:strip_icc():format(webp)/hb-article/i5aoiW4Yywjoem8bXbV5u/original/mnrsy7ulbuqravvj71ax7arost9xucok.png)
Cacingan pada anak masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup sering ditemukan, terutama pada anak usia balita dan sekolah.
Anak lebih rentan mengalami infeksi cacing karena masih sering bermain di tanah, memasukkan tangan ke dalam mulut, atau belum terbiasa menjaga kebersihan diri dengan baik.
Meski terdengar ringan, infeksi cacing yang berlangsung lama dapat mengganggu penyerapan nutrisi sehingga berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak.
Banyak Mama mengira anak yang kurus atau nafsu makannya menurun pasti mengalami cacingan. Padahal, gejala cacingan anak bisa sangat beragam dan tidak selalu mudah dikenali.
Bahkan, anggapan seperti mata anak sering berkedip apakah tanda cacingan juga masih sering menjadi pertanyaan di masyarakat, meski belum didukung bukti medis.
Agar tidak salah memahami kondisi ini, yuk kenali lebih jauh tanda, penyebab cacingan pada anak, hingga cara mengobati cacingan pada anak dengan tepat.
Artikel lainnya: Penyakit Umum pada Anak dan Cara Mengatasinya
Apa Saja Tanda Cacingan pada Anak?
Tanda cacingan pada anak bisa berbeda-beda, tergantung jenis cacing yang menginfeksi dan tingkat keparahannya.
Beberapa gejala yang paling sering muncul antara lain nafsu makan berkurang, berat badan anak sulit naik, perut terasa sakit, mual, diare pada anak, tubuh mudah lelah, serta anak tampak kurang bersemangat saat beraktivitas.
Pada beberapa kasus, anak juga mengalami gatal di sekitar anus, terutama pada malam hari akibat infeksi cacing kremi.
Selain itu, ada pula pertanyaan yang sering muncul, yaitu mata anak sering berkedip apakah tanda cacingan? Faktanya, hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa sering berkedip merupakan gejala khas cacingan.
Mata yang sering berkedip lebih sering berkaitan dengan mata kering, alergi, gangguan penglihatan, atau kebiasaan tertentu. Oleh karena itu, diagnosis cacingan sebaiknya tidak hanya berdasarkan satu gejala, tetapi melalui pemeriksaan dokter bila diperlukan.
Artikel lainnya: Cara Mengatasi Anak Susah Makan dan Kenali Penyebabnya
Jenis-Jenis Cacingan pada Anak
Ada beberapa jenis cacingan pada anak yang paling sering ditemukan. Salah satunya adalah cacing kremi (Enterobius vermicularis), yang biasanya menyebabkan rasa gatal hebat di sekitar anus saat malam hari.
Selain itu, terdapat cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale serta Necator americanus).
Masing-masing jenis cacing memiliki cara penularan dan gejala yang berbeda, sehingga penanganannya juga dapat disesuaikan dengan kondisi anak.
Infeksi cacing gelang umumnya terjadi akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi telur cacing.
Sementara itu, cacing tambang dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit, misalnya ketika anak berjalan tanpa alas kaki di tanah yang telah tercemar.
Meski berbeda jenis, semua infeksi cacing berisiko mengganggu penyerapan nutrisi, sehingga jika berlangsung lama dapat menyebabkan kekurangan gizi, anemia, hingga menghambat tumbuh kembang anak.
Apa Penyebab Anak Bisa Cacingan?
Penyebab cacingan pada anak umumnya berkaitan dengan kebiasaan hidup yang kurang bersih. Anak yang jarang mencuci tangan sebelum makan, menggigit kuku, bermain di tanah tanpa mencuci tangan setelahnya, atau mengonsumsi makanan yang tidak dimasak hingga matang memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi cacing.
Telur cacing yang tidak terlihat oleh mata dapat menempel pada tangan, mainan, makanan, maupun benda di sekitar anak, lalu masuk ke dalam saluran pencernaan saat anak makan atau memasukkan tangan ke mulut.
Selain faktor kebersihan pribadi, lingkungan yang memiliki sanitasi kurang baik juga dapat meningkatkan risiko cacingan.
Penggunaan kamar mandi yang tidak layak, kebiasaan buang air besar sembarangan, hingga air yang tercemar menjadi jalur penyebaran telur cacing.
Oleh karena itu, menjaga kebersihan diri dan lingkungan merupakan langkah penting untuk menurunkan risiko infeksi sekaligus melindungi seluruh anggota keluarga dari penularan cacing.
Artikel lainnya: Bagaimana Mengajarkan Kebiasaan Mandi pada Anak?
Anak Cacingan Apakah Bisa Sembuh Sendiri?
Banyak orang tua bertanya, anak cacingan apakah bisa sembuh sendiri? Jawabannya bergantung pada jenis cacing yang menginfeksi. Pada beberapa kasus, jumlah cacing di dalam tubuh memang dapat berkurang seiring waktu.
Namun, sebagian besar infeksi cacing tidak akan benar-benar hilang tanpa pengobatan karena cacing dapat terus berkembang biak atau menyebabkan infeksi berulang apabila telur cacing masih berada di lingkungan sekitar anak.
Oleh sebab itu, pemeriksaan dan penanganan yang tepat tetap diperlukan agar infeksi tidak berlangsung berkepanjangan. Jika tidak segera ditangani, cacingan dapat mengganggu penyerapan zat gizi penting seperti protein, zat besi, dan vitamin.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menyebabkan berat badan sulit naik, anemia, hingga menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.
Oleh karena itu, cara mengobati cacingan pada anak tidak hanya berfokus pada pemberian obat, tetapi juga memperbaiki kebersihan diri, menjaga sanitasi lingkungan, dan mencegah penularan ulang kepada anggota keluarga lainnya.
Artikel lainnya: Cara Lengkapi Kebutuhan Nutrisi Si Kecil di Masa Tumbuh Kembang
Obat Cacingan yang Tepat untuk Anak
Obat cacingan anak umumnya diberikan berdasarkan jenis cacing yang menjadi penyebab infeksi. Dokter dapat meresepkan obat seperti albendazole, mebendazole, atau pyrantel pamoate yang bekerja dengan membunuh atau melumpuhkan cacing sehingga dapat dikeluarkan bersama feses.
Beberapa obat cacing tersedia bebas, tetapi penggunaannya tetap sebaiknya disesuaikan dengan usia, berat badan, dan kondisi kesehatan anak.
Mama juga dianjurkan mengikuti aturan dosis serta mengulang pemberian obat bila direkomendasikan oleh dokter untuk mencegah infeksi berulang. Selain mengonsumsi obat, kebersihan lingkungan juga perlu diperhatikan agar pengobatan memberikan hasil yang optimal.
Cuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah dari toilet, potong kuku anak secara rutin, ganti pakaian dalam setiap hari, serta cuci sprei dan handuk dengan air panas bila anak mengalami infeksi cacing kremi.
Langkah-langkah sederhana tersebut dapat membantu memutus siklus penularan sekaligus mendukung cara mengobati cacingan pada anak agar lebih efektif.
Artikel lainnya: Tabel Berat Badan dan Tinggi Ideal Anak Sesuai Standar WHO
Bagaimana Cara Mencegah Cacingan pada Anak?
Mencegah cacingan pada anak dapat dimulai dari membiasakan pola hidup bersih dan sehat di rumah. Ajarkan Si Kecil untuk selalu mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan, setelah menggunakan toilet, serta setelah bermain di luar rumah.
Selain itu, pastikan makanan dimasak hingga matang, buah dan sayuran dicuci bersih sebelum dikonsumsi, serta anak menggunakan alas kaki saat bermain di tanah agar terhindar dari paparan telur atau larva cacing.
Mama juga sebaiknya menjaga kebersihan kuku anak dengan memotongnya secara rutin dan mengingatkan agar tidak menggigit kuku atau memasukkan tangan ke dalam mulut.
Apabila tinggal di daerah dengan angka kejadian cacingan yang tinggi, pemberian obat cacing secara berkala sesuai anjuran tenaga kesehatan juga dapat menjadi langkah pencegahan.
Kombinasi kebersihan diri, sanitasi lingkungan, dan pengobatan preventif terbukti efektif menurunkan risiko infeksi cacing pada anak.
Artikel lainnya: Ini Cara Merawat Anak Saat Sakit, Agar Si Kecil Cepat Sembuh
Kapan Mama Harus Membawa Anak ke Dokter?
Segera bawa anak ke dokter apabila gejala cacingan anak tidak kunjung membaik setelah diberikan obat cacing, atau justru semakin berat.
Mama juga perlu waspada bila anak mengalami nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, diare berkepanjangan, demam, berat badan menurun drastis, tampak sangat lemas, atau ditemukan cacing dalam jumlah banyak pada feses maupun muntahan.
Dokter dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan diagnosis sekaligus menentukan pengobatan yang paling sesuai.
Selain itu, konsultasi ke dokter juga dianjurkan jika anak berusia di bawah 2 tahun mengalami dugaan cacingan, memiliki penyakit penyerta yang memengaruhi daya tahan tubuh, atau gejalanya sering kambuh meski sudah diobati.
Dengan penanganan yang tepat sejak dini, risiko komplikasi akibat infeksi cacing dapat diminimalkan sehingga tumbuh kembang anak tetap optimal. Masih punya pertanyaan seputar kesehatan Si Kecil atau tumbuh kembang anak?
Yuk, download aplikasi HalloBumil dan registrasi di aplikasi kehamilan ini untuk mendapatkan berbagai artikel kesehatan terpercaya, konsultasi, serta informasi yang membantu Mama merawat buah hati setiap hari.
Setiap anak memiliki kondisi kesehatan yang berbeda. Agar tidak bingung saat menghadapi berbagai keluhan pada Si Kecil, bergabunglah dengan komunitas WhatsApp HalloBumil.
Mama bisa berbagi pengalaman, memperoleh edukasi, dan mendapatkan berbagai informasi bermanfaat bersama sesama orang tua.
Jangan lewatkan berbagai event HalloBumil yang menghadirkan webinar, kelas edukasi, hingga sesi interaktif yang dapat membantu Mama lebih percaya diri dalam merawat keluarga.





:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
