:strip_icc():format(webp)/hb-article/DcZI5T3ORpmmF1JhuDCOh/original/fx27wgpm2aolaha7pif0hqs6ofbrs29w.png)
Melihat benjolan merah dan bernanah di kulit Si Kecil tentu bisa membuat Mama khawatir. Apalagi, kulit bayi masih sangat sensitif sehingga perubahan kecil sekalipun sering membuat Mama bertanya-tanya apakah kondisi tersebut berbahaya.
Salah satu masalah kulit yang mungkin muncul adalah bisul pada bayi, yaitu benjolan berisi nanah yang umumnya terjadi akibat infeksi bakteri pada folikel rambut atau jaringan kulit di sekitarnya.
Bisul dapat terasa nyeri, hangat, membesar, dan terkadang pecah dengan sendirinya. Lantas, bagaimana cara mengatasinya? Yuk, simak tipsnya lewat ulasan berikut ini.
Artikel lainnya: Bintik Merah pada Si Kecil: Jenis, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Seperti Apa Ciri Bisul pada Si Kecil?
Pada awalnya, bisul biasanya tampak seperti benjolan kecil berwarna merah dan terasa nyeri atau sensitif ketika disentuh. Seiring waktu, bagian tengahnya dapat terisi nanah sehingga muncul titik berwarna putih atau kekuningan.
Benjolan kemudian bisa membesar, terasa lebih lunak di bagian tengah, dan akhirnya mengeluarkan nanah. Pada bayi, bisul dapat muncul di berbagai bagian tubuh, terutama area yang memiliki folikel rambut dan mudah mengalami gesekan atau berkeringat.
Bisul di kepala bayi juga dapat terjadi karena kulit kepala memiliki folikel rambut. Benjolan di area ini bisa tampak seperti jerawat atau pustula pada awalnya, sehingga terkadang sulit dibedakan hanya dengan melihatnya.
Bila benjolan semakin besar, nyeri, berisi nanah, atau kulit di sekitarnya semakin merah dan hangat, sebaiknya Mama tidak mencoba memecahkannya sendiri dan mempertimbangkan pemeriksaan dokter.
Artikel lainnya: Kenali Penyebab Ruam Merah di Pipi Si Kecil
Penyebab dan Faktor Risiko Bisul
Lalu, bisul pada bayi disebabkan oleh apa? Penyebab yang paling sering adalah infeksi bakteri, terutama Staphylococcus aureus, yang masuk melalui folikel rambut atau bagian kulit yang mengalami luka kecil.
Bakteri sebenarnya dapat hidup di permukaan kulit tanpa menimbulkan masalah. Namun, ketika pertahanan kulit terganggu, bakteri dapat masuk lebih dalam dan memicu peradangan serta pembentukan nanah.
1. Infeksi pada folikel rambut
Bisul dapat berkembang ketika bakteri menginfeksi folikel rambut secara lebih dalam. Kondisi ini berbeda dari folikulitis yang umumnya hanya menyebabkan peradangan pada folikel rambut. Ketika infeksi berkembang lebih dalam, terbentuk benjolan yang lebih nyeri dan berisi nanah.
2. Luka atau goresan pada kulit
Luka kecil, goresan, gigitan serangga, atau kulit yang mengalami iritasi dapat menjadi jalan masuk bagi bakteri. Pada bayi, goresan kecil juga dapat terjadi ketika Si Kecil menggaruk kulit menggunakan kuku.
Untuk itu, menjaga kebersihan kulit dan memotong kuku bayi secara teratur dapat membantu mengurangi risiko infeksi kulit.
3. Gesekan, kelembapan, dan keringat
Gesekan pakaian, popok, atau lipatan kulit yang lembap dapat membuat kulit lebih mudah mengalami iritasi. Ketika lapisan pelindung kulit terganggu, bakteri menjadi lebih mudah masuk dan menyebabkan infeksi.
Area yang sering berkeringat atau bergesekan juga merupakan lokasi yang lebih rentan mengalami bisul.
Artikel lainnya: Penyebab Biang Keringat pada Si Kecil, Ciri, dan Cara Mengobatinya
4. Kontak dengan sumber infeksi
Bakteri penyebab bisul dapat berpindah melalui kontak langsung dengan kulit yang mengalami infeksi maupun benda yang terkontaminasi, seperti handuk atau kain.
Bila ada anggota keluarga yang sedang mengalami bisul atau infeksi kulit, biasakan mencuci tangan sebelum menyentuh bayi dan jangan berbagi handuk atau pakaian, ya, Ma.
5. Kondisi kulit tertentu
Masalah kulit seperti eksim dapat mengganggu lapisan pelindung kulit dan membuat kulit lebih mudah mengalami infeksi. Namun, munculnya satu bisul tidak otomatis berarti Si Kecil memiliki masalah kesehatan tertentu.
Dokter dapat membantu mencari penyebab bila bisul sering muncul, sulit sembuh, atau muncul bersama keluhan lain.
Artikel lainnya: Jangan Keliru! Ini Perbedaan Ruam Campak dan Alergi Biasa
Bedakan Bisul dari Kelainan Kulit Bernanah Lain
Tidak semua benjolan bernanah pada kulit bayi adalah bisul. Beberapa kondisi kulit dapat terlihat mirip, padahal penyebab dan penanganannya berbeda.
Mengingat kulit bayi masih sensitif, sebaiknya Mama tidak langsung menggunakan obat atau salep tertentu hanya berdasarkan tampilan benjolan.
Abses
National Health Service(NHS) menjelaskan bahwa abses merupakan kumpulan nanah yang terbentuk di dalam jaringan akibat infeksi.
Dibandingkan bisul, abses kulit umumnya berada lebih dalam dan dapat berukuran lebih besar, dengan area sekitar yang terasa nyeri, hangat, bengkak, dan terkadang lunak di bagian tengah.
Abses pada bayi sebaiknya diperiksa oleh dokter karena terkadang membutuhkan tindakan untuk mengeluarkan nanah.
Impetigo
Impetigo merupakan infeksi bakteri pada kulit yang dapat menimbulkan luka atau lepuhan kecil yang kemudian pecah dan membentuk kerak kekuningan seperti warna madu.
Kondisi ini berbeda dari bisul yang biasanya berupa benjolan lebih dalam dan nyeri dengan kumpulan nanah di dalamnya. Impetigo juga dapat menular sehingga area yang terinfeksi perlu mendapatkan perhatian khusus.
Artikel lainnya: Penyebab Impetigo pada Anak dan Cara Mengatasinya
Jerawat atau pustula
Pustula merupakan benjolan kecil yang berisi nanah dan dapat terlihat seperti jerawat. Folikulitis akibat infeksi bakteri juga dapat menyebabkan beberapa benjolan kecil berisi nanah di sekitar folikel rambut. Berbeda dari bisul yang biasanya berkembang menjadi benjolan lebih dalam, nyeri, dan meradang.
Cara Merawat Bisul dengan Aman
Jika Mama menemukan benjolan yang diduga bisul, hindari terburu-buru mengoleskan berbagai produk. Perawatan sederhana dapat dilakukan untuk membantu menjaga area tetap bersih dan mendukung proses drainase alami.
Namun, karena Si Kecil masih bayi, terutama jika usianya masih sangat muda, konsultasikan dengan dokter bila Mama ragu mengenai kondisi kulitnya.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Kompres hangat: Gunakan kain bersih yang dibasahi air hangat, bukan air panas, kemudian tempelkan dengan lembut pada area bisul selama sekitar 10–15 menit. Pada bayi, pastikan suhunya tidak terlalu panas agar tidak menyebabkan luka bakar.
- Jaga kebersihan area: Bersihkan kulit secara lembut dan cuci tangan sebelum maupun sesudah menyentuh area bisul.
- Jangan menutup terlalu ketat: Jika bisul sudah pecah dan mengeluarkan cairan, area tersebut dapat ditutup dengan perban atau kasa bersih sesuai anjuran tenaga kesehatan untuk mencegah cairan menyebar.
- Jangan berbagi handuk atau kain: Cuci pakaian, handuk, dan kain yang bersentuhan dengan area infeksi secara teratur.
- Hindari penggunaan obat sembarangan: Termasuk mencari salep bisul untuk bayi atau antibiotik topikal tanpa pemeriksaan dokter. Jenis obat yang dibutuhkan bergantung pada penyebab dan kondisi kulit Si Kecil.
Untuk salep untuk bisul di kepala bayi, Mama juga sebaiknya tidak langsung menggunakan salep antibiotik, antiseptik, atau obat lain tanpa arahan dokter.
Benjolan di kulit kepala belum tentu merupakan bisul, sehingga diagnosis yang tepat perlu dipastikan terlebih dahulu. Pada kondisi tertentu, dokter dapat menyarankan obat tertentu atau tindakan lain sesuai hasil pemeriksaan.
Artikel lainnya: Penyakit Umum pada Anak dan Cara Mengatasinya
Mengapa Bisul Tidak Boleh Dipencet?
Keinginan untuk memencet bisul memang bisa muncul karena Mama ingin nanahnya segera keluar. Namun, memencet atau menusuk bisul sendiri justru dapat mendorong bakteri menyebar ke jaringan di sekitarnya. Tindakan tersebut juga dapat memperbesar luka dan meningkatkan risiko infeksi yang lebih luas.
Pada bayi, sebaiknya Mama lebih berhati-hati. Jika bisul berukuran besar, terasa sangat nyeri, semakin membesar, atau tidak kunjung membaik, dokter dapat menentukan apakah diperlukan tindakan drainase yang dilakukan dengan teknik steril. Prosedur tersebut berbeda dengan memencet bisul sendiri di rumah.
Jika bisul pecah dengan sendirinya, jangan dipencet untuk mengeluarkan sisa nanah. Mama cukup membersihkan area dengan hati-hati, cuci tangan setelah menyentuhnya, dan ikuti petunjuk dokter mengenai perawatan luka.
Artikel lainnya: Cara Merawat Kulit Bayi Agar Selalu Halus dan Sehat
Tanda Infeksi yang Perlu Diperiksa Dokter
Sebagian bisul berukuran kecil dapat membaik, tetapi bayi membutuhkan perhatian lebih karena perubahan kondisi dapat berlangsung cepat.
Mama sebaiknya membawa Si Kecil untuk diperiksa apabila benjolan semakin besar, sangat nyeri, kulit di sekitarnya semakin merah atau bengkak, muncul beberapa bisul sekaligus, atau kemerahan menyebar dari area awal.
Pemeriksaan juga penting bila bisul berada di wajah atau kepala, tidak membaik setelah perawatan, sering muncul kembali, atau disertai tanda Si Kecil tampak sakit.
Demam, menggigil, lemas, atau penurunan kondisi umum dapat menjadi tanda bahwa infeksi perlu mendapatkan penanganan medis.
Khusus bayi berusia kurang dari 3 bulan, suhu tubuh 38°C atau lebih merupakan alasan untuk segera menghubungi dokter, meskipun bayi tampak baik-baik saja. Pada usia ini, demam dapat menjadi tanda infeksi yang membutuhkan evaluasi segera.
Bisul pada bayi umumnya berkaitan dengan infeksi bakteri pada folikel rambut atau kulit yang mengalami kerusakan. Benjolan biasanya tampak merah, nyeri, membengkak, dan dapat berisi nanah.
Meski begitu, tidak semua benjolan bernanah merupakan bisul karena kondisi seperti abses, impetigo, atau pustula dapat terlihat serupa. Untuk itu, hindari memencet atau menusuk benjolan sendiri, terutama pada bayi.
Jika Mama menemukan benjolan yang mencurigakan pada kulit Si Kecil, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan penyebab dan perawatan yang tepat.
Mama juga dapat memperhatikan perubahan ukuran, warna, jumlah nanah, kemerahan di sekitarnya, serta kondisi umum Si Kecil agar informasi tersebut dapat disampaikan saat pemeriksaan.
Apabila Mama masih punya pertanyaan seputar kesehatan dan perawatan Si Kecil, yuk download aplikasi Hallobumil dan temukan berbagai informasi yang bisa membantu Mama lebih tenang dalam menemani setiap tahap tumbuh kembang Si Kecil.
Punya pengalaman atau kekhawatiran yang ingin dibicarakan bersama Mama lainnya? Gabung ke komunitas Hallobumil di WhatsApp untuk bertukar cerita, mendapatkan insight, dan merasa tidak sendirian dalam perjalanan menjadi orang tua.
Jika Mama ingin mendapatkan informasi kesehatan sekaligus bertemu langsung dengan para ahli, jangan lewatkan event dan webinar kesehatan.
Siapa tahu, ada sesi yang bisa menjawab pertanyaan Mama yang selama ini masih tersimpan. Jangan sampai ketinggalan, registrasi di aplikasi Hallobumil sekarang juga, ya, Ma!




:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
