:strip_icc():format(webp)/hb-article/jpIRpqFJ5XDw0OL3y87jF/original/qm5a7ih4gh2rf48nqust3v5ufc374e6w.jpeg)
Anak kecewa dengan orang tua merupakan hal yang mungkin terjadi dalam perjalanan tumbuh kembang Si Kecil.
Rasa kecewa bisa muncul ketika anak merasa tidak didengarkan, dibandingkan dengan saudara, terlalu sering dimarahi, atau memiliki harapan yang tidak terpenuhi.
Meski begitu, rasa kecewa tidak selalu berarti hubungan Mama, Papa, dan anak sudah rusak. Dengan komunikasi yang tepat, hubungan tersebut masih dapat diperbaiki secara perlahan.
Artikel lainnya: Cara Mengendalikan Emosi pada Anak agar Lebih Tenang
Apakah Wajar Anak Merasa Kecewa pada Orang Tuanya?
Pada dasarnya, anak merasa kecewa pada orang tua merupakan hal yang dapat terjadi dan tidak otomatis berarti ada masalah psikologis.
Anak memiliki emosi yang sama beragamnya dengan orang dewasa, termasuk marah, sedih, kecewa, kesal, dan merasa tidak dipahami.
Menurut National Institute of Mental Health, kemampuan anak untuk memahami serta menyampaikan emosi tersebut masih berkembang sesuai usia.
Kekecewaan juga bisa muncul dari situasi sehari-hari yang sebenarnya sederhana. Misalnya, Mama atau Papa tidak jadi memenuhi janji, melarang anak bermain, memberikan konsekuensi atas perilaku tertentu, atau tidak menyetujui keinginannya.
Sesekali merasa kecewa merupakan bagian dari proses anak belajar menghadapi kenyataan bahwa tidak semua keinginannya dapat terpenuhi.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika kekecewaan berlangsung lama dan mulai mengubah perilaku anak.
Jika Si Kecil terus-menerus murung, menarik diri, sulit tidur, kehilangan minat bermain, mengalami penurunan prestasi, atau kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, Mama sebaiknya tidak menganggapnya sekadar fase.
Berbagai Penyebab Anak Kecewa pada Orang Tua
Ada banyak penyebab anak kecewa dan setiap anak dapat memiliki pengalaman yang berbeda. Beberapa di antaranya adalah:
- Merasa kurang mendapatkan perhatian. Anak mungkin merasa Mama dan Papa lebih sibuk dengan pekerjaan, ponsel, atau urusan lain sehingga kebutuhan emosionalnya kurang diperhatikan. Perhatian dan kasih sayang yang konsisten membantu anak merasa aman dan dihargai.
- Sering dibandingkan dengan saudara atau anak lain. Perbandingan dapat membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik. Jika terus terjadi, anak bisa menjadi semakin tertutup atau kehilangan kepercayaan diri.
- Orang tua sering membentak atau menggunakan kata-kata yang menyakitkan. Komunikasi dengan nada keras atau ancaman dapat membuat anak merasa takut dan tidak aman untuk mengungkapkan perasaannya.
- Janji orang tua yang berulang kali tidak ditepati. Bagi orang dewasa, batal melakukan sesuatu mungkin terlihat sepele. Namun, bagi anak, janji orang tua berkaitan dengan rasa percaya.
- Anak merasa tidak pernah didengarkan. Ketika setiap pendapat langsung disalahkan atau dianggap berlebihan, anak dapat belajar bahwa mengungkapkan perasaan tidak akan mengubah keadaan. Komunikasi yang terbuka justru membantu anak merasa dihargai.
- Aturan yang terlalu kaku. Batasan tetap diperlukan dalam pengasuhan, tetapi aturan yang disampaikan tanpa komunikasi hangat dapat membuat anak merasa hubungan dengan orang tua hanya berisi tuntutan.
- Konflik keluarga atau perubahan besar. Pertengkaran orang tua, perceraian, kehilangan anggota keluarga, perpindahan sekolah, atau perubahan lingkungan dapat memengaruhi kondisi emosional anak.
Dengan memahami penyebabnya, Mama tidak perlu buru-buru melabeli anak sebagai “terlalu sensitif” atau “susah diatur”.
Bisa jadi, perilaku yang terlihat sebagai pembangkangan sebenarnya merupakan cara Si Kecil menunjukkan bahwa ada sesuatu yang mengganggu perasaannya.
Artikel lainnya: Cara Mengatasi Anak Tantrum dengan Tenang
Ciri Anak yang Menyimpan Kekecewaan pada Orang Tua
Tidak semua anak mampu mengatakan, “Aku kecewa sama Mama atau Papa.” Sebagian justru menunjukkannya melalui perubahan sikap.
Oleh karena itu, ciri ciri anak kecewa dengan orang tua perlu dipahami sebagai tanda yang perlu diamati, bukan sebagai diagnosis.
Beberapa perubahan yang mungkin terlihat antara lain:
- Anak menjadi lebih pendiam dan jarang bercerita.
- Lebih sering menghabiskan waktu sendiri.
- Tidak antusias melakukan aktivitas yang sebelumnya disukai.
- Mudah marah, tersinggung, atau meledak karena hal kecil.
- Menolak berbicara atau menghindari interaksi dengan orang tua.
- Lebih nyaman bercerita kepada orang lain daripada kepada orang tua.
- Sering mengatakan dirinya tidak disayang, tidak dipahami, atau tidak dianggap.
- Mengalami perubahan pola tidur atau nafsu makan.
- Konsentrasi dan prestasi di sekolah menurun.
- Menunjukkan keluhan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut tanpa penyebab medis yang jelas.
Namun, satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak sedang menyimpan kekecewaan. Perubahan tersebut juga dapat berkaitan dengan masalah sekolah, pertemanan, perkembangan, stres, maupun kondisi kesehatan mental lainnya.
Yang lebih penting adalah melihat perubahan dari kebiasaan anak sebelumnya, durasinya, dan seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari.
Artikel lainnya: Cara Memperbaiki Mental Anak yang Sering Dimarahi
Kenapa Sebagian Anak Lebih Memilih Diam daripada Mengatakannya?
Ada anak yang memilih diam karena belum memiliki kosakata yang cukup untuk menjelaskan perasaannya.
Anak yang masih kecil, misalnya, mungkin hanya tahu bahwa dirinya “kesal” atau “sedih”, tetapi belum mampu menjelaskan apa yang membuatnya merasa demikian.
Orang tua dapat membantu dengan memberikan nama pada emosi tersebut, seperti kecewa, marah, takut, atau sedih.
Anak juga dapat memilih diam apabila sebelumnya pernah merasa bahwa pendapatnya tidak didengarkan.
Respons seperti “Ah, begitu saja kok sedih” atau “Jangan lebay” mungkin dimaksudkan untuk menenangkan, tetapi justru bisa membuat anak merasa emosinya tidak valid.
Ketika anak takut dihakimi, dimarahi, atau dihukum, ia mungkin memilih menyimpan masalahnya sendiri.
Untuk itu, Mama tidak harus menunggu sampai anak datang dan bercerita. Ciptakan kesempatan ngobrol dalam situasi yang santai, misalnya saat makan bersama, perjalanan pulang, atau sebelum tidur.
Pertanyaan terbuka seperti “Tadi ada sesuatu yang bikin kamu nggak nyaman?” biasanya lebih memberi ruang dibandingkan pertanyaan yang hanya dapat dijawab dengan “iya” atau “tidak”.
Bagaimana Cara Orang Tua Memperbaiki Hubungan yang Sudah Renggang?
Hubungan yang renggang tidak selalu dapat kembali dekat hanya dengan satu percakapan. Apalagi jika kekecewaan sudah berlangsung lama.
Mama dan Papa mungkin perlu menunjukkan melalui tindakan yang konsisten bahwa rumah kembali menjadi tempat yang aman untuk berbicara.
Beberapa langkah yang dapat dicoba adalah:
1. Dengarkan tanpa langsung membela diri
Jika anak mengatakan sesuatu yang menyakitkan, tahan keinginan untuk langsung menjelaskan alasan Mama atau Papa.
Dengarkan terlebih dahulu dan coba pahami pengalaman anak dari sudut pandangnya. Mendengarkan secara aktif membantu anak merasa dihargai.
2. Akui perasaan anak
Mengakui perasaan bukan berarti menyetujui semua perilakunya. Mama bisa mengatakan, “Mama mengerti kamu kecewa karena Mama tidak datang saat kamu tampil.” Setelah perasaannya diterima, barulah aturan atau penjelasan lain dibicarakan.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip emotion coaching, yaitu mengenali, memberi nama, dan memvalidasi emosi anak.
3. Berani meminta maaf jika memang melakukan kesalahan
Orang tua tidak harus selalu benar. Permintaan maaf yang jelas, misalnya mengakui telah membentak atau tidak menepati janji, dapat menjadi contoh bahwa kesalahan dapat diperbaiki.
4. Luangkan waktu khusus bersama anak
Tidak harus selalu dengan kegiatan mahal. Sepuluh menit sehari tanpa televisi, ponsel, atau gangguan lain untuk benar-benar berbicara dan mendengarkan anak pun dapat membantu membangun kebiasaan komunikasi yang lebih sehat.
5. Fokus memperbaiki pola, bukan hanya satu kejadian
Jika penyebab kekecewaan adalah komunikasi yang keras, misalnya, perubahan perlu dilakukan secara konsisten.
Hubungan akan lebih mudah pulih ketika anak melihat bahwa orang tua tidak hanya meminta maaf, tetapi juga berusaha mengubah cara berkomunikasi.
Artikel lainnya: Tips Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak
Perlukah Anak Periksa ke Psikolog?
Tidak semua anak yang kecewa pada orang tua perlu dibawa ke psikolog. Perasaan kecewa yang muncul sesekali dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari umumnya dapat menjadi bagian dari pengalaman emosional anak.
Namun, konsultasi dengan tenaga profesional layak dipertimbangkan jika perubahan emosi atau perilaku menetap selama beberapa minggu, semakin berat, atau mengganggu kehidupan anak di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosial.
Mama dan Papa juga sebaiknya mencari bantuan jika anak semakin sering mengisolasi diri, kehilangan minat pada hal yang sebelumnya disukai, mengalami gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, prestasinya menurun, atau menunjukkan perilaku menyakiti diri.
Penilaian oleh profesional dapat membantu mencari tahu apakah perubahan tersebut berkaitan dengan konflik keluarga atau ada masalah lain yang membutuhkan penanganan.
Konsultasi tidak selalu berarti anak harus menjalani terapi sendirian. Pada anak yang lebih kecil, orang tua atau pengasuh justru dapat dilibatkan dalam proses terapi.
Profesional kesehatan mental dapat membantu keluarga memahami kebutuhan anak sekaligus mencari pola komunikasi dan respons yang lebih sesuai.
Jika anak berbicara tentang keinginan menyakiti diri sendiri atau orang lain, atau menunjukkan perilaku yang membahayakan, jangan menunggu sampai keadaan membaik sendiri. Segera cari bantuan profesional atau layanan kegawatdaruratan setempat.
Artikel lainnya: Aktivitas Bonding dengan Anak yang Seru dan Bermakna
Anak kecewa dengan orang tua bukan berarti kasih sayang di antara keduanya sudah hilang. Kekecewaan bisa menjadi sinyal bahwa ada kebutuhan emosional anak yang belum tersampaikan atau ada pola komunikasi yang perlu diperbaiki.
Dengan mau mendengar, memvalidasi perasaan, meminta maaf ketika salah, dan membangun komunikasi secara konsisten, hubungan yang renggang masih dapat perlahan kembali hangat.
Kalau Mama ingin lebih siap memahami berbagai kebutuhan Si Kecil, download aplikasi Hallobumil dan temukan informasi kesehatan serta parenting yang bisa menjadi teman Mama dalam menjalani setiap tahap tumbuh kembang anak.
Tidak harus menghadapi pertanyaan seputar parenting sendirian. Gabung ke komunitas Hallobumil di WhatsApp untuk terhubung dengan sesama Mama, berbagi pengalaman, dan mendapatkan ruang untuk saling menguatkan dalam perjalanan menjadi orang tua.
Selain membaca informasi kesehatan, Mama bisa memperkaya pengetahuan dengan mengikuti event kesehatan.
Berbagai kegiatan edukatif dapat menjadi kesempatan untuk belajar tentang kesehatan Mama, anak, dan keluarga bersama narasumber serta Mama lainnya. Supaya tidak ketinggalan, yuk registrasi di aplikasi Hallobumil sekarang juga!




:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
