Mitos dan Fakta Seputar MPASI yang Harus Mama Tahu
:strip_icc():format(webp)/hb-article/SwaAbr6bafQyCyBwIjFHZ/original/422kenali-6-mitos-mengenai-mpasi-berikut-ini.jpg)
Memasuki fase MPASI, Mama sering dihadapkan pada berbagai informasi yang belum tentu benar, mulai dari saran lingkungan hingga media sosial.
Karena itu, penting memahami mitos dan fakta MPASI agar pemberian makanan pendamping sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Yuk, simak penjelasannya!
1. 14 Hari Pertama MPASI Harus Menu Tunggal
Masih banyak yang meyakini bahwa MPASI awal harus berupa menu tunggal selama 14 hari penuh. Tujuannya dianggap untuk melihat reaksi alergi bayi terhadap makanan tertentu.
Fakta: menu tunggal tidak wajib diberikan selama 14 hari. Justru, MPASI dianjurkan mengandung kombinasi karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin dan mineral agar kebutuhan gizi bayi terpenuhi.
Pengenalan bahan makanan baru tetap bisa dilakukan secara bertahap tanpa harus membatasi menu terlalu lama.
2. Tunda Pemberian Daging, Ikan, dan Putih Telur hingga Usia 8 Bulan
Sebagian Mama masih ragu memberikan protein hewani sejak awal MPASI karena khawatir pencernaan bayi belum siap.
Fakta: daging, ayam, ikan, dan telur yang dimasak matang serta diolah dengan tekstur sesuai usia sudah dapat dikenalkan sejak bayi mulai MPASI. Protein hewani merupakan sumber zat besi dan asam amino penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan otak Si Kecil.
Artikel lainnya: Variasi Menu MPASI 8 Bulan Beserta Resep dan Cara Membuatnya
3. Jangan Memberi Hati atau Liver karena Penuh Racun
Hati sering dianggap sebagai organ penyaring racun sehingga banyak Mama ragu memberikannya sebagai menu MPASI. Anggapan ini membuat hati kerap dihindari, padahal bayi membutuhkan sumber zat gizi padat untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.
Fakta: hati merupakan sumber zat besi, vitamin A, vitamin B12, dan berbagai mikronutrien penting yang berperan dalam pembentukan sel darah dan perkembangan sistem saraf bayi.
Hati aman diberikan sebagai bagian dari menu MPASI selama diolah dengan higienis, dimasak hingga matang sempurna, dan disajikan dalam porsi wajar sesuai usia bayi.
Artikel lainnya: Panduan MPASI Sesuai Usia dan Tahapan Bayi
4. MPASI Harus Dimulai Tepat Saat Bayi Berusia 6 Bulan
Ada anggapan bahwa MPASI harus dimulai tepat saat bayi memasuki usia 6 bulan.
Fakta: usia 6 bulan menjadi patokan karena sebagian besar bayi sudah siap menerima makanan pendamping ASI pada rentang usia tersebut.
Namun, MPASI sebaiknya diberikan saat bayi menunjukkan tanda kesiapan, seperti mampu duduk dengan bantuan, kontrol kepala yang baik, refleks menjulurkan lidah berkurang, serta menunjukkan ketertarikan pada makanan.
5. MPASI Pertama Harus Berupa Bubur Beras
Bubur beras sering dianggap sebagai satu-satunya MPASI awal yang aman untuk bayi karena teksturnya lembut dan mudah ditelan. Anggapan ini membuat sebagian Mama ragu mengenalkan bahan makanan lain saat memulai MPASI.
Fakta: tidak ada rekomendasi medis yang menyatakan MPASI pertama harus berupa bubur beras. Mama dapat mengenalkan berbagai sumber karbohidrat seperti kentang, ubi, singkong, atau oatmeal, selama teksturnya disesuaikan dengan usia bayi dan dikombinasikan dengan sumber protein serta lemak agar kebutuhan gizi tetap seimbang.
6. Tekstur MPASI Harus Selalu Encer agar Mudah Ditelan
Banyak Mama khawatir bubur MPASI yang terlalu kental dapat meningkatkan risiko tersedak pada bayi. Kekhawatiran ini sering membuat MPASI diberikan dalam bentuk sangat encer lebih lama dari yang dianjurkan.
Fakta: tekstur MPASI perlu ditingkatkan secara bertahap sesuai usia, kesiapan, dan kemampuan oral motor bayi. MPASI yang terlalu encer dalam jangka panjang justru dapat membuat asupan energi dan nutrisi tidak optimal serta menghambat proses belajar mengunyah.
Artikel lainnya: Tahapan Tekstur MPASI Sesuai Usia Bayi
7. Puree Saja Sudah Cukup untuk Waktu Lama
Sebagian Mama memilih mempertahankan MPASI dalam bentuk puree dalam waktu lama karena dianggap paling aman untuk bayi.
Fakta: bayi perlu dikenalkan pada variasi tekstur MPASI secara bertahap sesuai usia untuk mendukung perkembangan keterampilan mengunyah, menelan, dan koordinasi otot mulut.
Pengenalan tekstur yang tepat juga berperan dalam mencegah kesulitan makan, seperti menolak makanan bertekstur, di kemudian hari.
8. Setelah MPASI, ASI Tidak Lagi Penting
Ada anggapan di masyarakat bahwa pemberian MPASI membuat ASI tidak lagi dibutuhkan oleh bayi.
Fakta: ASI tetap menjadi sumber nutrisi utama hingga usia 2 tahun atau lebih karena mengandung zat gizi, antibodi, dan komponen bioaktif yang mendukung tumbuh kembang serta daya tahan tubuh bayi.
MPASI berfungsi sebagai pendamping untuk melatih kemampuan makan dan menambah asupan nutrisi, bukan sebagai pengganti ASI.
Artikel lainnya: Kebutuhan Susu Anak setelah MPASI
9. Sayur Harus Dikenalkan Lebih Dulu daripada Buah
Sebagian orang meyakini bayi perlu dikenalkan sayur terlebih dahulu agar tidak terbiasa dengan rasa manis sejak awal MPASI. Anggapan ini sering muncul karena kekhawatiran bayi menjadi pemilih makanan di kemudian hari.
Fakta: tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bayi wajib dikenalkan sayur sebelum buah. Sayur dan buah dapat diperkenalkan secara bersamaan sebagai bagian dari menu MPASI yang beragam, selama tekstur, porsi, dan keamanannya disesuaikan dengan usia serta tahap perkembangan bayi.
10. Makanan Bertekstur Kasar Harus Menunggu Gigi Tumbuh
Banyak Mama beranggapan bahwa finger food baru boleh diberikan setelah gigi bayi tumbuh.
Fakta: bayi sudah dapat belajar mengunyah menggunakan gusi sebelum gigi tumbuh. Dengan potongan yang aman, ukuran sesuai genggaman, dan tekstur lunak yang mudah dilumat, finger food dapat dikenalkan secara bertahap sesuai tahap perkembangan untuk mendukung keterampilan makan bayi.
Artikel lainnya: Kapan Bayi Tumbuh Gigi?
11. Madu Baik untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Bayi
Madu sering dianggap sebagai bahan alami yang bermanfaat bagi kesehatan dan bisa meningkatkan daya tahan tubuh bayi.
Fakta: madu tidak dianjurkan untuk bayi di bawah 1 tahun karena berisiko menyebabkan botulisme akibat spora Clostridium botulinum. Setelah bayi berusia 1 tahun, sistem pencernaan sudah lebih matang sehingga madu dapat diberikan secara bertahap dan dalam jumlah kecil.
12. MPASI Harus Selalu Dibuat Homemade, MPASI Instan Tidak Baik
Banyak Mama merasa MPASI harus selalu dibuat sendiri di rumah agar lebih sehat dan aman, sebuah mitos seputar MPASI yang masih sering dipercaya. Anggapan ini membuat sebagian Mama merasa terbebani, terutama jika memiliki keterbatasan waktu atau tenaga.
Fakta:MPASI instan yang terdaftar BPOM dan difortifikasi zat gizi dapat menjadi pilihan aman jika digunakan dengan bijak.
Mama tetap perlu membaca label gizi, memastikan kandungan gula dan garam sesuai rekomendasi, serta mengombinasikannya dengan MPASI rumahan agar variasi nutrisi tetap terjaga.
13. Bayi Tidak Boleh Minum Air Putih Sama Sekali Saat MPASI
Sebagian Mama mendengar bahwa bayi yang sudah mulai MPASI tetap tidak boleh diberi air putih karena dianggap berbahaya. Kekhawatiran ini sering muncul karena bayi sebelumnya hanya mengonsumsi ASI atau susu formula.
Fakta:Bayi usia 6 bulan yang sudah mulai MPASI boleh dikenalkan air putih dalam jumlah kecil, misalnya setelah makan. Air putih membantu membersihkan mulut dan melatih kebiasaan minum, namun ASI atau susu formula tetap menjadi sumber cairan utama hingga usia 1 tahun.
Memahami mitos fakta MPASI membantu Mama mengambil keputusan yang lebih tepat dan tenang dalam mendampingi proses belajar makan Si Kecil.
Setiap bayi memiliki kesiapan dan ritme perkembangan yang berbeda, sehingga MPASI sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing anak.
Agar perjalanan MPASI Mama semakin nyaman dan terarah, Mama dapat mengunduh aplikasi Hallobumil! Di dalamnya, Mama bisa mendapatkan panduan MPASI, tips kesehatan, serta bergabung dengan komunitas Mama lainnya untuk saling berbagi pengalaman dan dukungan.
Dengan informasi yang tepat dan lingkungan yang suportif, Mama dapat mendampingi tumbuh kembang Si Kecil dengan lebih percaya diri.





:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)