Apa Itu Disleksia? Kenali Gejala dan Cara Penanganannya
:strip_icc():format(webp)/hb-article/NlSoK6Kc0HjYyr1_gDrjR/original/skjlcn31najz54u84pu8ilsntao1zmw2.png)
Saat anak kesulitan mengenali huruf atau membaca kata sederhana, banyak orang tua mulai khawatir akan kemampuan belajarnya. Padahal, kondisi tersebut bisa jadi merupakan disleksia.
Disleksia adalah gangguan yang tidak selalu terlihat, tetapi dapat memengaruhi proses belajar anak sehari-hari. Sayangnya, tanda-tandanya masih sering belum dipahami dengan baik. Yuk, kenali lebih jauh apa itu disleksia dan ciri-cirinya melalui artikel berikut.
Artikel lainnya: Mengapa Si Kecil Kesulitan Membaca? Ini Penyebabnya
Apa Itu Disleksia
Secara sederhana, pengertian disleksia adalah gangguan belajar spesifik yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengenali kata, mengeja, membaca, dan memahami teks.
Disleksia bukan disebabkan oleh masalah penglihatan atau kurangnya pendidikan, melainkan berkaitan dengan cara otak memproses bahasa. Anak dengan disleksia biasanya mengalami kesulitan menghubungkan huruf dengan bunyi yang sesuai.
Hal ini membuat proses membaca menjadi lebih lambat dan sering terjadi kesalahan. Namun, penting dipahami bahwa disleksia tidak berkaitan dengan tingkat kecerdasan, sehingga anak tetap bisa berprestasi di bidang lain.
Yang perlu Mama tahu, disleksia dapat terdeteksi sejak usia dini, terutama saat anak mulai belajar membaca. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang untuk membantu si kecil mengembangkan kemampuan literasi dengan lebih baik.
Penyebab dan Faktor Risiko Disleksia
Penyebab pasti disleksia belum sepenuhnya diketahui, tetapi faktor genetik berperan besar. Anak yang memiliki anggota keluarga dengan disleksia memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.
Selain faktor genetik, gangguan pada perkembangan otak, khususnya bagian yang mengatur bahasa, juga menjadi penyebab utama. Perbedaan struktur dan fungsi otak ini memengaruhi cara anak memproses informasi bahasa.
Faktor risiko disleksia lainnya meliputi kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, serta paparan zat berbahaya selama kehamilan seperti alkohol atau rokok. Faktor lingkungan seperti kurangnya stimulasi membaca juga dapat memperparah kondisi.
Artikel lainnya: Cara Mengajari Si Kecil agar Cepat Bisa Membaca dengan Lancar
Gejala Disleksia
Gejala disleksia bisa berbeda-beda pada setiap anak, tergantung usia dan tingkat keparahannya. Pada usia prasekolah, anak mungkin mengalami keterlambatan bicara atau kesulitan mengenali huruf dan bunyi.
Saat memasuki usia sekolah, gejala disleksia menjadi lebih jelas. Anak sering kesulitan membaca dengan lancar, mengeja kata dengan benar, dan memahami isi bacaan. Mereka juga mungkin sering membalik huruf atau kata saat menulis.
Selain itu, anak dengan disleksia sering membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas membaca atau menulis. Hal ini bisa membuat mereka merasa frustrasi dan kehilangan kepercayaan diri.
Ciri Disleksia pada Anak
Ciri disleksia pada anak dapat dikenali melalui beberapa tanda khas. Salah satunya adalah kesulitan mengenali huruf, angka, atau warna meskipun sudah diajarkan berulang kali.
Anak juga sering mengalami kesulitan mengingat urutan, seperti hari dalam seminggu atau alfabet. Mereka cenderung bingung membedakan huruf yang mirip seperti “b” dan “d” atau “p” dan “q”.
Selain itu, ciri disleksia pada anak juga terlihat dari kemampuan membaca yang tidak sesuai dengan usianya. Anak mungkin membaca sangat lambat atau menghindari aktivitas membaca sama sekali.
Bisakah Disleksia Disembuhkan?
Banyak orang tua bertanya, apakah disleksia bisa disembuhkan? Jawabannya, disleksia adalah kondisi seumur hidup, sehingga tidak bisa “disembuhkan” secara total. Namun, kondisi ini dapat dikelola dengan baik melalui intervensi yang tepat.
Dengan dukungan yang tepat, anak dengan disleksia tetap dapat belajar membaca dan menulis dengan lebih baik. Bahkan, banyak individu dengan disleksia yang sukses dalam berbagai bidang karena memiliki kemampuan berpikir kreatif yang tinggi.
Kunci utama adalah deteksi dini dan penanganan yang konsisten, sehingga anak tidak tertinggal dalam perkembangan akademiknya.
Artikel lainnya: Mengetahui Kesiapan Sekolah Balita
Penanganan Disleksia pada Anak
Penanganan disleksia pada anak biasanya melibatkan metode pembelajaran khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Salah satu pendekatan yang efektif adalah metode phonics, yaitu mengajarkan hubungan antara huruf dan bunyi.
Terapi tambahan seperti terapi wicara dan pendampingan dari guru khusus juga sangat membantu. Anak perlu mendapatkan lingkungan belajar yang suportif agar tidak merasa tertekan.
Peran Mama dan Papa juga sangat penting dalam penanganan disleksia pada anak. Memberikan dukungan emosional, kesabaran, dan motivasi dapat membantu si kecil lebih percaya diri dalam belajar.
Selain itu, penggunaan teknologi seperti aplikasi belajar membaca juga dapat membantu anak berlatih secara lebih menyenangkan dan interaktif.
Kalau Mama ingin lebih siap mendampingi si kecil yang sedang tumbuh dan belajar, yuk manfaatkan berbagai fitur dari Hallobumil!
Mulai dari bergabung dengan komunitas Hallobumil untuk saling support dan bertukar informasi hingga mendapatkan insight tumbuh kembang anak sejak dini.
Mama juga bisa download aplikasi Hallobumil untuk mendapatkan informasi kesehatan anak dan kehamilan yang lengkap dan terpercaya, langsung di genggaman.
Jangan lewatkan juga berbagai event menarik dari Hallobumil yang bisa menambah wawasan sekaligus jadi momen seru untuk belajar bersama tentang kesehatan Mama dan anak.





:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
