:strip_icc():format(webp)/hb-article/6hyyNssJ7nRz2hOMXpe9M/original/y4rvhbjuezm7jkjwi6kcyld2y82hucj7.png)
Pernahkah Mama merasa sudah melakukan yang terbaik untuk anak, tetapi si kecil justru mengatakan, "Mama nggak ngerti aku"? Situasi seperti ini memang bisa membuat orang tua bingung.
Namun, pertanyaan kenapa orang tua tidak mengerti perasaan anak sebenarnya tidak selalu berarti Mama tidak peduli. Sering kali, orang tua dan anak memiliki cara berbeda dalam melihat serta menyampaikan emosi.
Anak juga masih belajar mengenali apa yang ia rasakan, sementara orang tua mungkin terbiasa langsung mencari solusi ketika melihat anak menghadapi masalah.
Memahami perasaan anak bukan berarti selalu menyetujui semua perilakunya. Mama tetap bisa memberikan batasan sambil menunjukkan bahwa emosi anak didengar dan diterima.
Respons orang tua terhadap emosi anak menjadi bagian penting dalam proses anak belajar mengatur emosinya sendiri.
Artikel lainnya: Cara Mengendalikan Emosi pada Anak agar Lebih Tenang
Kenapa Orang Tua Sering Tidak Menyadari Perasaan Anaknya?
Ada banyak alasan mengapa orang tua yang tidak mengerti perasaan anak bisa muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Bukan selalu karena kurang kasih sayang, melainkan karena pola komunikasi, pengalaman masa kecil, kondisi emosi orang tua, hingga cara anak menunjukkan perasaannya.
1. Orang tua terbiasa menganggap masalah anak sebagai hal sepele
Bagi orang dewasa, masalah seperti bertengkar dengan teman, tidak diajak bermain, kalah dalam permainan, atau mendapat nilai kurang bagus mungkin terlihat sederhana.
Mama mungkin berpikir, "Nanti juga lupa." Namun, bagi anak, kejadian tersebut dapat terasa sangat besar karena kemampuan mereka memahami dan mengelola emosi masih berkembang.
Ketika respons yang diterima hanya berupa, "Ah, begitu saja kok menangis," anak dapat merasa bahwa emosinya tidak penting.
Padahal, penelitian yang dipublikasikan oleh National Institute of Health (NIH) menunjukkan bahwa respons orang tua terhadap emosi anak ikut berperan dalam perkembangan kemampuan regulasi emosi.
Mendengarkan bukan berarti membesar-besarkan masalah, tetapi memberi kesempatan kepada anak untuk belajar memahami apa yang sedang ia rasakan.
2. Orang tua lebih fokus pada perilaku daripada perasaan
Ketika anak berteriak, membanting barang, atau menangis, perhatian orang tua biasanya langsung tertuju pada perilakunya.
Mama mungkin segera mengatakan, "Jangan berteriak!" atau "Berhenti menangis!" Padahal, perilaku tersebut bisa menjadi cara anak menunjukkan emosi yang belum mampu ia jelaskan dengan kata-kata.
Anak tetap perlu belajar bahwa perilaku tertentu tidak boleh dilakukan. Namun, batasan tersebut dapat diberikan setelah emosinya dikenali.
Misalnya, "Mama tahu kamu marah karena mainannya diambil. Marah boleh, tapi tidak boleh memukul." Pendekatan seperti ini membantu anak membedakan antara memiliki emosi dan mengekspresikannya. dengan cara yang aman.
3. Orang tua membawa pengalaman masa kecilnya sendiri
Cara Mama merespons emosi anak juga bisa dipengaruhi oleh pengalaman ketika Mama masih kecil. Jika dahulu menangis sering dianggap sebagai tanda lemah atau marah selalu diminta untuk diam, tanpa disadari pola tersebut dapat terbawa ketika Mama membesarkan anak.
Padahal, kemampuan mengatur emosi pada anak berkembang melalui hubungan dengan orang-orang terdekat, termasuk melalui contoh yang mereka lihat setiap hari.
Oleh karena itu, orang tua tidak harus selalu sempurna. Justru, Mama dapat mulai mengubah pola lama dengan belajar mengatakan, "Mama tahu kamu sedang kecewa," sekaligus menunjukkan bahwa emosi boleh dibicarakan.
Artikel lainnya: Aktivitas Bonding dengan Anak yang Seru dan Bermakna
4. Orang tua sedang lelah atau kewalahan
Menjadi orang tua membutuhkan energi fisik dan emosional yang besar. Ketika Mama sedang lelah, terburu-buru, banyak pekerjaan, atau menghadapi masalah pribadi, kemampuan untuk merespons emosi anak dengan tenang juga dapat ikut terpengaruh.
Menurut National Institute of Health (NIH), regulasi emosi orang tua berhubungan dengan bagaimana orang tua merespons dan membantu anak mengelola emosinya.
Jadi, jika suatu hari Mama kehilangan kesabaran, bukan berarti Mama adalah orang tua yang buruk. Yang penting adalah menyadari apa yang terjadi dan memperbaiki hubungan setelahnya.
Mama bisa berkata, "Tadi Mama terlalu marah. Maaf ya. Mama mau dengar cerita kamu sekarang." Perbaikan seperti ini dapat menjadi contoh nyata bagi anak tentang bagaimana menghadapi kesalahan dan emosi.
5. Anak tidak selalu mengungkapkan perasaannya dengan jelas
Tidak semua anak akan mengatakan, "Aku sedih karena merasa tidak dianggap." Sebagian anak justru menjadi lebih pendiam, mudah marah, menolak makan, sulit diajak bekerja sama, atau tiba-tiba menangis.
Pada usia tertentu, kemampuan anak untuk mengenali dan memberi nama pada emosi memang masih berkembang.
Untuk itu, Mama perlu melihat perubahan perilaku sebagai kemungkinan sinyal bahwa ada sesuatu yang sedang dirasakan anak.
Tidak berarti setiap perubahan perilaku pasti menunjukkan masalah emosional, tetapi memberi ruang untuk bertanya dengan lembut dapat membantu.
Pertanyaan terbuka seperti, "Hari ini ada sesuatu yang bikin kamu nggak nyaman?" biasanya lebih mengundang cerita daripada pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak".
6. Orang tua terlalu cepat memberikan solusi
Saat anak bercerita, naluri Mama mungkin langsung ingin membantu. Begitu anak mengeluh tentang temannya, misalnya, Mama langsung memberi saran tentang apa yang harus dilakukan.
Padahal, terkadang anak sebenarnya hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan sampai selesai. Respons yang mendukung dan memberi ruang untuk membicarakan emosi dapat membantu proses perkembangan regulasi emosi anak.
Cobalah menahan diri sejenak sebelum memberikan solusi. Mama bisa mengatakan, "Kedengarannya kamu kecewa banget, ya," lalu bertanya, "Mau cerita dari awal?" Dengan begitu, anak belajar bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk membicarakan perasaannya, bukan hanya tempat untuk mendapatkan nasihat.
Artikel lainnya: Cara Memperbaiki Pola Asuh Anak yang Kurang Tepat
Apa Akibatnya Jika Perasaan Anak Terus Diabaikan?
Jika perasaan anak terus dianggap sepele atau selalu ditekan, anak dapat kehilangan kesempatan untuk belajar mengenali dan mengatur emosinya dengan sehat.
Akibat orang tua tidak mengerti perasaan anak juga dapat berbeda pada setiap anak, sehingga tidak tepat jika satu dampak dianggap pasti terjadi pada semua anak.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Anak menjadi kesulitan mengenali emosinya sendiri. Ia mungkin tahu bahwa dirinya "tidak enak hati", tetapi kesulitan menjelaskan apakah ia sedih, kecewa, takut, atau marah.
- Anak memilih memendam perasaan. Jika setiap kali bercerita justru dimarahi atau diremehkan, anak bisa menjadi enggan terbuka kepada orang tua.
- Anak dapat kesulitan mengatur emosi. Penelitian menunjukkan bahwa pola pengasuhan dan respons terhadap emosi anak berkaitan dengan perkembangan regulasi emosi.
- Hubungan orang tua dan anak dapat terasa semakin berjarak. Kualitas hubungan dan rasa aman dalam keterikatan orang tua-anak berhubungan dengan kemampuan anak mengalami, mengekspresikan, dan mengatur emosi.
- Risiko munculnya masalah emosional dapat meningkat dalam kondisi tertentu. Beberapa faktor keluarga dan pola sosialisasi emosi yang tidak mendukung berkaitan dengan gejala internalisasi pada anak dan remaja.
Artikel lainnya: 19 Jenis Pola Asuh Anak yang Perlu Mama Ketahui
Apa Bedanya Meredam Emosi Anak dan Mendampingi Emosinya?
Meredam emosi berarti berusaha membuat anak berhenti menunjukkan perasaan secepat mungkin. Contohnya, "Sudah, jangan nangis," "Kamu kan anak besar," atau "Jangan marah begitu."
Kalimat seperti ini mungkin membuat suasana lebih tenang sesaat, tetapi anak belum tentu memahami apa yang sebenarnya ia rasakan. Respons yang tidak mendukung terhadap emosi juga dapat berkaitan dengan kesulitan regulasi emosi pada anak.
Sementara itu, mendampingi emosi berarti membantu anak mengenali, menamai, dan memahami perasaannya tanpa membiarkan perilaku yang tidak aman.
Mama dapat mengatakan, "Mama tahu kamu marah karena adik mengambil mainanmu. Kamu boleh marah, tapi tidak boleh memukul." Pendekatan ini menunjukkan bahwa emosi anak valid, tetapi tetap ada batasan terhadap perilakunya.
Jadi, cara agar orang tua mengerti perasaan anak bukan dengan selalu menuruti keinginannya.
Justru, Mama dapat tetap tegas sambil hangat. Anak belajar bahwa kecewa itu boleh, marah itu boleh, menangis juga boleh, tetapi semua perasaan tersebut perlu disalurkan dengan cara yang aman.
Artikel lainnya: Cara Memperbaiki Mental Anak yang Sering Dimarahi
Bagaimana Cara Orang Tua Mulai Memahami Perasaan Anak?
Memahami anak tidak harus dimulai dari percakapan panjang. Sering kali, perubahan kecil dalam cara Mama merespons sudah menjadi langkah yang berarti. Bagaimana cara orang tua memahami perasaan anak? Mama bisa mencoba beberapa langkah berikut:
- Dengarkan sampai anak selesai bercerita. Hindari langsung memotong dengan nasihat atau membandingkannya dengan pengalaman anak lain.
- Berikan nama pada emosinya. Misalnya, "Kamu kelihatannya kecewa, ya," atau "Sepertinya kamu sedang kesal." Membantu anak memberi nama pada emosi merupakan bagian dari emotion coaching.
- Validasi perasaannya. Katakan bahwa perasaan tersebut dapat dipahami tanpa harus membenarkan perilaku yang salah.
- Gunakan pertanyaan terbuka. "Apa yang terjadi?" atau "Bagian mana yang bikin kamu sedih?" dapat membantu anak bercerita lebih banyak.
- Perhatikan perubahan kecil. Anak tidak selalu mengatakan bahwa dirinya sedang mengalami masalah. Perubahan pola tidur, perilaku, atau interaksi perlu diperhatikan dalam konteks keseluruhan kondisi anak.
- Belajar mengelola emosi Mama sendiri. Anak juga belajar dari cara orang tua menghadapi frustrasi, marah, dan kecewa.
- Sediakan waktu khusus untuk terhubung. Tidak harus selalu dalam sesi ngobrol serius. Mengobrol saat perjalanan, makan bersama, atau sebelum tidur dapat menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi.
Pada akhirnya, memahami anak adalah proses yang terus berjalan. Ada hari ketika Mama berhasil mendengarkan dengan sabar, tetapi ada pula hari ketika Mama terlalu lelah dan kehilangan kesabaran. Tidak apa-apa. Yang penting, Mama terus belajar mengenali dunia kecil yang sedang dibangun oleh anak di dalam dirinya.
Hubungan yang hangat dan respons yang mendukung dapat menjadi salah satu fondasi penting bagi perkembangan kemampuan anak dalam mengelola emosi.
Kalau Mama sedang belajar memahami tumbuh kembang dan kebutuhan si kecil dari hari ke hari, yuk, unduh aplikasi Hallobumil dan registrasi data diri Mama untuk menemukan berbagai informasi yang bisa membantu Mama lebih siap mendampingi setiap tahap perkembangan anak.
Kadang, menjadi Mama terasa lebih ringan ketika punya tempat untuk bercerita. Langsung gabung ke komunitas Hallobumil di WhatsApp dan temukan ruang untuk berbagi pengalaman, bertanya, serta saling menguatkan bersama Mama lainnya.
Mama juga bisa mengikuti event kesehatan untuk mendapatkan wawasan seputar kehamilan, anak, dan parenting sekaligus bertemu dengan sesama Mama yang sedang menjalani perjalanan serupa.




:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
