:strip_icc():format(webp)/hb-article/X86_XC3RxDnGWQ6dEhbc6/original/i28aun9xkmiw6rs9imk9pvik5ph2vh7l.png)
Mama mungkin merasa sangat khawatir ketika menemukan lepuhan pada kulit Si Kecil, terutama jika usianya masih beberapa hari atau minggu. Salah satu kondisi yang perlu dikenali adalah herpes pada bayi newborn, atau herpes neonatal.
Kondisi ini disebabkan oleh herpes simplex virus (HSV), terutama HSV-1 dan HSV-2. Pada newborn, infeksi HSV perlu mendapat perhatian khusus karena sistem kekebalan tubuh Si Kecil masih berkembang sehingga infeksi dapat menyebar dengan cepat.
Artikel lainnya: Cacar Ular: Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasinya
Apa Itu Herpes Neonatal pada Si Kecil Baru Lahir?
Herpes neonatal adalah infeksi yang terjadi ketika bayi baru lahir terinfeksi herpes simplex virus. Infeksi ini termasuk kondisi yang jarang, tetapi dapat menjadi serius.
HSV dapat menyebabkan penyakit yang hanya mengenai kulit, mata, dan mulut, tetapi pada kondisi tertentu virus dapat menyerang sistem saraf pusat atau menyebar ke berbagai organ tubuh.
Apa penyebab herpes pada bayi? Penyebabnya adalah infeksi HSV-1 atau HSV-2. HSV-1 lebih sering menyebabkan herpes di sekitar mulut, sedangkan HSV-2 lebih sering berkaitan dengan herpes genital. Namun, kedua tipe virus tersebut sama-sama dapat menyebabkan herpes neonatal.
Pada newborn, herpes tidak selalu langsung terlihat seperti luka lepuh. Beberapa bayi dapat mengalami gejala yang tidak khas, seperti sulit menyusu, demam, rewel, lemas, atau tampak tidak seperti biasanya. Bahkan, sebagian bayi dengan infeksi HSV yang serius tidak memiliki ruam atau lepuhan yang jelas.
Artikel lainnya: Awas Infeksi TORCH pada Ibu Hamil, Kenali Gejala dan Pencegahannya
Bagaimana Herpes Dapat Menular ke Newborn?
Penularan herpes pada newborn paling sering terjadi ketika bayi terpapar virus selama proses persalinan.
Risiko terutama menjadi perhatian ketika Mama mengalami herpes genital yang baru didapatkan mendekati waktu persalinan karena jumlah virus yang dapat ditularkan lebih tinggi dan antibodi pelindung dari Mama belum terbentuk secara optimal.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan risiko penularan kepada bayi dapat mencapai sekitar 30–50% ketika Mama mendapatkan infeksi herpes genital mendekati waktu persalinan.
Sebaliknya, pada Mama dengan riwayat herpes genital berulang atau yang mengalami infeksi pada paruh pertama kehamilan, risikonya jauh lebih rendah. Angka ini merupakan perkiraan populasi dan bukan berarti setiap bayi pasti tertular atau pasti tidak tertular.
Setelah lahir, HSV juga dapat menular melalui kontak langsung dengan luka atau lepuhan herpes. Misalnya, seseorang dengan cold sore aktif mencium newborn atau menyentuh luka herpes kemudian menyentuh bayi tanpa mencuci tangan.
Untuk itu, orang yang sedang mengalami luka herpes perlu berhati-hati ketika berada di sekitar Si Kecil. Jadi, herpes pada bayi apakah menular? Virus herpes memang dapat menular melalui kontak dengan area yang terinfeksi.
Mama dengan herpes tetap dapat menyusui apabila tidak terdapat luka herpes pada payudara dan lesi di bagian tubuh lain tertutup dengan baik.
Namun, jika terdapat luka pada puting atau payudara, bayi tidak boleh menyusu langsung dari sisi tersebut sampai luka sembuh dan Mama perlu berkonsultasi dengan dokter, ya.
Artikel lainnya: Penyebab Cacar Air pada Anak, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Gejala yang Perlu Segera Dikenali
Gejala herpes neonatal dapat muncul dalam beberapa hari hingga minggu pertama kehidupan. Mengingat tandanya terkadang menyerupai penyakit newborn lainnya, Mama perlu memperhatikan perubahan kecil pada kondisi Si Kecil.
Demam, bayi tidak mau menyusu, sangat rewel, lemas, muncul lepuhan, atau perubahan kesadaran merupakan beberapa tanda yang perlu segera dinilai oleh tenaga kesehatan.
Kelainan kulit, mata, dan mulut
Salah satu bentuk herpes neonatal dapat terbatas pada kulit, mata, dan mulut. Gejalanya dapat berupa lepuhan kecil berisi cairan yang muncul di kulit, sekitar mulut, atau area mata.
Mata dapat tampak merah atau mengalami pembengkakan, sedangkan pada mulut dapat ditemukan luka yang membuat bayi tidak nyaman saat menyusu.
Namun, Mama perlu ingat bahwa tidak adanya lepuhan bukan berarti bayi pasti tidak mengalami herpes. Pada sebagian bayi, penyakit dapat berkembang tanpa gejala kulit yang khas.
Untuk itu, bila newborn tampak sakit atau memiliki faktor risiko paparan HSV, pemeriksaan dokter tetap diperlukan meskipun kulitnya terlihat normal.
Artikel lainnya: Bintik Merah pada Si Kecil: Jenis, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Tanda gangguan sistem saraf
HSV juga dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan ensefalitis atau peradangan pada otak.
Tanda yang perlu diwaspadai antara lain bayi sangat lemas, sulit dibangunkan, tidak merespons seperti biasanya, sulit menyusu, mengalami perubahan perilaku, atau kejang.
Kejang pada newborn tentu tidak selalu disebabkan oleh herpes. Namun, karena herpes neonatal dapat mengenai otak dan berkembang cepat, bayi yang mengalami kejang atau perubahan kesadaran perlu mendapatkan pemeriksaan segera. Mama sebaiknya tidak menunggu sampai muncul lepuhan di kulit sebelum mencari pertolongan.
Tanda infeksi menyeluruh
Pada bentuk yang lebih berat, HSV dapat menyebar melalui tubuh dan mengenai organ seperti hati, paru-paru, serta sistem saraf pusat.
Kondisi ini disebut disseminated neonatal herpes. Bayi dapat tampak sangat sakit, sulit bernapas, sulit menyusu, sangat lemas, mengalami gangguan suhu tubuh, atau menunjukkan tanda gangguan pada beberapa organ.
Karena gejalanya dapat berkembang cepat dan tidak selalu disertai lepuhan, perubahan kondisi umum pada newborn perlu diperhatikan dengan serius.
Semakin cepat bayi diperiksa dan mendapatkan terapi yang sesuai ketika memang dicurigai herpes, semakin baik kesempatan untuk mencegah komplikasi yang berat.
Bagaimana Dokter Memastikan Diagnosis?
Dokter akan menilai kondisi bayi secara menyeluruh, termasuk gejala yang muncul, usia bayi, kemungkinan paparan HSV, serta riwayat herpes pada Mama.
Jika dicurigai herpes neonatal, dokter dapat mengambil sampel dari lepuhan atau bagian tubuh tertentu untuk pemeriksaan HSV menggunakan metode seperti PCR.
Bila terdapat kecurigaan bahwa infeksi telah mengenai sistem saraf pusat, dokter dapat melakukan pemeriksaan cairan serebrospinal melalui pungsi lumbal dan pemeriksaan PCR HSV.
Pemeriksaan darah dan evaluasi fungsi organ juga dapat dilakukan untuk mengetahui apakah virus telah menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Pada kondisi tertentu, dokter dapat memulai pengobatan antivirus berdasarkan kecurigaan klinis tanpa menunggu seluruh hasil pemeriksaan keluar. Hal ini dilakukan karena keterlambatan terapi pada herpes neonatal dapat meningkatkan risiko komplikasi.
Mengapa Penanganan Harus Cepat?
Mama mungkin bertanya, apakah herpes pada bayi bisa sembuh sendiri? Jangan menunggu gejala menghilang dengan sendirinya jika herpes neonatal dicurigai.
Herpes pada bayi baru lahir membutuhkan evaluasi medis dan dapat memerlukan obat antivirus melalui pembuluh darah. Untuk penyakit yang terbatas pada kulit, mata, dan mulut, sebagian besar bayi dapat pulih dengan terapi yang tepat.
Sebaliknya, herpes yang sudah mengenai sistem saraf pusat atau menyebar ke berbagai organ merupakan kondisi yang jauh lebih serius.
Untuk itu, jawaban atas pertanyaan “herpes pada bayi apakah berbahaya?” adalah ya, herpes neonatal dapat berbahaya, terutama jika tidak segera dikenali dan ditangani.
Pengobatan biasanya menggunakan antivirus acyclovir yang diberikan melalui pembuluh darah. Lama terapi disesuaikan dengan jenis dan lokasi infeksi.
CDC merekomendasikan terapi sistemik dengan acyclovir untuk bayi dengan herpes neonatal yang diketahui atau dicurigai, dengan durasi yang berbeda sesuai bentuk penyakitnya.
Artikel lainnya: Cara Merawat Kulit Bayi Agar Selalu Halus dan Sehat
Kapan Mama Perlu Segera Membawa Si Kecil ke Fasilitas Kesehatan?
Mama sebaiknya segera membawa newborn ke fasilitas kesehatan jika terdapat lepuhan atau luka pada kulit, mata, maupun bagian dalam mulut, terlebih jika Mama atau orang yang sering berkontak dengan bayi memiliki riwayat herpes.
Bayi yang mengalami demam, tidak mau menyusu, terus-menerus rewel, atau tampak lebih lemas dari biasanya juga perlu segera diperiksa.
Segera cari pertolongan darurat jika Si Kecil sulit dibangunkan, tubuh tampak lunglai, tidak merespons seperti biasanya, mengalami kejang, bernapas cepat atau sulit bernapas, atau kulit dan bibir tampak kebiruan.
Mama juga tidak perlu menunggu sampai muncul ruam karena herpes neonatal dapat terjadi tanpa tanda kulit yang khas.
Jika Mama memiliki riwayat herpes genital atau mengalami luka, lepuhan, rasa terbakar, atau nyeri yang mencurigakan selama kehamilan, beri tahu dokter yang menangani kehamilan.
Informasi tersebut penting untuk membantu dokter menentukan langkah pencegahan penularan HSV kepada bayi selama persalinan. Mama tidak perlu menyalahkan diri sendiri ketika Si Kecil mengalami kondisi yang tidak diharapkan.
Yang terpenting adalah mengenali tanda bahaya, memberi tahu dokter mengenai riwayat herpes, dan segera mencari pertolongan ketika newborn menunjukkan perubahan kondisi. Penanganan yang cepat merupakan bagian penting untuk membantu melindungi Si Kecil dari komplikasi.
Kalau Mama ingin lebih mudah memantau perjalanan kehamilan sampai persiapan menyambut Si Kecil, download aplikasi Hallobumil dan registrasi di aplikasi kehamilan ini untuk menemukan berbagai informasi seputar kehamilan, kesehatan, hingga perkembangan Si Kecil.
Punya kekhawatiran yang rasanya ingin diceritakan kepada Mama lainnya? Yuk,gabung ke komunitas WhatsApp Hallobumil. Dan kalau Mama ingin belajar bukan hanya lewat artikel, ikuti event kesehatan.
Berbagai topik seputar kehamilan, persalinan, newborn, dan parenting bisa menjadi kesempatan bagi Mama untuk mendapatkan insight langsung dari para ahli sekaligus bertemu dengan Mama lainnya.




:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
