Ibu Hamil Muntah Saat Puasa, Ini Penyebab dan Solusinya
:strip_icc():format(webp)/hb-article/e8h0KaFa1cy7HV1tWSY3_/original/b5e99dlaj2pjdo5hbylczabh7xui325m.png)
Puasa di bulan Ramadan menjadi momen spiritual yang dinanti banyak keluarga, termasuk Mama yang sedang hamil.
Namun, ketika muncul keluhan seperti mual atau ibu hamil muntah saat puasa, wajar jika timbul pertanyaan apakah kondisi tersebut masih tergolong normal atau sebaiknya puasa dihentikan.
Karena perubahan pola makan dan minum dapat memperkuat gejala, penting bagi Mama untuk memahami penyebabnya serta mengetahui kapan perlu beristirahat demi menjaga kesehatan diri dan janin.
Penyebab Ibu Hamil Mual dan Muntah Saat Puasa
Mual dan muntah pada masa kehamilan sering disebut sebagai morning sickness. Meski namanya demikian, keluhan ini bisa muncul kapan saja, termasuk saat siang atau sore hari. Berikut beberapa penyebab ibu hamil mual muntah saat puasa yang perlu Mama pahami.
1. Perubahan hormon kehamilan
Pada awal kehamilan, tubuh Mama mengalami peningkatan hormon human chorionic gonadotropin (hCG) dan estrogen. Perubahan ini berperan penting dalam mendukung pertumbuhan janin, tetapi juga dapat memengaruhi pusat mual di otak.
Kadar hormon yang meningkat pesat inilah yang sering memicu rasa mual, terutama pada trimester pertama. Saat puasa, kondisi perut kosong dalam waktu lama bisa membuat sensasi mual terasa lebih kuat dibanding hari biasa.
Artikel lainnya: Mual Muntah Saat Hamil Muda? Ini Penyebab dan Solusinya
2. Penurunan gula darah selama puasa
Selama puasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dalam kurun waktu tertentu. Akibatnya, kadar gula darah dapat menurun. Pada ibu hamil, penurunan gula darah ini bisa memicu rasa lemas, pusing, hingga mual.
Jika Mama memiliki riwayat mudah lemas ketika terlambat makan, kemungkinan besar kondisi ini juga akan terasa saat berpuasa. Oleh sebab itu, kualitas menu sahur menjadi sangat penting untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil sepanjang hari.
3. Sensitivitas terhadap bau dan rasa
Banyak ibu hamil menjadi lebih sensitif terhadap bau tertentu. Aroma makanan yang menyengat, parfum, atau bahkan bau dapur dapat memicu rasa mual secara tiba-tiba.
Saat puasa, kondisi perut kosong dapat memperkuat respons ini. Tidak jarang Mama merasa mual hanya karena mencium aroma makanan menjelang waktu berbuka.
4. Perubahan sistem pencernaan
Hormon progesteron yang meningkat selama kehamilan dapat memperlambat pergerakan saluran cerna. Akibatnya, makanan dicerna lebih lambat dan lambung terasa penuh lebih lama.
Kondisi ini bisa menyebabkan kembung, rasa tidak nyaman di perut, serta mual. Ketika Mama berpuasa dan pola makan berubah, sistem pencernaan perlu beradaptasi kembali, sehingga keluhan bisa terasa lebih jelas.
5. Kekurangan cairan atau dehidrasi
Cairan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan tubuh. Saat puasa, asupan cairan tentu terbatas pada waktu berbuka hingga sahur. Jika Mama tidak minum cukup, tubuh bisa mengalami dehidrasi ringan.
Dehidrasi dapat memperparah rasa mual dan membuat Mama merasa lemas. Oleh karena itu, pengaturan minum yang tepat saat berbuka dan sahur sangat penting untuk mengurangi keluhan.
6. Kondisi lebih berat: Hyperemesis gravidarum
Sebagian kecil ibu hamil mengalami mual dan muntah yang sangat berat hingga mengganggu aktivitas harian. Kondisi ini dikenal sebagai hyperemesis gravidarum. Gejalanya dapat berupa muntah terus-menerus, sulit makan dan minum, hingga penurunan berat badan.
Jika Mama mengalami kondisi seperti ini, konsultasi dengan tenaga kesehatan sangat dianjurkan. Dalam situasi tertentu, puasa mungkin perlu ditunda demi menjaga kesehatan Mama dan janin.
Artikel lainnya: 9 Minuman Pereda Mual Saat Hamil yang Segar & Ampuh
Haruskah Membatalkan Puasa?
Pertanyaan ini sering muncul ketika Mama merasa mual semakin intens selama berpuasa. Jawabannya tidak selalu sama pada setiap Mama, karena kondisi kehamilan bersifat individual.
Secara umum, mual ringan hingga sedang masih tergolong wajar pada awal kehamilan. Jika Mama masih mampu makan dan minum dengan baik saat berbuka dan sahur, serta tidak mengalami tanda dehidrasi, puasa dapat tetap dijalani dengan pemantauan kondisi tubuh.
Namun, ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan:
- Mama tidak mampu menahan muntah hingga sulit mengonsumsi makanan atau minuman.
- Terjadi pusing hebat, lemas berlebihan, atau jarang buang air kecil.
- Berat badan menurun karena asupan tidak mencukupi.
- Muncul tanda dehidrasi seperti mulut sangat kering atau urine berwarna pekat.
Dalam situasi tersebut, membatalkan puasa bisa menjadi pilihan yang lebih bijak. Kesehatan Mama dan janin tetap menjadi prioritas utama. Mama juga dapat berkonsultasi dengan dokter atau bidan untuk mendapatkan saran sesuai kondisi masing-masing.
Perlu diingat bahwa setiap kehamilan berbeda. Ada Mama yang tetap nyaman berpuasa, ada pula yang membutuhkan penyesuaian. Mendengarkan sinyal tubuh adalah langkah yang penting.
Artikel lainnya: Tips Puasa Sehat untuk Ibu Hamil agar Tetap Bugar dan Kuat
Tips untuk Mengurangi Mual Saat Puasa
Berikut beberapa langkah sederhana yang dapat membantu Mama mengurangi mual selama berpuasa:
- Pilih menu sahur dengan karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oatmeal, atau roti gandum agar energi bertahan lebih lama.
- Tambahkan sumber protein seperti telur, tahu, tempe, atau daging tanpa lemak untuk menjaga kadar gula darah stabil.
- Minum air secara bertahap dari waktu berbuka hingga sahur untuk mencegah dehidrasi.
- Hindari makanan terlalu berminyak, pedas, atau beraroma kuat yang dapat memicu mual.
- Konsumsi jahe dalam bentuk minuman hangat setelah berbuka untuk membantu meredakan rasa mual ringan.
- Istirahat yang cukup dan hindari aktivitas berat saat siang hari.
- Makan dalam porsi kecil setelah berbuka agar lambung tidak terasa penuh secara tiba-tiba.
Mama juga dapat mencoba makan kurma atau camilan ringan terlebih dahulu saat berbuka sebelum mengonsumsi makanan utama. Cara ini membantu tubuh beradaptasi secara bertahap setelah seharian tidak makan.
Artikel lainnya: Pola Makan Sehat bagi Ibu Hamil Selama Puasa Ramadan
Kapan Perlu Berkonsultasi ke Tenaga Kesehatan?
Selain memperhatikan gejala sehari-hari, penting bagi Mama untuk mengetahui kapan harus mencari bantuan medis. Konsultasi dianjurkan jika:
- Mual dan muntah terjadi lebih dari beberapa kali dalam sehari.
- Mama kesulitan mempertahankan cairan dalam tubuh.
- Berat badan turun secara signifikan.
- Terdapat tanda dehidrasi atau lemas berlebihan.
Tenaga kesehatan dapat membantu mengevaluasi kondisi Mama serta memberikan penanganan yang tepat. Dengan pengawasan medis, keputusan terkait puasa dapat diambil dengan lebih tenang dan terarah.
Mual dan muntah saat hamil merupakan kondisi yang umum, terutama pada trimester pertama, dan dapat terasa lebih jelas ketika Mama berpuasa karena perubahan pola makan serta minum.
Memahami penyebabnya membantu Mama menentukan langkah yang tepat tanpa mengabaikan kondisi tubuh. Jika tubuh tidak memungkinkan, puasa tidak perlu dipaksakan karena kesehatan Mama dan janin tetap menjadi prioritas utama.
Unduh aplikasi Hallobumil untuk mendapatkan informasi terpercaya seputar kehamilan, persiapan persalinan, hingga tumbuh kembang Si Kecil. Bergabunglah dengan komunitasnya, ikuti event edukatif, dan manfaatkan fitur seperti kalkulator HPL agar perjalanan kehamilan Mama terasa lebih terarah dan penuh dukungan.





:strip_icc():format(webp)/hb-article/TmBwmXyvvc5fBmDgsYa09/original/0kram-saat-hamil-ini-solusinya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/e9NZTASpd1tc42Z4Gx9iu/original/0makanan-pantangan-ibu-hamil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/43Mtw78Lk1CKWAEEeYQRf/original/0kenaikan-berat-badan-selama-hamil-yang-normal.jpg)
