Separation Anxiety pada Bayi 11 Bulan
:strip_icc():format(webp)/hb-article/ugR1ssbUxho3GxsSo1VEK/original/411separation-anxiety-pada-bayi-11-bulan-by-buritora-shutterstock.jpg)
Anindita Budhi T., S.Psi
Bayi 11 bulan dapat mengalami separation anxiety, apa yang bisa Mama lakukan?
Separation anxiety atau kecemasan saat harus berpisah dengan figur lekat (orang tua, pengasuh, dll) merupakan bagian normal dari perkembangan emosional Si Kecil. Seiring pertambahan usia, Si Kecil mulai memahami keberadaan orang atau benda lain yang bisa tidak ada sewaktu-waktu. Konsep ini disebut object permanence.
Dalam banyak hal, faktor kultural berpengaruh pada isu ini. Di negara barat, bayi sudah sedini mungkin tidur terpisah dari orang tua. Sementara di negara Asia, selama tahun pertama kehidupannya bayi selalu dekat dengan ibu. Namun, separation anxiety tetap menjadi isu penting dalam tumbuh kembang Si Kecil.
Apa saja yang perlu Mama ketahui tentang separation anxiety?
- Mencapai puncaknya pada usia 10-18 bulan
Separation anxiety dapat dialami bayi 6-7 bulan, tetapi mencapai puncaknya pada usia 10-18 bulan. Namun, kecemasan ini berangsur berkurang ketika anak berusia 2 tahun. Biasanya, kecemasan ini timbul saat Mama harus berpisah dari Si Kecil karena harus bekerja atau pergi ke luar rumah tanpa mengajak Si Kecil.
- Membiasakan Si Kecil dengan orang yang familier
Kalau Mama harus meninggalkan Si Kecil, coba biasakan ia bersama dengan sosok yang familier, seperti ayah, kakek nenek, om tante, atau kakaknya. Mungkin saja ia masih akan protes, mengungkapkan rasa tidak sukanya. Namun, keberadaan sosok yang akrab membuat Si Kecil lebih mudah menerima situasi baru ini.
- Selalu beritahu ke mana Mama pergi
Sekalipun Si Kecil tampak belum paham Mama pergi ke mana, selalu biasakan untuk memberitahu ke mana Mama akan pergi. Bagi Si Kecil, informasi ini penting agar ia merasa aman karena tahu Mama hanya pergi untuk sementara waktu dan akan kembali bersamanya.
- Berpamitan dengan cepat
Berpamitan juga tetap perlu dilakukan sebelum Mama berpisah dengannya. Diam-diam pergi menyelinap hanya membuat rasa percaya Si Kecil terganggu, sehingga ia merasa lebih takut berpisah dengan Mama. Lakukan ritual pamitan sesingkat dan seseru mungkin. Misalnya, selipkan ciuman dan pelukan sambil mengatakan bahwa Mama pergi sebentar. Ritual ini juga membantu Si Kecil meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa mengatasi kecemasannya saat harus berpisah dengan Mama.
- Tahan diri agar tidak cemas berlebihan
Rasanya memang tidak tega melihat Si Kecil menangis tersedu-sedu karena harus berpisah dengan Mama. Sah-sah saja jika Mama merasakan emosi ini. Namun, ingatkan diri Mama bahwa separation anxiety itu normal dan temporer. Si Kecil sedang belajar mempercayai Mama dan mengembangkan kemandiriannya. Plus, separation anxiety juga tanda bahwa Mama dan Si Kecil punya kelekatan yang sehat.
Catatan tambahan, pada usia 10-11 bulan, kebanyakan bayi merasa tidak nyaman jika harus bersama orang asing dalam situasi yang baru atau tidak familier. Meskipun demikian, bayi bisa bertahan dalam situasi baru ini ketika semua hal diperkenalkan secara bertahap.
Artinya, Mama tidak serta merta “menjejali” Si Kecil dengan hal-hal baru. Ada beberapa hal yang perlu dibiasakan lebih dulu. Misalnya, Mama hendak meninggalkan Si Kecil sejenak bersama pengasuh baru. Lebih baik Mama melakukan sesi perkenalan antara Si Kecil dan pengasuhnya di bawah pengawasan Mama. Jadi, Mama pun bisa berpisah dengan Si Kecil tanpa rasa was-was berlebihan. Setuju? (ABT)
keren bgt yaa pantes anakku dlm fase ni usianya sbntr lg 11 tampilkan selengkapnya
- 0
Hai Mama, terima kasih atas sharingnya ya. Jangan lupa untuk selalu memberikan perhatian dan pengertian pada Si Kecil secara bertahap ya, Ma. :) ^sm
- 1
Keren banget artikelnya terimakasih
Hai Mama, terima kasih atas responnya ya dan jangan lupa share ya, Ma. :) ^sm