loading

Apa Bedanya Bahasa Reseptif dan Ekspresif pada Anak?

Bagikan
Facebook
Twitter
WhatsApp
copylink
Bahasa reseptif adalah kemampuan memahami bahasa, sedangkan bahasa ekspresif merupakan kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan. Kenali perbedaan, contoh, serta tanda keterlambatan bahasa.
apa-bedanya-bahasa-reseptif-dan-ekspresif-pada-anak

Kemampuan berbahasa merupakan salah satu bagian penting dalam tumbuh kembang Si Kecil. Sejak masih bayi, anak sebenarnya sudah belajar berkomunikasi melalui tangisan, tatapan, senyuman, suara, hingga gerakan tubuh.

Seiring bertambahnya usia, kemampuan tersebut berkembang menjadi kemampuan memahami perkataan orang lain dan mengungkapkan keinginan atau pikirannya.

Inilah yang disebut sebagai bahasa reseptif dan ekspresif anak usia dini. Keduanya saling berkaitan dan berperan dalam membantu anak berinteraksi dengan orang di sekitarnya. 

Apa Itu Bahasa Reseptif dan Ekspresif pada Anak?

Bahasa reseptif adalah kemampuan anak untuk memahami bahasa yang diterimanya. Kemampuan ini mencakup memahami kata, kalimat, pertanyaan, instruksi, serta maksud dari komunikasi orang lain.

Misalnya, ketika Mama mengatakan, “Tolong ambil bolanya,” lalu Si Kecil memahami perkataan tersebut dan mengambil bola, hal itu menunjukkan adanya kemampuan bahasa reseptif.

Sementara itu, bahasa ekspresif merupakan kemampuan anak untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Pesan tersebut dapat disampaikan melalui kata-kata, kalimat, gerakan, tanda, atau bentuk komunikasi lain yang sesuai dengan kemampuan anak.

Jadi, jika bahasa reseptif berkaitan dengan memahami, bahasa ekspresif lebih berkaitan dengan menyampaikan. Kedua kemampuan ini tidak selalu berkembang dengan kecepatan yang sama.

Ada anak yang sudah banyak memahami perkataan Mama, tetapi belum banyak berbicara. Ada pula anak yang sudah aktif berbicara, tetapi masih kesulitan memahami instruksi tertentu.

Untuk itu, perkembangan bahasa sebaiknya dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari seberapa banyak kata yang dapat diucapkan anak.

Artikel Lainnya: Usia Berapa Normalnya Si Kecil Bisa Bicara? Ini Tahapannya

Bahasa Ekspresif Anak Adalah Kemampuan Apa?

Bahasa ekspresif anak adalah kemampuan untuk mengungkapkan pikiran, kebutuhan, perasaan, pengalaman, atau keinginannya kepada orang lain. Pada usia dini, kemampuan ini dapat terlihat dari cara anak menggunakan suara, kata, gabungan kata, hingga kalimat untuk berkomunikasi.

Contohnya, anak yang masih kecil mungkin menggunakan satu kata seperti “susu” untuk meminta minum.

Seiring perkembangan kemampuan bahasanya, ia dapat mulai mengatakan “mau susu”, kemudian berkembang menjadi kalimat yang lebih panjang seperti “Mama, aku mau susu” Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan ekspresif anak semakin kompleks.

Bahasa ekspresif juga tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengucapkan kata dengan jelas. Anak perlu belajar memilih kata yang sesuai, menyusun kata menjadi kalimat, menjawab pertanyaan, menceritakan pengalaman, dan mengikuti percakapan.

Oleh karena itu, kesempatan untuk berbicara dan berinteraksi sehari-hari sangat penting bagi perkembangan bahasa Si Kecil.

Contoh Bahasa Reseptif dan Ekspresif Anak Usia Dini

Memahami contoh konkretnya dapat membantu Mama mengamati perkembangan komunikasi Si Kecil dalam aktivitas sehari-hari.

Perlu diingat, setiap anak dapat mencapai kemampuan tertentu dalam rentang usia yang berbeda, ya, Ma. Milestone sebaiknya digunakan sebagai panduan, bukan sebagai patokan kaku bahwa semua anak harus memiliki kemampuan yang sama tepat pada usia tertentu.

Contoh bahasa reseptif anak usia dini:

  • Menoleh ketika namanya dipanggil.
  • Memahami kata sederhana seperti “makan”, “minum”, atau “tidur”.
  • Menunjuk anggota tubuh ketika diminta.
  • Memahami instruksi sederhana seperti “ambil bola”.
  • Menunjukkan benda yang disebutkan Mama.
  • Menjawab atau merespons pertanyaan sederhana.
  • Mengikuti instruksi yang terdiri dari lebih dari satu langkah sesuai perkembangan usianya.
  • Memahami cerita sederhana yang dibacakan.
  • Menunjukkan pemahaman terhadap kata yang menggambarkan warna, ukuran, tempat, atau jumlah.

Contoh bahasa ekspresif anak usia dini:

  • Mengeluarkan suara atau babbling untuk menarik perhatian.
  • Menggunakan gestur seperti menunjuk atau melambaikan tangan.
  • Mengucapkan kata sederhana seperti “Mama”, “Papa”, atau “mau”.
  • Menggabungkan dua kata, misalnya “mau susu”.
  • Menggunakan kalimat sederhana untuk meminta sesuatu.
  • Menjawab pertanyaan dengan kata atau kalimat.
  • Menceritakan kejadian sederhana yang dialaminya.
  • Mengajukan pertanyaan seperti “kenapa?” atau “apa itu?”
  • Mengikuti percakapan sederhana dan bergantian berbicara.

Artikel Lainnya: Tahapan Tumbuh Kembang Anak Usia 1 hingga 3 Tahun

Tahapan Perkembangan Bahasa Anak Reseptif dan Ekspresif

Tahapan perkembangan bahasa anak reseptif dan ekspresif berlangsung secara bertahap sejak bayi. Pada awal kehidupan, Si Kecil lebih banyak berkomunikasi melalui tangisan dan suara.

Kemudian, kemampuan memahami bahasa berkembang dan diikuti kemampuan menggunakan kata serta kalimat untuk menyampaikan pesan. Secara umum, beberapa perkembangan yang dapat Mama amati antara lain:

  • Lahir–3 bulan: Bayi mulai merespons suara, mengenali suara, tenang atau tersenyum ketika diajak berbicara, serta mengeluarkan suara seperti cooing.
  • 4–6 bulan: Bayi mulai memperhatikan suara, merespons perubahan intonasi, tertawa, dan melakukan babbling dengan berbagai suara.
  • 7–12 bulan: Bayi mulai mendengarkan ketika diajak berbicara, memahami beberapa kata sederhana, merespons permintaan tertentu, menggunakan gestur, serta dapat mulai mengucapkan kata sederhana.
  • 13–18 bulan: Anak mulai memahami instruksi sederhana dan bertambah kosakatanya. Pada sekitar 18 bulan, sebagian besar anak sudah dapat mencoba mengatakan beberapa kata selain “Mama” atau “Dada”.
  • 19–24 bulan: Anak mulai menggabungkan dua kata, memahami lebih banyak kata, dan menggunakan bahasa untuk meminta sesuatu.
  • 2–3 tahun: Anak mulai menggunakan frasa dan kalimat yang lebih panjang, memiliki kosakata yang semakin banyak, serta mulai mengajukan pertanyaan.
  • 3–4 tahun: Anak mulai mampu menjawab pertanyaan sederhana, berbicara mengenai kegiatan yang dilakukan, dan menggunakan kalimat yang lebih panjang.
  • 4–5 tahun: Anak semakin mampu mengikuti cerita pendek, menjawab pertanyaan mengenai cerita, bercerita dengan lebih terstruktur, serta berkomunikasi dengan anak dan orang dewasa.

Milestone tersebut dapat menjadi gambaran umum. Anak mungkin mencapai kemampuan tertentu lebih cepat atau lebih lambat dalam rentang usia yang masih wajar. Yang penting, Mama juga memperhatikan apakah kemampuan anak terus bertambah dari waktu ke waktu.

Artikel lainnya: Cerita Dongeng Pendek untuk Pengantar Tidur Anak

Cara Menstimulasi Bahasa Reseptif Anak

Menurut Kementerian Kesehatan RI, kemampuan reseptif dapat distimulasi melalui berbagai aktivitas sederhana di rumah.

Mama tidak perlu membuat sesi belajar khusus karena percakapan sehari-hari, bermain, makan, mandi, atau membaca buku bersama sudah dapat menjadi kesempatan untuk melatih kemampuan memahami bahasa. 

Berikan instruksi sederhana

Mulailah dengan instruksi pendek dan jelas sesuai usia Si Kecil. Misalnya, “Ambil bola,” “Taruh sepatu di sini,” atau “Tolong kasih Mama sendok,”. Setelah anak mulai mampu mengikuti satu instruksi, Mama dapat meningkatkan tantangannya secara bertahap. 

Bacakan buku bersama

Saat membaca buku, jangan hanya membacakan tulisan. Ajak Si Kecil memperhatikan gambar dan tanyakan hal sederhana seperti, “Mana kucing?” atau “Apa warna bolanya?”. Aktivitas ini membantu anak menghubungkan kata dengan benda, gambar, atau konsep tertentu.

Jelaskan aktivitas sehari-hari

Mama bisa berbicara sambil melakukan kegiatan bersama. Misalnya, “Sekarang kita cuci tangan,” “Ini sabunnya,” atau “Setelah makan kita sikat gigi,”. Percakapan sederhana yang dilakukan berulang dalam konteks nyata membantu Si Kecil memahami makna kata dan kalimat. 

Artikel Lainnya: Cara Menstimulasi Si Kecil agar Cepat Bisa Bicara

Cara Menstimulasi Bahasa Ekspresif Anak

Stimulasi bahasa ekspresif bertujuan memberikan banyak kesempatan kepada Si Kecil untuk menyampaikan apa yang dipikirkan atau dirasakannya.

Tidak perlu memaksa anak mengulang kata berkali-kali. Sebaliknya, buat komunikasi terasa seperti bagian menyenangkan dari aktivitas sehari-hari.

Beri kesempatan anak berbicara

Ketika anak menunjuk sesuatu yang diinginkan, Mama dapat memberikan kesempatan untuk mencoba mengungkapkannya.

Misalnya, ketika anak menunjuk air minum, Mama bisa berkata, “Mau minum?” lalu memberikan waktu untuk merespons. Respons anak tidak harus langsung berupa kalimat panjang.

Kembangkan ucapan anak

Jika Si Kecil mengatakan “bola”, Mama dapat mengembangkan ucapannya menjadi “Iya, bola merah” atau “Mau main bola?” Cara ini memberikan contoh bahasa yang lebih lengkap tanpa harus menyalahkan atau terus-menerus meminta anak mengulang perkataan Mama. 

Ajak bernyanyi dan bercerita

Lagu anak, permainan sederhana, dan kegiatan bercerita dapat menciptakan banyak kesempatan untuk mendengar serta menggunakan kosakata baru.

Mama juga bisa meminta Si Kecil melanjutkan bagian cerita atau menceritakan kembali apa yang baru saja terjadi dengan caranya sendiri.

Artikel lainnya: Kapan Usia Ideal Anak Belajar Musik?

Ajukan Pertanyaan Terbuka

Saat anak sudah cukup mampu berbicara, gunakan pertanyaan yang mendorongnya memberikan jawaban lebih dari “iya” atau “tidak”. Misalnya, “Tadi bermain apa di sekolah?” atau “Menurut kamu, kenapa bonekanya jatuh?” Pertanyaan seperti ini membantu anak belajar menyusun dan menyampaikan gagasan.

Tanda Perkembangan Bahasa yang Perlu Dievaluasi

Perkembangan setiap anak memang berbeda. Namun, Mama sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional jika kemampuan bahasa Si Kecil tampak jauh tertinggal dari rentang perkembangan yang diharapkan, tidak menunjukkan kemajuan, atau justru kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai.

Beberapa kondisi yang dapat menjadi perhatian antara lain:

  • Anak tidak menunjukkan respons terhadap suara atau ketika dipanggil.
  • Anak tampak kesulitan memahami instruksi sederhana sesuai usianya.
  • Kosakata anak tidak bertambah seiring waktu.
  • Anak kesulitan menggabungkan kata sesuai tahapan usianya.
  • Anak sangat kesulitan menyampaikan kebutuhan atau keinginannya.
  • Anak tidak menunjukkan perkembangan komunikasi dari waktu ke waktu.
  • Anak kehilangan kemampuan bahasa yang sebelumnya sudah dimiliki.
  • Mama merasa anak kesulitan mendengar atau sering tidak merespons ketika diajak berbicara.

Keterlambatan bahasa tidak selalu berarti anak mengalami gangguan tertentu. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kemampuan pendengaran karena gangguan pendengaran dapat memengaruhi perkembangan bicara dan bahasa.

Bila terdapat kekhawatiran, dokter dapat melakukan evaluasi dan bila diperlukan merujuk anak ke dokter terkait, audiolog, atau terapis wicara dan bahasa. 

Artikel Lainnya: Kenali Tanda Speech Delay pada Anak Sejak Dini

Bahasa reseptif dan ekspresif anak usia dini merupakan dua kemampuan yang saling melengkapi. Bahasa reseptif membantu Si Kecil memahami perkataan, sedangkan bahasa ekspresif membantu anak menyampaikan kebutuhan, perasaan, dan pikirannya.

Perkembangannya berlangsung secara bertahap dan setiap anak dapat memiliki kecepatan yang berbeda. 

Mama dapat membantu perkembangannya melalui percakapan sehari-hari, membacakan buku, bernyanyi, bermain, memberikan instruksi sederhana, serta memberikan ruang bagi Si Kecil untuk berbicara.

Bila ada kemampuan yang belum tercapai, tidak perlu langsung membandingkan Si Kecil dengan anak lain, Ma. Amati perkembangannya secara menyeluruh dan jangan ragu berkonsultasi apabila Mama memiliki kekhawatiran. 

Yuk, temani perjalanan tumbuh kembang Si Kecil dengan informasi yang lebih praktis bersama HalloBumil. Mama bisa mulai dengan download aplikasi HalloBumil dan registrasi di sini untuk mendapatkan berbagai informasi seputar kehamilan, bayi, dan parenting dalam satu tempat.

Punya pertanyaan atau ingin bertukar cerita dengan Mama lainnya? Bergabunglah di komunitas WhatsApp HalloBumil. Dari cerita sehari-hari sampai kekhawatiran kecil tentang perkembangan Si Kecil, Mama tidak harus menjalaninya sendirian.

Selain membaca informasi dari artikel, Mama juga bisa memperluas wawasan lewat event dan webinar kesehatan bersama para ahli.

Ikuti dan dapatkan kesempatan belajar langsung dari tenaga profesional mengenai tumbuh kembang, kesehatan Mama, dan kesehatan Si Kecil.

Jadilah orang tua super! Panduan 1000 Hari Pertama Kehidupan si kecil ada di sini. GRATIS.
image
image
image
image
0
0
Bagikan
Facebook
Twitter
WA
Belum ada komentar.
Login atau daftar dulu yuk ma biar bisa komen

Login/daftar yuk Ma

Tumbuh Bersama di 1000 Hari Pertama Si Kecil

Komunitas hangat untuk dapatkan tips, cerita inspiratif, dan teman baru pada 1000 hari pertama si kecil bersama Hallobumil
image