:strip_icc():format(webp)/hb-article/zbKiWe6cYlQ53Ohi6BQmx/original/5txjv3nq8m5q4ubr6cwacdhrc9olpkav.png)
Anak mencret tapi tetap aktif tentu bisa membuat Mama bertanya-tanya. Apalagi jika Si Kecil masih mau bermain, makan, dan minum seperti biasa. Apakah kondisi tersebut aman atau justru perlu dikhawatirkan?
Diare atau mencret pada anak cukup umum terjadi dan sering kali disebabkan oleh infeksi saluran pencernaan. Jika Si Kecil masih aktif dan tidak menunjukkan tanda dehidrasi, kondisi tersebut belum tentu menandakan penyakit yang serius.
Namun, Mama tetap perlu memantau kondisinya karena diare dapat membuat tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit.
Lalu, apa penyebab anak mencret tapi tetap aktif? Berapa lama mencret biasanya berlangsung? Dan kapan kondisi Si Kecil perlu diperiksakan ke dokter? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini.
Artikel lainnya: Cara Mengatasi Diare pada Anak dengan Tepat dan Aman
Kenapa Anak Bisa Mencret tapi Tetap Aktif dan Ceria?
Diare pada anak ditandai dengan BAB yang lebih cair atau lebih sering dari biasanya. Anak bisa mencret tapi tetap aktif dan ceria? Penyebabnya cukup beragam, tetapi infeksi virus pada saluran pencernaan merupakan salah satu penyebab tersering diare akut.
Selain itu, diare juga dapat disebabkan oleh makanan atau minuman yang terkontaminasi, bakteri, parasit, efek obat, alergi makanan, maupun intoleransi terhadap makanan tertentu.
Pada kondisi yang ringan, Si Kecil mungkin masih terlihat aktif dan ceria meskipun BAB-nya lebih encer. Karena itu, Mama sebaiknya tidak hanya melihat seberapa sering Si Kecil BAB, tetapi juga memperhatikan kondisi tubuhnya secara keseluruhan.
Beberapa hal yang bisa Mama perhatikan, yaitu:
- Apakah Si Kecil masih mau minum?
- Apakah Si Kecil masih mau makan?
- Apakah Si Kecil masih aktif seperti biasanya?
- Apakah Si Kecil masih buang air kecil?
- Apakah ada demam atau muntah?
- Apakah terdapat darah pada tinja?
- Apakah Si Kecil menunjukkan tanda-tanda dehidrasi?
Jika Si Kecil masih aktif, mau minum, dan tidak menunjukkan tanda dehidrasi, Mama biasanya masih bisa memantau kondisinya di rumah sambil memastikan kebutuhan cairannya terpenuhi.
Artikel lainnya: Makanan Sumber Prebiotik Alami untuk Dukung Pencernaan Si Kecil
Apa Penyebab Anak Mencret tapi Tidak Terlihat Sakit?
Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan Si Kecil mengalami diare meskipun tetap terlihat aktif dan sehat. Berikut beberapa penyebab anak mencret tapi tidak terlihat sakit yang perlu Mama ketahui.
1. Infeksi virus
Infeksi virus merupakan salah satu penyebab paling umum diare akut pada anak. Virus seperti norovirus, rotavirus, adenovirus, dan astrovirus dapat menyebabkan diare, terkadang disertai muntah, demam, atau sakit perut.
Tidak semua anak mengalami gejala yang berat. Jadi, Si Kecil masih mungkin bermain dan beraktivitas meskipun mengalami diare ringan.
2. Intoleransi laktosa
Intoleransi laktosa terjadi ketika tubuh kesulitan mencerna laktosa, yaitu gula yang terdapat secara alami dalam susu dan produk olahannya.
Kondisi ini dapat menyebabkan diare, kembung, banyak gas, mual, atau sakit perut setelah mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung laktosa. Pada beberapa anak, gangguan mencerna laktosa juga dapat muncul sementara setelah mengalami infeksi saluran pencernaan.
3. Alergi ringan
Makanan tertentu juga dapat menyebabkan diare pada anak. Misalnya, alergi makanan atau intoleransi terhadap jenis gula tertentu seperti fruktosa atau sukrosa.
4. Perubahan menu
Jika Mama melihat Si Kecil berulang kali mencret setelah mengonsumsi makanan tertentu, coba catat makanan dan minuman yang dikonsumsi serta gejala yang muncul. Informasi tersebut dapat membantu dokter mencari kemungkinan pemicunya.
Artikel lainnya: Alergi Makanan pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
5. Toddler's diarrhea
Si Kecil yang masih berusia balita juga dapat mengalami kondisi yang dikenal sebagai toddler's diarrhea atau diare fungsional.
Pada kondisi ini, anak dapat BAB lebih sering dan lebih encer, tetapi tetap tumbuh dengan baik, berat badan bertambah, aktif, dan tidak memiliki gejala lain yang mengkhawatirkan. Kondisi ini cukup sering ditemukan pada anak usia balita dan umumnya membaik seiring bertambahnya usia.
Konsumsi minuman manis secara berlebihan, terutama minuman yang mengandung fruktosa atau pemanis tertentu, dapat berperan dalam kondisi ini. Karena itu, Mama sebaiknya tidak memberikan jus buah atau minuman manis secara berlebihan kepada Si Kecil.
Artikel lainnya: Hubungan Kesehatan Usus dan Imunitas Anak: 70% Sistem Imun
Anak Mencret tapi Tetap Aktif dan Mau Makan, Perlukah Diobati?
Mama mungkin bertanya-tanya, anak mencret tapi tetap aktif obatnya apa? Jika Si Kecil masih aktif, mau makan dan minum, serta tetap buang air kecil seperti biasa, Mama tidak perlu langsung panik.
Namun, kondisi diare tetap perlu dipantau karena dehidrasi merupakan salah satu risiko yang perlu diperhatikan. Hal terpenting yang bisa Mama lakukan adalah memastikan Si Kecil mendapatkan cukup cairan.
Oralit dapat diberikan untuk membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare. WHO juga merekomendasikan larutan oralit rendah osmolaritas sebagai bagian dari penanganan diare pada anak.
Jika Si Kecil masih menyusu, Mama tetap dapat memberikan ASI. Selain membantu memenuhi kebutuhan cairan, ASI tetap menjadi sumber nutrisi penting bagi bayi selama mengalami diare.
Sementara itu, anak mencret tapi tetap aktif dan mau makan sebaiknya tetap mendapatkan makanan sesuai kemampuan dan usianya. Mama tidak perlu membuat Si Kecil berpuasa hanya karena sedang diare.
Kementerian Kesehatan juga menganjurkan anak tetap mendapatkan makanan dan susu selama diare, kecuali terdapat kondisi tertentu seperti intoleransi laktosa yang perlu ditangani sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Artikel lainnya: Manfaat Pemberian Probiotik pada Anak
Berapa Lama Mencret Ringan pada Anak Biasanya Berhenti?
Lama diare pada setiap anak dapat berbeda-beda, tergantung penyebabnya. Diare akut sering kali berkaitan dengan infeksi dan dapat membaik dengan sendirinya.
Namun, Mama tetap perlu memperhatikan apakah kondisi Si Kecil semakin membaik atau justru menunjukkan gejala yang lebih berat.
Jika diare berlangsung lama atau terus berulang, dokter mungkin perlu mencari penyebab lain seperti intoleransi makanan, alergi, atau gangguan pencernaan tertentu.
Jadi, jangan hanya menghitung berapa hari Si Kecil mencret. Perhatikan juga kondisi umumnya, seperti aktivitas, nafsu makan, kemampuan minum, buang air kecil, serta ada tidaknya darah dalam tinja.
Artikel lainnya: Ciri-ciri Diare pada Si Kecil yang Harus Mama Waspadai
Apa Tanda Anak yang Awalnya Aktif Mulai Dehidrasi?
Mama perlu lebih waspada jika Si Kecil yang awalnya masih aktif mulai menunjukkan tanda-tanda dehidrasi atau kekurangan cairan.
Beberapa tanda dehidrasi pada anak antara lain:
- Lebih sering merasa haus.
- Mulut dan bibir terlihat kering.
- Buang air kecil menjadi lebih jarang.
- Urine berwarna lebih gelap.
- Tidak atau hanya sedikit mengeluarkan air mata saat menangis.
- Mata terlihat cekung.
- Si Kecil terlihat lemas atau kurang berenergi.
- Si Kecil lebih mengantuk dari biasanya.
Pada bayi, Mama juga bisa memperhatikan jumlah popok basah. Berkurangnya frekuensi buang air kecil dapat menjadi salah satu tanda Si Kecil mulai kekurangan cairan.
Jika tanda-tanda tersebut muncul atau kondisi Si Kecil semakin memburuk, jangan menunggu sampai diare berhenti sendiri. Segera konsultasikan dengan dokter.
Kapan Anak Mencret Harus Diperiksakan ke Dokter?
Mama sebaiknya harus membawa Si Kecil ke dokter jika diare disertai kondisi yang mengkhawatirkan, terutama jika terdapat tanda dehidrasi.
Segera cari pertolongan medis jika Si Kecil:
- Tidak mau atau tidak mampu minum.
- Buang air kecil jauh lebih sedikit dari biasanya.
- Terlihat sangat lemas atau mengantuk.
- Tidak mengeluarkan air mata saat menangis.
- Mengalami muntah berulang sehingga sulit mendapatkan cairan.
- Mengalami sakit perut yang berat.
- Mengalami demam tinggi.
- BAB disertai darah atau nanah.
- Kondisinya semakin memburuk.
Diare yang disertai darah juga memerlukan perhatian khusus. WHO merekomendasikan penanganan antibiotik pada anak dengan diare dan darah dalam tinja, tetapi pemberiannya tetap perlu berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.
Untuk diare cair akut tanpa darah, WHO justru menyarankan agar antibiotik tidak diberikan secara rutin. Jadi, jangan memberikan antibiotik sendiri kepada Si Kecil hanya karena sedang mencret, ya, Ma.
Artikel lainnya: Anak Muntah Terus, Ini Langkah Pertolongan Pertamanya di Rumah
Bagaimana Cara Mengatasi Anak Mencret di Rumah?
Jika kondisi Si Kecil masih baik dan tidak menunjukkan tanda bahaya, beberapa hal berikut dapat Mama lakukan:
- Berikan cairan lebih sering untuk mencegah dehidrasi.
- Berikan oralit sesuai petunjuk penggunaannya.
- Tetap berikan ASI jika Si Kecil masih menyusu.
- Tetap berikan makanan sesuai usia dan kemampuan Si Kecil.
- Hindari memberikan minuman manis atau jus secara berlebihan.
- Pastikan Si Kecil cukup beristirahat.
- Pantau frekuensi BAB dan buang air kecil.
- Perhatikan perubahan perilaku atau aktivitas Si Kecil.
Untuk penggunaan zinc, WHO merekomendasikan suplementasi zinc sebagai terapi tambahan pada anak dengan diare akut maupun diare persisten. Dosis dan lama pemberiannya sebaiknya mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan atau petunjuk program kesehatan yang berlaku.
Mama juga tidak perlu memberikan obat antidiare sembarangan. Penanganan diare pada anak berbeda dengan orang dewasa dan terapi utamanya adalah mencegah serta menangani dehidrasi.
Anak mencret tapi tetap aktif tidak selalu berarti kondisi yang berbahaya, Ma. Diare ringan dapat terjadi karena infeksi virus, perubahan pola makan, intoleransi makanan, atau kondisi tertentu seperti toddler's diarrhea.
Selama Si Kecil masih aktif, mau minum, tetap buang air kecil, dan tidak menunjukkan tanda dehidrasi atau gejala berat, Mama dapat memantau kondisinya sambil memastikan kebutuhan cairan dan nutrisinya tetap terpenuhi.
Namun, Mama tetap perlu waspada jika Si Kecil mulai lemas, sulit minum, jarang buang air kecil, mengalami muntah terus-menerus, demam tinggi, sakit perut berat, atau BAB disertai darah.
Jika muncul tanda-tanda tersebut, sebaiknya segera bawa Si Kecil ke dokter agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Masih punya pertanyaan seputar kesehatan Si Kecil? Yuk, cari lebih banyak tips dan informasi terpercaya dengan gabung Komunitas Hallobumil supaya Mama bisa berdiskusi langsung dengan para ahli atau Mama lainnya.
Jangan lupa juga download aplikasi Hallobumil dan daftarkan akun untuk mendapatkan informasi parenting lengkap dan terbaru. Mama juga bisa menggunakan tools seperti Kalender HPL, dapat berbagai tips bermanfaat, hingga ikut event Hallobumil yang seru bersama ribuan Mama lainnya!




:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
