:strip_icc():format(webp)/hb-article/mV5dWzMzobsUpSpDGQps_/original/zys5aq6u01ttgsbqfvxw80d3eidi2oga.png)
Menemukan benjolan di belakang telinga pada anak tentu bisa membuat orang tua cemas. Benjolan tersebut bisa muncul secara tiba-tiba, ukurannya kecil atau besar, terasa lunak maupun keras, bahkan ada yang disertai nyeri.
Tidak sedikit pula Mama yang bertanya apakah kondisi ini berbahaya atau dapat sembuh sendiri. Pada sebagian besar kasus, benjolan di belakang telinga bukanlah kondisi yang serius.
Namun, penyebab benjolan di belakang telinga pada anak cukup beragam sehingga penting untuk mengenali gejala yang menyertainya.
Dengan mengetahui penyebabnya, Mama dapat menentukan langkah penanganan yang tepat sekaligus mengetahui kapan Si Kecil perlu diperiksa oleh dokter.
Apa Penyebab Benjolan di Belakang Telinga pada Anak?
Benjolan di belakang telinga dapat berasal dari jaringan kulit, kelenjar getah bening, maupun tulang di sekitar telinga.
Beberapa penyebab bersifat ringan dan dapat membaik sendiri, sedangkan lainnya memerlukan pemeriksaan serta pengobatan dari dokter. Berikut beberapa penyebab yang paling sering ditemukan:
1. Pembengkakan kelenjar getah bening
Penyebab paling umum adalah pembengkakan kelenjar getah bening. Kelenjar ini merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh yang berfungsi membantu melawan infeksi.
Saat anak mengalami flu, radang tenggorokan, infeksi telinga, atau infeksi kulit kepala, kelenjar getah bening di belakang telinga dapat membesar.
Benjolan biasanya berbentuk bulat, dapat digerakkan saat disentuh, dan ukurannya bervariasi. Kondisi ini sering menjadi penyebab adanya benjolan di belakang telinga pada anak tapi tidak sakit, meski pada beberapa anak juga dapat terasa nyeri apabila peradangannya cukup berat.
2. Infeksi telinga
Infeksi telinga tengah atau telinga luar juga dapat menyebabkan pembengkakan di area belakang telinga. Hal ini terjadi karena proses infeksi memicu reaksi peradangan yang membuat jaringan di sekitarnya membengkak.
Selain muncul benjolan, anak biasanya mengalami demam, telinga terasa sakit, rewel, hingga keluar cairan dari telinga. Bila tidak ditangani, infeksi dapat berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius.
Artikel lainnya: Infeksi Telinga pada Anak: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
3. Mastoiditis
Mastoiditis adalah infeksi pada tulang mastoid yang berada tepat di belakang telinga. Kondisi ini umumnya merupakan komplikasi dari infeksi telinga yang tidak diobati secara optimal.
Pada mastoiditis, benjolan di belakang telinga pada anak dan terasa sakit biasanya disertai kemerahan, bengkak, demam tinggi, serta telinga tampak terdorong ke depan. Kondisi ini termasuk keadaan yang memerlukan penanganan medis segera.
4. Kista epidermoid atau kista sebasea
Benjolan juga dapat berasal dari kista epidermoid atau kista sebasea. Kista terbentuk akibat penumpukan sel kulit atau minyak di bawah permukaan kulit sehingga membentuk kantong kecil.
Benjolan biasanya tumbuh perlahan, terasa kenyal, tidak nyeri, dan dapat bertahan dalam waktu lama. Apabila mengalami infeksi, kista akan menjadi merah, membesar, dan terasa nyeri.
5. Bisul atau infeksi kulit
Infeksi bakteri pada folikel rambut atau kulit di belakang telinga dapat menyebabkan bisul. Benjolan umumnya berwarna merah, hangat saat disentuh, dan terasa nyeri.
Selain itu, anak mungkin mengeluhkan rasa sakit saat berbaring atau ketika bagian belakang telinganya tersentuh. Setelah beberapa hari, bisul dapat berisi nanah sebelum akhirnya pecah dan sembuh.
Artikel lainnya: 8 Gejala TBC pada Anak yang Mama Harus Waspadai
6. Lipoma
Lipoma merupakan benjolan jinak yang berasal dari jaringan lemak. Kondisi ini lebih sering terjadi pada orang dewasa, tetapi juga dapat ditemukan pada anak meski lebih jarang.
Benjolan biasanya lunak, dapat digerakkan, tumbuh perlahan, dan hampir tidak pernah menimbulkan rasa sakit. Lipoma umumnya tidak berbahaya, tetapi tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan dokter bila ukurannya semakin besar.
7. Reaksi setelah infeksi atau kondisi lain
Ada kalanya Mama mendapati benjolan di belakang telinga pada anak kadang ada kadang hilang. Kondisi ini sering terjadi karena ukuran kelenjar getah bening berubah mengikuti aktivitas sistem imun.
Saat infeksi mereda, benjolan biasanya mengecil, lalu dapat membesar kembali ketika anak mengalami infeksi lain.
Meski sering kali normal, benjolan yang terus membesar, menetap lebih dari beberapa minggu, atau disertai gejala lain tetap perlu diperiksakan. Hal ini penting untuk memastikan benjolan di belakang telinga pada anak apakah berbahaya atau tidak.
Artikel lainnya: Penyakit Umum pada Anak dan Cara Mengatasinya
Bagaimana Cara Mengatasi Benjolan di Belakang Telinga Anak?
Cara mengobati benjolan di belakang telinga pada anak bergantung pada penyebabnya. Oleh karena itu, hindari memencet atau menusuk benjolan karena dapat meningkatkan risiko infeksi.
Penanganan yang tepat akan membantu mempercepat penyembuhan sekaligus mencegah komplikasi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Berikan kompres hangat selama 10–15 menit beberapa kali sehari apabila benjolan disebabkan oleh pembengkakan kelenjar getah bening atau bisul.
- Pastikan anak cukup istirahat agar sistem kekebalan tubuh bekerja lebih optimal.
- Berikan cairan yang cukup untuk membantu proses pemulihan ketika anak sedang mengalami infeksi.
- Jika anak mengalami demam atau nyeri, berikan obat sesuai anjuran dokter atau dosis yang sesuai dengan usia dan berat badan anak.
- Jaga kebersihan telinga dan kulit kepala agar risiko infeksi tidak bertambah.
- Jangan memencet, menggaruk, atau mencoba mengeluarkan isi benjolan sendiri.
- Bila penyebabnya adalah infeksi bakteri, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik yang harus dihabiskan sesuai petunjuk.
- Pada kista atau lipoma yang mengganggu, dokter dapat menyarankan tindakan pengangkatan bila memang diperlukan.
- Lakukan kontrol sesuai jadwal apabila benjolan tidak kunjung mengecil atau justru bertambah besar.
Artikel lainnya: Gondongan pada Anak: Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksakan anak ke dokter apabila benjolan semakin besar dalam waktu singkat, terasa sangat nyeri, berwarna merah, mengeluarkan nanah, disertai demam tinggi, atau anak tampak lemas.
Pemeriksaan juga diperlukan bila benjolan menetap lebih dari dua hingga empat minggu, ukurannya lebih dari sekitar 2 cm, terasa sangat keras, atau sulit digerakkan saat disentuh.
Selain itu, jangan menunda pemeriksaan apabila benjolan muncul bersamaan dengan penurunan berat badan tanpa sebab, keringat malam berlebihan, telinga menonjol ke depan, atau anak mengalami gangguan pendengaran.
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bila diperlukan menyarankan pemeriksaan penunjang seperti USG atau tes darah untuk memastikan penyebabnya sehingga pengobatan dapat diberikan secara tepat.
Jika ingin mendapatkan lebih banyak informasi seputar kesehatan anak dan tumbuh kembang Si Kecil, download aplikasi HalloBumil yang menyediakan berbagai artikel terpercaya serta fitur kesehatan yang mudah digunakan oleh orang tua.
Agar tidak ketinggalan tips praktis dari dokter dan sesama orang tua, bergabunglah dengan komunitas WhatsApp HalloBumil. Di sana, Mama dapat berdiskusi, berbagi pengalaman, dan memperoleh informasi kesehatan yang telah dikurasi.
Jangan lewatkan juga event dan webinar kesehatan bersama para ahli. Melalui sesi edukatif ini, Mama bisa memperoleh informasi kesehatan Mama dan anak secara langsung serta mengajukan pertanyaan sesuai kondisi yang sedang dihadapi. Yuk, langsung daftarkan diri Mama di aplikasi HalloBumil sekarang juga!





:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
