loading

Kenali Ciri-Ciri ADHD pada Anak dan Cara Menanganinya

Bagikan
Facebook
Twitter
WhatsApp
copylink
ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi perilaku dan fokus anak. Pahami penjelasan medis mengenai gejala klinis serta langkah penanganan yang tepat untuk mendukung perkembangannya.
kenali-ciri-ciri-adhd-pada-anak-dan-cara-menanganinya

ADHD pada anak merupakan gangguan perkembangan saraf yang dapat memengaruhi kemampuan anak dalam memusatkan perhatian, mengendalikan impuls, dan mengatur aktivitas.

Kondisi ini dapat terlihat melalui perilaku yang berbeda-beda pada setiap anak, sehingga penilaiannya perlu dilakukan secara menyeluruh. Pengenalan gejala sejak dini dapat membantu Mama memperoleh dukungan yang sesuai untuk kebutuhan Si Kecil.

Apa Itu ADHD pada Anak?

ADHD merupakan singkatan dari attention-deficit/hyperactivity disorder, yaitu gangguan perkembangan saraf yang dapat memengaruhi perhatian, pengendalian impuls, dan tingkat aktivitas seseorang.

Kondisi ini umumnya mulai terlihat pada masa kanak-kanak dan dapat memengaruhi aktivitas anak di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosial. Menurut CDC, ADHD termasuk salah satu gangguan perkembangan saraf yang umum terjadi pada masa kanak-kanak.

Banyak orang tua mencari tahu apa itu ADHD pada anak ketika melihat Si Kecil sering sulit berkonsentrasi, sangat aktif, atau bertindak secara spontan.

Perilaku tersebut memang dapat menjadi bagian dari gejala ADHD, tetapi anak yang sesekali sulit fokus atau banyak bergerak belum tentu mengalami kondisi ini. Dokter perlu menilai pola gejala, lamanya gejala berlangsung, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari sebelum menentukan diagnosis.

Secara umum, anak ADHD adalah anak yang menunjukkan pola gejala kurang perhatian, hiperaktif-impulsif, atau gabungan keduanya secara menetap dan cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

Gejala tersebut juga perlu dipertimbangkan dalam lebih dari satu lingkungan, seperti rumah dan sekolah, agar penilaiannya lebih menyeluruh. Diagnosis tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu perilaku atau satu pemeriksaan saja.

Artikel lainnya: Apakah Anak Anda Aktif Eksploratif atau ADHD?

Apa Ciri-Ciri ADHD pada Anak?

Ciri anak ADHD dapat berbeda-beda karena setiap anak memiliki pola gejala dan kebutuhan yang tidak sama. Secara umum, gejala ADHD terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu kurang perhatian, hiperaktif, dan impulsif.

Sebagian anak dapat menunjukkan satu kelompok gejala yang lebih dominan, sedangkan anak lainnya dapat mengalami kombinasi beberapa gejala.

1. Kesulitan memusatkan perhatian

Anak dapat mengalami kesulitan mempertahankan perhatian ketika mengerjakan tugas atau mengikuti kegiatan tertentu.

Beberapa tanda yang mungkin terlihat meliputi mudah terdistraksi, sering lupa, kehilangan barang, tidak menyelesaikan tugas, atau tampak tidak mendengarkan ketika diajak berbicara. Kesulitan ini dapat memengaruhi kegiatan belajar dan aktivitas sehari-hari apabila berlangsung secara menetap.

2. Hiperaktif

Gejala hiperaktif dapat terlihat ketika anak sering bergerak, sulit duduk diam, atau merasa kesulitan mengikuti aktivitas yang membutuhkan ketenangan dalam waktu tertentu.

Anak juga dapat tampak banyak berbicara atau memiliki dorongan untuk terus melakukan aktivitas. Tingkat aktivitas setiap anak tentu berbeda, sehingga penilaiannya perlu mempertimbangkan usia dan situasi yang sedang dihadapi.

3. Impulsif

Anak dengan gejala impulsif dapat mengalami kesulitan menunggu giliran, sering menyela pembicaraan, atau memberikan respons sebelum pertanyaan selesai disampaikan. Anak juga dapat bertindak secara spontan tanpa sempat mempertimbangkan konsekuensi dari tindakannya.

Perilaku impulsif yang menjadi perhatian biasanya berlangsung berulang dan mulai memengaruhi interaksi anak dengan orang lain. Perlu Mama ingat bahwa anak-anak pada umumnya dapat sesekali lupa, sulit berkonsentrasi, aktif, atau bertindak spontan.

Gejala yang mengarah pada ADHD biasanya berlangsung terus-menerus, muncul dalam situasi tertentu di lebih dari satu lingkungan, dan menimbulkan kesulitan yang nyata dalam aktivitas anak.

Artikel lainnya: 7 Perbedaan Anak Aktif dan Anak Hiperaktif

Apa Penyebab ADHD pada Anak?

Penyebab ADHD pada anak belum sepenuhnya diketahui. Faktor genetik diketahui memiliki peran penting, sementara beberapa faktor lingkungan dan kondisi kesehatan tertentu juga masih terus diteliti karena dapat berhubungan dengan kemungkinan terjadinya ADHD.

ADHD bukan disebabkan oleh pola asuh yang kurang baik atau kurangnya kasih sayang dari orang tua. Beberapa faktor yang dapat berperan antara lain riwayat keluarga dengan ADHD, paparan timbal, penggunaan alkohol atau tembakau selama kehamilan, serta kondisi tertentu yang berkaitan dengan kesehatan dan perkembangan anak.

Mama juga perlu mengetahui bahwa faktor risiko tidak selalu berarti seorang anak pasti mengalami ADHD. Kondisi setiap anak dapat berbeda sehingga penilaian tetap perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi untuk mengevaluasi perkembangan dan perilaku anak.

Bagaimana ADHD pada Anak Didiagnosis?

Diagnosis ADHD tidak dapat ditentukan hanya melalui satu tes. Dokter akan mengumpulkan informasi mengenai perkembangan, perilaku, kesehatan, dan aktivitas anak melalui wawancara serta penilaian dari berbagai sumber, termasuk orang tua dan guru apabila diperlukan.

Dokter juga akan menilai apakah gejala telah berlangsung secara menetap, muncul dalam lebih dari satu lingkungan, dan memengaruhi aktivitas anak.

Kondisi lain, seperti gangguan tidur, kecemasan, depresi, atau kesulitan belajar, juga dapat memiliki gejala yang mirip sehingga perlu dipertimbangkan dalam proses evaluasi.

Proses diagnosis dapat melibatkan dokter anak, dokter layanan primer, psikolog, atau psikiater sesuai kebutuhan anak dan layanan kesehatan yang tersedia. Pemeriksaan yang menyeluruh membantu memastikan bahwa dukungan yang diberikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Si Kecil.

Artikel lainnya: 10 Ciri Anak Hiperaktif yang Mama Harus Tahu

Bagaimana Penanganan Anak ADHD yang Tepat?

Penanganan anak ADHD dapat melibatkan beberapa pendekatan yang disesuaikan dengan usia, gejala, kebutuhan, serta kondisi masing-masing individu.

Terapi perilaku, dukungan penuh dari orang tua, penyesuaian di lingkungan sekolah, hingga obat-obatan yang diresepkan dokter dapat menjadi bagian dari rencana penanganan yang komprehensif.

1. Terapi perilaku

Terapi perilaku membantu anak mempelajari cara mengelola perilaku, perhatian, dan respons terhadap berbagai situasi. Pelatihan untuk orang tua juga dapat membantu Mama memahami cara memberikan arahan, menetapkan rutinitas, serta memperkuat perilaku positif pada anak.

2. Dukungan dari orang tua

Mama dapat membantu anak melalui rutinitas harian yang konsisten dan instruksi yang singkat serta jelas. Tugas yang panjang dapat dibagi menjadi beberapa langkah kecil agar lebih mudah dipahami dan diselesaikan oleh Si Kecil.

Apresiasi terhadap usaha dan perilaku positif juga dapat membantu anak memahami perilaku yang diharapkan. Pendekatan yang konsisten antara orang tua, pengasuh, dan guru dapat membuat anak memperoleh dukungan yang lebih selaras.

3. Dukungan di sekolah

Sekolah dapat membantu melalui strategi pembelajaran dan dukungan perilaku yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Komunikasi antara orang tua dan guru juga penting untuk memantau perkembangan anak serta mendiskusikan strategi yang dapat membantu proses belajar.

4. Obat-obatan sesuai anjuran dokter

Dokter dapat mempertimbangkan obat-obatan sebagai bagian dari penanganan ADHD pada anak tertentu. Pemilihan jenis obat dan dosis perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan serta dipantau secara berkala untuk menilai manfaat dan kemungkinan efek sampingnya.

Anak usia di bawah 6 tahun umumnya dianjurkan memperoleh terapi perilaku, terutama pelatihan pengelolaan perilaku untuk orang tua, sebagai langkah awal.

Anak usia 6 tahun ke atas dapat memperoleh kombinasi obat dan terapi perilaku sesuai penilaian dokter, sementara dukungan sekolah juga dapat menjadi bagian dari rencana penanganan.

Artikel lainnya: 10 Cara Mengatasi Anak Hiperaktif agar Lebih Fokus

Kapan Harus ke Dokter?

Mama dapat berkonsultasi dengan dokter apabila anak mengalami kesulitan memusatkan perhatian, hiperaktif, atau sering bertindak impulsif secara berulang dan kondisi tersebut mulai mengganggu kegiatan di rumah, sekolah, maupun hubungan sosial.

Konsultasi juga dapat dilakukan ketika Mama memiliki kekhawatiran terhadap perkembangan atau perilaku Si Kecil.

Pemeriksaan profesional dapat membantu membedakan ADHD dari kondisi lain yang memiliki gejala serupa. Penanganan yang sesuai sejak dini dapat membantu anak memperoleh dukungan yang dibutuhkan untuk menjalani aktivitas dan mengembangkan potensinya secara optimal.

ADHD pada anak ditandai oleh pola kesulitan memusatkan perhatian, sifat hiperaktif, perilaku impulsif, atau kombinasi dari ketiga gejala tersebut.

Karena setiap anak memiliki karakteristik dan kebutuhan yang unik, proses diagnosis harus dilakukan secara cermat oleh tenaga kesehatan. Penanganan secara individual menjadi langkah krusial untuk membantu anak berkembang optimal sesuai potensi terbaiknya.

Mama dapat mengunduh aplikasi HalloBumil dan daftarkan akun Mama untuk mendapatkan informasi tepercaya seputar tumbuh kembang dan kesehatan anak sesuai tahap usianya.

Mama juga dapat bergabung dengan komunitas HalloBumil dan mengikuti berbagai event edukatif untuk berbagi pengalaman serta mendapatkan informasi yang bermanfaat.

Pertanyaan Populer

Jadilah orang tua super! Panduan 1000 Hari Pertama Kehidupan si kecil ada di sini. GRATIS.
image
image
image
image
0
0
Bagikan
Facebook
Twitter
WA
Belum ada komentar.
Login atau daftar dulu yuk ma biar bisa komen

Login/daftar yuk Ma

Tumbuh Bersama di 1000 Hari Pertama Si Kecil

Komunitas hangat untuk dapatkan tips, cerita inspiratif, dan teman baru pada 1000 hari pertama si kecil bersama Hallobumil
image