Perhatikan Ini Jika Mama Ingin Melahirkan di Rumah
:strip_icc():format(webp)/hb-article/IrRcar1Ega9cez6L21VWz/original/614week-375-perhatikan-ini-jika-mama-ingin-melahirkan-di-rumah.jpg)
dr. Indria Sari
Akhir-akhir ini, semakin sering kita mendengar berita ibu hamil terutama dari kalangan pesohor yang memilih melahirkan di rumah.
Ada banyak alasannya, seperti enggan mendapatkan terlalu banyak intervensi medis, kenyamanan, tidak puas dengan pelayanan rumah sakit, biaya, hingga akses yang sulit ke fasilitas layanan kesehatan.
Fenomena ini mungkin membuat Mama bertanya-tanya, apakah melahirkan di rumah merupakan suatu prosedur yang dapat dibenarkan? Bagaimana dengan keamanannya? Apa saja yang harus disiapkan?
Legalitas
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 97 Tahun 2014, proses persalinan sebaiknya dilakukan di rumah sakit atau fasilitas layanan kesehatan lain yang terdekat.
Namun, peraturan ini juga tidak melarang apabila Mama memilih untuk melahirkan di rumah karena berbagai alasan. Tentunya selama petugas kesehatan atau bidan yang menolong tetap memperhatikan aspek-aspek dasar persalinan dalam standar Asuhan Persalinan Normal (APN).
Aspek-aspek tersebut adalah membuat keputusan klinik, asuhan sayang ibu dan sayang bayi, pencegahan infeksi, pencatatan (rekam medis) asuhan persalinan, dan rujukan pada kasus komplikasi ibu dan bayi baru lahir.
Keamanan
Mama dapat melahirkan di rumah, apabila setelah berkonsultasi ke Dokter tidak terdapat kondisi berikut:
1. Hamil kembar.
2. Posisi kepala Si Kecil tidak di bawah.
3. Pernah melahirkan secara Caesar.
Jika mengalami satu atau lebih kondisi di atas, Mama disarankan untuk melahirkan di rumah sakit karena lebih berisiko mengalami komplikasi dan kegawatdaruratan.
Persiapan Melahirkan di Rumah
1. Ketahui Risiko Melahirkan di Rumah
Meskipun pada sebagian besar persalinan di rumah tidak terjadi komplikasi, penelitian menunjukkan bahwa melahirkan di rumah memiliki risiko kematian dan kejang bayi yang lebih tinggi daripada melahirkan di rumah sakit.
Untuk mengurangi risiko ini, Mama sebaiknya berdiskusi terlebih dahulu tentang kondisi kehamilan Mama, apakah cukup aman untuk dilakukan persalinan di rumah.
2. Didampingi oleh Tenaga Kesehatan yang Terampil
Pilihlah bidan yang tersertifikasi dan berpengalaman untuk membantu persalinan Mama di rumah. Bidan yang baik selalu berkonsultasi dengan dokter kandungan dan rumah sakit yang berada di jejaringnya.
Apabila perlu, Mama dapat pula meminta seorang doula (pendamping persalinan) untuk memberikan dukungan fisik dan emosional sepanjang proses persalinan.
3. Membuat Rencana Persalinan
Sejak jauh-jauh hari, buatlah perencanaan terkait berbagai prosedur medis yang Mama ingin dapatkan sewaktu melahirkan.
Rencana kehamilan ini dapat berupa teknik untuk mengurangi nyeri, melahirkan di bathtub, inisiasi menyusui dini, dll. Diskusikan rencana ini dengan tenaga medis yang akan menolong Mama bersalin nanti.
4. Mempersiapkan Transportasi ke Rumah Sakit
Proses persalinan adalah suatu hal yang unik dan tidak dapat diprediksi apakah akan berjalan lancar atau tidak. Apabila Mama memilih melahirkan di rumah, pastikan akses transportasi selalu siap sedia jika terjadi komplikasi atau kegawatdaruratan.
Diskusikan hal ini dengan bidan yang akan menolong, dan berkoordinasi dengan rumah sakit terdekat apabila Mama dan Si Kecil perlu dirujuk.
Bagaimanapun, rumah sakit atau fasilitas layanan kesehatan lainnya tetap merupakan tempat yang paling aman untuk melahirkan.
Namun, keputusan untuk melahirkan di rumah atau di rumah sakit memang merupakan hak Mama untuk menentukan. Perlu diketahui juga bahwa komplikasi dan kegawatdaruratan dapat terjadi tanpa tanda-tanda apa pun sebelumnya.
Oleh karena itu, sebaiknya Mama berdiskusi terlebih dahulu dengan Dokter dan tenaga medis sebelum memutuskan akan melahirkan di rumah atau di rumah sakit.




dok mau tanya usia kehamilan saya 37minggu tapi keluar keput tampilkan selengkapnya
- 3
dok mau tanya saya hamil 37 minggu terus tadii sibuk banget tampilkan selengkapnya
- 1
dok mau tanya ..usia kehamilan saya baru 37 knp keluar lend tampilkan selengkapnya
- 1
Hai Mama, jika lendir yang keluar ini berwarna putih jernih, tidak berbau dan tidak menimbulkan keluhan maka hal ini adalah cairan keputihan. Jika lendir yang keluar berwarna cenderung merah muda dan terus-menerus merupakan cairan ketuban ya Ma :) ^aw
- 0
halo dok usia kandungan saya 37 minggu.saya sering ngerasa s tampilkan selengkapnya
- 0

:strip_icc():format(webp)/hb-article/TmBwmXyvvc5fBmDgsYa09/original/0kram-saat-hamil-ini-solusinya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/e9NZTASpd1tc42Z4Gx9iu/original/0makanan-pantangan-ibu-hamil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/43Mtw78Lk1CKWAEEeYQRf/original/0kenaikan-berat-badan-selama-hamil-yang-normal.jpg)