Artikel/Kehamilan/Hati- hati, Kesalahan Membedong Sebabkan Anak Terlambat Jalan

Hati- hati, Kesalahan Membedong Sebabkan Anak Terlambat Jalan

Tim Ahli Hallobumil | Diterbitkan pada 07 Desember 2020
Ditinjau oleh Tim Ahli Hallobumil
Bagikan
Facebook
Twitter
WhatsApp
copylink
Membedong bayi merupakan hal yang masih sangat banyak dilakukan oleh masyarakat khususnya ibu- ibu di Indonesia. Dengan pembedongan, tidur bayi memang relatif lebih nyenyak karena ruang gerak untuk tangannya menjadi lebih sempit sehingga reflex moro, gerakan primitive bayi yang menyerupai orang terkejut, dapat diminimalisir.
hati-hati-kesalahan-membedong-sebabkan-anak-terlambat-jalan

dr. Dyan Mega Inderawati

Membedong bayi merupakan hal yang masih sangat banyak dilakukan oleh masyarakat khususnya ibu-ibu di Indonesia. Dengan pembedongan, tidur Si Kecil memang relatif lebih nyenyak karena ruang gerak untuk tangannya menjadi lebih sempit sehingga reflex moro, gerakan primitif Si Kecil yang menyerupai orang terkejut, dapat diminimalisir. Akan tetapi tahukan Mama, cara pembedongan yang tidak tepat dapat membuat perkembangan berjalan Si Kecil kelak menjadi terhambat?

“Semakin erat membedong bayi, semakin baik karena kakinya menjadi lurus dan kelak tidak bengkok” adalah anggapan yang keliru. Selama dalam kandungan, bayi berada dalam posisi mengangkang dimana kedua panggul serta pahanya terbuka dan lututnya menekuk. International Hip Dysplasia Institute merekomendasikan agar posisi-posisi yang dilakukan pada bayi dijaga senatural mungkin menyerupai posisinya dalam kandungan. Setelah lahir, sendi-sendi pada bayi masih renggang dan butuh waktu beberapa bulan untuk sendi-sendi ini menyesuaikan diri ke posisi seharusnya. Sendi panggul bayi berbentuk seperti bonggol dan sarungnya. Apabila bayi dibedong terlalu kuat di bagian panggul hingga kaki, bonggol ini dapat bergeser jauh dari sarungnya atau dunia medis mengistilahkannya sebagai hip dysplasia. Bila dibiarkan terus, lama kelamaan baik bonggol maupun sarungnya akan bergeser dari posisi yang seharusnya. Kondisi ini dinamakan hip dislocation. Baik hip dysplasia maupun hip dyslocation adalah kondisi yang dapat menjadi salah satu penghambat perkembangannya terutama saat Si Kecil belajar berjalan. Selain itu, dengan memiliki hip dysplasia, anak tersebut akan lebih mudah menderita radang sendi saat ia dewasa.

Proses berjalan pada Si Kecil sangat bergantung pada pergerakan sendi. Bila sendi tidak berada pada posisi yang seharusnya atau kemudian mengakibatkan nyeri, maka pergerakannya akan terhambat dan kemudian Si Kecil jadi sulit berjalan.

Bila saat ini Si Kecil Mama belum juga berjalan di usia yang seharusnya, ada baiknya Mama mengevaluasi kembali. Apakah sewaktu bayi ia terlalu sering dibedong? Adakah kemungkinan Si Kecil mengalami hip dysplasia? Jika memang hingga usia 18 bulan Si Kecil belum bisa berjalan, ada baiknya Mama membawanya untuk diperiksa oleh dokter untuk diperiksa secara menyeluruh. Sebenarnya, adanya hip dysplasia pada Si Kecil sudah dapat dilihat bahkan sebelum anak belajar berjalan. Beberapa tanda yang terlihat pada anak dengan hip dysplasia di antaranya:

  • Asimetris
    Bokong yang tidak simetris dapat menjadi salah satu tanda adanya hip dysplasia pada anak. Diperlukan pemeriksaan USG untuk memastikan penyebab ketidakseimbangan bokong ini memang dikarenakan adanya hip dysplasia.
  • Bunyi ‘klik’ pada panggul
    Walaupun begitu, bunyi ‘klik’ bisa juga terjadi pada panggul normal.
  • Keterbatasan gerak panggul
    Dengan adanya hip dysplasia, gerakan panggul Si Kecil menjadi terbatas. Biasanya orangtua akan mengeluhkan sulit mengganti popok Si Kecil karena panggul Si Kecil tidak dapat membuka sempurna.
  • Nyeri
    Nyeri umumnya tidak terjadi pada bayi dan balita dengan hip dysplasia namun banyak dikeluhkan oleh remaja dan dewasa.
  • Punggung bagian bawah sangat melengkung atau swayback

Pembedongan pada bayi memang sudah banyak ditinggalkan di dunia internasional. Selain berkaitan dengan hip dysplasia yang sudah dijelaskan sebelumnya, pembedongan juga diketahui dapat mengakibatkan sindrom kematian bayi mendadak atau sudden death syndrome. Bedong yang terlalu ketat dapat membuat Si Kecil menjadi sesak napas sehingga laju napas Si Kecil menjadi lebih cepat karena kapasitas paru akan semakin tertekan. Apabila hal ini berlangsung dalam waktu yang lama, maka akan memudahkan terjadinya penyakit paru kronis.

Apabila Mama tetap menginginkan membedong Si Kecil Mama karena tidurnya menjadi lebih nyenyak misalnya, ikuti beberapa tips berikut ini.

1. Gunakan selimut dengan bahan dasar kain yang ringan dan berserat renggang sehingga udara tetap dapat melaluinya. Hal ini mencegah “terbekap” nya Si Kecil saat selimut menutup muka Si Kecil secara tidak sengaja.
2. Selalu pantau Si Kecil Mama saat ia dalam keadaan terbedong. Usahakan tidak membedongnya pada malam hari ketika orangtua juga ikut terlelap sehingga tidak ada pengawasan terhadap Si Kecil.
3. Jangan membedong terlalu erat. “Pembuntalan” hendaknya hanya dilakukan di sekitar bahu dan lengan Si Kecil, dan jangan terlalu erat. Biarkan kain tetap longgar di sekitar panggul dan kaki Si Kecil. Pastikan tidak ada pembuntalan di daerah panggul. Lutut Si Kecil harus dapat ditekuk dan digerakkan ke arah samping perut dengan leluasa.

Jadilah orang tua super! Panduan 1000 Hari Pertama Kehidupan si kecil ada di sini. GRATIS.
image
image
image
image
19
0
Bagikan
Facebook
Twitter
WA
Belum ada komentar.
Login atau daftar dulu yuk ma biar bisa komen

Login/daftar yuk Ma

Nikmati Perjalanan Kehamilan Bersama Bumil Lainnya

Gabung dan temui teman, tips, dan cerita inspiratif di komunitas Hallobumil untuk lewati masa hamil dengan penuh dukungan
image