Apa Itu Lotus Birth? Pahami Proses, Manfaat & Risikonya
:strip_icc():format(webp)/hb-article/AvVwVk_4gzjMZWpqFZDnw/original/575u60rb2i1xba3uhbzgoouvo39k3e3m.png)
Belakangan ini, persalinan alternatif semakin banyak dibicarakan oleh calon orang tua, salah satunya adalah lotus birth. Metode ini sering dianggap lebih alami karena melibatkan praktik tidak memotong tali pusat bayi setelah persalinan.
Kendati demikian, masih banyak orang tua yang bertanya-tanya, apa itu lotus birth dan bagaimana prosedurnya?
Artikel lainnya: Amankah Ibu Melahirkan Sendiri di Rumah Tanpa Bantuan?
Apa Itu Lotus Birth?
Lotus birth adalah metode persalinan di mana tali pusat bayi tidak dipotong setelah lahir. Plasenta tetap dibiarkan menempel pada tubuh bayi hingga tali pusat mengering dan lepas secara alami, biasanya dalam waktu 3–10 hari setelah kelahiran.
Selama periode tersebut, plasenta dirawat secara khusus agar tidak menimbulkan bau atau infeksi. Praktik ini pertama kali dipopulerkan oleh Clair Lotus Day pada tahun 1970-an dan kemudian dikenal sebagai bagian dari pendekatan kelahiran alami.
Pendukung lotus birth meyakini bahwa bayi sebaiknya dibiarkan bertransisi secara perlahan dari kehidupan dalam rahim ke dunia luar tanpa intervensi pemotongan tali pusat bayi.
Artikel lainnya: Water Birth: Manfaat, Risiko, dan Syarat Melahirkan di Air
Perbedaan Antara Lotus Birth dan Delayed Cord Clamping (DCC)
Lotus birth sering disamakan dengan delayed cord clamping, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar. Delayed cord clamping (DCC) adalah praktik medis yang menunda pemotongan tali pusat selama 1–3 menit setelah bayi lahir.
Tujuannya adalah agar aliran darah dari plasenta ke bayi tetap berlangsung lebih lama sehingga meningkatkan kadar zat besi dan volume darah bayi.
Sementara itu, lotus birth tidak sekadar menunda, melainkan sama sekali tidak memotong tali pusat hingga terlepas dengan sendirinya.
DCC telah direkomendasikan oleh banyak organisasi kesehatan dunia, sedangkan lotus birth belum memiliki dukungan ilmiah yang kuat dan tidak direkomendasikan secara rutin oleh tenaga medis.
Artikel lainnya: 8 Cara Mencegah Bayi Lahir Cacat
Klaim Manfaat yang Dipercaya
Pendukung metode ini sering mengemukakan berbagai manfaat lotus birth, meskipun sebagian besar masih bersifat kepercayaan dan belum terbukti secara ilmiah.
Beberapa klaim yang sering disebutkan antara lain bayi menjadi lebih tenang, proses adaptasi lebih lembut, serta terjalinnya ikatan emosional yang lebih kuat antara Mama dan bayi.
Ada pula anggapan bahwa plasenta merupakan “organ pendamping” bayi sehingga sebaiknya diperlakukan dengan hormat dan tidak dipisahkan secara tiba-tiba.
Namun, hingga saat ini belum ada bukti medis yang menunjukkan bahwa manfaat lotus birth lebih unggul dibanding delayed cord clamping yang telah diteliti secara luas.
Artikel lainnya: Apa Itu Gentle Birth dan Bagaimana Cara Mempersiapkannya?
Bagaimana Prosedur Lotus Birth?
Prosedur lotus birth dimulai setelah bayi lahir dan plasenta keluar secara alami. Plasenta kemudian dibersihkan dari sisa darah dan ditempatkan dalam wadah khusus yang memungkinkan sirkulasi udara.
Orang tua biasanya menaburkan garam dan herbal tertentu untuk membantu proses pengeringan serta mengurangi bau.
Selama beberapa hari, bayi harus selalu berada dekat dengan plasenta, sehingga mobilitas menjadi terbatas.
Cara merawat plasenta lotus birth memerlukan perhatian ekstra, termasuk mengganti kain pembungkus plasenta secara rutin dan memastikan area tetap kering.
Proses ini merupakan bagian dari perawatan plasenta setelah melahirkan yang cukup menantang dan membutuhkan kesiapan fisik maupun mental dari Mama dan Papa.
Artikel lainnya: Apgar Score, Tes untuk Menilai Kondisi Bayi Baru Lahir
Risiko Lotus Birth yang Perlu Dipertimbangkan
Meski terdengar alami, risiko lotus birth tidak bisa diabaikan. Secara medis, plasenta adalah jaringan mati setelah keluar dari rahim sehingga berpotensi menjadi tempat berkembangnya bakteri. Oleh karena itu, tenaga kesehatan umumnya tidak merekomendasikan metode ini.
1. Risiko infeksi
Risiko utama lotus birth adalah infeksi pada bayi. Plasenta yang tidak lagi memiliki aliran darah dapat menjadi sumber bakteri yang kemudian menyebar melalui tali pusat bayi.
Infeksi ini dapat berakibat serius, terutama pada bayi baru lahir yang sistem imunnya masih sangat lemah.
2. Menimbulkan bau tidak sedap
Plasenta yang mengering secara alami dapat mengeluarkan bau menyengat, meskipun telah dirawat dengan garam dan herbal. Bau ini tidak hanya mengganggu, tetapi juga dapat menjadi tanda awal pertumbuhan bakteri jika perawatan tidak optimal.
3. Butuh perawatan tambahan
Lotus birth membutuhkan perawatan ekstra dan kehati-hatian tinggi. Orang tua harus memastikan posisi plasenta tidak menarik tali pusat bayi, menghindari gesekan berlebihan, serta membatasi aktivitas bayi.
Kondisi ini sering kali menyulitkan, terutama bagi Mama yang sedang dalam masa pemulihan pascamelahirkan.
Unduh aplikasi Hallobumil untuk mendapatkan panduan kesehatan kehamilan yang terpercaya dan mendapatkan akses ke health tools hitung HPL (Hari Perkiraan Lahir).
Agar perjalanan kehamilan terasa lebih tenang, Mama juga bisa gabung ke komunitas Hallobumil untuk berbagi pengalaman, bertanya langsung, dan saling menguatkan dengan sesama Mama.
Selain itu, ikuti juga berbagai event Hallobumil yang menghadirkan pakar kesehatan dan topik seputar kehamilan serta persalinan agar Mama semakin siap menyambut si kecil dengan penuh percaya diri.





:strip_icc():format(webp)/hb-article/TmBwmXyvvc5fBmDgsYa09/original/0kram-saat-hamil-ini-solusinya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/e9NZTASpd1tc42Z4Gx9iu/original/0makanan-pantangan-ibu-hamil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/43Mtw78Lk1CKWAEEeYQRf/original/0kenaikan-berat-badan-selama-hamil-yang-normal.jpg)
