:strip_icc():format(webp)/hb-article/KBAEgppw_sRfHtsztt3l2/original/0sc95h6u56j4fd36v8rcc4jn9818khhf.png)
Melihat anak demam naik turun selama beberapa hari tentu bisa membuat Mama khawatir. Kondisi ini bisa terjadi karena berbagai penyebab, mulai dari infeksi virus yang umum dialami anak hingga infeksi tertentu yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Lalu, kapan demam naik turun masih bisa dipantau di rumah dan kapan Mama perlu waspada? Yuk, simak penyebab, cara menangani, dan tanda bahaya yang perlu Mama perhatikan di bawah ini.
Apa Penyebab Anak Demam Naik Turun?
Demam merupakan salah satu respons alami tubuh saat melawan infeksi. Pada anak, penyebab yang paling sering adalah infeksi virus, tetapi demam juga bisa terjadi karena infeksi bakteri atau kondisi lainnya.
Karena itu, anak demam naik turun belum tentu menandakan penyakit tertentu. Mama perlu melihat kondisi Si Kecil secara keseluruhan, termasuk apakah ia masih mau minum, tetap aktif setelah demam turun, serta apakah ada gejala lain yang menyertai.
Beberapa penyebab yang mungkin antara lain:
- Infeksi virus, seperti batuk pilek, flu, atau infeksi virus lainnya.
- Infeksi bakteri, misalnya infeksi saluran kemih atau radang tenggorokan akibat bakteri.
- Demam berdarah dengue (DBD), terutama jika demam tinggi disertai nyeri kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, atau ruam.
- Tifoid, yang dapat menyebabkan demam selama lebih dari beberapa hari dan disertai lemas, sakit perut, sakit kepala, penurunan nafsu makan, sembelit, atau diare.
- Campak, yang biasanya diawali demam tinggi bersama batuk, pilek, dan mata merah, kemudian diikuti munculnya ruam.
Jadi, pola demam naik turun pada anak saja belum cukup untuk menentukan penyebabnya. Pemeriksaan dokter mungkin diperlukan jika demam menetap, berulang, atau disertai gejala yang mengkhawatirkan.
Artikel lainnya: Tipes pada Anak: Gejala, Obat, dan Pencegahan
Bagaimana Membedakan Pola Demam Tifoid, DBD, dan Campak?
Beberapa penyakit dapat sama-sama menyebabkan demam, sehingga Mama mungkin kesulitan membedakannya hanya dari suhu tubuh.
Perhatikan gejala penyerta berikut, tetapi perlu diingat bahwa diagnosis tetap membutuhkan pemeriksaan dokter dan, bila diperlukan, pemeriksaan penunjang.
Demam pada tifoid
Tifoid biasanya menyebabkan demam yang berlangsung lebih dari 3 hari dan dapat disertai lemas, sakit perut, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, sembelit, atau diare. Sebagian orang juga dapat mengalami batuk atau ruam berupa bintik merah muda.
Demam pada DBD
DBD umumnya menyebabkan demam tinggi yang berlangsung sekitar 2–7 hari, disertai gejala seperti sakit kepala, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, atau ruam.
Hal penting yang perlu Mama ketahui, fase kritis DBD justru dapat terjadi saat demam mulai turun. Fase ini umumnya berlangsung pada hari ke-3 hingga ke-7 sejak awal sakit dan dapat berlangsung selama 24–48 jam, sehingga Mama tetap perlu memantau kondisi Si Kecil meski demamnya sudah mereda.
Jadi, jangan langsung menganggap anak panas naik turun yang mulai membaik berarti sudah pasti pulih. Jika setelah demam turun Si Kecil justru tampak sangat lemas, muntah terus, mengalami nyeri perut hebat, sulit bernapas, atau mengalami perdarahan, segera cari pertolongan medis.
Artikel lainnya: Ciri DBD pada Anak yang Harus Mama Kenali
Demam pada campak
Campak pada anak biasanya dimulai dengan demam tinggi yang disertai batuk, pilek, dan mata merah. Beberapa hari kemudian, dapat muncul bintik putih kecil di dalam mulut dan ruam merah yang biasanya mulai dari wajah atau garis rambut lalu menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Jika Si Kecil memiliki gejala yang mengarah ke campak, terutama setelah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi, sebaiknya segera hubungi dokter. Campak sangat menular dan dapat menyebabkan komplikasi, terutama pada anak kecil.
Artikel lainnya: Ciri-Ciri Demam karena Kecapekan pada Anak, Berbahayakah?
Berapa Lama Demam Naik Turun pada Anak Dianggap Wajar?
Sebagian besar demam akibat infeksi virus ringan berlangsung sekitar 2–3 hari dan kemudian membaik. Jika demam sempat turun tetapi kembali muncul, Mama tetap perlu memperhatikan kondisi anak dan gejala lain yang menyertainya.
Lalu bagaimana jika demam anak naik turun selama 3 hari? Pada anak yang berusia 2 tahun atau lebih, demam yang berlangsung lebih dari 3 hari sebaiknya diperiksakan ke dokter, terutama jika tidak menunjukkan perbaikan. Untuk anak yang lebih kecil, batas waktunya bisa lebih singkat sehingga sebaiknya konsultasikan lebih awal.
Sementara itu, demam anak naik turun selama 5 hari sudah tidak sebaiknya hanya dipantau di rumah. Demam yang menetap atau berulang selama beberapa hari perlu dicari penyebabnya, terutama jika Si Kecil terlihat semakin lemas atau muncul gejala baru.
Jadi, bukan hanya lama demam yang penting, Ma. Kondisi Si Kecil saat demam turun juga perlu diperhatikan. Anak yang kembali aktif, mau minum, dan tampak membaik umumnya lebih meyakinkan dibandingkan anak yang tetap lemas atau kondisinya semakin memburuk meski suhu tubuh sudah turun.
Artikel lainnya: Penyebab Kejang Demam pada Anak dan Penanganannya
Bagaimana Cara Mengatasi Demam Naik Turun di Rumah?
Jika kondisi Si Kecil masih baik dan tidak menunjukkan tanda bahaya, Mama dapat membantu membuatnya lebih nyaman selama masa pemulihan. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:
Pastikan anak cukup minum
Berikan cairan lebih sering untuk membantu mencegah dehidrasi, terutama jika Si Kecil juga berkeringat, muntah, atau mengalami diare. Untuk bayi, tetap berikan ASI atau susu sesuai kebutuhannya.
Biarkan anak beristirahat
Pastikan Si Kecil mendapatkan waktu istirahat yang cukup dan tidak perlu dipaksa melakukan aktivitas seperti biasanya. Mama juga bisa mengenakan pakaian yang nyaman dan tidak terlalu tebal agar anak tidak kepanasan.
Artikel lainnya: Cara Mengompres Anak Demam yang Benar
Ukur suhu tubuh secara berkala
Jangan hanya mengandalkan sentuhan tangan untuk mengetahui apakah anak demam. Gunakan termometer dan catat perubahan suhunya agar Mama dapat melihat pola demam dengan lebih jelas.
Berikan obat penurun demam jika diperlukan
Obat penurun demam dapat digunakan untuk membantu membuat Si Kecil lebih nyaman, tetapi jenis dan dosisnya perlu disesuaikan dengan usia serta berat badan anak. Sebaiknya Mama mengikuti petunjuk dokter atau aturan penggunaan obat dan tidak memberikan aspirin kepada anak.
Khusus jika Mama mencurigai DBD, hindari memberikan ibuprofen atau aspirin tanpa arahan dokter karena obat tersebut dapat meningkatkan risiko perdarahan. Parasetamol umumnya digunakan untuk membantu meredakan demam dan nyeri pada dengue.
Artikel lainnya: 12 Obat Demam Anak yang Ampuh di Apotek
Kapan Anak Demam Naik Turun Harus Segera ke Dokter?
Tidak semua demam anak naik turun membutuhkan penanganan darurat. Namun, Mama perlu segera membawa Si Kecil ke dokter jika demam berlangsung lebih dari 3 hari, kembali muncul setelah sempat hilang, atau anak terlihat semakin sakit.
Segera cari pertolongan medis jika demam disertai:
- Sulit bernapas atau napas sangat cepat.
- Anak sangat lemas, mengantuk berlebihan, atau sulit dibangunkan.
- Kejang.
- Leher kaku atau sakit kepala hebat.
- Tidak mau minum atau menunjukkan tanda dehidrasi, seperti mulut sangat kering dan jarang buang air kecil.
- Muntah terus-menerus atau diare berulang.
- Muncul ruam yang tidak biasa, terutama ruam keunguan atau seperti memar.
- Perdarahan dari hidung atau gusi, muntah darah, atau BAB berwarna hitam.
- Nyeri perut hebat, terutama ketika demam mulai turun.
Untuk bayi berusia di bawah 3 bulan, demam dengan suhu 38°C atau lebih perlu segera diperiksakan karena bayi pada usia ini berisiko mengalami infeksi serius.
Jadi, jika demam naik turun pada anak berlangsung beberapa hari, jangan hanya berpatokan pada angka suhu. Perhatikan juga perilaku, kemampuan minum, buang air kecil, dan gejala lain yang muncul.
Jika Mama merasa kondisi Si Kecil memburuk atau tidak seperti biasanya, lebih baik segera konsultasikan dengan dokter.
Masih punya pertanyaan seputar kesehatan anak? Yuk, cari lebih banyak tips dan informasi terpercaya dengan gabung Komunitas Hallobumil supaya Mama bisa berdiskusi langsung dengan para ahli atau Mama lainnya.
Jangan lupa juga download aplikasi Hallobumil dan daftarkan akun untuk mendapatkan informasi parenting lengkap dan terbaru. Mama juga bisa bertukar cerita, dapat berbagai tips bermanfaat, hingga ikut event Hallobumil yang seru bersama ribuan Mama lainnya!




:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
