Tips Bijak Hadapi Mom-Shaming agar Mama Tetap Percaya Diri dan Tenang
:strip_icc():format(webp)/hb-article/DDlvMN_hBooPbZPLtuYG5/original/770week-38-day-4-5-cara-menghadapi-mom-shaming.jpg)
Di tengah usaha keras menjadi ibu, tidak jarang Mama menghadapi komentar atau kritik dari orang lain yang membuat Mama merasa dinilai atau disalahkan.
Fenomena ini dikenal dengan istilah mom-shaming. Artikel ini akan membahas apa itu mom-shaming, contohnya, penyebabnya, dampaknya, serta cara menghadapi situasi ini dengan bijak.
Artikel lainnya: Gangguan Psikologis setelah Melahirkan, Waspadai Tandanya
Apa Itu Mom-Shaming?
Mom-shaming adalah tindakan mengkritik, mempermalukan, atau menilai seorang ibu karena pilihan yang ia ambil dalam mengasuh atau merawat anak. Kata mom berarti ibu, sedangkan shaming berasal dari kata shame, yang artinya membuat seseorang merasa malu atau bersalah.
Mom-shaming bisa muncul secara langsung, misalnya melalui komentar dari keluarga, teman, atau tetangga, maupun secara tidak langsung melalui media sosial.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di lingkungan sosial, tetapi juga marak di dunia maya. Di era media sosial, setiap keputusan atau momen kehidupan Mama bisa menjadi bahan komentar.
Sayangnya, komentar ini tidak selalu membangun, dan sering kali membuat Mama merasa tidak cukup baik atau salah dalam pengasuhan.
Contoh Mom-Shaming yang Sering Dialami Mama
Beberapa contoh mom-shaming yang kerap dialami Mama antara lain:
1. Kritik soal ASI atau susu formula
Mama yang memberikan ASI mungkin mendapat komentar seperti “Kenapa tidak pakai susu formula saja? Kan repot kalau ASI terus.” Sebaliknya, Mama yang memilih susu formula bisa dikomentari karena dianggap kurang peduli pada ikatan alami dengan bayi.
2. Komentar tentang metode persalinan
Pilihan persalinan normal atau caesar sering menjadi bahan penilaian. Beberapa orang beranggapan persalinan normal lebih baik, sementara Mama yang melahirkan secara caesar bisa dianggap “lemah” atau kurang mampu.
3. Penilaian terhadap berat badan dan penampilan
Setelah melahirkan, perubahan tubuh Mama sering menjadi sorotan. Komentar tentang penampilan atau berat badan bisa membuat Mama merasa tidak percaya diri atau tertekan.
4. Kritik pola asuh ibu
Beberapa orang berpendapat bahwa cara Mama mendidik atau membesarkan anak terlalu santai atau terlalu disiplin. Padahal setiap anak berbeda, dan tidak ada satu cara tunggal yang benar.
5. Tekanan dari keluarga atau lingkungan
Keluarga, mertua, atau teman dekat terkadang memberikan komentar yang seolah menuntut Mama untuk mengikuti standar tertentu. Tekanan ini bisa membuat Mama merasa bahwa keputusan yang Mama ambil selalu salah di mata orang lain.
Apa Penyebab Mom-Shaming Terjadi?
Mom-shaming tidak muncul tanpa alasan. Ada beberapa faktor penyebab mom-shaming:
1. Tekanan sosial pada ibu baru
Masyarakat memiliki standar tertentu tentang bagaimana seorang ibu seharusnya bertindak. Setiap perbedaan dari standar tersebut sering dianggap salah, padahal setiap keluarga memiliki kondisi unik.
2. Ketidakamanan pribadi atau rasa iri
Beberapa orang menilai pilihan Mama karena merasa dirinya kurang baik atau tidak puas dengan pengalaman mereka sendiri. Rasa iri ini bisa muncul tanpa disadari, sehingga mereka mengekspresikannya melalui kritik.
3. Perbedaan budaya dan generasi
Cara orang tua dahulu dalam membesarkan anak sering berbeda dengan cara Mama sekarang. Perbedaan ini terkadang membuat generasi sebelumnya merasa harus menasihati atau mengkritik.
4. Pengaruh media sosial
Media sosial memungkinkan orang memberikan komentar tanpa pertimbangan penuh. Banyak komentar yang bermaksud “menasihati” tapi terdengar seperti menghakimi, sehingga menimbulkan mom-shaming.
Artikel lainnya: Begini Perbedaan Baby Blues dan Postpartum Depression
Dampak Mom-Shaming bagi Mama
Dampak mom-shaming bisa cukup luas, baik secara emosional maupun fisik. Beberapa di antaranya meliputi:
- Menurunnya rasa percaya diri: Kritik terus-menerus membuat Mama merasa tidak cukup baik atau gagal dalam pengasuhan. Rasa percaya diri yang menurun dapat memengaruhi keputusan Mama sehari-hari.
- Meningkatkan kecemasan dan stres: Tekanan dari komentar orang lain bisa menimbulkan kecemasan, rasa bersalah, atau stres yang berlebihan. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menimbulkan depresi.
- Gangguan kesehatan fisik: Stres dan tekanan emosional dapat memengaruhi kesehatan fisik, misalnya gangguan tidur, penurunan nafsu makan, atau bahkan berkurangnya produksi ASI.
- Pengaruh pada pola asuh dan hubungan dengan anak: Tekanan dan rasa bersalah dapat memengaruhi cara Mama mendidik anak, sehingga hubungan emosional dengan anak mungkin menjadi kurang harmonis.
Cara Menghadapi Mom-Shaming dengan Bijak
Menghadapi mom-shaming tidak selalu mudah, tetapi ada beberapa cara mengatasi mom-shaming yang bisa membantu Mama tetap kuat dan tenang:
1. Kenali diri sendiri dan batasi respons emosional
Sadari bahwa komentar yang tidak membangun bukan ukuran kemampuan Mama sebagai ibu. Belajar untuk tidak terlalu terpengaruh dapat mengurangi stres.
2. Fokus pada dukungan positif
Cari orang-orang yang memahami dan mendukung Mama, seperti pasangan, keluarga, atau komunitas Mama yang saling mendukung. Dukungan ini bisa membuat Mama lebih percaya diri dalam pengasuhan.
3. Jaga batas di media sosial
Tidak semua komentar perlu ditanggapi. Mama dapat mengabaikan, memblokir, atau membatasi interaksi dengan akun yang cenderung menghakimi.
4. Cari informasi dari sumber tepercaya
Jika kritik berhubungan dengan kesehatan atau pola asuh, pastikan Mama mencari informasi dari sumber yang kredibel agar keputusan yang diambil tetap tepat dan aman bagi anak.
5. Terima bahwa setiap Mama belajar melalui proses
Setiap Mama memiliki perjalanan unik. Tidak ada satu cara yang sempurna untuk membesarkan anak. Kesalahan dan belajar dari pengalaman adalah bagian dari proses menjadi Mama.
Artikel lainnya: Perubahan Hormon Setelah Melahirkan, Waspadai Dampaknya
Kapan Mama Perlu Bantuan Profesional?
Walaupun banyak judgement terhadap ibu bisa dihadapi sendiri, ada situasi di mana dukungan profesional diperlukan:
- Jika mom-shaming menimbulkan kecemasan berlebihan, depresi, atau rasa bersalah yang sulit diatasi.
- Jika stres akibat mom-shaming mulai memengaruhi tidur, makan, atau hubungan dengan anak.
- Saat Mama merasa tidak memiliki sistem dukungan yang kuat di keluarga atau lingkungan sekitar.
Mom-shaming memang nyata dan bisa muncul dari berbagai arah, baik keluarga, teman, maupun media sosial. Ingatlah, tidak ada Mama yang sempurna, dan setiap langkah yang Mama ambil untuk merawat dan mendidik anak adalah bentuk kasih sayang.
Jangan biarkan mom-shaming meredam semangat Mama. Prioritaskan kesehatan mental, ambil dukungan dari orang terdekat, dan jika perlu, jangan ragu mencari bantuan profesional.
Psst, kalau Mama penasaran dengan tips lain untuk menjaga kesehatan mental dan fisik sebagai Mama, yuk, unduh aplikasi Hallobumil Ma! Jangan lupa gabung komunitasnya untuk dapat insight terbaru dari sesama Mama.
Dapatkan informasi terpercaya seputar parenting digital dan perkembangan anak langsung dari ahlinya di halaman event Hallobumil. Semua mudah dalam satu genggaman!





:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
