loading

Frekuensi Napas Normal Anak dan Batas Napas Cepat Menurut IDAI

Bagikan
Facebook
Twitter
WhatsApp
copylink
Frekuensi napas anak berbeda sesuai usia. Kenali rentang napas normal, batas napas cepat menurut IDAI, cara menghitung napas di rumah, serta tanda gangguan pernapasan yang perlu diwaspadai.
frekuensi-napas-normal-anak-dan-batas-napas-cepat-menurut-idai

Frekuensi napas anak dapat berbeda sesuai usia dan kondisi tubuhnya, sehingga Mama perlu mengetahui kisaran yang sesuai sebelum menilai pola pernapasannya.

Frekuensi napas normal pada anak umumnya lebih tinggi pada usia yang lebih muda dan perlahan menurun seiring pertumbuhan. Pengukuran sebaiknya dilakukan ketika anak sedang tenang agar hasilnya lebih menggambarkan kondisi pernapasan sebenarnya.

Artikel lainnya: Napas Si Kecil Grok-Grok, Kapan Normal dan Harus Waspada?

Berapa Frekuensi Napas Normal Anak Berdasarkan Usia?

Frekuensi napas menunjukkan berapa kali anak bernapas dalam satu menit. Angka ini termasuk salah satu tanda vital yang dapat diperiksa untuk melihat kondisi anak, tetapi hasilnya tetap perlu dinilai bersama kondisi umum dan tanda lain.

Royal Children's Hospital Melbourne mencantumkan rentang frekuensi napas berdasarkan usia mulai dari bayi baru lahir hingga remaja. Rentang tersebut dapat menjadi acuan, meski angka normal setiap anak dapat sedikit berbeda.

Usia Anak

Rentang Frekuensi Napas per Menit

Bayi baru lahir cukup bulan

25–60 kali

3 bulan

25–60 kali

6 bulan

20–55 kali

1 tahun

20–45 kali

2 tahun

20–40 kali

4 tahun

17–30 kali

6 tahun

16–30 kali

8 tahun

16–30 kali

10 tahun

15–25 kali

12 tahun

15–25 kali

14 tahun

14–25 kali

16 tahun

14–25 kali

17 tahun ke atas

14–25 kali

Khusus bayi baru lahir, Stanford Medicine Children's Health menyebutkan frekuensi napas normal sekitar 40–60 kali per menit. Bayi juga dapat memiliki pola napas yang berbeda dari anak yang lebih besar, termasuk jeda singkat yang disebut periodic breathing.

Perbedaan angka antarsumber dapat terjadi karena rentang acuan, usia, kondisi saat pengukuran, dan metode penilaian yang digunakan tidak selalu sama.

Karena itu, tabel di atas sebaiknya digunakan sebagai acuan umum, bukan sebagai angka tunggal untuk menentukan apakah seorang anak sehat atau sedang sakit.

Artikel lainnya: Pola Pernapasan Si Kecil Baru Lahir, Mana yang Normal dan Perlu Diwaspadai

Kenapa Napas Anak Lebih Cepat daripada Orang Dewasa?

Anak, terutama bayi, secara umum memiliki frekuensi napas lebih tinggi daripada orang dewasa. Kondisi tersebut merupakan bagian dari perubahan fisiologis yang terjadi seiring pertumbuhan.

Bayi baru lahir memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang dan saluran napas yang berukuran lebih kecil. Stanford Medicine Children's Health juga menjelaskan bahwa bayi bernapas jauh lebih cepat daripada anak yang lebih besar dan orang dewasa.

Frekuensi napas kemudian cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Karena itu, angka yang masih sesuai untuk bayi belum tentu menjadi angka yang dianggap normal untuk anak usia sekolah atau remaja.

Aktivitas dan kondisi tubuh juga dapat membuat napas menjadi lebih cepat untuk sementara. Anak yang sedang menangis, aktif bergerak, demam, atau merasa tidak nyaman dapat menunjukkan frekuensi napas yang lebih tinggi dibandingkan ketika sedang beristirahat.

Artikel lainnya: Bronkitis pada Anak: Penyebab, Ciri-Ciri & Bahayanya

Batas Frekuensi Napas yang Perlu Diwaspadai

Mama perlu melihat frekuensi napas ketika anak berada dalam keadaan tenang. WHO menggunakan istilah fast breathing untuk menunjukkan napas yang lebih cepat dari batas tertentu pada anak dengan batuk atau kesulitan bernapas.

Pada anak usia 2 bulan hingga kurang dari 12 bulan, frekuensi 50 kali per menit atau lebih termasuk fast breathing. Sementara itu, pada anak usia 12 bulan hingga 5 tahun, batasnya adalah 40 kali per menit atau lebih.

banner

Batas tersebut bukan berarti setiap anak yang mencapai angka tersebut pasti mengalami penyakit tertentu. WHO menggunakan frekuensi napas bersama pemeriksaan tanda lain, seperti tarikan dinding dada dan suara napas yang tidak normal, untuk menilai anak dengan batuk atau kesulitan bernapas.

Mama juga perlu memperhatikan beberapa tanda berikut:

  • Dada atau sela-sela tulang rusuk tertarik ke dalam saat anak bernapas.
  • Napas terdengar mengi atau berisik.
  • Anak tampak bekerja keras untuk bernapas.
  • Anak kesulitan berbicara, menangis, makan, atau minum karena sesak.
  • Bibir atau wajah tampak kebiruan.
  • Frekuensi napas jauh lebih cepat daripada biasanya.

Tanda seperti tarikan dinding dada, napas sangat cepat, perubahan warna kebiruan, atau kesulitan bernapas perlu mendapatkan perhatian medis segera.

Artikel lainnya: Bronkopneumonia pada Anak: Penyebab, Ciri, dan Cara Mengatasinya

Cara Menghitung Frekuensi Napas Anak dengan Benar

Penghitungan frekuensi napas sebenarnya dapat dilakukan secara sederhana di rumah. Hasilnya akan lebih bermakna jika Mama mengikuti beberapa langkah berikut:

  1. Pastikan anak tenang: Hindari menghitung ketika anak sedang menangis, marah, atau baru selesai melakukan aktivitas berat.
  2. Amati gerakan dada atau perut: Satu gerakan naik dan turun dihitung sebagai satu kali napas.
  3. Hitung selama satu menit penuh:WHO merekomendasikan penghitungan napas selama 60 detik untuk menilai apakah anak mengalami napas cepat.
  4. Catat hasil pengukuran: Mama bisa mencatat jumlah napas sekaligus kondisi anak saat diperiksa, misalnya sedang tidur, beristirahat, demam, atau baru selesai menangis.
  5. Ulangi jika hasilnya meragukan: Anak yang bergerak atau menangis selama penghitungan dapat memberikan hasil yang kurang akurat. WHO menyarankan penghitungan diulang ketika Mama tidak yakin dengan hasil pertama.

Pengukuran ketika anak tenang juga membantu Mama mendapatkan hasil yang lebih sesuai dengan kondisi istirahat. Istilah respirasi normal pada anak tidak hanya merujuk pada jumlah napas, tetapi juga pola dan usaha anak saat bernapas.

Artikel lainnya: Ciri Pneumonia pada Si Kecil, Penyebab, dan Penanganannya

Frekuensi Napas Anak Tidak Normal, Haruskah Periksa ke Dokter?

Frekuensi napas yang berada di luar kisaran acuan tidak selalu menunjukkan kondisi yang sama pada setiap anak. Usia, keadaan saat pengukuran, serta gejala lain perlu dipertimbangkan sebelum menentukan langkah berikutnya.

Mama sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika frekuensi napas anak tetap cepat ketika sudah tenang, terutama jika disertai batuk, demam, mengi, atau perubahan pola pernapasan.

Pemeriksaan juga diperlukan jika anak tampak menggunakan tenaga lebih besar untuk bernapas. Tarikan pada sela-sela tulang rusuk, napas yang sangat cepat, atau kesulitan melakukan aktivitas seperti makan dan berbicara dapat menjadi tanda gangguan pernapasan.

Segera cari pertolongan medis jika anak mengalami kesulitan bernapas yang berat, tidak mampu berbicara atau menangis karena sesak, berhenti bernapas, atau bibir dan wajahnya berubah menjadi kebiruan. Kondisi tersebut termasuk tanda kegawatan pernapasan yang membutuhkan penanganan segera.

Mama juga tidak perlu terpaku pada satu angka ketika menilai kondisi Si Kecil. Istilah respiratory rate normal pada anak perlu dipahami berdasarkan usia, sementara perubahan pola napas dan tanda kesulitan bernapas juga menjadi bagian penting dalam penilaian.

Frekuensi napas anak secara alami berbeda sesuai usia dan umumnya lebih tinggi pada bayi dibandingkan anak yang lebih besar. Penghitungan selama satu menit ketika anak dalam keadaan tenang dapat membantu Mama mendapatkan gambaran frekuensi napas yang lebih akurat.

Frekuensi napas yang terus meningkat atau disertai tanda kesulitan bernapas sebaiknya diperiksakan agar penyebabnya dapat diketahui.

Mama juga bisa mengunduh aplikasi Hallobumil dan daftarkan akun Mama untuk mendapatkan informasi seputar kehamilan, kesehatan Mama, dan tumbuh kembang Si Kecil.

Jangan lupa bergabung dengan komunitas Hallobumil dan mengikuti berbagai event Hallobumil untuk mendapatkan informasi serta pengalaman dari sesama Mama.

Jadilah orang tua super! Panduan 1000 Hari Pertama Kehidupan si kecil ada di sini. GRATIS.
image
image
image
image
1
0
Bagikan
Facebook
Twitter
WA
Belum ada komentar.
Login atau daftar dulu yuk ma biar bisa komen

Login/daftar yuk Ma

Tumbuh Bersama di 1000 Hari Pertama Si Kecil

Komunitas hangat untuk dapatkan tips, cerita inspiratif, dan teman baru pada 1000 hari pertama si kecil bersama Hallobumil
image