Mitos dan Fakta Seputar ASI dan Menyusui
:strip_icc():format(webp)/hb-article/KJ9d0AS-MslQnfg5gLMz5/original/761week-15-day-2-mitos-dan-fakta-seputar-asi-dan-menyusui.jpg)
dr. Venny Beauty
Selama masa kehamilan, Mama tentunya telah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan si Kecil saat lahir nanti. Salah satu hal yang sangat penting adalah ASI dan proses menyusui.
Dengan berkembangnya Internet dan media saat ini, banyak informasi yang tersedia mengenai ASI serta proses menyusui yang dapat Mama cari. Namun, terkadang informasi-informasi ini dapat membingungkan Mama terutama jika ini adalah kehamilan yang pertama.
Pada artikel ini akan dibahas mengenai beberapa mitos dan fakta seputar ASI dan menyusui, sehingga Mama tidak mendapatkan informasi yang keliru. Beberapa di antaranya adalah:
1. “ASI yang pertama kali keluar harus dibuang terlebih dahulu.”
Terdapat kepercayaan dari beberapa daerah yang menyatakan bahwa ASI yang pertama kali dihasilkan dan keluar dari payudara ibu harus dibuang terlebih dahulu. Menurut orang-orang, ASI tersebut telah tersimpan lama di dalam payudara sehingga dianggap sudah basi.
ASI pertama, disebut dengan kolostrum, adalah zat nutrisi yang paling ideal untuk bayi yang baru lahir. Warnanya yang lebih kuning dan lebih kental daripada air susu berikutnya disebabkan oleh kandungan protein dan nutrisi yang lebih tinggi, juga lemak yang lebih sedikit sehingga lebih mudah dicerna bayi.
Dan lebih penting, kolostrum berperan penting dalam proses pembentukan kekebalan tubuh dan fungsi saluran cerna, mencegah terjadinya kuning pada bayi, serta mengandung vitamin dan mineral untuk kebutuhan bayi.
2. “Memberikan susu formula sama seperti memberikan ASI.”
Susu formula bukanlah ASI. Tidak ada air susu yang lebih baik daripada yang dihasilkan oleh Mama sendiri.
ASI adalah nutrisi yang paling ideal untuk si Kecil karena dibuat sedemikian rupa sehingga usus bayi terlapisi dan memudahkan untuk mencernanya. Selain itu, ASI juga mengandung zat-zat yang berfungsi untuk kekebalan tubuh. Namun, untuk keadaan-keadaan tertentu, susu formula dapat saja diberikan.
Pemberian ASI untuk bayi dapat mengurangi beberapa risiko penyakit, antara lain obesitas pada saat remaja dan dewasa, asma, kolitis, infeksi pada telinga, infeksi saluran cerna, infeksi saluran napas, dan diabetes.
3. “Jangan membangunkan bayi untuk menyusui.”
Beberapa hari setelah lahir, si Kecil akan banyak tidur. Mama seharusnya membangunkan bayi untuk memberikan ASI sehingga ia menyusui dengan rutin dan mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan. Setelah beberapa bulan, bayi sudah terbiasa untuk menyusui sehingga secara sendirinya bayi akan bangun dan meminta ASI.
Sebagai tambahan, hormon prolaktin memiliki kadar tertinggi pada malam hari. Hormon ini berfungsi untuk merangsang payudara menghasilkan ASI. Oleh karena itu, menyusui pada malam hari sebaiknya tidak dilewatkan sehingga jumlah ASI akan tetap banyak dihasilkan.
4. “Menyusui adalah kontrasepsi alamiah.”
Jika Mama memberikan ASI eksklusif kepada bayi, di mana hanya ASI yang diberikan tiap 4 jam pada siang hari dan tiap 6 jam pada malam hari, indung telur Mama akan berhenti berovulasi sementara.
Hal ini terjadi karena dengan menyusui secara eksklusif, kadar hormon prolaktin di darah tinggi, sehingga hormon yang berfungsi merangsang matangnya sel telur akan tertekan. Bila sel telur tidak dihasilkan, maka Mama tidak dapat hamil.
Namun, Mama tidak perlu khawatir. Efek ini akan hilang setelah Mama berhenti menyusui sehingga Mama dapat hamil kembali setelah si Kecil telah berusia cukup.
Masih banyak informasi tentang ASI dan proses menyusui yang perlu dicerna dengan baik, sehingga Mama tidak keliru dan dapat menjalani proses menyusui si Kecil dengan lancar.
Tentu saja Mama dapat berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan lainnya yang berkompetensi di bidangnya jika ingin mendapat informasi yang lebih lengkap.
Aku full asi, tp sampai skrng blm bsa dbf dedenya ga mau ☹️
Hai Mama, jika terdapat kesulitan menyusui dari payudara langsung dapat diberikan dot yang mirip dengan puting Mama. Namun, dengan perlahan dan bertahap Mama harus tetap melakukan DBF supaya si kecil nggak bingung puting dan ASI-nya tetap lancar. :) ^sm