
Twitter
WA
SW
Suci wahyuni Image 9 bulan

Tanda merah dibawah kelopak mata bayi baru lahir apakah bisa tampilkan selengkapnya

1

Tumbuh Bersama di 1000 Hari Pertama Si Kecil

Komunitas hangat untuk dapatkan tips, cerita inspiratif, dan teman baru pada 1000 hari pertama si kecil bersama Hallobumil
image