:strip_icc():format(webp)/hb-article/z-Vq8uo8MGptKuLxGwxph/original/eyubz8lrtw38jz5cr5qtw88xhb4qz9yt.png)
Kulit anak memang terlihat lembut dan sehat tanpa banyak perawatan. Namun, ketika si kecil mulai tertarik mencoba skincare seperti yang dilihat di media sosial, Mama mungkin ikut penasaran apakah masker wajah alami untuk anakaman digunakan.
Apalagi, ada banyak resep masker dari bahan dapur yang diklaim dapat membuat kulit lebih lembap, cerah, atau halus. Sebelum mencobanya, ada satu hal penting yang perlu Mama ketahui bahwa kulit anak tidak membutuhkan rutinitas skincare yang rumit.
American Academy of Pediatrics (AAP) menyebutkan bahwa kulit anak dan remaja masih lebih tipis, sensitif, dan mudah mengalami iritasi dibandingkan kulit orang dewasa.
Untuk itu, perawatan sederhana berupa membersihkan wajah dengan lembut, melembapkan, dan melindungi kulit dari sinar matahari justru lebih penting.
Lantas, bagaimana dengan penggunaan masker wajah untuk anak? Yuk, cari tahu jawaban lengkapnya di bawah ini.
Artikel lainnya: Cara Merawat Kulit Bayi Agar Selalu Halus dan Sehat
Apakah Anak Boleh Memakai Masker Wajah?
Ternyata, penggunaan masker wajah pada anak diperbolehkan. Akan tetapi, tidak berarti semua anak membutuhkan masker wajah. Pada anak kecil, terutama bayi dan balita, masker wajah sebaiknya tidak dijadikan bagian dari rutinitas perawatan kulit.
Kulit mereka masih berkembang sehingga penggunaan berbagai bahan tambahan justru berpotensi menyebabkan kemerahan, kering, atau iritasi.
Memasuki usia sekolah dasar, anak biasanya mulai lebih tertarik dengan perawatan diri. Namun, masker wajah alami untuk anak SD tetap sebaiknya dianggap sebagai aktivitas sesekali, bukan kebutuhan skincare rutin.
American Academy of Dermatology (AAD) lebih menekankan rutinitas sederhana dan sesuai usia. Dianjurkan untuk anak usia sekitar 8–13 tahun mulai diajarkan kebiasaan dasar merawat kulit, seperti membersihkan wajah dan menggunakan pelindung matahari.
Lantas, usia berapa anak mulai boleh memakai masker? Tidak ada batas usia medis yang secara universal menetapkan bahwa semua anak boleh menggunakan masker wajah pada usia tertentu.
Sebagai pendekatan yang lebih aman, Mama dapat mempertimbangkan masker sederhana setelah anak memasuki usia sekolah, terutama sekitar 8 tahun ke atas, dan hanya jika kulit Si Kecil sehat.
Untuk anak dengan eksim, kulit sangat sensitif, luka, ruam, atau sedang mengalami iritasi, sebaiknya jangan mencoba masker tanpa berkonsultasi dengan dokter kulit atau dokter anak.
Hal lain yang perlu diingat, istilah "alami" bukan berarti otomatis aman. Bahan dari dapur tetap dapat menyebabkan iritasi atau alergi ketika ditempelkan ke kulit.
Dermatitis kontak, misalnya, dapat muncul setelah kulit bersentuhan dengan bahan tertentu, termasuk kosmetik, pewangi, tanaman, maupun berbagai produk perawatan tubuh.
Artikel lainnya: Kenali Tanda Alergi pada Bayi, Jenis & Cara Mengatasinya
Resep Masker Wajah Alami untuk Anak dan Cara Pakainya
Jika Mama ingin mencoba cara membuat masker wajah alami untuk anak anak, pilih bahan yang sederhana dan minim tambahan. Gunakan bahan yang masih segar, bersih, dan sebelumnya sudah pernah dikonsumsi anak tanpa menimbulkan reaksi alergi.
Perlu dicatat, resep berikut lebih ditujukan sebagai aktivitas perawatan kulit ringan, bukan pengobatan jerawat, eksim, atau masalah kulit tertentu. Bukti ilmiah mengenai masker berbahan makanan rumahan pada kulit anak masih terbatas.
Bahkan untuk masker wajah pada orang dewasa sekalipun, AAD mengingatkan bahwa bahan yang tidak sesuai dapat menyebabkan kulit kering, iritasi, atau gangguan skin barrier.
Berikut beberapa resep masker wajah yang bisa Mama coba untuk Si Kecil:
1. Masker patmeal untuk kulit kering dan sensitif
Oatmeal menjadi salah satu bahan yang paling masuk akal untuk kulit sensitif karena bentuk colloidal oatmeal telah digunakan dalam produk perawatan kulit untuk membantu menjaga kelembapan dan skin barrier.
Bahan:
- 1 sendok makan oatmeal tawar yang dihaluskan
- 1–2 sendok teh air matang
Cara membuat: Haluskan oatmeal hingga menjadi bubuk lembut, kemudian campurkan dengan air sedikit demi sedikit sampai membentuk pasta.
Cara pakai: Oleskan tipis pada wajah yang sudah dibersihkan. Hindari area mata dan bibir. Diamkan sekitar 5–10 menit, lalu bilas dengan air suam-suam kuku tanpa menggosok kulit.
Cocok untuk: Kulit normal hingga kering dan cenderung sensitif.
Sejumlah penelitian juga menemukan manfaat penggunaan oatmeal pada anak dengan dermatitis atopik. Namun, penelitian tersebut menggunakan formulasi skincare terstandar, bukan masker oatmeal rumahan, sehingga manfaat resep DIY ini tidak bisa disamakan dengan terapi medis.
2. Masker pisang untuk kulit yang terasa kering
Pisang dapat memberikan sensasi lembap karena mengandung air dan komponen alami, tetapi belum ada bukti kuat bahwa masker pisang dapat memberikan manfaat khusus pada kulit anak.
Jadi, jangan menjadikannya pengganti pelembap yang memang diformulasikan untuk kulit sensitif. Untuk anak dengan kulit mudah kering atau eksim, AAP lebih menyarankan pelembap tanpa pewangi sebagai bagian dari perawatan rutin.
Bahan:
- ½ buah pisang matang
- 1 sendok teh air matang bila diperlukan
Cara membuat: Lumatkan pisang sampai benar-benar halus. Jika terlalu kental, tambahkan sedikit air matang.
Cara pakai: Oleskan tipis pada wajah dan diamkan sekitar 5–10 menit. Setelah itu, bilas sampai bersih dan keringkan dengan menepuk-nepuk wajah menggunakan handuk lembut.
Cocok untuk: Kulit normal atau kering.
Artikel lainnya: 17 Rekomendasi Sunscreen Bayi dan Anak yang Aman
3. Masker alpukat untuk kulit kering
Alpukat mengandung lemak dan berbagai zat gizi, tetapi manfaat masker alpukat secara khusus untuk kulit anak belum didukung penelitian klinis yang memadai.
Untuk itu, gunakan hanya sebagai pilihan perawatan sesekali dan hentikan jika kulit terasa gatal, panas, atau kemerahan, ya, Ma!
Bahan:
- 1 sendok makan alpukat matang yang sudah dihaluskan
- ½ sendok teh air matang
Cara membuat: Lumatkan alpukat sampai teksturnya lembut dan tidak menggumpal. Tambahkan air jika diperlukan.
Cara pakai: Oleskan tipis pada wajah, lalu diamkan 5–10 menit. Bilas menggunakan air bersih dan jangan menggosok wajah.
Cocok untuk: Kulit normal hingga kering.
4. Masker timun untuk sensasi menyegarkan
Timun memiliki kandungan air yang tinggi sehingga dapat memberikan sensasi dingin dan menyegarkan.
Namun, jangan menganggapnya sebagai pengganti sunscreen atau sebagai cara untuk mengatasi kulit terbakar matahari. Perlindungan dari sinar UV tetap menjadi bagian penting dari perawatan kulit anak.
Bahan:
- 2–3 iris timun segar
- 1 sendok teh air matang jika ingin membuatnya lebih mudah dioleskan
Cara membuat: Haluskan timun hingga menjadi pasta. Gunakan segera setelah dibuat.
Cara pakai: Oleskan tipis pada wajah selama sekitar 5–10 menit. Setelah itu, bilas menggunakan air bersih.
Cocok untuk: Kulit normal dan kulit yang terasa panas setelah beraktivitas di luar ruangan.
5. Masker lidah buaya yang sederhana
Lidah buaya sering digunakan dalam produk skincare, tetapi "alami" tidak berarti bebas risiko. Produk dengan pewangi atau bahan tambahan tertentu justru dapat mengiritasi kulit sensitif.
AAP menyarankan produk perawatan kulit anak yang sederhana dan bebas pewangi, terutama pada anak dengan kulit sensitif.
Bahan:
- 1 sendok teh gel lidah buaya murni dari produk yang memang diformulasikan untuk kulit
- Tidak perlu tambahan bahan lain
Cara membuat: Gunakan gel yang bersih dan tidak mengandung pewangi, alkohol, atau bahan aktif lain. Jangan langsung menggunakan getah atau bagian daun lidah buaya yang belum diproses.
Cara pakai: Oleskan tipis pada area kecil terlebih dahulu. Jika tidak ada reaksi, dapat digunakan tipis selama sekitar 5 menit kemudian bilas.
Cocok untuk: Kulit normal yang membutuhkan sensasi menenangkan.
Artikel lainnya: Manfaat Minyak Kemiri untuk Si Kecil dan Cara Pakainya
6. Masker madu untuk kulit kering
Madu memiliki berbagai komponen yang membuatnya populer dalam perawatan kulit, tetapi bukti mengenai penggunaan madu sebagai masker wajah rumahan pada anak masih terbatas.
Untuk itu, penggunaannya sebaiknya sangat hati-hati. Jika anak memiliki riwayat alergi, kulit sensitif, atau pernah bereaksi terhadap produk berbahan lebah, lebih baik pilih bahan lain. Reaksi kulit terhadap bahan tertentu dapat berupa dermatitis kontak.
Bahan: ½–1 sendok teh madu murni
Cara membuat: Tidak perlu dicampur dengan bahan lain.
Cara pakai: Oleskan sangat tipis pada area kecil kulit yang sehat dan diamkan maksimal sekitar 5 menit. Setelah itu, bilas sampai benar-benar bersih.
Cocok untuk: Kulit normal hingga kering, hanya jika anak tidak memiliki riwayat alergi terhadap madu atau produk lebah.
Artikel lainnya: Penyebab Pipi Bayi Ruam Merah, Berbahayakah?
7. Masker oatmeal dan pisang
Kombinasi ini menggunakan bahan yang relatif sederhana dan tidak membutuhkan bahan aktif seperti asam atau retinoid.
Namun, manfaatnya tetap tidak sama dengan produk dermatologis yang sudah diformulasikan dan diuji. Jika kulit anak sedang mengalami eksim atau iritasi, jangan mencoba masker sebagai pengobatan sendiri.
Bahan:
- 1 sendok teh oatmeal tawar yang sudah dihaluskan
- 1 sendok teh pisang matang yang dilumatkan
- ½–1 sendok teh air matang
Cara membuat: Campurkan semua bahan sampai teksturnya lembut dan mudah diratakan.
Cara pakai: Oleskan tipis pada wajah, diamkan 5–10 menit, kemudian bilas menggunakan air bersih.
Cocok untuk: Kulit normal hingga kering.
8. Masker yogurt polos untuk kulit normal
Yogurt mengandung asam laktat yang termasuk kelompok alpha-hydroxy acid (AHA). Oleh karena itu, meski berasal dari makanan, yogurt tetap bukan bahan yang sepenuhnya bebas risiko untuk kulit anak.
AHA dan bahan eksfoliasi dapat menyebabkan iritasi, terutama pada kulit sensitif. Untuk anak, penggunaan bahan eksfoliasi sebaiknya tidak dilakukan sembarangan.
Bahan: 1 sendok teh yogurt tawar tanpa rasa dan tanpa tambahan gula
Cara membuat: Gunakan yogurt yang masih segar dan langsung dari kemasan bersih.
Cara pakai: Oleskan tipis pada sebagian kecil wajah dan diamkan sekitar 5 menit. Segera bilas jika terasa perih atau panas.
Cocok untuk: Kulit normal, dengan catatan anak tidak memiliki alergi terhadap susu.
Artikel lainnya: Daftar Rekomendasi Calming Cream yang Aman untuk Bayi
Bahan Apa yang Justru Harus Dihindari untuk Kulit Anak?
Saat mencari bahan membuat masker wajah alami untuk anak anak, Mama mungkin menemukan banyak resep yang menggunakan bahan sangat beragam. Padahal, beberapa bahan yang populer untuk skincare orang dewasa justru berisiko mengiritasi kulit anak.
Kulit anak yang lebih sensitif tidak membutuhkan sensasi "perih", "tingling", atau pengelupasan untuk dianggap mendapatkan hasil.
Sebaiknya hindari:
- Air lemon atau jeruk nipis, karena bahan yang asam dapat mengiritasi kulit dan beberapa jenis citrus dapat menyebabkan reaksi kulit ketika terkena sinar matahari.
- Baking soda, karena sifatnya dapat mengganggu kondisi alami skin barrier.
- Gula atau garam sebagai scrub, karena butirannya dapat menyebabkan gesekan dan iritasi.
- Essential oil, terutama jika digunakan langsung tanpa formulasi yang tepat.
- Pasta gigi, yang bukan produk untuk perawatan kulit wajah.
- Cuka, karena sifat asamnya dapat menyebabkan iritasi.
- Putih telur mentah, karena manfaat kosmetiknya tidak jelas dan tetap berpotensi menyebabkan reaksi pada kulit.
- Bahan pemutih atau pencerah yang keras, termasuk produk yang mengandung retinoid, AHA, BHA, atau bahan aktif lain tanpa rekomendasi dokter.
- Masker berpewangi, terutama pada anak dengan kulit sensitif atau riwayat eksim.
Mama perlu berhati-hati terhadap fragrance, essential oils, alkohol tertentu, pengawet tertentu, retinoid, dan sejumlah bahan lain yang dapat memicu iritasi pada kulit sensitif.
Apa Tanda Kulit Anak Bereaksi Buruk terhadap Masker?
Mama tidak perlu menunggu sampai kulit si kecil mengalami ruam berat untuk menghentikan penggunaan masker. Begitu muncul rasa tidak nyaman, segera bilas wajah dengan air bersih dan jangan mengoleskan bahan lain untuk "menetralkan" reaksi tersebut.
Tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Kulit terasa perih atau terbakar.
- Muncul gatal setelah masker digunakan.
- Wajah menjadi kemerahan.
- Timbul bentol atau ruam.
- Kulit terasa sangat kering atau tertarik.
- Terjadi pengelupasan.
- Muncul bengkak, terutama di sekitar mata atau bibir.
- Keluhan semakin luas atau tidak membaik setelah masker dihentikan.
Dermatitis kontak dapat menyebabkan ruam gatal setelah kulit bersentuhan dengan bahan pemicu. Jika reaksi cukup berat, menyebar, terjadi pembengkakan pada wajah, atau anak mengalami kesulitan bernapas, segera cari pertolongan medis.
Tips Aman Sebelum Mencoba Masker
Jika Mama tetap ingin mencoba resep masker rumahan, lakukan patch test terlebih dahulu. Oleskan sedikit bahan pada area kecil kulit, misalnya bagian dalam lengan, lalu amati apakah muncul kemerahan, gatal, atau rasa terbakar.
Selain itu, Mama bisa membuat masker dalam jumlah sedikit dan langsung gunakan. Jangan menyimpan sisa masker makanan untuk dipakai pada hari berikutnya.
Pastikan wajah anak dalam keadaan bersih, tangan bersih, dan jangan mengoleskan masker pada kulit yang sedang terluka, mengalami ruam, atau sedang meradang.
Yang tidak kalah penting, jangan menggunakan masker terlalu sering. Untuk anak, aktivitas ini cukup dilakukan sesekali jika kulitnya sehat. Rutinitas sehari-hari berupa pembersih lembut, pelembap sesuai kebutuhan, dan sunscreen justru jauh lebih bermanfaat daripada mengejar kulit "glowing" dengan banyak produk.
Merawat si kecil memang penuh pertanyaan kecil yang kadang datang bersamaan, dari urusan kulit sampai tumbuh kembang. Supaya Mama punya teman untuk mencari informasi kesehatan dan parenting yang lebih terarah, gabung ke komunitas Hallobumil dan bertukar cerita bersama Mama lainnya.
Mama juga bisa mengikuti event kesehatan dan sesi edukasi bersama dokter atau ahli yang bisa membantu Mama mendapatkan informasi dengan lebih tenang dan terpercaya.
Yuk, langsung download aplikasi Hallobumil dan registrasi data diri Mama di aplikasi kehamilan ini!




:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
