Artikel/Kehamilan/Hal-Hal yang Perlu Diketahui Tentang Amniosentesis

Hal-Hal yang Perlu Diketahui Tentang Amniosentesis

Tim Ahli Hallobumil | Diterbitkan pada 16 Desember 2020
Ditinjau oleh Tim Ahli Hallobumil
Bagikan
Facebook
Twitter
WhatsApp
copylink
Prosedur amniosentesis dapat dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan kelainan pada janin. Ini penjelasan lengkapnya.
hal-hal-yang-perlu-diketahui-tentang-amniosentesis

dr. Junita Tarigan

Amniosentesis adalah prosedur yang menggunakan cairan amnion (air ketuban) untuk mendeteksi suatu kelainan pada janin. Namun, amniosentesis juga dapat dilakukan untuk tujuan pengobatan.

Kenapa Amniosentesis Dilakukan?
Amniosentesis bukanlah pemeriksaan yang rutin dilakukan pada masa kehamilan. Beberapa alasan prosedur ini dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Pemeriksaan Genetik
    Prosedur amniosentesis untuk tujuan pemeriksaan genetik dilakukan melalui pengambilan cairan amnion. Dari sini, dapat diketahui ada atau tidaknya kelainan pada Si Kecil, misalnya sindrom Down.
    Biasanya tindakan ini diindikasikan pada Mama yang sebelumnya memiliki riwayat melahirkan bayi dengan gangguan kromosom, usia di atas 35 tahun, riwayat keluarga dengan gangguan genetik, dan pemeriksaan USG yang abnormal.
    Prosedur ini dilakukan pada minggu ke-15 sampai ke-20. Pada beberapa keadaan, hasil pemeriksaan ini dapat menjadi informasi untuk menentukan kelanjutan dari proses kehamilan, apakah perlu terminasi atau tetap melanjutkan proses kehamilan.
  • Pemeriksaan Fungsi Paru Si Kecil
    Pengambilan cairan amnion untuk tujuan ini dapat memastikan tingkat kematangan paru Si Kecil. Prosedur amniosentesis untuk tujuan ini dilakukan pada minggu ke 32 sampai ke-39.
  • Diagnosis Adanya Kelainan pada Si Kecil
    Prosedur ini dilakukan untuk menentukan adanya infeksi selama kehamilan pada Si Kecil atau gangguan autoimun pada Mama.
  • Pengobatan
    Pada keadaan polihidramnion (akumulasi cairan amnion yang berlebihan), prosedur amniosentesis dapat dilakukan sebagai salah satu penanganannya.
  • Pemeriksaan Paternitas
    Prosedur amniosentesis dapat dilakukan untuk pengambilan DNA pada fetus, dan selanjutnya dibandingkan dengan DNA potential father.

Prosedur Saat Amniosentesis

  • Sebelum Prosedur
    Sebelum tindakan amniosentesis, umumnya tenaga kesehatan akan menyampaikan penjelasan mengenai risiko dan manfaat prosedur dan memberikan lembar persetujuan.
    Jika tindakan ini dilakukan sebelum usia kehamilan 20 minggu, sebaiknya Mama minum air putih dalam jumlah yang cukup agar kandung kemih menjadi penuh.
    Namun, jika dilakukan pada usia kehamilan setelah 20 minggu, sebaiknya kandung kemih dalam keadaan kosong untuk menghindari kemungkinan tertusuk.
  • Saat Prosedur
    Saat prosedur, Mama akan disarankan untuk berbaring di meja pemeriksaan. Tindakan akan dilakukan dengan bantuan ultrasonografi untuk menentukan lokasi uterus.
    Setelah lokasi uterus ditemukan dan dengan prosedur antiseptik sebelumnya, dokter akan menusukkan jarum kecil melalui dinding perut sampai menuju kantong amnion.
    Melalui jarum ini, cairan amnion akan diambil dan selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan lanjutan sesuai dengan indikasi prosedur.
  • Setelah Prosedur
    Setelah pengambilan cairan amnion, dokter akan tetap menggunakan ultrasonografi untuk memonitor denyut jantung Si Kecil. Pada saat ini, mungkin Mama akan mengeluhkan kram dan rasa tidak nyaman pada rongga panggul.
    Usai prosedur amniosentesis, Mama dapat melakukan aktivitas normal, namun sebaiknya hindari aktivitas berat ataupun berhubungan intim selama beberapa hari setelah prosedur.

Komplikasi Amniosentesis
Beberapa risiko dapat terjadi akibat prosedur ini, antara lain:

  • Kebocoran Kantong Amnion
    Walaupun kejadiannya sedikit, prosedur ini dapat mengakibatkan kebocoran cairan amnion melalui liang kemaluan. Namun, kebocoran yang terjadi biasanya sedikit dan membaik setelah beberapa hari.
  • Keguguran
    Berdasarkan beberapa penelitian, amniosentesis sebelum minggu ke-15 dapat meningkatkan risiko keguguran sebanyak 0.1-0.3%.
  • Infeksi
    Pada beberapa kasus, prosedur ini dapat meningkatkan risiko infeksi intrauterin.
  • Transmisi Penyakit
    Jika Mama menderita hepatitis C, toksoplasmosis, atau HIV/AIDS, prosedur amniosentesis dapat menimbulkan transmisi ke Si Kecil.

Prosedur amniosentesis dilakukan untuk beberapa tujuan tertentu. Mulai dari untuk mendeteksi kelainan genetik hingga memeriksa fungsi paru Si Kecil. Namun, ada beberapa komplikasi yang bisa terjadi sehingga harus diwaspadai. Semoga bermanfaat!

Jadilah orang tua super! Panduan 1000 Hari Pertama Kehidupan si kecil ada di sini. GRATIS.
image
image
image
image
0
0
Bagikan
Facebook
Twitter
WA
Belum ada komentar.
Login atau daftar dulu yuk ma biar bisa komen

Login/daftar yuk Ma

Nikmati Perjalanan Kehamilan Bersama Bumil Lainnya

Gabung dan temui teman, tips, dan cerita inspiratif di komunitas Hallobumil untuk lewati masa hamil dengan penuh dukungan
image