:strip_icc():format(webp)/hb-article/t9GrPHdYtNrUXYyjy3_y4/original/0xenmzr1zdfnjxlud2bhhrn8am6mr9jj.png)
Saat Si Kecil mulai sering memasukkan tangan atau benda ke dalam mulut, menggigit-gigit mainan, dan mengeluarkan lebih banyak air liur, bisa jadi ia sedang memasuki fase tumbuh gigi.
Pada masa ini, gusi dapat terasa tidak nyaman sehingga bayi punya keinginan lebih kuat untuk mengunyah sesuatu. Salah satu benda yang sering digunakan untuk membantu memberikan rasa nyaman adalah teether bayi.
Lalu, apa itu teether bayi dan apakah benda ini benar-benar diperlukan? Teether merupakan mainan yang memang dirancang untuk digigit bayi sehingga dapat memberikan tekanan lembut pada gusi yang sedang terasa tidak nyaman. Mari ketahui selengkapnya tentang teether bayi di sini.
Artikel lainnya: Ciri-Ciri Si Kecil Tumbuh Gigi yang Mama Harus Tahu
Apa Fungsi Teether untuk Si Kecil?
Teether bukan obat untuk mengatasi tumbuh gigi, tetapi dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu Si Kecil melewati masa tersebut dengan lebih nyaman.
Ketika bayi menggigit benda yang sesuai, tekanan pada gusi dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman. Sensasi mengunyah juga sesuai dengan perilaku yang memang sering muncul ketika bayi sedang tumbuh gigi.
Membantu memberikan tekanan pada gusi
Salah satu manfaat teether bayi adalah memberikan tekanan lembut pada gusi yang sedang sensitif. Bayi dapat menggigit atau mengunyah teether sesuai kebutuhannya. Selain teether, Mama juga dapat membantu dengan memijat gusi menggunakan jari yang sudah dicuci bersih.
Membantu memenuhi keinginan bayi untuk menggigit
Pada fase tumbuh gigi, bayi memang cenderung lebih suka memasukkan benda ke mulut dan menggigitnya.
Teether dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai dibandingkan membiarkan Si Kecil menggigit benda sembarangan yang mungkin kotor, tajam, mudah pecah, atau berukuran terlalu kecil. Meski begitu, bayi tetap perlu diawasi selama menggunakan teether.
Kapan Teether Mulai Bisa Digunakan?
Tidak ada satu usia yang wajib menjadi patokan untuk semua bayi. Gigi pertama umumnya mulai muncul sekitar usia 6 bulan, tetapi waktu tumbuh gigi setiap anak dapat berbeda.
Beberapa bayi dapat menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman sebelum gigi terlihat, bahkan beberapa bulan sebelumnya. Untuk itu, penggunaan teether sebaiknya disesuaikan dengan tahap perkembangan Si Kecil dan petunjuk usia yang tercantum pada produk.
Mama dapat mempertimbangkan teether ketika Si Kecil sudah mampu menggenggam benda dengan cukup baik dan mulai menunjukkan keinginan untuk mengunyah. Namun, jangan hanya melihat usia pada kemasan.
Pastikan bentuk, ukuran, dan cara penggunaan memang sesuai untuk usia dan kemampuan bayi. Beberapa produk di pasaran memiliki rekomendasi usia yang berbeda, sehingga petunjuk dari produsen tetap perlu diperhatikan.
Cara Memilih Bahan, Bentuk, dan Ukuran
Memilih teether bayi bukan hanya soal bentuknya yang lucu atau warnanya yang menarik. Mengingat benda ini akan masuk ke mulut Si Kecil dan digigit berulang kali, keamanan material serta desainnya perlu menjadi pertimbangan utama.
Pilih produk yang memang dibuat untuk bayi, memiliki keterangan penggunaan yang jelas, dan mengikuti standar keamanan yang berlaku. Berikut tipsnya:
1. Pilih bahan yang kokoh dan sesuai peruntukannya
Teether dapat dibuat dari berbagai material, misalnya silikon atau karet. Yang paling penting, bahan tersebut harus memang ditujukan untuk produk bayi dan tidak mudah pecah, terlepas, atau menghasilkan bagian kecil ketika digigit. Mama juga perlu mengikuti petunjuk produsen mengenai cara mencuci, mensterilkan, serta menyimpan produk.
2. Perhatikan bentuk dan teksturnya
Pilih teether yang mudah digenggam oleh tangan kecil Si Kecil dan tidak memiliki bagian tajam. Tekstur yang berbeda dapat memberikan sensasi ketika digigit, tetapi permukaannya tetap harus aman untuk mulut bayi. Hindari produk dengan bagian kecil yang mudah terlepas karena dapat meningkatkan risiko tersedak.
3. Sesuaikan ukurannya
Ukuran teether perlu cukup besar agar tidak mudah masuk seluruhnya ke dalam mulut bayi. Sebelum diberikan, periksa juga apakah produk memiliki bagian yang dapat terlepas atau pecah ketika digigit. Teether yang sudah retak, robek, berlubang, atau mengalami kerusakan sebaiknya tidak digunakan lagi.
4. Hindari teether berisi cairan yang mudah bocor
Mama mungkin menemukan cooling teether yang berisi cairan. Jenis ini membutuhkan perhatian lebih karena jika permukaannya robek atau bocor, cairan di dalamnya dapat keluar dan bagian yang rusak dapat menimbulkan risiko bagi mulut bayi.
American Academy of Pediatrics juga mengingatkan tentang risiko teething toy berisi cairan yang dapat bocor atau memiliki bagian tajam setelah rusak.
Artikel lainnya: Kapan Bayi Tumbuh Gigi?
Bolehkah Teether Didinginkan?
Selama jenis teether tersebut memang dapat didinginkan dan petunjuk produknya memperbolehkannya, maka Mama bisa mendinginkannya. Teether yang dingin dari lemari es dapat membantu memberikan sensasi sejuk pada gusi yang terasa tidak nyaman.
Namun, jangan membekukan teether hingga menjadi keras seperti es di dalam freezer. Benda yang sangat keras dapat melukai gusi bayi, sedangkan suhu yang terlalu dingin juga dapat menyebabkan cedera pada jaringan mulut.
Jadi, kalau Mama ingin memberikan sensasi dingin, cukup simpan teether yang memang boleh didinginkan di dalam kulkas sesuai petunjuk produknya.
Hindari pula menggunakan teether yang sudah rusak setelah didinginkan. Untuk bayi, dingin boleh, tetapi tidak perlu sampai membeku keras, ya, Ma.
Cara Membersihkan dan Mensterilkan Teether
Karena teether masuk ke mulut dan sering jatuh atau berpindah dari tangan ke lantai, kebersihannya perlu diperhatikan. Cara membersihkan teether bayi sebenarnya bergantung pada material dan petunjuk dari produsennya.
Jangan langsung merebus atau memasukkan teether ke sterilizer sebelum memastikan metode tersebut memang diperbolehkan. Beberapa material dapat rusak jika terkena panas tinggi.
Secara umum, Mama dapat melakukan langkah berikut:
- Cuci tangan sebelum memegang dan membersihkan teether.
- Lepaskan bagian teether jika produk memang dapat dibongkar.
- Cuci dengan air dan sabun sesuai petunjuk produk.
- Bersihkan bagian bertekstur atau celah dengan teliti agar tidak ada kotoran yang tertinggal.
- Bilas hingga tidak ada sisa sabun.
- Biarkan teether kering dengan sendirinya di tempat yang bersih.
- Jika produk memang aman untuk disterilkan, ikuti metode sterilisasi yang direkomendasikan produsen, misalnya perebusan, uap, atau dishwasher.
- Jangan merebus atau mengukus cooling teether berisi cairan jika petunjuk produk melarangnya.
- Setelah kering, simpan di tempat yang bersih dan terlindung dari debu.
Prinsipnya, teether yang bersih dan benar-benar kering lebih baik daripada teether yang langsung disimpan dalam keadaan lembap.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga menekankan pentingnya membersihkan benda bayi dengan benar dan mengeringkannya secara menyeluruh untuk membantu mengurangi pertumbuhan kuman.
Artikel lainnya: Tahapan Tekstur MPASI Sesuai Usia Bayi
Tanda Teether Perlu Diganti
Tidak ada aturan bahwa semua teether harus diganti setelah jangka waktu tertentu. Yang lebih penting adalah kondisi fisiknya.
Mama sebaiknya memeriksa teether sebelum diberikan kepada Si Kecil, terutama jika sudah digunakan berulang kali. Kerusakan kecil sekalipun dapat menjadi lebih besar ketika terus digigit.
Segera hentikan penggunaan jika Mama menemukan:
- Ada retakan pada permukaan teether.
- Teether robek atau berlubang.
- Ada bagian yang terlepas atau hampir terlepas.
- Permukaan menjadi tajam atau kasar.
- Ada perubahan bentuk yang membuatnya tidak lagi aman digigit.
- Produk mengeluarkan cairan dari bagian yang rusak.
- Ada perubahan tekstur yang tidak biasa, misalnya menjadi lengket setelah dibersihkan.
- Teether sudah tidak dapat dibersihkan dengan baik.
Teether yang sudah rusak sebaiknya langsung dibuang dan tidak diberikan kembali kepada bayi meskipun kerusakannya terlihat kecil.
Pengawasan Mama tetap penting setiap kali Si Kecil menggunakan teether, karena benda yang digigit bayi tetap memiliki risiko tersedak atau cedera jika rusak.
Artikel lainnya: Cara Menyikat Gigi Anak dengan Aman dan Menyenangkan
Teether Bayi Apakah Aman?
Lalu, penggunaan teether bayi apakah aman? Pada dasarnya, teether yang memang dirancang untuk bayi dapat digunakan sebagai salah satu cara membantu Si Kecil merasa lebih nyaman saat tumbuh gigi, selama digunakan sesuai petunjuk dan selalu dalam pengawasan orang dewasa.
Keamanan bukan hanya ditentukan oleh bahan, tetapi juga oleh bentuk, ukuran, kondisi produk, serta cara penggunaannya.
Mama juga sebaiknya menghindari produk seperti kalung atau gelang tumbuh gigi yang dikenakan pada bayi. Produk tersebut memiliki risiko tersedak dan tercekik, sehingga bukan merupakan pilihan yang dianjurkan untuk meredakan ketidaknyamanan saat tumbuh gigi.
Obat oles gusi tertentu, terutama yang mengandung benzocaine atau lidocaine, juga tidak boleh digunakan sembarangan pada bayi karena dapat menimbulkan risiko serius.
Mama juga perlu ingat bahwa tidak semua keluhan pada masa tumbuh gigi disebabkan oleh gigi. Air liur lebih banyak, keinginan menggigit, dan gusi yang terasa tidak nyaman dapat muncul saat tumbuh gigi.
Namun, demam 38°C atau lebih, diare, kesulitan minum, atau kondisi Si Kecil yang semakin memburuk sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai efek tumbuh gigi dan perlu dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.
Teether bayi dapat menjadi teman kecil Si Kecil ketika mulai memasuki fase tumbuh gigi. Dengan memberikan tekanan lembut pada gusi, teether dapat membantu membuat bayi merasa lebih nyaman saat muncul keinginan untuk menggigit.
Namun, Mama tetap perlu memilih produk yang sesuai usia, ukurannya tidak mudah tertelan, bahannya aman, tidak mudah rusak, serta selalu mengawasi Si Kecil selama menggunakannya.
Jangan lupa, kebersihan juga sama pentingnya dengan pilihan produknya. Bersihkan teether secara rutin, ikuti petunjuk perawatan dari produsennya, dan segera ganti jika sudah retak, robek, bocor, atau mengalami kerusakan lainnya.
Dengan perhatian kecil seperti ini, Mama bisa menemani fase tumbuh gigi Si Kecil dengan lebih tenang dan nyaman.
Tumbuh gigi hanyalah salah satu dari banyak milestone yang akan Mama temui dalam perjalanan menjadi orang tua.
Supaya Mama punya teman untuk mengikuti setiap tahapnya, yuk download aplikasi Hallobumil dan registrasi di aplikasi ini untuk menemukan berbagai informasi kehamilan, bayi, hingga tumbuh kembang Si Kecil dalam satu tempat.
Kadang, pertanyaan sederhana seperti “teether ini aman nggak, ya?” justru lebih nyaman dibicarakan dengan Mama lain yang sedang melalui fase yang sama.
Coba gabung ke komunitas Hallobumil di WhatsApp dan bertukar cerita, pengalaman, serta informasi seputar perjalanan menjadi Mama.
Perjalanan menjadi orang tua selalu punya cerita baru, mulai dari persiapan kehamilan hingga menghadapi fase tumbuh gigi seperti sekarang.
Mama juga bisa mengikuti event dan webinar kesehatan untuk mendapatkan insight dan berdiskusi bersama para ahli mengenai kesehatan Mama dan Si Kecil.





:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
