loading

Apa Itu Sugar Rush dan Kaitannya dengan Anak Hiperaktif

Bagikan
Facebook
Twitter
WhatsApp
copylink
Sugar rush bisa bikin anak jadi hiperaktif setelah konsumsi gula berlebih. Kenali faktanya, dampaknya pada perilaku dan kesehatan, serta cara mengatur asupan gula harian si Kecil.
sugar-rush-pada-anak

Pernah melihat anak tiba-tiba menjadi sangat aktif setelah makan permen, cokelat, atau minum minuman manis? Kondisi ini sering disebut sebagai sugar rush.

Namun, sebenarnya sugar rush adalah istilah yang menggambarkan anggapan bahwa konsumsi gula dapat membuat seseorang, terutama anak, menjadi lebih berenergi atau sulit diam.

Lantas, benarkah gula menjadi penyebabnya? Ternyata, hubungan antara konsumsi gula dan perilaku hiperaktif pada anak tidak sesederhana itu, lho, Ma.

Supaya lebih jelas, yuk simak selengkapnya tentang sugar rush dan hubungannya dengan anak hiperaktif berikut ini.

Artikel lainnya: Perbedaan Anak Aktif dan Anak Hiperaktif

Apa Itu Sugar Rush?

Sugar rush merupakan istilah populer yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang, terutama anak, dianggap mengalami peningkatan energi atau menjadi lebih aktif setelah mengonsumsi makanan dan minuman manis.

Makanan yang sering dikaitkan dengan kondisi ini antara lain permen, cokelat, kue, es krim, minuman bersoda, dan berbagai camilan tinggi gula.

Namun, sugar rush bukanlah diagnosis medis dan tidak digunakan untuk menetapkan bahwa seorang anak mengalami hiperaktivitas.

Anggapan tentang sugar rush sudah lama berkembang karena perilaku anak memang dapat berubah setelah makan dalam situasi tertentu. Misalnya, anak makan kue dan permen ketika menghadiri pesta ulang tahun yang ramai.

Anak mungkin terlihat lebih bersemangat setelahnya, tetapi perubahan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa gula menjadi penyebabnya.

Berdasarkan penelitian terkontrol dalam The New England Journal of Medicine yang membandingkan konsumsi gula dengan plasebo juga tidak menemukan efek konsisten terhadap perilaku maupun kemampuan kognitif anak.

Apakah Gula Benar-Benar Membuat Anak Hiperaktif?

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan, gula tidak terbukti secara konsisten membuat anak menjadi hiperaktif.

Meta-analisis terhadap penelitian terkontrol menemukan bahwa konsumsi gula tidak memberikan pengaruh bermakna terhadap perilaku atau kemampuan kognitif anak.

Artinya, anak yang terlihat lebih aktif setelah makan makanan manis belum tentu mengalami peningkatan aktivitas akibat gula.

Hal ini juga penting dibedakan dari kondisi ADHD. Anak yang sesekali sulit diam, banyak bergerak, atau mudah bersemangat tidak otomatis mengalami ADHD.

Kondisi tersebut perlu dilihat dari pola perilaku yang menetap, muncul dalam lebih dari satu lingkungan, serta sampai mengganggu aktivitas atau perkembangan anak.

Jadi, ciri anak hiperaktif karena gula sebenarnya tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan adanya ADHD hanya berdasarkan perilaku setelah makan makanan manis.

Artikel lainnya: Ciri-Ciri Anak Hiperaktif yang Perlu Mama Ketahui

Jika Bukan Gula, Apa Penyebab Anak Terlihat Lebih Aktif setelah Makan Manis?

Jika si Kecil terlihat lebih aktif setelah menikmati makanan manis, Mama sebaiknya tidak langsung menyalahkan gula. Ada beberapa faktor lain yang dapat membuat perubahan perilaku tersebut terlihat lebih jelas, seperti:

  • Suasana yang menyenangkan: Makanan manis sering diberikan saat pesta, ulang tahun, liburan, atau acara bersama teman. Lingkungan yang ramai dan menyenangkan dapat membuat anak lebih bersemangat.
  • Ekspektasi orang tua: Keyakinan bahwa gula membuat anak hiperaktif dapat memengaruhi cara Mama mengamati perilaku anak. Penelitian menunjukkan bahwa ekspektasi dapat berperan dalam persepsi terhadap perubahan perilaku setelah anak mengonsumsi gula.
  • Kurang tidur: Anak yang tidak mendapatkan tidur cukup dapat menjadi lebih sulit berkonsentrasi, impulsif, atau sulit mengendalikan perilakunya. Kondisi anak sulit tidur terkadang terlihat seperti anak sedang kelebihan energi.
  • Terlalu banyak stimulasi: Bermain bersama banyak teman, berada di tempat ramai, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan dapat membuat anak lebih aktif dari biasanya.
  • Karakter dan tahap perkembangan: Anak memang memiliki tingkat aktivitas yang berbeda-beda. Anak usia dini juga secara alami cenderung lebih banyak bergerak dan memiliki rentang perhatian yang lebih pendek.

Cara Mengatasi Anak Hiperaktif setelah Makan Manis

Meski sugar rush bukan diagnosis medis, Mama mungkin tetap menghadapi situasi ketika anak terlihat sangat aktif setelah makan atau minum sesuatu yang manis.

Dalam kondisi tersebut, cara mengatasi anak hiperaktif setelah makan manis sebaiknya tidak dilakukan dengan memarahi anak atau langsung memberikan label "nakal".

Sebagai orang tua, Mama dapat membantu anak mengatur kembali aktivitasnya dengan beberapa langkah sederhana berikut:

1. Ajak anak melakukan aktivitas fisik

Jika anak terlihat memiliki banyak energi, berikan kesempatan untuk bergerak melalui aktivitas yang aman dan sesuai usia. Anak dapat diajak berjalan, bermain di luar rumah, menari, atau melakukan permainan aktif lainnya.

Aktivitas fisik merupakan bagian penting dari tumbuh kembang anak dan membantu mendukung kesehatan fisik maupun mental.

Setelah anak cukup bergerak, arahkan secara perlahan ke aktivitas yang lebih tenang. Misalnya, mengajak anak membaca buku, menggambar, bermain puzzle, atau melakukan permainan sederhana bersama orang tua.

banner

Pendekatan bertahap seperti ini dapat membantu anak berpindah dari aktivitas yang sangat aktif ke kegiatan yang lebih tenang tanpa perlu dimarahi.

2. Berikan air putih dan makanan bergizi

Setelah mengonsumsi camilan manis, Mama dapat memberikan air putih dan tetap mengikuti jadwal makan anak seperti biasa.

Jangan mengganti waktu makan utama hanya karena anak sudah mengonsumsi permen, kue, atau camilan manis. Makanan utama yang bergizi tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi selama masa pertumbuhan.

Pada kesempatan makan atau ngemil berikutnya, pilih makanan yang lebih bernutrisi, seperti buah utuh, sayuran, sumber protein, serta makanan pokok sesuai kebutuhan anak.

Untuk anak kecil, CDC juga menganjurkan menghindari makanan dan minuman dengan gula tambahan, terutama pada usia di bawah 2 tahun.

Artikel lainnya: Menu Makanan Sehat Harian untuk Balita

3. Perhatikan pola perilaku anak

Jika kejadian serupa terus berulang, Mama dapat mencatat waktu anak makan, jenis makanan yang dikonsumsi, waktu tidur, aktivitas yang dilakukan, serta perubahan perilakunya.

Catatan ini dapat membantu Mama melihat apakah benar terdapat pola tertentu atau perubahan perilaku sebenarnya lebih berkaitan dengan kondisi lain.

Apabila anak secara konsisten menunjukkan hiperaktivitas, impulsivitas, atau kesulitan berkonsentrasi yang mengganggu kegiatan di rumah maupun sekolah, sebaiknya jangan langsung mengaitkannya dengan gula.

Konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter atau tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat dinilai secara menyeluruh.

Artikel lainnya: Cara Mengatasi Anak Hiperaktif agar Lebih Fokus

Apa Dampak Gula Berlebih bagi Kesehatan Anak?

Walaupun gula tidak terbukti secara langsung menyebabkan hiperaktif, bukan berarti anak bebas mengonsumsi makanan dan minuman manis dalam jumlah banyak.

Konsumsi gula tambahan yang berlebihan tetap perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan asupan energi tanpa memberikan banyak zat gizi penting.

Dalam jangka panjang, pola konsumsi gula yang tinggi dapat berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan. Beberapa dampak gula berlebih pada anak yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Berat badan berlebih dan obesitas: Konsumsi gula, terutama dari minuman berpemanis, dapat meningkatkan asupan energi dan berkaitan dengan peningkatan risiko berat badan berlebih pada anak.
  • Kerusakan gigi: Gula bebas merupakan salah satu faktor risiko utama karies gigi. Bakteri di dalam plak dapat mengubah gula menjadi asam yang merusak permukaan gigi.
  • Kualitas pola makan menurun: Makanan tinggi gula dapat menyumbang kalori tetapi relatif sedikit memberikan zat gizi penting, sehingga berpotensi mengurangi kualitas keseluruhan pola makan jika dikonsumsi terlalu sering.
  • Risiko masalah kesehatan di kemudian hari: Berat badan berlebih pada masa kanak-kanak dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk diabetes tipe 2 dan tekanan darah tinggi.
  • Terbentuknya kebiasaan menyukai makanan sangat manis: Jika makanan atau minuman manis terlalu sering diberikan, anak dapat terbiasa menjadikannya pilihan utama saat lapar atau ingin ngemil. Membatasi paparan gula tambahan sejak dini membantu membangun pola makan yang lebih sehat.

Bagaimana Cara Mengontrol Asupan Gula Anak dengan Sehat?

Mengontrol konsumsi gula tidak berarti anak harus dilarang menikmati semua makanan manis. Yang lebih penting adalah membangun pola makan seimbang dan menjadikan makanan tinggi gula sebagai sesuatu yang tidak dikonsumsi berlebihan.

World Health Organization merekomendasikan agar konsumsi gula bebas pada anak dibatasi hingga kurang dari 10% dari total energi harian, dengan manfaat tambahan jika dapat ditekan hingga kurang dari 5%.

Beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua antara lain:

  • Utamakan air putih: Jadikan air putih sebagai minuman sehari-hari dan batasi soda, minuman rasa buah, teh manis, serta minuman berpemanis lainnya.
  • Pilih buah utuh: Buah utuh dapat menjadi pilihan camilan yang lebih baikdaripada makanan atau minuman dengan tambahan gula.
  • Batasi camilan manis: Permen, kue, biskuit manis, cokelat, dan es krim sebaiknya tidak menjadi camilan utama setiap hari.
  • Periksa label makanan: Perhatikan kandungan gula tambahan pada makanan dan minuman kemasan sebelum membelinya.
  • Jangan menggunakan makanan manis sebagai hadiah: Mama dapat memberikan pujian, waktu bermain bersama, atau bentuk apresiasi lain sehingga anak tidak menganggap makanan manis sebagai satu-satunya bentuk penghargaan.
  • Biasakan pola makan seimbang: Pastikan anak mendapatkan makanan utama dan camilan yang mengandung berbagai kelompok makanan sesuai kebutuhan usianya.
  • Perhatikan usia anak: Bayi dan anak kecil memiliki kebutuhan yang berbeda. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan agar anak di bawah 2 tahun tidak mendapatkan gula tambahan dalam makanan atau minuman.

Nah, itu dia seputar sugar rush yang menggambarkan anak terlihat lebih aktif setelah mengonsumsi makanan atau minuman manis. Namun, gula belum terbukti secara konsisten menyebabkan hiperaktivitas pada anak.

Perilaku yang terlihat setelah makan manis dapat dipengaruhi suasana, ekspektasi, kurang tidur, aktivitas, dan berbagai faktor lain.

Meski begitu, konsumsi gula tetap perlu dikontrol karena terlalu banyak gula dapat meningkatkan risiko berat badan berlebih dan kerusakan gigi.

Jadi, fokus orang tua sebaiknya bukan sekadar mencari tahu apakah anak mengalami sugar rush, tetapi membangun kebiasaan makan yang sehat dan seimbang sejak dini.

Ingin mendapatkan informasi kesehatan Mama dan anak yang lebih praktis dalam satu tempat? Registrasi di aplikasi Hallobumil dan temukan berbagai informasi serta fitur yang dapat membantu menemani perjalanan keluarga di setiap tahapnya.

Setiap fase menjadi orang tua pasti punya cerita dan pertanyaannya sendiri. Kalau ingin punya tempat untuk berbagi pengalaman dan bertukar informasi dengan orang tua lainnya, yuk gabung ke komunitas Hallobumil di WhatsApp.

Belajar soal kesehatan keluarga tidak harus selalu lewat artikel. Ikuti event kesehatan dan dapatkan kesempatan untuk memperoleh informasi kesehatan dari narasumber sekaligus bertemu dengan komunitas yang memiliki perjalanan serupa. Yuk, langsung unduh aplikasi Hallobumil sekarang juga!

Jadilah orang tua super! Panduan 1000 Hari Pertama Kehidupan si kecil ada di sini. GRATIS.
image
image
image
image
0
0
Bagikan
Facebook
Twitter
WA
Belum ada komentar.
Login atau daftar dulu yuk ma biar bisa komen

Login/daftar yuk Ma

Tumbuh Bersama di 1000 Hari Pertama Si Kecil

Komunitas hangat untuk dapatkan tips, cerita inspiratif, dan teman baru pada 1000 hari pertama si kecil bersama Hallobumil
image