Haruskah Papa Menemani di Ruang Bersalin?
:strip_icc():format(webp)/hb-article/CMSfmxvJB3zGR9z2rSTw9/original/683week-364-haruskah-papa-menemani-di-ruang-bersalin.jpg)
Anindita Budhi, S.Psi
Menjelang persalinan, dukungan Papa jelas semakin Mama butuhkan. Bukan hanya sekadar memijat kaki, mengusap punggung, atau menemani kontrol ke Dokter, tetapi juga mendampingi saat persalinan.
Ya, berada di ruangan yang sama saat Mama melahirkan belakangan jadi tren di kalangan para calon papa. Keinginan menyaksikan sendiri perjuangan Mama melahirkan Si Kecil sambil mengabadikan momen istimewa ini kerap jadi pertimbangan utama.
Namun, apakah semua papa berpikir demikian?
Pro Kontra Kehadiran Papa Saat Mama Melahirkan
Mama pasti akan merasa lebih tenang jika Papa mau menemani pada waktu-waktu genting jelang persalinan. Apalagi ketika kontraksi kian menghebat, dukungan utama Papa bisa membuat Mama kuat dan mencoba “menikmati” rasa nyeri yang luar biasa. Sementara, Papa dapat lebih berempati memahami situasi Mama.
Meskipun begitu, selalu ada dua sisi dalam setiap tindakan. Begitu juga kehadiran Papa di ruang bersalin. Mari simak pro kontra terkait hal ini.
Pro
1. Papa menyaksikan sendiri detik-detik kelahiran Si Kecil
Sebagian calon papa takut dan berpikir ulang untuk menunggui Mama di ruang bersalin. Namun, waktu persalinan yang kerap tidak terprediksi hanya memberi Papa sedikit pilihan.
Melihat Mama kesakitan, Papa pasti tak rela meninggalkan Mama sendirian. Hasilnya pun manis, Papa bisa langsung menyaksikan menit pertama kelahiran Si Kecil.
2. Papa bisa membantu Mama menyusui sejak awal
Bayi baru lahir tak selalu bisa langsung mengisap puting dengan benar. Ia pun perlu belajar, sama halnya dengan Mama yang juga belajar mengatur perlekatan bayi.
Di sinilah dukungan Papa diperlukan. Mulai dari menyerahkan Si Kecil kepada Mama, membantu Si Kecil menyusu, memberi Mama minum, memosisikan bantal, memijat punggung, serta menyendawakan Si Kecil.
3. Papa mampu memberi dukungan fisik dan psikologis
Baik Mama dan Papa pasti sama-sama tegang menghadapi persalinan yang penuh ketidakpastian. Namun, keberadaan Papa yang terus menggenggam tangan Mama sambil sesekali mengusap wajah atau punggung, pasti memberi Mama dukungan spesial melebihi apa pun.
Rasa cemas Mama bisa sedikit berkurang sehingga dapat fokus pada proses persalinan Si Kecil.
4. Papa akan lebih dekat dengan Si Kecil
Kehadiran Papa dalam setiap momen penting kehamilan sampai melahirkan akan mendekatkan hubungan Papa dan Si Kecil. Papa pun punya peranan signifikan dalam tumbuh kembang anak bahkan sejak dalam kandungan. Hal tersebut jelas berdampak positif pada perkembangan emosional dan kognitif anak di masa mendatang.
5. Papa bisa membuat keputusan penting dengan cepat
Tak semua persalinan bisa berjalan mulus dan normal. Kadang dokter harus segera mengambil tindakan cepat guna menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya. Keberadaan Papa di ruang bersalin tentu memudahkan dokter bertindak cepat dengan seizin Papa.
Kontra
1. Ketidaktahuan dan kecemasan berlebihan Papa bisa berbuntut panjang
Ada kemungkinan Papa tidak siap, tidak membekali diri dengan apa saja yang perlu dilakukan saat mendampingi Mama melahirkan, dan cemas berlebihan pada semua proses persalinan. Kondisi tersebut justru bisa membuat Mama merasa cemas alih-alih merasa tenang sehingga susah berkonsentrasi.
2. Bisa jadi Papa tidak ingin hadir di ruang bersalin
Ketika Papa mengemukakan alasan itu, jangan marah dulu, Ma. Beberapa pria merasa dirinya mungkin tak siap menyaksikan proses persalinan secara utuh.
Ada banyak “kekacauan” yang bisa terjadi, darah di mana-mana, belum lagi plasenta, atau rasa takut saat melihat Mama berteriak kesakitan. Jika hal itu terjadi, coba ajak Papa berdiskusi mengenai hal ini.
3. Proses persalinan tidak memungkinkan Papa hadir di ruang bersalin
Tentu ini kembali pada kebijakan dokter dan rumah sakit tempat Mama melahirkan. Sebagian besar persalinan normal umumnya mengizinkan Papa mendampingi sampai proses melahirkan usai.
Namun, kebanyakan persalinan melalui sectio caesarea (SC) tidak memungkinkan Papa berada di ruang operasi. Artinya, Mama sendiri yang akan masuk ruang operasi dan hanya didampingi perawat serta dokter.
Lantas, apakah Papa harus berada di dalam ruang bersalin menemani Mama melahirkan? Jawabannya, kembali pada kesepakatan Mama dan Papa.
Jika Papa memutuskan untuk hadir, sebaiknya bekali diri dengan informasi dan panduan sederhana tentang do’s & don’ts Papa di ruang bersalin. Jadi, Papa sigap menghadapi berbagai situasi yang bisa saja terjadi di luar dugaan.





:strip_icc():format(webp)/hb-article/TmBwmXyvvc5fBmDgsYa09/original/0kram-saat-hamil-ini-solusinya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/e9NZTASpd1tc42Z4Gx9iu/original/0makanan-pantangan-ibu-hamil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/43Mtw78Lk1CKWAEEeYQRf/original/0kenaikan-berat-badan-selama-hamil-yang-normal.jpg)
