:strip_icc():format(webp)/hb-article/kofSnj6GomGA0QACnISLP/original/9l1uhiowawn5zmke0eu41m921lwtk7db.png)
Tuberculosis atau TBC pada anak masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi tumbuh kembang apabila tidak segera ditangani.
Penyakit ini umumnya ditularkan dari orang dewasa yang menderita tuberkulosis aktif, terutama jika anak sering melakukan kontak erat dalam waktu lama.
Kabar baiknya, TBC dapat dideteksi sejak dini dan diobati secara tuntas apabila Mama mengenali tanda-tandanya serta segera berkonsultasi dengan dokter.
Prevalensi TBC anak di Indonesia
Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah kasus tuberkulosis tertinggi di dunia. Kondisi ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak, terutama balita yang memiliki daya tahan tubuh belum berkembang secara optimal.
Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan beban TBC tertinggi secara global.
Anak menyumbang sebagian dari keseluruhan kasus tuberkulosis yang ditemukan setiap tahunnya sehingga upaya deteksi dini menjadi salah satu prioritas dalam penanganan penyakit ini.
Sayangnya, TBC pada anak sering kali sulit dikenali sejak awal karena gejalanya menyerupai infeksi lain yang umum terjadi pada masa kanak-kanak.
Itulah sebabnya orang tua perlu lebih waspada apabila Si Kecil memiliki riwayat kontak dengan penderita TBC atau mengalami keluhan yang berlangsung cukup lama.
Artikel lainnya: Jenis Batuk pada Anak, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Apa Penyebab TBC pada Anak?
Tuberkulosis disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularannya terjadi melalui percikan droplet yang keluar saat penderita TBC paru aktif batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi. Berikut beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko anak mengalami TBC.
1. Terpapar penderita TBC paru aktif
Sebagian besar anak tertular TBC dari orang dewasa yang tinggal serumah atau sering berinteraksi dengannya. Risiko penularan meningkat apabila kontak berlangsung setiap hari dalam ruangan dengan sirkulasi udara yang kurang baik.
2. Tinggal serumah dengan penderita TBC
Lingkungan rumah menjadi tempat penularan yang paling sering terjadi karena anggota keluarga berinteraksi dalam waktu yang lama. Dokter biasanya akan melakukan pelacakan kontak apabila terdapat anggota keluarga yang terdiagnosis TBC aktif.
3. Sistem imun anak masih berkembang
Bayi dan balita memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang sempurna. Kondisi tersebut membuat tubuh lebih rentan mengalami sakit setelah terpapar bakteri penyebab TBC.
4. Belum mendapat terapi pencegahan TBC
Anak yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC terkadang memerlukan terapi pencegahan sesuai penilaian dokter. Langkah ini bertujuan menurunkan risiko infeksi berkembang menjadi penyakit TBC aktif.
5. Ventilasi rumah kurang baik
Ruangan yang minim sirkulasi udara memungkinkan bakteri bertahan lebih lama di udara. Membuka jendela secara rutin dan memastikan rumah mendapatkan sinar matahari yang cukup dapat membantu mengurangi risiko penularan.
Artikel lainnya: Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Anak Sejak Dini Lewat Nutrisi
Ciri-ciri TBC yang Perlu Mama Waspadai
Gejala TBC pada anak sering muncul secara perlahan sehingga mudah disalahartikan sebagai penyakit lain. Mama sebaiknya memperhatikan perubahan kondisi Si Kecil apabila keluhan berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Beberapa gejala TBC anak yang perlu diwaspadai meliputi:
- Batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu.
- Demam ringan yang berulang, terutama pada sore atau malam hari.
- Berat badan sulit naik atau justru menurun.
- Nafsu makan berkurang.
- Anak tampak lebih lemas dan kurang aktif.
- Berkeringat pada malam hari tanpa penyebab yang jelas.
- Pembengkakan kelenjar getah bening, terutama di area leher.
Tidak semua anak mengalami seluruh gejala tersebut. Ada pula anak yang hanya menunjukkan satu atau dua tanda sehingga pemeriksaan dokter tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Artikel lainnya: Tips Mengajarkan Etika Batuk Sejak Dini yang Benar pada Anak
Bagaimana Dokter Mendiagnosis TBC?
Menegakkan diagnosis TBC pada anak memerlukan kombinasi beberapa pemeriksaan. Dokter akan mempertimbangkan riwayat kontak dengan penderita TBC, gejala yang dialami anak, hasil pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan penunjang sebelum menentukan diagnosis.
Setiap anak dapat memerlukan jenis pemeriksaan yang berbeda sesuai kondisi masing-masing. Oleh karena itu, cara diagnosis TBC anak tidak hanya bergantung pada satu jenis tes saja.
Uji mantoux
Uji Mantoux atau tes tuberkulin dilakukan dengan menyuntikkan sedikit cairan tuberkulin pada lapisan kulit lengan bawah. Setelah penyuntikan, dokter akan meminta Mama membawa Si Kecil kembali sekitar 48 hingga 72 jam kemudian untuk melihat hasilnya.
Pemeriksaan ini membantu mengetahui apakah sistem kekebalan tubuh pernah terpapar bakteri penyebab TBC. Hasil Mantoux tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar diagnosis karena masih perlu dipadukan dengan riwayat kontak, gejala, dan pemeriksaan lainnya.
Foto rontgen dada
Foto rontgen dada bertujuan melihat kondisi paru-paru dan jaringan di sekitarnya. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan adanya gambaran yang mengarah pada infeksi TBC, seperti pembesaran kelenjar getah bening di sekitar paru atau kelainan lain yang khas.
Dokter akan menginterpretasikan hasil foto rontgen bersama seluruh hasil pemeriksaan lainnya sehingga diagnosis yang diberikan menjadi lebih akurat.
Pengobatan TBC pada Anak
Kabar baiknya, TBC pada anak dapat disembuhkan apabila mendapatkan penanganan sejak dini dan menjalani pengobatan hingga tuntas. Dokter akan menyusun rencana terapi berdasarkan usia anak, kondisi kesehatan, serta tingkat keparahan penyakit yang dialami.
Secara umum, pengobatan TBC anak menggunakan kombinasi obat antituberkulosis (OAT) yang perlu diminum setiap hari sesuai jadwal. Lama terapi umumnya berlangsung sekitar enam bulan, tetapi pada kondisi tertentu dapat lebih panjang sesuai hasil evaluasi dokter.
Mama memiliki peran penting selama masa pengobatan dengan memastikan Si Kecil mengonsumsi obat sesuai dosis dan jadwal yang telah ditentukan. Konsistensi ini membantu membasmi bakteri penyebab TBC sekaligus mengurangi risiko kekambuhan maupun resistensi obat.
Selama menjalani terapi, dokter juga akan menjadwalkan kontrol rutin untuk memantau perkembangan kondisi anak. Apabila muncul efek samping atau keluhan tertentu, dokter dapat melakukan evaluasi sehingga pengobatan tetap berjalan secara aman dan efektif.
Artikel lainnya: Penyakit Umum pada Anak dan Cara Mengatasinya
Apakah TBC Anak Menular?
Pertanyaan ini sering muncul ketika seorang anak didiagnosis menderita TBC. Pada kenyataannya, sebagian besar anak dengan TBC justru tertular dari orang dewasa yang mengalami TBC paru aktif, bukan sebaliknya.
Anak umumnya memiliki jumlah bakteri yang lebih sedikit dibandingkan orang dewasa sehingga risiko menularkan penyakit kepada orang lain juga lebih rendah. Selain itu, anak biasanya belum mampu mengeluarkan percikan dahak dalam jumlah banyak saat batuk.
Meski demikian, dokter tetap akan menelusuri riwayat kontak seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah. Pemeriksaan ini bertujuan menemukan sumber penularan sekaligus memastikan tidak ada anggota keluarga lain yang memerlukan pemeriksaan atau pengobatan.
Mama tidak perlu merasa khawatir secara berlebihan apabila Si Kecil didiagnosis TBC. Penanganan yang tepat serta kepatuhan menjalani terapi menjadi langkah penting untuk mendukung proses penyembuhan sekaligus membantu mencegah penyebaran penyakit di lingkungan sekitar.
Artikel lainnya: Daftar Imunisasi Penting dan Wajib untuk si Kecil
Pencegahan TBC pada Anak
Pencegahan merupakan salah satu langkah terbaik untuk melindungi Si Kecil dari tuberkulosis. Upaya ini dapat dimulai sejak bayi lahir dan dilanjutkan melalui kebiasaan hidup sehat di lingkungan keluarga.
Salah satu bentuk perlindungan yang penting adalah pemberian vaksin BCG sesuai jadwal imunisasi. Vaksin ini membantu menurunkan risiko terjadinya TBC berat pada anak, seperti meningitis tuberkulosis dan TBC milier, meskipun tidak dapat mencegah seluruh kasus infeksi.
Selain imunisasi, Mama juga dapat menerapkan beberapa langkah berikut.
- Hindari kontak erat dengan penderita TBC paru aktif yang belum menjalani pengobatan.
- Pastikan rumah memiliki ventilasi dan pencahayaan yang baik agar sirkulasi udara tetap optimal.
- Terapkan etika batuk dan gunakan masker apabila terdapat anggota keluarga yang sedang menjalani pengobatan TBC.
- Segera periksakan Si Kecil apabila memiliki riwayat kontak erat dengan penderita TBC.
- Ikuti anjuran dokter mengenai terapi pencegahan TBC apabila diperlukan.
Langkah-langkah tersebut dapat membantu mengurangi risiko penularan sekaligus menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga.
TBC pada anak merupakan penyakit yang dapat dikenali sejak dini melalui pemeriksaan yang tepat dan ditangani dengan pengobatan yang sesuai.
Mama dapat membantu melindungi Si Kecil dengan mengenali gejalanya, menjalani pemeriksaan apabila terdapat riwayat kontak erat, serta memastikan pengobatan dilakukan hingga tuntas. Perhatian sejak awal menjadi langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang anak tetap optimal.
Yuk, unduh aplikasi HalloBumil dan daftarkan akun untuk mendapatkan informasi tepercaya seputar kesehatan dan tumbuh kembang Si Kecil yang telah disusun bersama para ahli.
Bergabung juga dengan komunitas HalloBumil agar Mama dapat berbagi pengalaman dengan sesama orang tua serta mengikuti berbagai event edukatif yang bermanfaat.





:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
