:strip_icc():format(webp)/hb-article/pml89NXbgbru4r9SYvaGA/original/91mco6xfh8vkf64za7zowrd8mb0mjm24.png)
Muntah merupakan keluhan yang cukup sering terjadi pada bayi, terutama pada beberapa bulan pertama kehidupan. Namun, bayi muntah menyembur berbeda dari gumoh biasa sehingga penting untuk dikenali sejak dini.
Pengetahuan yang tepat membantu Mama memberikan penanganan awal sekaligus mengetahui kapan Si Kecil perlu segera diperiksa oleh dokter.
Artikel lainnya: Bayi Sering Muntah, Penyebab dan Cara Mengatasinya
Apa Beda Muntah Menyembur dan Gumoh pada Si Kecil?
Banyak orang tua menganggap semua muntah pada bayi adalah gumoh. Padahal, gumoh dan muntah menyembur merupakan dua kondisi yang berbeda, baik dari penyebab maupun tingkat keparahannya.
Gumoh adalah keluarnya sedikit ASI atau susu dari mulut bayi setelah menyusu. Kondisi ini terjadi karena katup antara kerongkongan dan lambung belum berkembang sempurna, sehingga isi lambung lebih mudah naik kembali ke kerongkongan.
Gumoh umumnya terjadi tanpa tenaga yang kuat, volumenya sedikit, dan bayi tetap tampak nyaman setelahnya. Selama berat badan bertambah sesuai usia dan Si Kecil tetap aktif menyusu, gumoh biasanya masih tergolong normal.
Sebaliknya, muntah menyembur atau projectile vomiting terjadi ketika isi lambung keluar dengan tekanan yang kuat sehingga cairan dapat memancar beberapa sentimeter hingga cukup jauh dari mulut bayi. Kondisi ini tidak selalu menandakan penyakit serius, tetapi memerlukan perhatian lebih, terutama jika terjadi berulang.
Salah satu ciri-ciri bayi muntah menyembur adalah muntahan keluar dengan tenaga yang kuat, bukan sekadar mengalir perlahan dari sudut mulut.
Setelah muntah, sebagian bayi masih tampak lapar dan ingin menyusu kembali, sementara bayi lain terlihat rewel atau tidak nyaman tergantung penyebab yang mendasarinya.
Perbedaan berikut dapat membantu Mama mengenali kedua kondisi tersebut.
|
Gumoh |
Muntah Menyembur |
|
Keluar perlahan |
Keluar dengan semburan kuat |
|
Volume sedikit |
Volume lebih banyak |
|
Bayi tetap nyaman |
Dapat disertai bayi tampak rewel |
|
Umumnya normal pada bayi |
Perlu dievaluasi bila terjadi berulang |
Artikel lainnya: Kenapa Si Kecil Rewel Setelah Menyusu? Ini Penyebab dan Solusinya
Apa Penyebab Muntah Menyembur pada Si Kecil?
Muntah menyembur dapat dipicu oleh berbagai kondisi. Sebagian penyebab bersifat ringan dan sementara, sedangkan sebagian lainnya memerlukan penanganan medis sesegera mungkin.
Dokter akan menilai usia bayi, frekuensi muntah, warna muntahan, kondisi umum, serta pertumbuhan Si Kecil sebelum menentukan penyebabnya.
1. Stenosis pilorus
Stenosis pilorus merupakan penyebab yang paling khas pada bayi usia sekitar dua hingga delapan minggu. Kondisi ini terjadi ketika otot pilorus, yaitu saluran yang menghubungkan lambung dan usus halus, mengalami penebalan sehingga makanan sulit keluar dari lambung.
Akibatnya, isi lambung terdorong keluar melalui mulut dalam bentuk muntah yang menyembur. Bayi biasanya muntah setiap selesai menyusu, tetapi tetap tampak lapar karena sebagian besar susu tidak berhasil mencapai usus. Apabila tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi dan berat badan sulit bertambah.
Stenosis pilorus memerlukan tindakan operasi sederhana untuk memperbaiki saluran keluar lambung. Setelah mendapatkan penanganan, sebagian besar bayi dapat pulih dengan baik.
2. Gastroenteritis
Infeksi pada saluran cerna akibat virus atau bakteri juga dapat menyebabkan muntah. Selain muntah, bayi dapat mengalami diare, demam, atau tampak lebih rewel dari biasanya.
Sebagian besar gastroenteritis disebabkan oleh virus dan akan membaik secara bertahap. Hal terpenting adalah memastikan kebutuhan cairan Si Kecil tetap terpenuhi agar tidak mengalami dehidrasi.
Artikel lainnya: Penyebab Diare pada Si Kecil dan Cara Tepat Mengatasinya
3. Refluks gastroesofagus
Refluks gastroesofagus merupakan kondisi ketika isi lambung naik kembali ke kerongkongan. Sebagian besar refluks hanya menyebabkan gumoh ringan, tetapi pada beberapa bayi muntah dapat terlihat lebih kuat sehingga menyerupai muntah menyembur.
Dokter akan mengevaluasi apakah refluks yang dialami Si Kecil masih tergolong fisiologis atau sudah memerlukan pemeriksaan maupun penanganan lebih lanjut.
4. Alergi protein susu sapi
Sebagian bayi memiliki sensitivitas terhadap protein susu sapi yang berasal dari susu formula atau protein susu yang masuk melalui ASI. Reaksi alergi dapat berupa muntah, diare, ruam pada kulit, hingga tinja yang bercampur darah.
Apabila dokter mencurigai kondisi alergi susu sapi pada Si Kecil, Mama mungkin akan disarankan melakukan perubahan pola makan atau mengganti jenis susu formula sesuai kebutuhan Si Kecil.
5. Infeksi lain pada bayi
Infeksi tidak selalu terjadi pada saluran pencernaan. Infeksi saluran kemih, infeksi telinga, maupun infeksi serius lainnya juga dapat memicu muntah pada bayi, terutama apabila disertai demam, bayi tampak lemas, atau sulit menyusu.
Pemeriksaan dokter diperlukan untuk menentukan sumber infeksi sekaligus memberikan pengobatan yang sesuai.
6. Sumbatan pada saluran cerna
Beberapa kelainan bawaan atau sumbatan pada usus dapat menyebabkan muntah menyembur. Salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah muntah berwarna hijau karena menunjukkan adanya cairan empedu di dalam muntahan.
Kondisi ini termasuk keadaan darurat medis sehingga Si Kecil perlu segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan.
Catatan: Tidak semua penyebab bayi muntah menyembur bersifat serius. Namun, muntah yang terjadi berulang, terutama disertai penurunan berat badan, dehidrasi, atau muntah berwarna hijau maupun bercampur darah, perlu segera dievaluasi oleh dokter.
Artikel lainnya: Bayi Muntah setelah Makan MPASI, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Apakah Muntah Menyembur Berbahaya?
Pertanyaan “apakah bayi muntah menyembur berbahaya?” sering muncul karena kondisi ini tampak lebih dramatis dibandingkan gumoh biasa.
Jawabannya bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Muntah menyembur yang hanya terjadi satu kali belum tentu menandakan penyakit serius, tetapi muntah yang berulang perlu mendapat perhatian lebih.
Muntah yang terjadi berulang dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit. Bayi juga berisiko mengalami penurunan berat badan apabila sebagian besar ASI atau susu yang diminum tidak dapat dipertahankan di dalam lambung. Kondisi ini lebih mudah terjadi pada bayi baru lahir karena cadangan cairan tubuhnya masih terbatas.
Mama juga perlu memperhatikan tanda-tanda dehidrasi, seperti jumlah popok basah yang berkurang, bibir dan mulut tampak kering, menangis tanpa air mata, mata terlihat cekung, atau Si Kecil tampak mengantuk dan kurang aktif. Apabila gejala tersebut muncul, pemeriksaan oleh dokter sebaiknya tidak ditunda.
Risiko yang lebih serius dapat terjadi apabila muntah menyembur disebabkan oleh stenosis pilorus atau sumbatan saluran cerna. Kedua kondisi tersebut memerlukan penanganan medis agar bayi tidak mengalami komplikasi yang lebih berat.
Artikel lainnya: Kenali Masalah Pencernaan Bayi dan Cara Menanganinya
Bagaimana Cara Mengatasi Bayi Muntah Menyembur di Rumah?
Penanganan di rumah bertujuan membantu menjaga kenyamanan Si Kecil sambil terus memantau perkembangannya. Langkah-langkah berikut dapat dilakukan selama bayi tetap sadar, masih mau menyusu, dan tidak menunjukkan tanda bahaya.
1. Tetap tenang dan amati kondisi Si Kecil
Perhatikan seberapa sering muntah terjadi, berapa banyak cairan yang keluar, serta warna muntahannya. Informasi ini akan membantu dokter apabila Mama perlu membawa Si Kecil untuk diperiksa.
2. Susui dalam porsi lebih sedikit tetapi lebih sering
Lambung bayi masih berukuran kecil sehingga pemberian ASI atau susu dalam jumlah yang lebih sedikit setiap kali menyusu dapat membantu mengurangi tekanan pada lambung. Cara ini juga dapat membantu menjaga kebutuhan cairan tetap terpenuhi.
3. Sendawakan setelah menyusu
Udara yang tertelan saat menyusu dapat meningkatkan tekanan di dalam lambung. Membantu Si Kecil bersendawa setelah selesai menyusu dapat mengurangi udara yang terperangkap sehingga risiko muntah dapat berkurang.
Artikel lainnya: Cara Menyendawakan Bayi yang Benar
4. Pertahankan posisi tegak setelah menyusu
Usahakan menggendong Si Kecil dalam posisi tegak selama sekitar 20–30 menit setelah menyusu. Posisi ini membantu isi lambung tetap berada di bawah sehingga mengurangi kemungkinan naik kembali ke kerongkongan.
5. Pantau tanda dehidrasi
Jumlah popok basah setiap hari dapat menjadi salah satu petunjuk bahwa kebutuhan cairan bayi masih terpenuhi. Mama juga dapat memperhatikan kondisi bibir, mulut, serta tingkat aktivitas Si Kecil.
6. Jangan memberikan obat tanpa anjuran dokter
Obat antimuntah tidak boleh diberikan secara sembarangan kepada bayi. Dokter perlu mengetahui penyebab muntah terlebih dahulu agar pengobatan yang diberikan sesuai dengan kondisi Si Kecil.
Langkah-langkah tersebut merupakan cara mengatasi bayi muntah menyembur sebagai pertolongan awal di rumah. Penanganan medis tetap diperlukan apabila muntah tidak kunjung membaik atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan.
Kapan Harus Membawa Si Kecil ke Dokter?
Sebagian muntah pada bayi dapat membaik dengan sendirinya. Namun, ada beberapa kondisi yang memerlukan pemeriksaan medis sesegera mungkin agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.
Mama sebaiknya segera membawa Si Kecil ke dokter apabila mengalami:
- Muntah menyembur setiap kali atau hampir setiap kali selesai menyusu.
- Muntah berwarna hijau atau bercampur darah.
- Sulit menyusu atau menolak minum.
- Berat badan tidak bertambah atau justru menurun.
- Popok basah jauh lebih sedikit dari biasanya.
- Demam, terutama pada bayi berusia kurang dari tiga bulan.
- Perut tampak membesar atau terasa keras.
- Bayi tampak sangat lemas, mengantuk terus, atau sulit dibangunkan.
Dokter akan melakukan wawancara mengenai riwayat keluhan, memeriksa kondisi fisik Si Kecil, dan bila diperlukan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti USG pada dugaan stenosis pilorus atau pemeriksaan lain sesuai indikasi.
Semakin cepat penyebab muntah diketahui, semakin cepat pula penanganan yang dapat diberikan untuk mencegah dehidrasi maupun komplikasi lainnya.
Bayi muntah menyembur tidak selalu menandakan penyakit serius, tetapi kondisinya berbeda dari gumoh sehingga perlu dikenali dengan baik.
Pengamatan terhadap frekuensi muntah, kondisi umum, dan tanda dehidrasi membantu Mama menentukan kapan Si Kecil dapat dipantau di rumah atau perlu segera diperiksa oleh dokter. Penanganan yang tepat sejak dini berperan penting dalam menjaga kesehatan dan tumbuh kembang Si Kecil.
Yuk, unduh aplikasi Hallobumil dan daftarkan akun Mama untuk mendapatkan informasi tepercaya seputar kesehatan bayi, kehamilan, dan tumbuh kembang Si Kecil yang telah disusun bersama para ahli.
Bergabung juga dengan komunitas Hallobumil agar Mama dapat berbagi pengalaman dengan sesama orang tua serta mengikuti berbagai event edukatif yang bermanfaat.




:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
