Bayi Besar dalam Kandungan (Makrosomia): Penyebab & Risiko
:strip_icc():format(webp)/hb-article/2o08UMmggZMqgfNqGEsFf/original/j6gimhaq2nxw931i8xrti9h1wgoh0aie.png)
Memiliki kehamilan sehat dan melahirkan bayi yang gemuk kadang jadi dambaan banyak orang tua. Namun, ketika ukuran janin dalam kandungan tumbuh jauh lebih besar dari rata-rata, hal ini bisa membawa tantangan tersendiri.
Bayi besar atau yang dikenal dengan istilah makrosomia tidak selalu identik dengan bagus. Ukuran bayi yang besar bisa menimbulkan risiko selama kehamilan maupun persalinan. Oleh karenanya, penting untuk mengenali apa itu makrosomia dan penyebabnya lewat ulasan di bawah ini.
Artikel lainnya: Apakah Perkembangan Berat Badan Janin dalam Kandungan Mama Normal?
Apa Hamil Bayi Besar atau Makrosomia?
Hamil bayi besar atau yang dalam medis disebut makrosomia adalah kondisi ketika janin tumbuh lebih besar dari ukuran rata-rata. Secara umum, makrosomia ditetapkan ketika berat bayi saat lahir mencapai 4.000 gram (4 kg) atau bahkan lebih.
Beberapa dokter memakai batas lebih tinggi, yaitu 4.500 gram, untuk menandai kondisi makrosomia yang lebih berat.
Ukuran yang lebih besar dari normal ini dapat dipengaruhi berbagai penyebab bayi besar, seperti diabetes gestasional, obesitas saat hamil, atau kehamilan yang melewati HPL. Penting untuk dipahami bahwa makrosomia biasanya baru dapat dipastikan setelah bayi lahir dan ditimbang.
Sebelum persalinan, dokter hanya bisa memperkirakan ukuran janin melalui pengukuran tinggi fundus, pemeriksaan fisik, serta USG.
Namun, perkiraan berat janin lewat USG tidak selalu 100 persen akurat dan bisa meleset beberapa ratus gram, sehingga makrosomia sering kali menjadi diagnosis setelah kelahiran.
Meskipun terdengar “menyenangkan” memiliki bayi yang gemuk, namun ukuran yang terlalu besar dapat meningkatkan risiko pada proses persalinan, seperti persalinan lebih lama, tindakan persalinan caesar, hingga kondisi distosia bahu.
Oleh karena itu, memahami apa itu makrosomia membantu Mama dan tenaga kesehatan mengambil langkah yang tepat agar proses melahirkan tetap aman, baik itu memilih tindakan medis maupun cara melahirkan bayi besar normal bila risikonya memungkinkan.
Ciri-Ciri Bayi Besar Dalam Kandungan
Mengetahui apakah janin termasuk bayi besar atau berisiko mengalami makrosomia memang tidak selalu mudah, karena dokter hanya bisa memperkirakannya sebelum bayi lahir.
Namun, ada beberapa tanda yang bisa menjadi petunjuk bahwa ukuran janin lebih besar dari rata-rata. Tanda-tanda ini biasanya terlihat dari pemeriksaan kehamilan rutin dan perubahan pada tubuh Mama.
Beberapa ciri yang dapat mengarah pada makrosomia adalah:
- Ukuran tinggi fundus lebih besar dari usia kehamilan: Ini terjadi saat jarak antara tulang kemaluan dan bagian atas rahim lebih panjang dari angka rata-rata sesuai usia kehamilan. Kondisi ini bisa mengindikasikan janin tumbuh lebih cepat atau lebih besar.
- Cairan ketuban berlebih (polihidramnion): Janin yang lebih besar biasanya menghasilkan lebih banyak urine sehingga volume air ketuban meningkat. Dokter dapat mendeteksinya melalui USG.
- Peningkatan berat badan Mama yang lebih cepat atau berlebihanl Jika Mama mengalami kenaikan berat badan jauh di atas rekomendasi, hal ini bisa berhubungan dengan pertumbuhan janin yang lebih besar. Kondisi seperti obesitas saat hamil juga meningkatkan risikonya.
- Riwayat melahirkan bayi besar sebelumnya: Mama yang pernah melahirkan bayi dengan berat di atas 4 kg lebih berisiko mengandung bayi besar lagi pada kehamilan selanjutnya.
- Estimasi berat janin melalui USG yang menunjukkan ukuran di atas rata-rata: USG memberikan gambaran perkiraan berat janin, meski tidak selalu akurat. Namun, bila beberapa pengukuran (kepala, perut, paha) menunjukkan nilai yang tinggi, dokter biasanya akan mencurigai makrosomia.
Gejala-gejala ini tidak selalu berarti bayi pasti besar, tetapi menjadi indikator penting untuk pemantauan lebih lanjut. Pemahaman dini membantu Mama dan dokter merencanakan persalinan yang aman.
Artikel lainnya: Penyebab dan Cara Mengatasi Berat Badan Janin Kurang
Faktor Penyebab Utama Ukuran Bayi di Atas Rata-rata
Ada banyak alasan mengapa seorang Mama bisa mengandung bayi besar atau mengalami makrosomia. Sebagian besar penyebabnya berkaitan dengan kondisi kesehatan selama hamil, gaya hidup, serta faktor genetik.
1. Menderita diabetes
Salah satu penyebab terbesar makrosomia adalah diabetes, baik diabetes yang sudah ada sebelum hamil maupun diabetes gestasional yang muncul selama kehamilan.
Mengutip dari Cleveland Clinic, saat kadar gula darah tinggi, glukosa dapat menembus plasenta dan membuat janin menghasilkan lebih banyak insulin.
Kombinasi glukosa dan insulin yang berlebih ini mendorong janin menyimpan lebih banyak lemak, sehingga berat badannya meningkat di atas rata-rata.
Artikel lainnya: Menu Sehat Ibu Hamil Penyandang Diabetes
2. Mengalami obesitas
Mama yang mengalami obesitas saat hamil atau mengalami kenaikan berat badan berlebih berisiko lebih tinggi mengandung bayi besar.
Kelebihan lemak tubuh dapat meningkatkan nutrisi dan energi yang sampai ke janin, sehingga janin tumbuh lebih cepat dan lebih besar. Selain itu, obesitas juga meningkatkan risiko resistensi insulin, yang pada akhirnya bisa memperbesar kemungkinan makrosomia.
3. Riwayat makrosomia pada kehamilan sebelumnya
Jika seorang Mama pernah melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4.000–4.500 gram, besar kemungkinan ia akan mengandung bayi besar lagi di kehamilan berikutnya.
Faktor genetik juga berperan, baik itu orang tua yang memiliki tubuh lebih tinggi, besar, atau postur besar cenderung memiliki anak dengan ukuran serupa.
4. Kehamilan lewat bulan (post term)
Kehamilan yang berlangsung melewati HPL (Hari Perkiraan Lahir), atau dikenal sebagai post-term, memberi waktu lebih panjang bagi janin untuk tumbuh.
Semakin lama berada dalam kandungan, semakin besar kemungkinan berat janin bertambah dan melebihi batas normal. Inilah sebabnya makrosomia sering ditemukan pada Mama yang hamil lebih dari 40 minggu.
Risiko yang Mungkin Terjadi Saat Proses Persalinan
Memiliki bayi besar atau mengalami makrosomia bukan berarti Mama pasti akan mengalami persalinan yang sulit. Namun, ukuran bayi yang lebih besar dari rata-rata memang dapat meningkatkan beberapa risiko, baik untuk Mama maupun bayi.
Risiko ini terutama muncul jika berat janin diperkirakan mendekati atau melebihi 4.000–4.500 gram. Dengan memahami risikonya sejak awal, Mama dan dokter dapat menyiapkan strategi terbaik, termasuk menentukan apakah proses persalinan normal masih aman atau perlu dipertimbangkan tindakan lain.
Risiko untuk Mama
Ukuran bayi yang besar dapat membuat proses pembukaan dan tahap mengejan berlangsung lebih lama. Kondisi ini bisa meningkatkan kelelahan serta risiko intervensi medis seperti vakum atau forsep.
Selain itu, apabila ukuran bayi lebih besar, jaringan perineum dapat teregang lebih kuat sehingga meningkatkan kemungkinan robekan derajat tinggi atau perlunya tindakan episiotomi.
Kondisi ini juga bisa meningkatkan risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan akibat rahim Mama yang mengalami kesulitan berkontraksi.
Banyak Mama dengan janin berukuran besar akhirnya menjalani operasi caesar untuk mencegah komplikasi serius, terutama bila bayi diperkirakan sangat besar.
Risiko untuk bayi
Selain berisiko pada Mama, bayi berukuran besar juga berisiko terhadap kesehatannya. Salah satu komplikasi yang paling sering disebut terkait bayi besar adalah distosia bahu, yaitu kondisi ketika kepala bayi sudah lahir tetapi bahunya tersangkut pada tulang panggul Mama.
Ini adalah keadaan darurat obstetri yang memerlukan tindakan cepat agar bayi tidak mengalami kekurangan oksigen.
Bayi besar juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami cedera seperti patah tulang selangka, kerusakan saraf lengan (brachial plexus injury), atau memar akibat manuver persalinan.
Kondisibayi dari Mama dengan diabetes gestasional atau gula darah tinggi cenderung menghasilkan lebih banyak insulin. Setelah lahir, kadar gula darah bayi dapat turun drastis sehingga memerlukan pemantauan ketat.
Artikel lainnya: Minum Air Es Sebabkan Bayi Jadi Besar?
Bagaimana Dokter Menangani Kondisi Ini?
Penanganan bayi besar atau makrosomia biasanya dilakukan dengan menyesuaikan kondisi Mama dan perkembangan bayi selama kehamilan.
Dokter akan memulai dengan pemantauan ketat menggunakan USG untuk memperkirakan berat badan, melihat posisi bayi, dan mengevaluasi kondisi cairan ketuban.
Meskipun perkiraan berat bayi tidak selalu akurat, pemeriksaan ini membantu dokter menentukan apakah bayi tumbuh lebih cepat dari rata-rata.
Selain itu, kondisi Mama, terutama jika memiliki diabetes gestasional, juga menjadi fokus pemantauan. Dokter akan memastikan kadar gula darah Mama tetap stabil karena kadar gula yang tidak terkontrol dapat membuat bayi bertumbuh lebih besar.
Setelah itu, dokter akan mempertimbangkan pilihan persalinan yang paling aman. Jika berat bayi diperkirakan mencapai lebih dari 4.000–4.500 gram, dokter biasanya akan mendiskusikan kemungkinan persalinan normal, induksi, atau operasi sesar, tergantung risiko bagi Mama dan bayi.
Pada persalinan normal, dokter dan bidan akan melakukan pengawasan ketat untuk mendeteksi jika ada hambatan, seperti risiko bahu bayi tersangkut. Jika dianggap berisiko, dokter dapat merekomendasikan tindakan yang lebih aman seperti operasi sesar.
Setelah bayi lahir, dokter akan memeriksa kondisi bayi secara menyeluruh, termasuk kadar gula darah, fungsi pernapasan, dan kemungkinan cedera akibat proses persalinan.
Pemeriksaan ini penting untuk memastikan bayi mendapatkan penanganan cepat bila ditemukan masalah kesehatan tertentu.
Jika Mama ingin terus memantau kesehatan kehamilan dengan lebih tenang, jangan ragu untuk memanfaatkan berbagai fitur yang bisa membantu perjalanan kehamilan menjadi lebih terarah.
Mama bisa mengunduh aplikasi Hallobumil untuk mendapatkan informasi seputar kehamilan. Selain itu, Mama juga bisa bergabung dengan komunitas Hallobumil, tempat para Mama saling berbagi pengalaman dan mendapat insight langsung dari tenaga kesehatan.
Jika Mama ingin belajar langsung dari para ahli, pastikan untuk mengikuti event Hallobumil, juga ya, Ma!





:strip_icc():format(webp)/hb-article/TmBwmXyvvc5fBmDgsYa09/original/0kram-saat-hamil-ini-solusinya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/e9NZTASpd1tc42Z4Gx9iu/original/0makanan-pantangan-ibu-hamil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/43Mtw78Lk1CKWAEEeYQRf/original/0kenaikan-berat-badan-selama-hamil-yang-normal.jpg)