:strip_icc():format(webp)/hb-article/8gSgqetAu86c1t7s7Vl8v/original/2ds6al5fuy92n9xp9ao7a80g6bru6w2c.png)
Ketika anak suka menggigit, Mama mungkin merasa bingung, khawatir, bahkan malu jika Si Kecil menggigit teman atau anggota keluarga.
Namun, perilaku menggigit cukup sering terjadi pada anak usia dini dan tidak selalu berarti Si Kecil akan tumbuh menjadi anak yang agresif.
Pada usia ini, kemampuan bahasa, pengendalian emosi, dan pemahaman tentang perilaku yang boleh atau tidak boleh dilakukan masih berkembang. Untuk itu, memahami penyebabnya dapat membantu Mama memberikan respons yang lebih tenang dan tepat.
Kenapa Anak Suka Menggigit?
Salah satu alasan kenapa anak suka menggigit adalah karena Si Kecil belum sepenuhnya mampu mengatur emosi dan perilakunya.
Anak usia toddler dan prasekolah dapat merasakan marah, kecewa, takut, atau frustrasi dengan sangat kuat, tetapi belum selalu memiliki kemampuan untuk menjelaskan perasaannya.
Ketika emosi terasa terlalu besar, anak dapat menunjukkannya melalui perilaku seperti menangis, berteriak, memukul, mendorong, atau menggigit.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), perilaku anak juga dapat menjadi salah satu bentuk komunikasi.
Ketika kemampuan bicara Si Kecil masih terbatas, ia mungkin menggunakan tindakan untuk menunjukkan bahwa dirinya marah, tidak nyaman, ingin sesuatu, atau membutuhkan perhatian.
Hal ini bukan berarti perilaku menggigit boleh dibiarkan, tetapi Mama perlu melihat kebutuhan di balik perilaku tersebut agar dapat mengajarkan cara komunikasi yang lebih tepat.
Artikel lainnya: Kenapa Orang Tua Sulit Mengerti Perasaan Anak? Ini Penyebabnya
Penyebab Anak Suka Menggigit Orang Lain
Penyebab anak suka menggigit orang lain dapat berbeda pada setiap anak. Mama bisa memperhatikan kapan perilaku tersebut muncul, siapa yang digigit, serta apa yang terjadi beberapa saat sebelumnya.
Pola tersebut dapat membantu Mama mengetahui apakah gigitan lebih sering muncul ketika anak frustrasi, lelah, kewalahan, berebut sesuatu, atau sedang mengalami ketidaknyamanan fisik. Berikut beberapa alasan kenapa anak suka menggigit:
Belum mampu menyampaikan emosi dengan kata-kata
Anak yang kemampuan bicaranya masih berkembang mungkin kesulitan mengatakan, “Aku marah,” “Aku tidak mau,” atau “Itu mainanku.” Ketika kata-kata belum cukup untuk menyampaikan maksudnya, anak dapat menggunakan tindakan sebagai bentuk komunikasi.
Inilah salah satu alasan anak suka menggigit, terutama ketika ia berada dalam situasi yang membuatnya kesal atau tidak nyaman.
Sebagai contoh, Si Kecil sedang bermain bersama temannya, lalu mainannya diambil. Ia mungkin belum mampu mengatakan bahwa dirinya kecewa sehingga spontan menggigit.
Mama dapat membantu dengan mengenalkan kata-kata sederhana seperti “marah”, “sedih”, “tidak mau”, “gantian”, atau “tolong”. Memberikan kosakata untuk emosi dapat membantu anak perlahan menyampaikan perasaan dengan cara yang lebih aman.
Artikel lainnya: Cara Mengatasi Anak Tantrum dengan Tenang
Frustrasi, lelah, atau overstimulasi
Frustrasi merupakan salah satu kondisi yang dapat membuat emosi anak menjadi lebih sulit dikendalikan. Misalnya, Si Kecil ingin terus bermain tetapi sudah waktunya pulang, tidak berhasil melakukan sesuatu yang diinginkan, atau harus berbagi mainan dengan anak lain.
Pada usia dini, anak masih belajar menghadapi situasi seperti ini sehingga reaksinya terkadang terlihat sangat kuat.Kelelahan, rasa lapar, atau terlalu banyak rangsangan juga dapat membuat anak lebih mudah kewalahan.
Mama bisa memperhatikan apakah perilaku menggigit lebih sering terjadi ketika Si Kecil mengantuk, belum makan, terlalu lama bermain, atau berada di lingkungan yang ramai.
Rutinitas yang cukup teratur dapat membantu anak mengetahui apa yang akan terjadi dan membuatnya merasa lebih aman.
Kebutuhan oral atau fase tumbuh gigi
Pada bayi dan toddler yang sedang tumbuh gigi, keinginan untuk menggigit atau mengunyah sesuatu dapat meningkat. Gusi yang terasa tidak nyaman membuat sebagian anak lebih sering mengunyah benda di sekitarnya.
Kondisi ini dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika Mama mencari alasan anak suka menggigit.Jika Si Kecil sedang tumbuh gigi, Mama dapat memberikan benda yang memang aman untuk dikunyah dan sesuai dengan usia anak.
Namun, jika anak sudah lebih besar atau perilaku menggigit selalu muncul dalam situasi emosional tertentu, jangan langsung menganggap kebutuhan oral sebagai satu-satunya penyebab.
Perhatikan juga pemicu lain seperti frustrasi, konflik dengan teman, atau kesulitan menyampaikan keinginan.
Cara Mengatasi Anak Suka Menggigit
Cara mengatasi anak suka menggigit sebaiknya tidak hanya berfokus pada menghentikan gigitan. Mama juga perlu membantu Si Kecil memahami bahwa tindakannya dapat menyakiti orang lain sekaligus mengajarkan cara yang lebih tepat untuk menyampaikan kebutuhan.
Respons yang tenang, jelas, dan konsisten dapat membantu anak memahami batasan perilaku secara bertahap. Berikut tips menghadapinya:
1. Hentikan perilaku dengan tenang dan tegas
Ketika Si Kecil menggigit, segera hentikan perilakunya dan pastikan orang yang digigit berada dalam kondisi aman.
Mama dapat mengatakan dengan kalimat singkat, “Tidak boleh menggigit. Gigitan membuat orang sakit,”. Tidak perlu berteriak atau memberikan penjelasan panjang saat anak masih sangat emosi karena ia mungkin belum mampu menerima banyak informasi dalam kondisi tersebut.
Mama juga sebaiknya tidak menggigit balik, memukul, atau melakukan tindakan fisik sebagai bentuk hukuman.
Anak dapat menangkap pesan bahwa menyakiti orang lain adalah cara yang dapat digunakan ketika sedang marah. Sebaliknya, berikan batas yang jelas dan konsisten bahwa menggigit bukan perilaku yang boleh dilakukan.
2. Validasi emosi tanpa membenarkan perilaku
Mama dapat mengakui perasaan anak tanpa membenarkan perilaku menggigit. Misalnya, “Mama tahu kamu marah karena mainannya diambil. Marah boleh, tapi menggigit tidak boleh,”. Dengan cara ini, anak belajar bahwa perasaannya tetap diterima, tetapi ada batas mengenai cara ia mengekspresikannya.
Setelah Si Kecil lebih tenang, Mama dapat membantu menamai emosi yang tadi dirasakan. Kalimat sederhana seperti “Tadi kamu kesal, ya?” atau “Kamu sedih karena harus berhenti bermain?” dapat membantu anak mengenali hubungan antara perasaan dan kata-kata.
Seiring waktu, kemampuan ini dapat menjadi bekal bagi anak untuk mengungkapkan emosi tanpa menyakiti orang lain.
Artikel lainnya: Tips Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak
3. Ajarkan cara lain untuk menyampaikan kebutuhan
Setelah perilaku menggigit dihentikan, ajarkan alternatif yang dapat dilakukan anak. Mama bisa melatih Si Kecil mengatakan “gantian”, “punyaku”, “tidak mau”, “tolong”, atau “aku marah”. Untuk anak yang masih kecil, gunakan kalimat pendek dan sederhana agar mudah dipahami dan ditiru.
Mama juga bisa memberikan pujian ketika anak berhasil menggunakan cara yang tepat. Misalnya, “Mama senang kamu bilang tidak mau, bukan menggigit,”.
Pujian yang spesifik membantu anak mengetahui perilaku apa yang diharapkan dan dapat mendorongnya mengulangi perilaku positif tersebut.
Apa yang Sebaiknya Tidak Dilakukan Orang Tua?
Menghadapi anak yang suka menggigit memang dapat membuat Mama spontan merasa marah. Namun, respons orang tua tetap perlu mempertimbangkan usia dan kemampuan anak dalam mengatur emosi.
Tujuannya bukan sekadar membuat anak takut menggigit, melainkan membantu Si Kecil memahami batasan dan belajar melakukan tindakan yang lebih tepat.
Beberapa hal yang sebaiknya Mama hindari, antara lain:
- Jangan menggigit anak sebagai balasan. Anak perlu melihat bahwa orang dewasa menyelesaikan konflik tanpa menyakiti.
- Jangan memukul atau berteriak secara berlebihan. Respons yang keras dapat memperburuk hubungan dan tidak mengajarkan keterampilan regulasi emosi.
- Jangan melabeli anak sebagai “anak nakal” atau “anak galak”. Fokuskan koreksi pada perilakunya, bukan pada identitas anak.
- Jangan mempermalukan Si Kecil di depan orang lain. Anak tetap membutuhkan rasa aman ketika sedang belajar mengelola perilaku.
- Jangan mengabaikan gigitan yang membahayakan. Perilaku yang dapat menyakiti diri sendiri atau orang lain perlu dihentikan segera.
- Jangan hanya memberikan hukuman tanpa mencari pemicunya. Perhatikan apakah anak sedang lelah, lapar, frustrasi, kewalahan, atau kesulitan berkomunikasi.
Artikel lainnya: Cara Memperbaiki Mental Anak yang Sering Dimarahi
Kapan Kebiasaan Menggigit Perlu Dievaluasi?
Kebiasaan menggigit dapat muncul pada fase tertentu dalam perkembangan anak. Namun, Mama sebaiknya mempertimbangkan konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan jika perilaku tersebut sangat sering terjadi, semakin berat, menyebabkan cedera, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau tetap berlangsung meskipun Mama sudah mencoba memberikan batasan dan alternatif secara konsisten.
Evaluasi juga penting jika kebiasaan menggigit disertai kekhawatiran lain mengenai perkembangan anak, misalnya kemampuan komunikasi, interaksi sosial, bermain, atau kemampuan lain yang sebelumnya sudah dimiliki.
Pemantauan perkembangan membantu orang tua dan tenaga kesehatan melihat apakah anak mencapai kemampuan sesuai tahap perkembangannya dan apakah diperlukan dukungan tambahan.
Mama dapat mencatat kapan Si Kecil menggigit, apa yang terjadi sebelum kejadian, siapa yang digigit, serta bagaimana respons orang di sekitarnya.
Informasi tersebut dapat membantu dokter memahami pola perilaku anak dan menentukan apakah ada faktor tertentu yang perlu diperhatikan lebih lanjut.
Anak suka menggigit bukan berarti Si Kecil adalah anak nakal atau pasti akan tumbuh menjadi anak agresif. Pada usia dini, menggigit dapat berkaitan dengan emosi yang kuat, keterbatasan kemampuan bahasa, frustrasi, kelelahan, kebutuhan oral, atau fase tumbuh gigi.
Dengan memahami penyebab anak suka menggigit, Mama dapat memberikan respons yang lebih sesuai dengan kebutuhan Si Kecil.
Cara mengatasi anak suka menggigit dapat dimulai dengan menghentikan perilakunya secara tenang, menetapkan batas yang jelas, memvalidasi emosi tanpa membenarkan gigitan, kemudian mengajarkan cara lain untuk menyampaikan kebutuhan.
Perubahan mungkin tidak terjadi dalam satu atau dua kali percobaan, jadi konsistensi dan kesabaran Mama tetap penting dalam prosesnya.
Kalau Mama sedang menemani Si Kecil melewati berbagai fase tumbuh kembang, jangan merasa harus mencari jawabannya sendirian.
Download aplikasi Hallobumil untuk menemukan berbagai informasi seputar kehamilan, bayi, dan tumbuh kembang yang dapat menemani Mama dalam perjalanan menjadi orang tua.
Saat ingin bertukar cerita dengan Mama lainnya, gabung ke komunitas Hallobumil di WhatsApp. Dari cerita tentang anak yang mulai belajar berbagi sampai menghadapi fase emosi yang naik turun, Mama bisa menemukan ruang untuk saling berbagi pengalaman dan mendapatkan dukungan.
Untuk Mama yang ingin belajar langsung bersama tenaga ahli, ikuti event dan webinar kesehatan. Berbagai topik seputar kesehatan Mama dan anak bisa menjadi kesempatan untuk menambah wawasan sekaligus mendapatkan jawaban atas hal-hal yang sering membuat Mama bertanya-tanya. Yuk, langsung registrasi di aplikasi Hallobumil sekarang juga!




:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
