:strip_icc():format(webp)/hb-article/GjjRjUM13jVLhFEFtZNWN/original/809shutterstock2127825104.jpg)
Saat sedang merencanakan kehamilan, mengetahui masa subur dan berhubungan di waktu tersebut memang bisa membantu meningkatkan peluang terjadinya kehamilan. Namun, bagaimana jika Mama sudah melakukannya tetapi haid tetap datang setiap bulan?
Pertanyaan seperti kenapa belum hamil padahal sudah berhubungan saat masa subur sebenarnya cukup umum, karena kehamilan dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya waktu berhubungan.
Kondisi kesehatan Mama dan Papa, ovulasi, kualitas sperma dan sel telur, hingga kondisi saluran reproduksi juga dapat berperan.
Artikel lainnya: Fakta Menarik Sperma & Perannya dalam Promil yang Berhasil
Berhubungan Saat Masa Subur Tidak Menjamin Kehamilan?
Banyak pasangan mungkin bertanya, berhubungan di masa subur apakah bisa hamil? Jawabannya, ya. Berhubungan seksual tanpa kontrasepsi pada masa subur memberikan peluang terjadinya kehamilan karena sperma dapat bertahan selama beberapa hari di dalam saluran reproduksi wanita, sedangkan sel telur dapat dibuahi dalam waktu sekitar 12–24 jam setelah ovulasi.
Peluang kehamilan paling tinggi terjadi ketika sperma sudah berada di saluran reproduksi menjelang atau saat ovulasi. Meski begitu, berhubungan di masa subur apakah pasti hamil? Tentu tidak.
Masa subur hanya menunjukkan periode ketika peluang terjadinya pembuahan lebih besar, bukan jaminan bahwa kehamilan akan terjadi dalam satu siklus.
Proses kehamilan cukup kompleks karena membutuhkan ovulasi, sperma yang mampu membuahi sel telur, pertemuan sperma dan sel telur, serta proses implantasi yang berjalan dengan baik.
Karena itu, jika Mama mengalami kondisi berhubungan di masa subur tapi tidak hamil, belum tentu ada masalah kesuburan. Pada pasangan yang sehat sekalipun, kehamilan memang tidak selalu terjadi pada percobaan pertama atau setiap siklus menstruasi.
Data National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) menunjukkan bahwa sebagian pasangan membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan kehamilan meskipun melakukan hubungan seksual tanpa kontrasepsi secara rutin.
Artikel lainnya: Cara Mengatasi Susah Hamil setelah Menikah dan Penyebabnya
Apakah Perhitungan Masa Subur Mama Sudah Cukup Akurat?
Masa subur berkaitan erat dengan waktu ovulasi. Namun, waktu ovulasi tidak selalu terjadi pada hari yang sama setiap bulan.
Bahkan pada Mama yang memiliki siklus menstruasi cukup teratur, waktu ovulasi dapat mengalami sedikit perubahan sehingga perkiraan berdasarkan kalender saja belum tentu selalu tepat.
Kalender dan aplikasi
Menghitung masa subur menggunakan kalender atau aplikasi menstruasi dapat menjadi langkah awal untuk mengenali pola siklus.
Akan tetapi, metode ini pada dasarnya memperkirakan waktu ovulasi berdasarkan data menstruasi sebelumnya. Jika panjang siklus berubah-ubah, perkiraan masa subur juga dapat meleset.
Jadi, jangan langsung menyimpulkan bahwa Mama sudah pasti berada pada masa ovulasi hanya karena aplikasi menunjukkan hari tersebut sebagai masa subur.
Jika sedang merencanakan kehamilan, pengamatan terhadap tanda-tanda ovulasi lainnya dapat membantu memberikan gambaran yang lebih lengkap.
Lendir serviks, tes ovulasi, dan tanda tubuh
Menjelang ovulasi, lendir serviks biasanya mengalami perubahan dan menjadi lebih bening, licin, serta elastis.
Perubahan ini merupakan salah satu tanda tubuh yang dapat membantu memperkirakan periode subur. Selain itu, alat tes ovulasi urine dapat digunakan untuk mendeteksi peningkatan hormon luteinizing hormone (LH) yang biasanya terjadi sebelum ovulasi.
Menggabungkan beberapa metode, seperti mencatat siklus menstruasi, mengamati lendir serviks, dan menggunakan tes ovulasi, dapat membantu Mama memperkirakan waktu subur dengan lebih baik dibandingkan hanya mengandalkan kalender.
Namun, metode tersebut tetap tidak dapat menjamin bahwa kehamilan akan terjadi pada siklus tersebut.
Artikel lainnya: Haid Lancar tapi Belum Hamil, Apa Penyebabnya?
Faktor Kesuburan Apa yang Bisa Menghambat Kehamilan?
Jika Mama dan Papa sudah mencoba beberapa kali tetapi belum berhasil, ada banyak kemungkinan faktor yang perlu dipertimbangkan.
Masalah kesuburan tidak selalu berasal dari Mama. Faktor dari Papa, kombinasi keduanya, atau bahkan penyebab yang belum dapat ditemukan juga bisa berperan.
Faktor dari Mama
Salah satu faktor yang dapat memengaruhi kesuburan adalah gangguan ovulasi. Kondisi seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS), gangguan hormon, gangguan tiroid, penurunan cadangan ovarium, hingga perubahan terkait usia dapat memengaruhi proses pelepasan sel telur.
Selain ovulasi, kondisi pada saluran reproduksi juga dapat berpengaruh. Misalnya, sumbatan pada tuba falopi dapat menghambat pertemuan sperma dan sel telur.
Kondisi tertentu pada rahim atau endometriosis juga dapat berkaitan dengan kesulitan memperoleh kehamilan. Usia juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Kesuburan wanita mengalami penurunan seiring bertambahnya usia dan penurunannya menjadi lebih bermakna setelah usia 35 tahun. Untuk itu, usia menjadi salah satu pertimbangan ketika dokter mengevaluasi kesuburan pasangan.
Faktor dari Papa
Kesuburan Papa juga tidak kalah penting. Kehamilan membutuhkan sperma yang mampu mencapai dan membuahi sel telur. Gangguan jumlah, pergerakan, atau fungsi sperma dapat membuat proses tersebut menjadi lebih sulit.
Gangguan pada testis, ketidakseimbangan hormon, sumbatan saluran reproduksi, serta varikokel merupakan beberapa kondisi yang dapat berkaitan dengan infertilitas pria.
Beberapa faktor gaya hidup juga dapat memengaruhi kesuburan pria, seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, penggunaan obat-obatan tertentu, obesitas, paparan suhu tinggi pada testis, serta paparan testosteron atau zat tertentu.
Itulah sebabnya, ketika kehamilan belum terjadi, pemeriksaan sebaiknya tidak hanya berfokus pada Mama. Kesuburan merupakan kondisi yang melibatkan kedua pasangan.
Artikel lainnya: Berapa Lama Sperma Bertahan di Rahim? Cek Faktanya
Seberapa Sering Sebaiknya Berhubungan di Sekitar Masa Subur?
Jika sedang merencanakan kehamilan, hubungan seksual secara rutin di sekitar masa subur dapat membantu meningkatkan peluang terjadinya kehamilan.
Mayo Clinic menyebutkan bahwa berhubungan secara teratur mulai sekitar 3–4 hari sebelum ovulasi hingga satu hari setelahnya dapat meningkatkan peluang karena sperma dapat bertahan beberapa hari di dalam saluran reproduksi.
Mama dan Papa tidak perlu merasa harus berhubungan hanya pada satu hari yang dianggap sebagai “hari paling subur”. Hubungan seksual setiap hari atau setiap dua hari selama periode tersebut dapat menjadi pilihan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam National Institute of Health (NIH) juga menunjukkan bahwa hubungan seksual yang dilakukan dengan mempertimbangkan periode subur dapat meningkatkan peluang kehamilan dibandingkan tanpa memperkirakan ovulasi.
Yang tidak kalah penting, jangan sampai perhitungan masa subur justru membuat hubungan terasa seperti kewajiban.
Jika siklus menstruasi Mama sulit diprediksi, hubungan seksual secara rutin setiap 2–3 hari juga dapat membantu memastikan adanya sperma yang tersedia ketika ovulasi terjadi.
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Meningkatkan Peluang Hamil?
Jika Mama dan Papa sedang dalam perjalanan mendapatkan buah hati, beberapa kebiasaan berikut dapat membantu mendukung peluang kehamilan:
- Kenali pola siklus menstruasi. Catat hari pertama menstruasi setiap bulan untuk membantu mengetahui pola siklus dan memperkirakan waktu ovulasi.
- Amati tanda ovulasi. Perubahan lendir serviks dan penggunaan tes ovulasi dapat membantu memperkirakan periode subur.
- Berhubungan secara rutin. Tidak perlu hanya terpaku pada satu hari. Hubungan setiap 1–2 hari di sekitar masa subur dapat membantu meningkatkan peluang.
- Jaga pola hidup sehat. Mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara rutin, menjaga berat badan yang sehat, cukup tidur, serta menghindari rokok dan alkohol dapat mendukung kesehatan reproduksi.
- Perhatikan kesehatan Papa juga. Kesuburan bukan hanya tentang kesehatan reproduksi Mama, sehingga Papa juga perlu menjaga pola hidup dan berkonsultasi jika memiliki faktor risiko tertentu.
- Jangan menyalahkan diri sendiri jika belum berhasil. Belum hamil dalam satu atau beberapa siklus tidak otomatis berarti Mama atau Papa mengalami infertilitas.
Artikel lainnya: Kapan Waktu Tepat Memulai Program Hamil? Temukan Jawabannya
Kapan Mama dan Papa Perlu Melakukan Pemeriksaan Kesuburan?
Jika Mama berusia di bawah 35 tahun dan tidak memiliki faktor risiko kesuburan yang diketahui, pemeriksaan biasanya dianjurkan setelah mencoba hamil selama 12 bulan dengan hubungan seksual rutin tanpa kontrasepsi tetapi belum berhasil.
Sementara itu, jika Mama berusia 35 tahun atau lebih, pemeriksaan umumnya dianjurkan setelah 6 bulan mencoba tanpa hasil. Untuk Mama berusia di atas 40 tahun, konsultasi dapat dipertimbangkan lebih awal, ya, Ma.
Namun, Mama dan Papa tidak harus selalu menunggu sampai batas waktu tersebut apabila sudah memiliki kondisi tertentu yang dapat memengaruhi kesuburan.
Misalnya, siklus menstruasi tidak teratur atau tidak menstruasi, riwayat endometriosis, penyakit radang panggul, masalah pada rahim atau tuba falopi, keguguran berulang, atau kondisi tertentu yang dapat memengaruhi cadangan ovarium.
Pada Papa, riwayat cedera testis, gangguan fungsi seksual, operasi hernia tertentu, kemoterapi, atau riwayat masalah kesuburan juga dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi lebih awal.
Pemeriksaan kesuburan sebaiknya dilakukan pada Mama dan Papa. Evaluasi dapat meliputi riwayat kesehatan dan reproduksi, pemeriksaan ovulasi, evaluasi saluran reproduksi, serta analisis sperma sesuai kondisi masing-masing pasangan.
Artikel lainnya: Evaluasi Hasil Kesuburan
Jadi, kenapa belum hamil padahal sudah berhubungan saat masa subur? Masa subur memang merupakan waktu ketika peluang kehamilan lebih tinggi, tetapi bukan jaminan bahwa kehamilan pasti terjadi.
Waktu ovulasi bisa berubah, sementara proses kehamilan juga dipengaruhi oleh kesehatan sel telur, sperma, saluran reproduksi, kondisi rahim, usia, dan berbagai faktor lainnya.
Jika baru mencoba selama beberapa siklus, Mama dan Papa tidak perlu langsung khawatir. Tetap kenali pola menstruasi, lakukan hubungan seksual secara rutin, dan jaga kesehatan bersama.
Namun, jika sudah mencoba sesuai batas waktu yang dianjurkan atau memiliki faktor risiko tertentu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter agar penyebabnya dapat dicari bersama.
Sedang menanti dua garis pada test pack? Sambil terus memantau perjalanan promil, Mama juga bisa mengenali berbagai informasi seputar kehamilan melalui Health Tools Hallobumil Kalender Masa Subur yang nantinya dapat membantu meningkatkan peluang kehamilan Mama.
Perjalanan promil kadang terasa lebih ringan ketika Mama tidak menjalaninya sendirian. Yuk, bergabung dengan komunitas Hallobumil di WhatsApp untuk mendapatkan ruang berbagi, informasi seputar kesehatan reproduksi dan kehamilan, serta cerita dari Mama lainnya yang mungkin sedang melalui perjalanan serupa.
Kalau sedang belajar lebih memahami siklus tubuh, masa subur, hingga berbagai tahapan kehamilan, Mama bisa lanjut menjelajah informasi dan fitur pendukung lainnya dengan mengunduhaplikasi Hallobumil.
Siapa tahu, perjalanan menanti Si Kecil terasa lebih terarah karena Mama punya teman untuk menemani setiap langkahnya.
Selain membaca informasi dari rumah, Mama juga bisa mengikuti event dan webinar kesehatan untuk mendapatkan kesempatan belajar langsung bersama para ahli. Jangan sampai ketinggalan, langsung registrasi data diri Mama di aplikasi kehamilan ini sekarang juga!






:strip_icc():format(webp)/hb-article/OVYh3PefFEByfgDH84qTF/original/15054778135cc016a79ddea5.12930620.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/iuEbjQxWQVKEsf9tbtLw9/original/9610848165cc016b251ebf7.01786996.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/erv22uNO1_cdZzSVwF_L9/original/10658065545cc016c1f2d931.86995857.jpg)
