Aspermia: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan
:strip_icc():format(webp)/hb-article/xe7tkm8-7j3KTNtuVLN7-/original/j6tbfyqv75s78eooge6bf71fdtmiz06n.png)
Masalah kesuburan sering menjadi topik sensitif bagi banyak pasangan. Salah satu kondisi yang perlu dipahami adalah aspermia, yaitu ketidakmampuan pria untuk mengeluarkan air mani saat ejakulasi.
Meskipun terdengar jarang, kondisi ini bisa memengaruhi rencana kehamilan Mama dan Papa. Artikel ini akan menjelaskan secara lengkap tentang aspermia, jenis, penyebab, gejala, diagnosis, pengobatan, dan cara pencegahannya.
Artikel Lainnya: Infertilitas Pria: Penyebab, Ciri-ciri, dan Solusinya
Apa Itu Aspermia?
Aspermia adalah kondisi medis di mana seorang pria tidak mengeluarkan air mani saat ejakulasi, meskipun ia mungkin masih merasakan sensasi ejakulasi. Cairan mani ini penting karena mengandung sperma yang berperan dalam proses pembuahan. Ketika aspermia terjadi, kesuburan pria dapat terganggu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, tergantung pada penyebabnya.
Perbedaan aspermia dan azoospermia
Meskipun keduanya terkait dengan masalah kesuburan pria, aspermia dan azoospermia memiliki perbedaan yang penting untuk diketahui. Berikut tabel perbedaannya:
Kondisi | Definisi | Penyebab Umum |
Aspermia |
Tidak adanya air mani saat ejakulasi | Gangguan saluran ejakulasi, ejakulasi retrograde, gangguan hormonal |
Azoospermia |
Tidak adanya sperma dalam air mani | Sumbatan pada saluran reproduksi atau gangguan produksi sperma di testis |
Jenis-jenis Aspermia
Aspermia dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan penyebabnya:
1. Aspermia pra-testikular
Terjadi ketika testis tidak menerima rangsangan hormon yang cukup untuk memproduksi sperma. Hormon-hormon seperti testosteron, LH, dan FSH memegang peran utama. Gangguan pada kelenjar hipofisis atau hipotalamus dapat menyebabkan kondisi ini.
Pria dengan aspermia pra-testikular biasanya memiliki testis yang normal, tetapi jumlah sperma atau air mani tidak tercipta karena sinyal hormon tidak sampai. Penanganan sering kali melibatkan terapi hormon untuk memulihkan produksi sperma.
2. Aspermia testikular
Jenis aspermia pada pria ini muncul akibat kerusakan atau kelainan langsung pada testis, misalnya:
- Kelainan genetik yang memengaruhi perkembangan testis.
- Infeksi seperti gondongan pada usia dewasa.
- Cedera fisik akibat kecelakaan atau aktivitas tertentu.
- Paparan radiasi atau kemoterapi yang merusak jaringan testis.
3. Aspermia post-testikular
Terjadi karena sumbatan atau gangguan pada saluran reproduksi setelah testis. Sperma yang diproduksi dengan normal tidak bisa keluar. Faktor yang umum termasuk:
- Sumbatan akibat operasi atau cedera sebelumnya.
- Peradangan atau infeksi pada saluran reproduksi.
- Ejakulasi retrograde, di mana air mani masuk ke kandung kemih alih-alih keluar melalui penis.
4. Aspermia fungsional
Pada jenis ini, testis menghasilkan sperma dengan normal, tetapi ejakulasi tidak terjadi. Faktor penyebab bisa berupa:
- Gangguan saraf, misalnya cedera tulang belakang.
- Efek samping obat-obatan tertentu.
- Faktor psikologis, seperti stres atau kecemasan.
Artikel Lainnya: Pilihan Jamu Kesuburan Pria dan Tips Memilih yang Aman
Penyebab Aspermia
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan aspermia antara lain:
- Gangguan hormonal: Kekurangan hormon testosteron atau gangguan pada kelenjar hipofisis bisa menghambat produksi sperma.
- Ejakulasi retrograde: Air mani masuk ke kandung kemih alih-alih keluar melalui penis. Kondisi ini bisa terjadi akibat diabetes, operasi prostat, atau penggunaan obat tertentu.
- Sumbatan saluran reproduksi: Obstruksi pada vas deferens atau saluran sperma lain dapat mencegah keluarnya air mani.
- Efek samping obat-obatan: Beberapa obat, termasuk obat hipertensi atau obat untuk gangguan mood, dapat memengaruhi proses ejakulasi.
- Kondisi medis lain: Gangguan neurologis seperti multiple sclerosis, cedera tulang belakang, atau infeksi pada organ reproduksi juga bisa menjadi penyebab.
Gejala dan Tanda Aspermia
Gejala aspermia yang paling utama adalah tidak keluarnya air mani saat ejakulasi. Beberapa tanda lain yang mungkin Mama dan Papa perhatikan meliputi:
- Kesulitan dalam ereksi atau ejakulasi.
- Penurunan gairah seksual.
- Masalah kontrol kandung kemih, terutama pada ejakulasi retrograde.
Sering kali kondisi ini tidak disadari sampai pasangan mengalami kesulitan dalam program kehamilan. Oleh karena itu, pemantauan kesehatan reproduksi secara rutin sangat disarankan.
Diagnosis Aspermia
Untuk memastikan kondisi ini, dokter biasanya akan melakukan beberapa pemeriksaan berikut:
- Anamnesis: Wawancara untuk mengetahui riwayat kesehatan, gejala, dan faktor risiko yang mungkin dialami.
- Pemeriksaan fisik: Memeriksa organ reproduksi untuk mendeteksi kelainan struktural.
- Analisis semen: Mengonfirmasi apakah air mani benar-benar tidak ada saat ejakulasi.
- Tes hormon: Mengukur kadar hormon reproduksi, termasuk testosteron dan hormon hipofisis.
- Pemeriksaan penunjang: USG transrektal atau MRI dapat membantu menilai kondisi saluran reproduksi dan mendeteksi sumbatan.
Pengobatan Aspermia
Jika Mama dan Papa bertanya, “Aspermia bisa sembuh atau tidak?” Jawabannya adalah tergantung kondisinya. Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan antara lain:
- Terapi hormon: Terapi ini dilakukan untuk mengatasi gangguan hormon dan meningkatkan produksi sperma.
- Obat-obatan: Obat aspermia digunakan untuk mengatasi ejakulasi retrograde atau infeksi yang memengaruhi saluran reproduksi.
- Prosedur bedah: Prosedur ini diperlukan untuk menghilangkan sumbatan pada saluran reproduksi, sehingga air mani bisa keluar.
Namun, jika Papa memiliki aspermia genetik (keturunan), kondisi ini mungkin tidak bisa disembuhkan. Namun, Mama dan Papa dapat mencoba metode seperti inseminasi intrauterin (IUI) atau bayi tabung (IVF) untuk memiliki keturunan.
Artikel Lainnya: Ini Dia Sederet Pemeriksaan untuk Calon Ayah!
Cara Mencegah Aspermia
Beberapa langkah yang bisa Mama dan Papa lakukan untuk menjaga kesehatan reproduksi dan mencegah aspermia antara lain:
1. Menjaga kesehatan reproduksi
Pemeriksaan rutin dan menjaga kebersihan organ reproduksi membantu mendeteksi masalah sejak dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
2. Hati-hati dalam penggunaan obat
Beberapa obat dapat memengaruhi ejakulasi atau produksi sperma. Selalu konsultasikan dengan dokter sebelum mulai atau menghentikan obat agar kesehatan reproduksi tetap terjaga.
3. Menjalani pola hidup sehat
Menghindari alkohol, rokok, dan zat berbahaya lainnya dapat menjaga kualitas sperma dan fungsi organ reproduksi. Pola makan seimbang dan olahraga teratur juga mendukung keseimbangan hormon.
Artikel Lainnya: 5 Olahraga untuk Kesuburan Pria, Hindari Olahraga Ini!
4. Mengelola stres dengan baik
Stres berlebihan dapat memengaruhi hormon dan sistem saraf yang berperan dalam ejakulasi. Teknik relaksasi, olahraga ringan, atau melakukan kegiatan yang menyenangkan bisa membantu menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran.
Memahami aspermia dan jenis-jenisnya adalah langkah penting bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan. Deteksi dini melalui pemeriksaan dan pemantauan rutin akan membantu Mama dan Papa mendapatkan langkah yang tepat untuk menjaga kesuburan dan kesehatan reproduksi.
Untuk mendapatkan informasi perencanaan kehamilan lainnya, download aplikasi HalloBumil, yuk, Ma! Ada komunitas HalloBumil untuk bertukar pengalaman, mendapatkan tips kesehatan kehamilan, serta akses informasi terpercaya seputar kesuburan dan persiapan kehamilan.
Ikuti event edukasi dan kelas kesehatan bersama para ahli. Tingkatkan pengetahuan Papa dan Mama seputar program hamil dan kehamilan. Daftar sekarang!