Perut Bumil Terasa Kencang Saat Puasa, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
:strip_icc():format(webp)/hb-article/N5X9aj_7sn74f3SGAFuF2/original/85j53dpbf5sg2wzyommnes6spyvdkzt5.png)
Puasa di bulan Ramadan menjadi momen spiritual yang dinanti banyak Mama, tetapi selama kehamilan perubahan tubuh dapat menimbulkan keluhan, termasuk ibu hamil puasa perut kencang yang kerap memicu kekhawatiran.
Kondisi ini bisa terjadi karena berbagai penyebab, mulai dari hal yang normal hingga tanda yang perlu diperhatikan lebih lanjut. Oleh karena itu, memahami penyebab, cara mengatasi, serta tanda bahaya penting dilakukan agar Mama dapat menjalani puasa dengan lebih tenang dan nyaman.
Penyebab Perut Ibu Hamil Kencang saat Puasa
1. Kontraksi braxton hicks (kontraksi latihan)
Salah satu penyebab paling umum perut kencang saat puasa pada ibu hamil adalah kontraksi latihan atau Braxton Hicks. Kontraksi ini merupakan cara tubuh mempersiapkan diri menghadapi persalinan.
Biasanya muncul sejak trimester kedua atau ketiga dan terasa seperti perut menegang selama beberapa detik hingga menit. Kontraksi ini tidak teratur, tidak semakin kuat, dan umumnya mereda dengan istirahat atau perubahan posisi.
Saat puasa, kontraksi Braxton Hicks bisa lebih sering muncul karena tubuh mengalami perubahan pola makan dan cairan.
Artikel lainnya: Kenapa Ukuran Perut Ibu Hamil Bisa Berbeda? Berikut Faktor-faktornya
2. Dehidrasi selama puasa
Kurangnya asupan cairan menjadi salah satu pemicu utama perut terasa kencang. Saat tubuh kekurangan cairan, otot rahim menjadi lebih sensitif dan mudah berkontraksi. Kondisi ini dapat terjadi jika Mama tidak cukup minum saat sahur dan berbuka.
Dehidrasi juga dapat menyebabkan pusing, lemas, hingga penurunan volume cairan ketuban jika berlangsung lama. Oleh karena itu, menjaga kebutuhan cairan menjadi hal penting selama puasa.
3. Aktivitas fisik yang berlebihan
Kelelahan akibat aktivitas sehari-hari seperti bekerja, berjalan jauh, atau mengurus rumah juga bisa memicu perut terasa kencang. Saat puasa, energi tubuh cenderung lebih terbatas sehingga tubuh lebih cepat lelah.
Jika Mama tetap menjalani aktivitas berat tanpa istirahat cukup, otot rahim bisa menegang sebagai respons terhadap kelelahan.
Artikel lainnya: Olahraga Aman untuk Ibu Hamil Saat Puasa, Ini Pilihannya!
4. Peregangan ligamen dan pertumbuhan rahim
Seiring bertambahnya usia kehamilan, rahim akan terus membesar untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin, sehingga ligamen yang menopang rahim ikut meregang agar dapat menyesuaikan perubahan bentuk tubuh Mama.
Peregangan ini dapat menimbulkan sensasi kencang, tertarik, atau tegang pada perut, terutama saat Mama berdiri terlalu lama, berjalan jauh, atau melakukan gerakan secara tiba-tiba.
Kondisi ini umumnya normal, bersifat sementara, dan akan membaik setelah Mama beristirahat atau mengubah posisi tubuh dengan lebih perlahan.
5. Pergerakan janin
Gerakan janin yang aktif, seperti menendang, menggeliat, atau berubah posisi, juga dapat menyebabkan perut terasa keras atau menegang sesaat karena otot rahim merespons tekanan dari dalam.
Sensasi ini biasanya berlangsung singkat, tidak disertai nyeri, dan dapat muncul lebih sering saat janin sedang dalam fase aktif, terutama pada trimester kedua dan ketiga. Selama pola gerakan janin masih terasa seperti biasanya, kondisi ini umumnya tidak perlu dikhawatirkan.
6. Perubahan hormon dan metabolisme
Saat berpuasa, tubuh mengalami perubahan kadar gula darah, cairan, serta hormon yang berperan dalam mengatur metabolisme dan respons otot, termasuk otot rahim.
Perubahan ini dapat membuat rahim lebih sensitif terhadap rangsangan sehingga perut terasa lebih sering kencang dibandingkan saat tidak berpuasa.
Kondisi ini biasanya dapat berkurang jika Mama menjaga pola makan, hidrasi, dan waktu istirahat dengan baik selama Ramadan.
Artikel lainnya: Tips Puasa Sehat untuk Ibu Hamil agar Tetap Bugar dan Kuat
Cara Mengatasi Perut Kencang Saat Bumil Puasa
1. Cukupi kebutuhan cairan
Mama dianjurkan minum cukup air saat sahur dan berbuka. Kebutuhan cairan ibu hamil umumnya sekitar 8–12 gelas per hari agar tubuh tetap terhidrasi dan membantu mencegah kontraksi ringan. Mama juga bisa membagi waktu minum dari berbuka hingga menjelang sahur supaya risiko dehidrasi berkurang.
2. Istirahat dan ubah posisi tidur
Jika perut terasa kencang, Mama bisa beristirahat sejenak dengan posisi nyaman. Berbaring miring ke kiri dapat membantu meningkatkan aliran darah ke janin dan meredakan ketegangan otot rahim. Mengubah posisi secara perlahan juga membantu mengurangi tekanan pada perut.
3. Kurangi aktivitas berat
Mama sebaiknya mengatur aktivitas selama puasa agar tubuh tidak mudah lelah. Jika memungkinkan, kurangi pekerjaan berat atau aktivitas yang membutuhkan banyak tenaga, terutama di siang hari. Istirahat yang cukup dapat membantu tubuh tetap bugar dan menurunkan risiko kontraksi.
4. Kompres hangat
Kompres hangat pada bagian perut dapat membantu meredakan rasa kencang atau tidak nyaman. Gunakan suhu yang tidak terlalu panas agar tetap aman bagi Mama dan janin. Lakukan selama beberapa menit hingga keluhan berkurang.
5. Konsumsi makanan bergizi
Penuhi kebutuhan nutrisi dengan menu seimbang saat sahur dan berbuka. Karbohidrat, protein, vitamin, serta mineral penting untuk menjaga energi dan kesehatan Mama selama berpuasa.
Asupan yang cukup juga dapat membantu mengurangi keluhan seperti perut perih saat ibu hamil puasa akibat lambung kosong terlalu lama.
6. Konsultasi dengan tenaga kesehatan
Jika Mama ragu, konsultasi ke dokter atau bidan sangat dianjurkan. Tenaga kesehatan dapat menilai apakah kondisi masih normal dan memberikan saran terkait puasa. Pemeriksaan rutin juga membantu memantau kesehatan Mama dan janin.
Artikel lainnya: Pola Makan Sehat bagi Ibu Hamil Selama Puasa Ramadan
Tanda Bahaya yang Harus Diperhatikan
Segera hentikan puasa dan periksakan diri jika Mama mengalami:
- Kontraksi semakin sering dan teratur.
- Nyeri perut yang kuat atau tidak mereda.
- Perdarahan dari vagina.
- Ketuban pecah.
- Gerakan janin berkurang.
- Pusing berat atau lemas.
- Demam.
- Mual dan muntah berlebihan.
- Perut terasa sangat keras terus-menerus.
Tanda-tanda tersebut bisa menjadi indikasi kondisi yang memerlukan perhatian medis. Penanganan yang cepat dapat membantu menjaga kesehatan Mama dan janin.
Tips Aman Puasa untuk Ibu Hamil
Agar puasa tetap nyaman, Mama bisa menerapkan beberapa tips berikut:
- Konsultasi dengan dokter sebelum memutuskan berpuasa.
- Puasa jika kondisi kehamilan sehat.
- Pilih makanan bergizi saat sahur dan berbuka.
- Hindari makanan terlalu asin dan tinggi gula.
- Atur waktu tidur dan kelola stres.
- Segera batalkan puasa jika tubuh terasa tidak kuat.
Dengan persiapan yang tepat, banyak Mama tetap dapat menjalani puasa dengan aman.
Perut terasa kencang saat puasa memang cukup sering dialami ibu hamil, termasuk kondisi perut ibu hamil kram saat puasa yang umumnya masih tergolong normal jika disebabkan kontraksi latihan, dehidrasi ringan, atau kelelahan.
Namun, Mama tetap perlu mengenali tanda bahaya agar dapat segera memperoleh pertolongan bila diperlukan. Setiap kehamilan memiliki kondisi berbeda, sehingga mendengarkan sinyal tubuh dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu Mama menjalani puasa dengan lebih aman dan nyaman.
Agar Mama semakin siap menjalani kehamilan, unduh aplikasi Hallobumil untuk menggunakan kalkulator HPL, mendapatkan tips harian, serta mengikuti berbagai event edukasi.
Mama juga bisa bergabung dengan komunitas Hallobumil untuk berbagi pengalaman, bertanya, dan saling mendukung selama masa kehamilan.





:strip_icc():format(webp)/hb-article/TmBwmXyvvc5fBmDgsYa09/original/0kram-saat-hamil-ini-solusinya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/e9NZTASpd1tc42Z4Gx9iu/original/0makanan-pantangan-ibu-hamil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/43Mtw78Lk1CKWAEEeYQRf/original/0kenaikan-berat-badan-selama-hamil-yang-normal.jpg)
