:strip_icc():format(webp)/hb-article/ioWGrrFp5Py4WAaGDcloQ/original/4v7vdsy8ez68r7ujaob3tq79kl7a16in.png)
Anak membutuhkan lingkungan yang membuatnya merasa aman, dihargai, dan dicintai agar dapat berkembang dengan baik.
Namun, kebiasaan memarahi anak secara terus-menerus, terutama dengan kata-kata yang menyakitkan atau tindakan fisik, dapat memengaruhi kondisi emosionalnya.
Untuk itu, penting bagi Mama dan Papa memahami cara memperbaiki mental anak yang sering dimarahi agar luka emosional yang muncul dapat perlahan dipulihkan.
Tidak semua orang tua bermaksud menyakiti anak ketika marah. Terkadang rasa lelah, stres, atau tekanan sehari-hari membuat emosi sulit dikendalikan.
Meski begitu, Si Kecil tetap membutuhkan pendekatan yang lembut agar ia dapat belajar dari kesalahan tanpa merasa takut atau kehilangan kepercayaan dirinya.
Selain memahami cara memperbaiki mental anak yang sering dimarahi, orang tua juga perlu mengetahui cara membangun kembali hubungan yang lebih sehat dengan anak.
Artikel lainnya: Apa Itu Toxic Parenting? Kenali Tanda dan Dampaknya
Apa Dampak Sering Dimarahi bagi Kondisi Mental Anak?
Sering dimarahi dapat membuat anak merasa tertekan dan memengaruhi cara mereka melihat dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar.
Anak yang terus mendapatkan respons keras dari orang tua bisa menjadi lebih mudah takut, cemas, atau merasa dirinya tidak cukup baik. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu perkembangan emosi dan hubungan sosial anak.
Beberapa dampak yang dapat muncul pada anak yang sering dimarahi antara lain:
- Rasa percaya diri menurun karena anak merasa sering melakukan kesalahan dan takut mengecewakan orang tua.
- Anak menjadi lebih tertutup karena khawatir mengungkapkan perasaan atau pendapatnya akan membuatnya kembali dimarahi.
- Muncul rasa takut dan cemas terutama ketika berada dalam situasi yang dianggap dapat memicu kemarahan orang tua.
- Sulit mengelola emosi karena anak tidak mendapatkan contoh cara menyelesaikan masalah dengan tenang.
- Perilaku menjadi lebih agresif atau justru menarik diri (menjadi sangat penurut karena takut) sebagai bentuk respons terhadap tekanan emosional.
- Hubungan anak dan orang tua menjadi renggang karena anak merasa kurang mendapatkan rasa aman.
Namun, Mama dan Papa perlu ingat bahwa kondisi ini dapat dipulihkan. Selama anak masih dalam masa tumbuh kembang dan orang tua mau mengubah pola asuhnya, ikatan yang sempat rusak sangat mungkin diperbaiki kembali.
Bagaimana Cara Memperbaiki Mental Anak yang Sering Dimarahi?
Memperbaiki kondisi mental anak setelah sering dimarahi membutuhkan proses yang bertahap. Mama perlu membangun kembali rasa aman, menunjukkan kasih sayang, serta memperbaiki pola komunikasi di rumah. Anak mungkin membutuhkan waktu untuk kembali percaya bahwa dirinya tetap dicintai meskipun pernah melakukan kesalahan.
Berikut beberapa cara memperbaiki mental anak yang sering dimarahi yang dapat dilakukan orang tua:
1. Bangun komunikasi yang penuh empati
Komunikasi menjadi langkah pertama untuk membantu anak merasa didengar dan dipahami. Setelah sering mengalami teguran keras, anak mungkin merasa takut berbicara karena khawatir akan mendapatkan respons negatif. Untuk itu, Mama perlu mulai membuka ruang percakapan yang lebih hangat.
Cobalah mendengarkan cerita anak tanpa langsung menyalahkan atau memberikan hukuman. Gunakan kalimat yang menunjukkan kepedulian seperti, “Mama ingin tahu apa yang terjadi” atau “Papa ingin memahami perasaan kamu” Cara ini membantu si Kecil merasa bahwa pendapat dan emosinya memiliki nilai.
2. Berikan pelukan dan sentuhan penuh kasih
Pelukan, genggaman tangan, atau sentuhan lembut dapat membantu anak kembali merasakan kedekatan emosional dengan Mama dan Papa.
Bagi anak yang sering dimarahi, kasih sayang secara fisik dapat menjadi tanda bahwa dirinya tetap diterima dan disayangi.
Tidak perlu menunggu anak melakukan sesuatu yang membanggakan untuk memberikan perhatian. Kebiasaan sederhana seperti memeluk sebelum tidur atau mengusap kepala ketika berbicara dapat memperkuat hubungan emosional antara anak dan orang tua.
Artikel Lainnya: Pengertian Gentle Parenting dan Prinsip Dasarnya
3. Minta maaf ketika orang tua melakukan kesalahan
Orang tua juga bisa melakukan kesalahan, termasuk ketika emosi tidak terkendali. Meminta maaf kepada anak bukan berarti kehilangan wibawa, tetapi justru memberikan contoh bahwa setiap orang perlu bertanggung jawab atas perilakunya.
Ketika Mama meminta maaf dengan tulus, anak belajar bahwa hubungan yang sehat membutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Hal ini juga membantu anak memahami bahwa konflik tidak selalu berarti hilangnya kasih sayang.
4. Kendalikan emosi sebelum menegur anak
Sebelum memberikan teguran, orang tua sebaiknya memastikan kondisi emosinya sudah lebih stabil. Menegur anak saat sedang marah sering kali membuat kata-kata yang keluar menjadi lebih keras daripada maksud sebenarnya.
Mengambil jeda beberapa saat, menarik napas dalam, atau meninggalkan situasi sebentar dapat membantu orang tua berpikir lebih tenang. Dengan begitu, pesan yang ingin disampaikan kepada anak dapat diterima tanpa membuatnya merasa takut.
5. Libatkan anak dalam mencari solusi
Anak perlu belajar bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya, tetapi kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Daripada hanya memarahi ketika anak melakukan kesalahan, ajak ia berdiskusi mengenai solusi yang bisa dilakukan.
Misalnya, ketika anak menumpahkan makanan, Mama dapat mengajarkan cara membersihkan meja bersama-sama. Pendekatan seperti ini membantu anak belajar bertanggung jawab tanpa merasa dirinya adalah anak yang buruk.
Artikel Lainnya: Tantangan Parenting di Era Digital dan Solusinya
6. Berikan apresiasi atas usaha anak
Anak yang sering dimarahi terkadang lebih banyak mendengar tentang kesalahan yang dilakukan dibandingkan hal baik yang sudah ia kerjakan.
Kondisi ini dapat membuat anak merasa bahwa dirinya tidak pernah cukup baik. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mulai memberikan apresiasi terhadap usaha kecil yang dilakukan anak.
Apresiasi tidak harus selalu berupa hadiah. Ucapan sederhana seperti “Terima kasih sudah mencoba” atau “Mama bangga kamu mau memperbaiki kesalahan” dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri anak. Ketika anak merasa dihargai, ia akan lebih termotivasi untuk belajar dan berkembang.
7. Hindari memberikan label negatif pada anak
Memberikan label seperti “nakal”, “malas”, atau “tidak bisa diatur” dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri. Anak yang sering mendengar kata-kata negatif berisiko mempercayai bahwa dirinya memang memiliki sifat tersebut.
Sebagai gantinya, fokuskan teguran pada perilaku, bukan kepribadian anak. Daripada mengatakan “Kamu anak nakal”, orang tua dapat mengatakan “Perilaku memukul teman tidak boleh dilakukan karena bisa menyakiti orang lain”. Cara ini membantu anak memahami kesalahan tanpa merasa dirinya ditolak.
8. Luangkan waktu berkualitas bersama anak
Anak yang sering dimarahi membutuhkan pengalaman positif untuk membangun kembali rasa aman dalam hubungan dengan orang tua.
Salah satu cara yang disarankan UNICEF adalah menyediakan waktu khusus untuk bermain, berbicara, atau melakukan aktivitas bersama.
Waktu berkualitas tidak harus dilakukan dalam waktu lama. Aktivitas sederhana seperti membaca buku bersama, memasak, atau berjalan santai dapat membuat anak merasa diperhatikan. Hubungan yang hangat membantu memperbaiki luka emosional akibat pengalaman negatif sebelumnya.
Artikel Lainnya: Aktivitas Bonding dengan Anak yang Seru dan Bermakna
9. Ajarkan anak mengenali dan mengungkapkan emosi
Anak yang sering dimarahi bisa menjadi bingung dalam memahami perasaannya sendiri. Ia mungkin memilih diam, menangis berlebihan, atau menunjukkan perilaku tertentu karena belum mengetahui cara mengekspresikan emosi dengan sehat.
Mama dapat membantu anak mengenali emosinya dengan mengajarkan nama-nama perasaan seperti sedih, kecewa, takut, atau marah.
Ketika anak mampu memahami emosinya, ia akan lebih mudah belajar mengendalikan reaksi dan mencari solusi ketika menghadapi masalah.
10. Terapkan disiplin positif tanpa kekerasan
Disiplin tetap diperlukan agar anak memahami batasan dan aturan. Namun, disiplin tidak harus dilakukan dengan bentakan, ancaman, atau hukuman fisik.
Pendekatan disiplin positif lebih menekankan pada pengajaran dan membimbing anak memahami konsekuensi dari perilakunya.
Jika anak melakukan kesalahan, orang tua dapat menjelaskan alasan aturan tersebut dan membantu anak memperbaiki kesalahan. Cara ini membuat anak belajar bertanggung jawab tanpa merasa takut terhadap orang tua.
11. Ciptakan suasana rumah yang lebih aman dan nyaman
Lingkungan rumah memiliki pengaruh besar terhadap kondisi emosional anak. Anak yang terbiasa berada dalam suasana penuh tekanan dapat menjadi lebih waspada dan sulit merasa tenang.
Orang tua dapat mulai menciptakan suasana rumah yang lebih positif dengan mengurangi konflik di depan anak, membangun kebiasaan berbicara dengan lembut, serta memberikan ruang bagi anak untuk merasa diterima.
12. Dengarkan perasaan anak tanpa menghakimi
Ketika anak mulai menceritakan perasaannya, Mama sebaiknya memberikan perhatian penuh. Hindari langsung memotong pembicaraan atau mengatakan bahwa perasaan anak berlebihan.
Mendengarkan dengan empati membuat anak merasa aman untuk terbuka. Hal ini penting terutama bagi anak yang sebelumnya terbiasa menerima kemarahan karena ia perlu memahami bahwa orang tua adalah tempat yang nyaman untuk bercerita.
13. Ajarkan cara menyelesaikan konflik dengan tenang
Anak belajar banyak dari cara orang tua menghadapi masalah. Jika anak sering melihat konflik diselesaikan dengan teriakan atau kemarahan, ia dapat meniru pola tersebut ketika menghadapi situasi sulit.
Orang tua dapat memberikan contoh dengan berbicara secara tenang, menjelaskan masalah, dan mencari solusi bersama. Kebiasaan ini membantu anak mengembangkan kemampuan mengatur emosi dan menyelesaikan konflik secara sehat.
14. Berikan kesempatan anak untuk membuat pilihan
Anak yang sering dimarahi dapat merasa bahwa dirinya tidak memiliki kendali atas banyak hal. Memberikan kesempatan memilih dalam hal sederhana dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri dan kemandiriannya.
Contohnya, orang tua dapat memberikan pilihan pakaian yang ingin digunakan atau aktivitas yang ingin dilakukan setelah tugas selesai. Dengan begitu, anak belajar bertanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat.
15. Perbaiki cara memberikan teguran
Teguran tetap dapat diberikan ketika anak melakukan kesalahan, tetapi cara penyampaiannya perlu diperhatikan. Hindari membentak, mempermalukan anak, atau membandingkannya dengan anak lain.
Gunakan kalimat yang menjelaskan dampak perilaku dan memberikan arahan perbaikan. Pendekatan ini membuat anak memahami kesalahannya tanpa merasa kehilangan harga diri.
Artikel Lainnya: Dampak Bullying pada Anak, dari Luka Hati hingga Performa di Sekolah
16. Berikan contoh perilaku positif
Anak belajar melalui pengamatan terhadap orang-orang terdekatnya, terutama orang tua. Jika ingin anak belajar mengelola emosi, Mama dan Papa juga perlu menunjukkan bagaimana menghadapi rasa marah atau kecewa dengan cara yang sehat.
Ketika orang tua mampu mengendalikan emosi, meminta maaf, dan berbicara dengan tenang, nantinya anak akan mendapatkan contoh nyata tentang cara menghadapi masalah.
17. Hindari membandingkan anak dengan orang lain
Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain dapat membuat anak merasa kurang berharga. Terlebih jika anak sudah sering menerima kemarahan, perbandingan tersebut dapat memperbesar rasa tidak percaya dirinya.
Setiap anak memiliki kemampuan dan perkembangan yang berbeda. Orang tua sebaiknya fokus membantu anak berkembang sesuai potensinya sendiri, bukan berdasarkan pencapaian orang lain.
Artikel Lainnya: Efek Sering Membandingkan Anak dengan Orang Lain
18. Berikan rasa aman bahwa anak tetap dicintai
Anak perlu memahami bahwa kesalahan yang dilakukan tidak membuat kasih sayang orang tua berkurang. Perasaan dicintai dan diterima menjadi dasar penting untuk membantu anak pulih secara emosional.
Orang tua dapat menyampaikan bahwa perilakunya mungkin salah, tetapi dirinya tetap berharga sebagai seorang anak. Pesan sederhana ini dapat membantu memperbaiki hubungan dan mengurangi rasa takut pada anak.
19. Lakukan aktivitas yang memperkuat ikatan emosional
Aktivitas bersama dapat menjadi cara memperbaiki mental anak yang sering dimarahi karena membantu menciptakan kembali kenangan positif. Anak membutuhkan pengalaman yang menyenangkan agar hubungan dengan orang tua tidak hanya dikaitkan dengan teguran.
Aktivitas seperti bermain, bercerita sebelum tidur, atau melakukan hobi bersama dapat memperkuat kedekatan emosional. Hubungan yang lebih dekat membuat anak lebih mudah menerima arahan dari orang tua.
20. Hindari kekerasan fisik dalam mendidik anak
Sebagian orang tua mungkin mencari cara memperbaiki mental anak yang sering dimarahi dan dipukul setelah menyadari dampak dari pola pengasuhan sebelumnya.
Penting dipahami bahwa kekerasan fisik dapat meninggalkan dampak emosional yang lebih dalam dan mengganggu rasa aman anak.
Jika pernah terjadi kekerasan fisik, langkah awal yang dapat dilakukan adalah menghentikan perilaku tersebut, meminta maaf kepada anak, serta membangun kembali hubungan dengan komunikasi dan kasih sayang. Anak membutuhkan perlindungan agar dapat pulih secara perlahan.
21. Bersabar dalam proses pemulihan emosi anak
Cara mengobati mental anak yang sering dimarahi membutuhkan waktu dan konsistensi. Perubahan perilaku anak mungkin tidak langsung terlihat karena setiap anak memiliki cara dan waktu pemulihan yang berbeda.
Orang tua perlu terus menunjukkan sikap positif dan tidak mudah menyerah ketika anak masih terlihat takut atau tertutup. Dengan dukungan yang stabil, anak dapat kembali membangun rasa percaya diri dan merasa aman dalam hubungan keluarga.
Artikel Lainnya: Panduan Golden Age Anak untuk Tumbuh Kembang Optimal
Kapan Perlu Bantuan Psikolog Anak?
Sebagian anak dapat pulih dengan dukungan, perhatian, dan perubahan pola komunikasi dari orang tua. Namun, pada kondisi tertentu, anak mungkin membutuhkan bantuan profesional untuk mengatasi dampak emosional akibat sering dimarahi.
Konsultasi dengan psikolog anak dapat dipertimbangkan jika perubahan perilaku anak berlangsung lama atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain anak menjadi sangat tertutup, sering merasa takut, mengalami perubahan pola tidur atau makan, sulit berkonsentrasi, kehilangan minat bermain, sering merasa bersalah berlebihan, atau menunjukkan perilaku agresif.
Bantuan psikolog dapat membantu anak memahami emosinya serta membantu orang tua menemukan pola pengasuhan yang lebih sesuai.
Selain itu, orang tua juga sebaiknya mencari bantuan apabila pernah terjadi kekerasan fisik seperti memukul atau tindakan lain yang membuat anak merasa tidak aman.
Kondisi tersebut dapat memberikan dampak psikologis yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut. Psikolog anak dapat membantu proses pemulihan agar anak kembali memiliki rasa percaya diri dan hubungan yang lebih sehat dengan keluarga.
Menjadi orang tua adalah proses belajar yang terus berjalan. Jika ingin mendapatkan informasi seputar tumbuh kembang anak, kesehatan keluarga, hingga tips pengasuhan yang terpercaya, yuk download aplikasi HalloBumil dan temukan berbagai panduan yang bisa menemani perjalanan Mamadalam setiap tahap perkembangan si kecil. Pastikan Mama registrasi di aplikasi kehamilan ini, ya!
Gabung juga ke komunitas HalloBumil di WhatsApp untuk berbagi pengalaman, mendapatkan dukungan, dan berdiskusi dengan sesama orang tua mengenai berbagai perjalanan parenting.
Ikuti event dan webinar kesehatan untuk mendapatkan kesempatan belajar dari para ahli, bertukar pengalaman dengan orang tua lain, serta memperluas pengetahuan tentang kesehatan ibu dan anak.




:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
