:strip_icc():format(webp)/hb-article/djVQ-t-f3j-LqqVD6c61y/original/4eyh8ox3srt9abz3xlqfa52f2yfbe6rr.png)
Cacar ular sering kali membuat Mama merasa khawatir karena muncul ruam berisi cairan yang terasa nyeri dan hanya terdapat di salah satu sisi tubuh.
Banyak orang mengira penyakit ini sama dengan cacar air, padahal keduanya memiliki perbedaan yang cukup jelas meski disebabkan oleh virus yang sama.
Memahami cacar ular sejak dini dapat membantu Mama mendapatkan pengobatan lebih cepat dan mengurangi risiko komplikasi.
Penyakit cacar ular terjadi ketika virus penyebab cacar air kembali aktif setelah bertahun-tahun "tertidur" di dalam tubuh.
Kondisi ini lebih sering dialami oleh orang dewasa dan lansia, tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak maupun ibu hamil dalam kondisi tertentu. Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala cacar ular, penyebab, hingga cara penanganannya dengan benar.
Artikel lainnya: Penyebab Cacar Air pada Anak, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Apa Itu Cacar Ular dan Kaitannya dengan Cacar Air
Cacar ular adalah penyakit yang dikenal dalam dunia medis sebagai herpes zoster atau shingles. Penyakit ini disebabkan oleh virus Varicella-zoster, yaitu virus yang juga menyebabkan cacar air (varisela).
Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus tidak benar-benar hilang, melainkan menetap dalam sel saraf dalam keadaan tidak aktif selama bertahun-tahun.
Pada kondisi tertentu, seperti ketika daya tahan tubuh menurun, virus tersebut dapat aktif kembali dan menyebabkan cacar ular.
Mengingat penyakit ini berasal dari virus yang sama, seseorang yang belum pernah terkena cacar air atau belum mendapatkan vaksin varisela dapat tertular virus dari penderita cacar ular dan mengalami cacar air, bukan langsung terkena cacar ular.
Meskipun memiliki hubungan erat, cacar ular berbeda dengan cacar air. Cacar ular biasanya hanya muncul pada satu sisi tubuh mengikuti jalur saraf tertentu dan disertai rasa nyeri yang cukup hebat.
Penyebab dan Faktor Risiko
Penyebab cacar ular adalah aktifnya kembali virus Varicella-zoster yang sebelumnya menetap di jaringan saraf setelah seseorang pernah mengalami cacar air.
Sampai saat ini belum diketahui secara pasti mengapa virus dapat kembali aktif, tetapi kondisi yang menurunkan sistem kekebalan tubuh menjadi faktor utama.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko terkena cacar ular meliputi:
- Berusia di atas 50 tahun.
- Pernah mengalami cacar air sebelumnya.
- Sedang hamil, karena kehamilan menyebabkan penurunan imunitas fisiologis secara alami.
- Memiliki daya tahan tubuh yang lemah, misalnya akibat HIV/AIDS, kanker, atau sedang menjalani kemoterapi.
- Mengonsumsi obat penekan sistem imun, seperti kortikosteroid dosis tinggi atau obat setelah transplantasi organ.
- Mengalami stres berat dalam waktu lama.
- Menderita penyakit kronis tertentu, seperti diabetes.
Meski lebih sering menyerang orang dewasa, cacar ular pada anak tetap dapat terjadi, terutama jika anak pernah terkena cacar air saat masih sangat kecil atau memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh.
Artikel lainnya: Bahaya Cacar Air Saat Program Hamil & Solusi Terbaiknya
Gejala Khas Cacar Ular
Gejala cacar ular biasanya berkembang secara bertahap. Sebelum ruam muncul, penderita sering merasakan fase prodromal (gejala awal) berupa nyeri, sensasi terbakar, kesemutan, atau gatal pada salah satu sisi tubuh.
Fase prodromal ini dapat berlangsung selama 1–5 hari. Sangat penting bagi Mama untuk segera menemui dokter jika merasakan gejala nyeri di satu sisi ini, karena obat antivirus hanya paling efektif bekerja bila diberikan dalam 72 jam pertama (3 hari).
Beberapa hari kemudian, akan muncul ruam kemerahan yang berubah menjadi lepuhan berisi cairan. Lepuhan tersebut kemudian mengering dan membentuk keropeng dalam waktu sekitar 7–10 hari.
Gejala lain yang sering muncul antara lain:
- Nyeri hebat pada area ruam.
- Kulit terasa amat sensitif saat disentuh.
- Gatal atau rasa terbakar.
- Demam ringan.
- Tubuh terasa lemas.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
Ruam paling sering muncul di dada, punggung, pinggang, atau wajah, namun dapat terjadi di bagian tubuh lain.
Jika menyerang area mata (zoster oftalmikus), cacar ular perlu segera mendapatkan penanganan gawat darurat karena berisiko menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan.
Artikel ainnya: Manfaat Vaksin Varicella Sebelum Hamil dan Kapan Waktu Tepat
Beda Cacar Ular vs Cacar Air
Walaupun disebabkan oleh virus yang sama, terdapat beberapa perbedaan penting antara cacar air dan cacar ular.
|
Aspek |
CacarUlar |
CacarAir |
|
Penyebab |
Aktivasi kembali virus Varicella-zoster |
Infeksi pertama virus Varicella-zoster |
|
Usia yang sering terkena |
Dewasa dan lansia |
Anak-anak |
|
Letak ruam |
Satu sisi tubuh mengikuti jalur saraf |
Menyebar ke seluruh tubuh |
|
Nyeri |
Sangat nyeri |
Biasanya lebih gatal daripada nyeri |
|
Kekambuhan |
Bisa kambuh |
Umumnya hanya sekali |
|
Penularan |
Menularkan cacar air pada orang yang belum imun |
Menularkan cacar air |
Memahami beda cacar air dan cacar ular penting agar penderita tidak salah mengenali penyakit dan mendapatkan penanganan yang sesuai dengan cepat.
Artikel lainnya: Manfaat dan Jadwal Vaksin Cacar Air pada Anak
Apakah Cacar Ular Menular? Cara Penularannya
Banyak orang bertanya, apakah cacar ular menular? Pada dasarnya, cacar ular bisa menular, namun penularannya tidak semudah penyebaran flu di udara.
Virus dapat menyebar melalui kontak fisik secara langsung dengan cairan dari lepuhan cacar ular penderita yang belum mengering atau aktif.
Risiko penularan akan berkurang setelah seluruh lepuhan mengering dan membentuk keropeng. Selama masa tersebut, penderita dianjurkan untuk:
- Menutup ruam dengan perban atau pakaian longgar agar tidak bergesekan dan pecah.
- Sama sekali tidak menggaruk atau memencet lepuhan.
- Rajin mencuci tangan menggunakan sabun.
- Menghindari kontak fisik dengan ibu hamil yang belum kebal terhadap cacar air, bayi baru lahir/prematur, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.
Catatan penting: Apabila Mama kebetulan sedang hamil, belum kebal atau belum pernah sakit cacar air, dan secara tidak sengaja terlanjur terpapar kontak langsung dengan penderita cacar ular, segeralah hubungi dokter kandungan. Dokter perlu mempertimbangkan langkah perlindungan darurat guna mencegah bahaya penularan
Cacar Ular pada Anak
Cacar ular pada anak sebenarnya tergolong jarang terjadi. Namun, kondisi ini tetap mungkin muncul terutama pada anak yang pernah mengalami cacar air saat usianya masih sangat kecil, terinfeksi ketika masih di dalam kandungan, atau memiliki gangguan imunitas tubuh.
Gejala pada anak umumnya lebih ringan dibandingkan orang dewasa. Anak dapat mengalami ruam yang terbatas pada satu sisi tubuh, rasa tidak nyaman, atau demam ringan.
Meski demikian, Mama tetap perlu membawa anak ke dokter agar diagnosis dapat dipastikan dan pengobatan antivirus diberikan bila memang diperlukan untuk mencegah gejala memburuk.
Pemberian vaksin cacar air merupakan salah satu langkah efektif untuk mengurangi risiko infeksi Varicella-zoster dan komplikasinya di kemudian hari.
Artikel lainnya: Ini Cara Merawat Anak Saat Sakit, Agar Si Kecil Cepat Sembuh
Cacar Ular pada Ibu Hamil: Seberapa Bahaya?
Cacar ular pada ibu hamil relatif jarang terjadi. Berbeda dengan infeksi cacar air primer saat hamil yang dapat meningkatkan risiko komplikasi pada Mama maupun janin, herpes zoster umumnya tidak menyebabkan cacat bawaan karena virus berasal dari reaktivasi virus yang sudah ada dalam tubuh.
Meski demikian, ibu hamil tetap sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter apabila mengalami ruam yang disertai nyeri khas cacar ular.
Dokter akan menentukan apakah diperlukan obat antivirus, yang akan dipertimbangkan berdasarkan usia kehamilan, tingkat keparahan gejala, serta manfaat dan risikonya.
Jika ruam muncul di sekitar mata atau disertai nyeri hebat, penanganan medis tidak boleh ditunda karena komplikasi dapat terjadi bila infeksi mengenai saraf tertentu.
Artikel ainnya: Bahaya Infeksi TORCH pada Ibu Hamil & Pencegahannya
Risiko Komplikasi Cacar Ular
Salah satu alasan terkuat mengapa penyakit ini harus diobati secepatnya adalah demi menghindari komplikasinya. Komplikasi cacar ular yang paling sering terjadi dan sangat ditakuti oleh penderitanya adalah neuralgia pascaherpetik.
Neuralgia pascaherpetik adalah kondisi di mana penderita tetap merasakan nyeri, perih, dan rasa seperti terbakar pada saraf di area kulit yang terdampak, bahkan dalam jangka waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah ruam dan lepuhan cular ularnya sudah sembuh total.
Selain itu, jika cacar ular menyerang bagian saraf di area wajah, dapat memicu komplikasi penglihatan, peradangan otak (ensefalitis), atau masalah pendengaran.
Pengobatan & Perawatan di Rumah
Hingga saat ini belum ada obat cacar ular yang dapat sepenuhnya membunuh virus Varicella-zoster dari dalam saraf tubuh.
Namun, tujuan utama pengobatan medis adalah mempercepat penyembuhan kulit, mengurangi tingkat keparahan nyeri, dan sangat penting untuk mencegah komplikasi neuralgia pascaherpetik di masa depan.
Dokter biasanya meresepkan obat antivirus seperti asiklovir (acyclovir), valasiklovir, atau famsiklovir. Sekali lagi, pengobatan antivirus ini akan memberikan hasil maksimal jika segera dimulai dalam batas waktu 72 jam sejak ruam pertama muncul.
Selain obat dari dokter, beberapa perawatan di rumah dapat membantu mempercepat pemulihan, antara lain:
- Menjaga area ruam tetap bersih dan kering guna mencegah infeksi bakteri sekunder.
- Menggunakan kompres basah dan dingin untuk mengurangi keparahan nyeri pada kulit.
- Mengenakan pakaian longgar, lembut, dan berbahan katun agar kulit tidak bergesekan.
- Jangan pernah memecahkan lepuhan cairan.
- Beristirahat yang cukup.
- Mengonsumsi makanan bergizi dan minum air putih yang cukup.
- Menggunakan obat pereda nyeri sesuai anjuran dokter bila diperlukan. (Khusus bagi ibu hamil, jenis obat pereda nyeri apapun mutlak harus mendapatkan persetujuan dokter, jangan membelinya sembarangan di apotek).
Segera periksa ke fasilitas kesehatan apabila ruam muncul di sekitar mata, nyeri sangat hebat, ruam menyebar luas, atau gejala tidak membaik setelah beberapa hari.
Pencegahan Cacar Ular: Vaksin Herpes Zoster
Mengingat betapa menyakitkannya penyakit ini, langkah pencegahan mutlak diperlukan. Langkah pencegahan yang paling utama dan terbukti paling efektif melawan penyakit cacar ular adalah vaksinasi.
Bagi orang dewasa (terutama berusia 50 tahun ke atas, di mana sistem imun mulai melemah), pemberian vaksin herpes zoster sangat direkomendasikan secara medis, bahkan jika orang tersebut sudah pernah sakit cacar ular sebelumnya.
Vaksinasi ini terbukti efektif menurunkan angka kejadian cacar ular secara drastis, serta meminimalisasi risiko terkena komplikasi nyeri neuralgia pascaherpetik yang menahun.
Sementara itu, untuk usia anak-anak hingga dewasa muda, menerima imunisasi vaksin varicella untuk mencegah terkena cacar air sejak awal adalah bentuk pencegahan cacar ular jangka panjang yang terbaik.
Sedang mempersiapkan kehamilan, hamil, atau ingin mendapatkan informasi kesehatan keluarga yang tepercaya? Yuk, download aplikasi Hallobumil dan daftarkan diri Mama di aplikasi kehamilan ini untuk membaca berbagai artikel kesehatan, mendapatkan panduan sesuai usia kehamilan, serta menikmati beragam fitur yang membantu Mama menjalani kehamilan dengan lebih nyaman.
Jangan lupa untuk bergabungke komunitas WhatsApp Hallobumil dan berdiskusi bersama sesama orang tua serta mendapatkan informasi kesehatan dari sumber yang tepercaya. Manfaatkan juga Health Tools Hitung HPL (Hari Perkiraan Lahir) untuk membantu memantau perjalanan kehamilan dan mempersiapkan berbagai kebutuhan menjelang persalinan.
Jangan lewatkan berbagai event dan webinar kesehatan bersama para ahli. Melalui sesi edukatif ini, Mama bisa memperoleh informasi kesehatan yang akurat sekaligus bertanya langsung kepada dokter dan narasumber berpengalaman.






:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
